Advertisement

Advertisement

Allah Mudahkan Taubat Hambanya

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM | Allah Mudahkan Taubat Hambanya -  Al-Faqih  berkata  :”Abu Ja’far  menceritakan  kepadaku,  Abul Qasim Ahmad bin Hambal menceritakan kepadaku, Nashr bin Yahya menceritakan kepadaku,  Abu  Muthi’  menceritakan  kepadaku  dari  Hammad  bin Salamah dari Humaid dari ‘Abdullah bin ‘Ubaid bin Umair dimana ia berkata : “Nabi Adam as. berkata :


“Wahai Tuhanku,  sesungguhnya Engkau telah memberi kemenangan kepada iblis untuk menggoda saya, dan saya tidak mampu  menghadapinya kecuali dengan pertolongan dari-Mu”. Allah Ta'ala berfirman :

“Anak keturunan kamu tidak akan lahir melainkan ada malaikat yang ditugaskan untuk  menjaganya  dari godaan dan  kejahatan iblis laknatillah". Nabi Adam  berkata : “Wahai Tuhanku, tambahkanlah !”. Allah berfirman :
“Kebaikan itu dilipatgandakan sepuluh kali, bahkan Aku akan menambahkannya, sedangkan  keburukan  itu hanya dibalas dengan satu keburukan, bahkan Aku akan menghapusnya”. Nabi Adam berkata : “Wahai Tuhanku, tambahkanlah”. Allah berfiiman : “Taubatmu Aku terima  selama nyawa masih berada  di dalam tubuh”.
Taubat

Nabi Adam berkata : “Wahai Tuhanku, tambahkanlah”. Allah berfirman  yang artinya :
“Katakan : “Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri,  janganlah kamu putus asa daripada rahmat Allah.  Sesungguhnya Allah  mengampuni  dosa-dosa  semuanya.  Sesungguhnya  Dia  adalan  Dzat  Yang  Maha  Pengampun  lagi Maha Penyayang”.
Al-Faqih berkata :”Seseorang  yang dapat dipercaya menceritakan kepadaku  dengan  sanadnya  dari  Ibnu  ‘Abbas  ra.  bahwasanya  Wahsyi yang berperang dengan Hamzah, paman Nabi saw., menulis  surat kepada Rasulullah  saw.  yang menyatakan  bahwa sungguh ianya ingin memeluk Islam, namun ada  satu ayat Al-Qur’an  yang menghalang-halanginya  yaitu ayat yang berbunyi yang artinya :   
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain bersama-sama dengan Allah dan tidak membunuh  jiwa  yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan yang benar), dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (balasan) dosa(nya)”.
Wahsyi  merasa  bahwa  dirinya  mengerjakan   tiga  perbuatan yang  diharamkan itu, maka ia bertanya,  mungkinkah  ia bisa  bertaubat. Kemudian turunlah ayat yang berbunyi yang artinya :
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka, kejahatan mereka diganti Allah dengan  kebajikan”. 
Rasulullah  saw. bersabda  lantas  menjawab  surat  Wahsyi  itu  tentang  turunnya  ayat  tersebut, namun  wahsyi  menulis  surat  lagi  yang  menyatakan  bahwa  di  situ  dipersyaratkan   adanya  amal  shalih,  padahal  ia  tidak tahu bisa  atau tidak  untuk mengerjakan amal shalih, Kemudian turunlah ayat yang berbunyi yang  artinya  :
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa  mempersekutukan  (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendakinya”,
Rasulullah  menjawab  lagi  surat  Wahsyi  itu  tentang  adanya  ayat tersebut ; namun Wahsyi menulis surat lagi yang menyatakan  bahwa pada ayat itu  juga   ada  persyaratan,   sedangkan dia tidak tahu apakah kira-kira Allah menghendaki  dirinya  untuk  diampuni  atau  tidak.  Kemudian  turun ayat lagi yang berbunyi  yang  artinya  : 
“Katakanlah : “Wahai hamba-hambaku  yang melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri, jangan sampai kalian  berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya  Dia  adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Kemudian Rasulullah saw. menulis surat lagi kepada Wahsyi,  dan di situ Wahsyi melihat tidak ada persyaratan  apa pun, maka ia segera datang ke Madinah dan masuk Islam.
Al-Khalil bin Ahmad memberitahukan kepada kami, Ibnu Mu’adz memberitahukan kepada kami, Al-Husain Al-Mawarzi memberitahukan kepada  kami, ‘Abdullah  bin  Sufyan  menceritakan  kepada  kami  dimana ia  berkata  :
Muhammad  bin  ‘Abdur  Rahman As  Salami  menulis  surat kepada saya dimana ia berkata ; “Ayahku  menceritakan  kepadaku dimana ia berkata yang artinya :
“Saya duduk dengan sekelompok sahabat Nabi saw. di Madinah kemudian  ada  seseorang  di  antara  mereka  berkata  :”Saya  mendengar  Rasulullah   saw.  bersabda ; ”Barangsiapa   yang  bertaubatsetengah hari sebelum saat kematiannya maka  Allah menerima taubatnya”.   
la berkata : “Saya berkata : “Kamu sendiri mendengar Rasulullah saw : bersabda (seperti itu) ?”. Orang  itu  menjawab  : “Ya”. Ada seseorang yang lain berkata : “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : ‘”Barangsiapa yang  bertaubat   satu  jam sebelum saat kematiannya maka Allah menerima  taubatnya”, Yang lain berkata : “Barangsiapa yang bertaubat  sebelum  nyawa sampai di tenggorokan maka Allah menerima  taubatnya”,
Al-Faqih berkata : “Muhammad bin Al-Fadlil bin Ahnaf  menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Yusuf memberitahukan kepada kami, Sa’id bin Salim Al-Qaddah menceritakan  kepada  kami dari Bisyr bin Jaballah dari ‘Abdul  ‘Aziz bin  lsma’il  dari Muhammad  bin  Mutharrif  dimana  ia  berkata  : “Allah Ta’ala  berfirman   :
“Amboi, ada manusia yang berbuat dosa kemudian mohon ampun kepada-Ku, maka Aku mengampuninya. Ia lalu mengulangi perbuatan dosanya itu kemudian mohon ampun kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.  Amboi, ia tetap saja tidak bisa meninggalkan  perbuatan dosanya   itu tetapi ia juga tdak pernah berputus asa dari rahmat-Ku. Saksikanlah wahai malaikat-Ku bahwa Aku benar-benar  mengampuninya”.
Al-Faqih berkata : “Muhammad bin Al-Fadll menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Yusuf menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah   menceritakan kepada kami dari Al-A’masy  dari seseorang  dari Mughits bin Sami dimana ia berkata  :
Ada seseorang yang sebelum kamu mengerjakan  perbuatan maksiat, kemudian pada suatu saat ia memikirkan tentang masa lampaunya lalu berdoa :
“Wahai Allah, ampunilah”,  sebanyak  tiga kali.  Setelah itu, ia lantas mati, maka Allah mengampuni dosanya”.
Muhammad bin ‘Ajlan meriwayatkan dari Makhut  dimana ia berkata : “Saya mendengar bahwa ketika Nabi Ibrahim as. naik ke ruang angkasa, ia melihat ada seseorang yang berzina kemudian ia berdoa, maka Allah Ta’ala langsung membinasakannya. Ia lalu melihat seseorang yang sedang  mencuri, kemudian ia berdoa,  maka Allah Ta’ala langsung   membinasakannya. Allah ta’ala lantas berfirman :
“Wahai Ibrahim, tinggalkanlah doamu yang membinasakan hamba­hamba-Ku, karena hamba-Ku itu berada di antara tiga hal :  ia akan bertaubat kemudian Aku terima taubatnya, atau ia akan mengeluarkan anak  cucu yang beribadah kepadaKu, atau ia memang akan celaka yang akan masuk ke neraka Jahannam”.
Al­Faqih rnenerangkan bahwa kisah di atas menunjukkan bahwa apabila seseorang bertaubat maka Allah akan menerima taubatnya, dan seseorang tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala karena Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya  tiada  berputus  asa , dari  rahmat  Allah  melainkan kaum yang kafir”.
Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
“Dan Dialah  yang  menerima  taubat  dari  hamba-hambaNya  dan  memaafkan kesalahan-kesalahan “.
Oleh karena itu setiap orang yang mempunyai akal sehat  hendaknya bertaubat kepada Allah setiap saat dan ia tidak dianggap terus menerus melakukan perbuatan  dosa meskipun ia mengulanginya 70 kali dalam satu hari sebagaimana diriwayatkan dari Abu Bakr Ash­Shiddiq  ra. dari Nabi saw. bahwasanya beliau bersabda yang artinya : 
“Tidak dianggap terus menerus melakukan dosa orang  yang mohon ampun meskipun ia mengulangi 70 kali dalam satu hari” …
 “Demi Allah, sungguh aku bertaubat kepada Allah  Ta’ala  seratus kali dalam satu hari “.  Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwasanya beliau bersabda yang artinya: 
Diriwayatkan dari  ‘Ali bin  Abu Thalib kw. bahwasanya ia berkata : “Bila saya mendengar sesuatu dari Rasulullah saw. maka saya langsung mengerjakannya, dan bila ada orang selain beliau bercerita kepada saya, maka saya minta agar ia mau bersumpah, bilamana ia mau bersumpah maka saya percaya.
Abu Bakr Ash­Shiddiq ra. berkata : “Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
 “Tiada seorang hamba yang berbuat dosa kemudian  ia berwudlu’ dimana ia menyempurnakan  wudlu’nya   dan mengerjakan shalat dua raka’at serta memohon  ampun  kepada  Allah  melainkan  Allah mengampuni  dosanya. 
Kemudian  beliau  membaca  ayat (yang artinya) : 
“Barangsiapa yang  mengerjakan  kejahatan  atau menganiaya dirinya sendiri kemudian  ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapat Allah  Maha  Pengampun  lagi Maha  Penyayang”,  
Dalam riwayat  yang ‘lain disebutkan   bahwa  beliau  membaca  ayat  (yang artinya)  : 
“Dan  orang-orang  yang  apabila  mengerjakan  perbuatan keji  atau  menganiaya  diri  sendiri,  mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun  terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat  mengampuni dosa selain dari Allah ?Dan mereka tidameneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka  itu  balasannya  ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungaisedang   mereka kekal di dalamnyadan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”). 
Al-Hasan  Al-Bashri  meriwayatkan  dari  Nabi  saw: bahwasanya  beliau bersabda yang artinya:
“Ketika Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung  menurunkan iblis, semoga laknat selalu berada padanya, ia berkata : “Demi kemuliaan-Musungguh  saya tidak akan  berpisah dengan anak cucu Adam sehingga nyawanya memisahkan jasadnya”. 
Kemudian Tuhan Yang Maha Luhur berfirman  :
“Demi kemuliaan dan kebesaranKu, Aku tidak akan menututaubat dari hambaKu sehingga nyawanya berada di kerongkongan”. 
Al-Qasim  meriwayatkan  dari Abu Umamah  Al-Bahili ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda yang artinya :
“Malaikat yang  berada  disebelah  kanan (pencatat  amal yang  baik) lebih jujur  daripada malaikat yang  berada  di sebelah  kiri  (pencatat  amal  jelek).   Apabila seseorang mengerjakan satu kebaikan maka malaikat yang berada disebelah kanan itu mencatatkan bagi orang itu sepuluh­kebaikan dan apabila ia mengerjakan  satu kejahatan dan malaikat yang  berada  di sebelak kiri  hendak mencatatkannya, maka malaikat yang sebelah  kanan  itu  berkata : 
‘Tahan dulu”, Lalu malaikat yang sebelah kiri menahannya enam atau tujuh jam. Apabila ia  memohon ampun kepada Allah  maka ia  tidak dicatatkan atasnya dan seandainya ia tidak  memohon  ampun  maka dicatatkan satu kejelekan  atas orang itu.
Al-Faqih  berkata  :   “Hal  ini sesuai dengan hadits  yang diriwayatkan dari Rasulullah  saw.  dimana beliau bersabda yang artinya :
“Orang yang bertaubat itu adalah seperti orang yang  tidak mempunyai dosa“.  
Dalam riwayat yang lain disebutkan : “Sesungguhnya seorang hamha apabila ia berbuat dosa, tidak dicatatkan atasnya sehingga ia  mengerjakan perbuatan dosa yang  lain. Kemudian apabila ia mengerjakan perbuatan dosa maka tidak dicatatkan atasnya sehingga. ia mengerjakan  perbuatan  dosa yang lain lagi. 
Apabila lima macam dosa telah berkumpul dan ia mengerjakan satu perbuatan baik maka dicatatkan baginya lima kebaikan, dan lima kebaikan (yang dicatatkan) itu sebanding dengan lima kejahatan. 
Dalam situasi yang demikian itu iblis, semoga kutukan selalu berada padanya, menjerit dan berkata : 
‘Bagaimana saya bisa membinasakan manusia, karena walaupun saya sudah bersungguh­sungguh menggodanya, semua usahaku itu dihapus dengan satu kebaikan”.
Shafwan bin  ‘Assal Al-Muradi  ra. meriwayatkan  dari Nabi saw. dimana beliau bersabda yang artinya :
Di sebelah barat ada satu pintu yang diciptakan oleh Allah Ta’ala untuk (menerima) taubat, lebarnya perjalanan 70 atau 40 tahun yang selalu dibuka, tidak  ditutup hingga  matahari terbit  dari arah barat (hari kiamat)”.
Di dalam menafsirkan ayat : (yang artinya : “Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang­orang yang bertaubat”).
Sa’id bin Ai-Musayyab  berpendapat  bahwa  orang  yang  dimaksud adalah  orang  yang  berbuat  dosa  lalu  bertaubat, kemudian berbuat dosa lagi lalu bertaubat.  Al-Hasan Al-Bashri ditanya : “Sampai kapan ?’, Ia  merijawab : ” Aku tidak melihat hal ini kecuali dari akhlak orang-orang yang beriman”.
Seorang yang bijaksana berkata : “Sikap orang yang mengenal Allah itu ada enam, yaitu :
  1. Apabila berdzikir (ingat) kepada Allah maka ia merasa bangga.
  2. Apabila mengingat dirinya sendiri maka ia merasa ringan.
  3. Apabila melihat  tanda-tanda  kebesaran  Allah.  maka  ia  mengambil pelajaran  daripadanya.
  4. Apabila hatinya tergerak untuk melakukan maksiat atau menuruti hawa nafsu maka ia segera berpaling daripadanya.
  5. Apabila ingat ampunan Allah maka ia merasa senang.
  6. Apabila ingat dosa-dosanya maka ia mohon ampun.           .
Al-Faqih berkata : “Ayahku menceritakan kepadaku, Abul Hasan Al-Farra’ menceritakan kepada kami, Abu  Bakr Al-Jurjani menceritakan kepada kami dari  Muhammad bin lshaq dari seseorang yang menceritakannya  dari Ma’mar dari Az-Zuhri dimana ia berkata yang artinya :
‘Umar bin Al-Khaththab ra. masuk ke rumah Rasulullah saw. sambil menangis, kemudian  Rasulullah saw. bersabda : “Wahai ‘Umar, apakah yang menyebabkan kamu menangis ?”. ‘Umar menjawab :
“Wahai Rasulullah, di pintu, ada seorang pemuda yang membakar hatiku dan ia menangis”, Rasulullah saw.·  bersabda : “Wahai ‘Umar,  suruhlah dia masuk kesini”. Pemuda  itu masuk sambil menangis.  Rasulullah lantas bertanya kepadanya :
“Wahai anak muda, apakah kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu ?”. la menjawab ‘Tidak”, Beliau   bertanya : “Apakah kamu membunuh seseorang tanpa hak ?”. ‘Ia menjawab ; ‘Tidak”, Beliau bersabda :
“Sesungguhnya’ Allah akan mengampuni dosamu meskipun (dosa itu) seperti tujuh langit, tujuh bumi  dan gunung­gunung yang menjulang  tinggi”. la berkata : ‘Dosaku lebih besar daripada tujuh langit, tujuh  bumi  dan gunung­gunung yang menjulang tinggi”.
Rasulullah saw. bertanya : “Lebih besar  mana dosamu dengan kursi (Allah) ?”. la menjawab : “Dosa saya lebih besar daripadanya”. Beliau bertanya : “Lebih besar mana dosamu dengan ‘arasy ?”. la menjawab ;
‘Dosa saya lebih besar (daripadanya)”, Beliau bertanya : “Lebih besar mana dosamu dengan ampunan Allah ?”.
Ia menjawab : “Ampunan  lebih besar dan lebih agung”.  Beliau bersabda : “Sesungguhnya tidak akan bisa   mengampuni dosa yang besar kecuali Allah Yang maha Besar”,
Beliau bersabda lagi ; ‘Beritahukanlan kepadaku tentang dosamu itu”. la berkata : “Sesungguhnya saya   malu kepadamu wahai Rasulullah”, Beliau bersabda : “Beritahukanlah kepadaku tentang dosamu itu”.
la berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah penggali kubur yang telah menekuni pekerjaan  itu selama tujuh tahun, sehingga ada seorang gadis dari golongan Anshar yang meninggal dunia lalu saya galikan kuburannya dan saya keluarkan dari kain kafannya.
Tidak lama kemudian syetan menggoda hatiku, lalu saya kembali dan mensetubuhinya. Tidak lama kemudian, gadis itu bangkit dan berkata :
“Wahai anak muda, celakalah kamu. Apakah kamu tidak merasa malu kepada Tuhannya hari pembalasan yang akan menggelar kursi-Nya untuk pengadilan dan mengambilkan (pahala) dari orang yang menganiaya untuk orang yang dianiaya.
Kamu tinggalkan aku dengan telanjang di barisan orang­orang mati dan kamu biarkan aku dalam keadaan junub di hadapan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”.
Rasulullah saw. bersabda : “Wahai orang fasik, pantasnya tempatmu memang di neraka. Pergilah dari sini”. Pemuda itu pun keluar dengan bertaubat  kepada Allah Ta’ala selama 40 malam. Setelah menyempurnakan 40 malam, ia menengadahkan kepala ke atas seraya berdo’a : 
“Wahai Tuhan Muhammad, Adam dan hawa”, Jika Engkau menerima taubatku, maka beritahukan Muhammad saw. dan sahabat·sahabatnya !, dan jika   taubatku tidak diterima maka turunkanlah api dari  langit lantas bakarlah aku dengan api itu, dan  selamatkanlah aku dari siksaan akhirat”.  
‘Umar  melanjutkan  kisah  itu  : “‘Maka   Jibril  datang  kepada  Nabi  saw.  lalu  berkata  : 
“Kesejahteraan buat kamu wahai Muhammad,  Tuhanmu menyampaikan  salam untukmu”.  Nabi  saw. lantas bersabda : “Dia adalah Dzat Yang Maha     Sejantera, dari-Nya kesejahteraan, dan kepadaNya kesejahteraan  itu kembdli”, Jibril berkata : 
“Engkaulah yang menciptakan makhluk ?”. Beliau bersabda : “Bukan,  Allah  yang  menciptakan  aku dan  mereka”.  Jibril  berkata  :”Engkaukah  yang  memberi rizki kepada mereka ?”. Beliau  bersabda  : “Bukan, Allah yang memberi rizki kepada mereka dan kepadaku”. 
Jibril berkata : “Engkaukah  yang  menerima taubat mereka ?”  Beliau bersabda : “Bukan, Allah yang menerima taubatku dan taubat mereka”. Jibril berkata, ‘Terimalah taubat  hambaKu ·  karena  sesungguhnya Aku   telah   menerima  taubatnya”, Nabi  saw. lantas memanggil pemuda tadi dan menyampaikan berita gembira bahwa Allah Ta’ala telah menerima  taubatnya”.
Al-Faqih berkata : “Orang yang berakal sehat hendaknya bisa mengambil pelajaran dari hadits tersebut, dan menyadari  bahwa zina dengan orang yang sudah meninggal dunia, seseorang hendaklah senantiasa bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benamya.
Sebagaimana kasus pemuda tadi, karena Allah Ta’ala mengetahui  bahwa taubatnya itu benar-benar maka Dia  berkenan mengampuninya, Taubat itu harus sesuai dengan kadar perbuatan dosanya. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra. bahwa di dalam menafsirkan  ayat yang artinya :
“Wahai orang-orang  yang beriman, bertaubatlah kamu kepada  Allah  dengan  taubat  yang  semurni-murninya”);  
Dia berpendapat bahwa yang dimaksud dengan taubat nashuha (taubat yang semumi-muminya) adalah penyesalan dengan hati. Istighf’ar (permohonan  ampun) dengan lisan, dan berjanji untuk tidak akan mengulanginya selama-lamanya. Diriwayatkan dari Nabi saw; bahwasanya  beliau bersabda yang  artinya :
“Orang yang mohon ampun  dengan  lisan  yang  terus menerus melakukan perbuatan dosa itu adalah seperti orang yang memperolok-olok Tuhannya”.
Disebutkan dari Rabi’ah bahwasanya ia berkata :  “Sesungguhnya pennohonan ampun kita itu memerlukan permohonan ampun yang serius dan dengan  janji”.
Maksudnya apabila seseorang  itu  mohon  ampun  dengan lisan namun ia mempunyai niat untuk mengulangi perbuatan dosa itu lagi maka taubatnya  adalah sama dengan taubatnya orang­orang yang bohong, dan taubat yang semacam ini bukanlah  taubat.
Taubat  yang benar adalah  diucapkan  dengan  lisan  dan hatinya berniat untuk tidak mengulanginya lagi.  Bila demikian halnya ia maka Allah suka mengampuni dan maha pengasih terhadap hamba­hambanya.
Diceritakan  bahwa  dalam  kalangan Bani  Israil  ada seorang  raja yang diberitahu  bahwa  di situ ada seorang  ahli ibadah,  lalu raja  itu memanggilnya dan meminta agar orang itu mau menemani sang raja dan siap setiap kali dipanggil.
Maka orang itu berkata :  “Baiklah, saya akan memenuhi  apa  yang  menjadi   keinginan   tuan,  tetapi  bagaimana seandainya suatu  hari saya  masuk  ke  kerajaan  dan  tuan  mendapatkan  saya  sedang bermesraan  dengan  pembantu  perempuan tuan,  apa yang  akan  tuan perbuat terhadap diri saya ?”,
Sang raja lantas  marah dan berkata  :  “Wahai orang jahat, kamu berani  melakukan hal itu di depanku ?”.  Orang itu berkata kepada sang raja :
“Saya mempunyai Tuhan Yang Maha Mulia, yang seandainya Dia mengetahui saya melakukan   perbuatan dosa 70 kali dalam satu hari.  Dia tidak akan marah dan tidak akan mengusir saya, dan tidak akan memutuskan rizkiNya kepada saya.
Maka bagaimana saya akan meninggalkan pintu Tuhan itu untuk pindah ke pintu seseorang  yang marah pada saya sebelum saya durhaka kepadanya, dan bagaimana  seandainya tuan melihat saya durhaka ?”.  Kemudian  orang itu pergi  meninggalkan sang raja.
Al­Faqih berkata : “Dosa itu ada dua macam, yaitu dosa antara kamu dengan Allah Ta’ala dan dosa antara kamu dengan sesama manusia. Dosa antara kamu dengan Allah Ta’ala, taubatnya adalah istighfar (mohon ampun) dengan lisan, menyesali perbuatan itu  dengan hati dan bermaksud untuk tidak mengulangi  lagi perbuatan  itu.
Apabila seseorang yang berdosa terhadap Allah  melakukan tiga hal ini, maka Allah akan segera mengampuninya kecuali bila ia meninggalkan sesuatu  fardlu yang diwajibkan maka taubatnya itu tidak ada gunanya sebelum ia mengerjakan kewajiban itu,  kemudian setelah itu baru ia menyesal dan mohon ampun kepada-Nya.
Sedangkan dosa yang berhubungan dengan sesama  manusia, maka taubat itu tidak ada gunanya sebelum  orang yang bersangkutan belum menghalalkan atau memaafkannya”.
Diriwayatkan  dari  salah  seorang  tabi’in  bahwasanya  ia berkata : “Sesungguhnya terhadap orang yang  berbuat dosa lalu ia senantiasa menyesali  perbuatannya dengan disertai mohon ampun sehingga  ia masuk surga, maka syetan akan berkata : “Celaka  aku, aku tidak bisa menjerumuskan dia ke dalam dosa Itu”.
Tidak tergesa-gesa itu baik dalam segala hal kecuali dalam tiga hal, yaitu : ketika datang waktu shalat, ketika mengubur jenazah dan taubat bila berbuat maksiat”.
Seorang yang bijaksana berkata : “Taubat seseorang  itu bisa dilihat dari empat hal :
  1. Bisa mengendalikan lisannya dari ucapan-ucapan yang tidak berguna, menggunjing dan dusta.
  2. Dalam hatinya tidak ada rasa dengki dan permusuhan.
  3. Meninggalkan teman-temannya  yang jelek.
  4. Selalu siap menghadapi mati, menyesali semua perbuatan yang tidak baik dibarengi dengan permohonan ampun, dan dengan bersungguh- sungguh untuk taat kepada Allah”.
Ada seseorang yang bertanya kepada orang yang bijaksana : “Apakah ada tanda-tanda yang bisa diketahui bahwa taubat seseorang itu diterima ?”. Orang bijak itu menjawab : “Ya, ada empat tanda, yaitu :
  1. Memutuskan hubungan  dengan   teman-temannya   yang  jahat,  serta menjalin hubungan dan bergaul  dengan orang-orang  yang shalih.
  2. Menghentikan semua perbuatan maksiat dan rajin  untuk mengerjakan ibadah.
  3. Mengenyampingkan kesenangan dunia  dari dalam hatinya dan selalu teringat siksaan akhirat.
  4. Tawakkal dalam masalah rizki, dimana ia sangat percaya akan jaminan dari Allah disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam segala apa yang diperintahkan oleh Allah”.
Apabila keempat hal itu nampak pada diri seseorang yang melakukan perbuatan dosa maka ia termasuk dalam kelompok orang yang disebutkan oleh Allah melalui firmanNya yang artinya:
“Sesungguhnya Allah mencintai  orang-orang  yang  bertaubat  dan orang-orang yang mensucikan diri”.
Orang yang semacam itu juga akan  mendapatkan   perlakuan yang baik dari orang-orang  di sekitamya  dalam empat hal, yaitu :
  1. Mereka akan mencintainya karena Allah telah mencintainya.
  2. Mereka ikut menjaganya melalui doa.
  3. Mereka tidak lagi menghiraukan dosa-dosanya yang telah lewat.
  4. Mereka akan bergaul dengannya, mengingatkan dan membantu  segala kesulitannya.
Disamping itu, Allah juga akan memuliakannya   dengan empat macam, yaitu:
  1. Allah melepaskan dosa-dosa  daripadanya  seolah-olah  ia tidak pernah berdosa  sama sekali.
  2. Allah mencintainya.
  3. Allah memeliharanya dari godaan syetan.
  4. Allah menjauhkan rasa takut dari dalam hatinya sampai ia meninggal dunia.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Malaikat akan turun kepada mereka (dengan  mengatakan) : “Janganlah kamu  merasa takut dan janganlah  kamu merasa sedih; dan  gembirakanlah  mereka dengan  (memperoleh)  surga  yang  telah dijanjikan Allah kepadamu”. 
Diriwayatkan  dari Khalid bin Ma’dan bahwasanya  ia berkata : “Ketika orang-orang  yang bertaubat  masuk surga, mereka  berkata :  “Bukankah Engkau telah mengancam kami untuk melewati neraka dulu sebelum kami masuk surga ?”.
Kemudian dijawab : “Kamu telah melewatinya akan tetapi neraka itu sedang padam”. Dalam riwayat yang lain dari Nabi saw. yang artinya : 
“Bahwasanya beliau merajam seorang perempuan yang berzina, kemudian beliau menshalatkannya. Sebagian sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, engkau telah merajamnya tetapi juga menshalatkannya”, Kemudian beliau bersabda, ‘Ia  telah benar­benar bertaubat, yang seandainya ia melakukan hal yang sama 70 kali niscaya Allah akan menerima taubatnya”,
Maksudnya taubat orang perempuan itu adalah taubat  yang benar, dan taubat yang benar itu akan diierima  meskipun dosa itu adalah dosa besar.
Diriwayatkan pula dari Rasulullah saw. bahwasanya beliau bersabda yang artinya :
“Barangsiapa yang mengaibkan orang mukmin dengan perbuatan keji maka ia seperti orang yang mengerjakannya, dan merupakan hak bagi Allah untuk menjerumuskannya  ke perbuatan  keji itu. Dan barangsiapa yang mengaibkan orang mukmin dengan perbuatan durhaka maka tidak akan keluar dari dunia ini sebelum ia melakukannya dan terbuka rahasianya”.
Al-Faqih berkata  :  “Sesungguhnya  orang mukmin itu tidak mungkin mempunyai  maksud untuk melakukan  perbuatan  dosa karena Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
“Allah menjadikan  kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan”): Oleh karena itu orang mukmin tidak akan mempunyai maksud untuk melakukan  perbuatan  dosa dan bila ia melakukannya  adalah  karena lupa, maka ia tidak boleh dicerca bila ia telah bertaubat”.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra. bahwasanya ia berkata  : “Apabila seorang  hamba bertaubat   maka  Allah akan menerima taubatnya, serta melupakan malaikat yang mencatat amal perbuatan yang telah mereka tulis, melupakan anggota­anggota badannya terhadap dosa­dosa yang pernah dilakukannya,  melupakan tempatnya di bumi dan melupakan  tempatnya di langit supaya nanti pada hari kiamat ia  datang dengan tanpa wajah sesuatu makhluk yang menyaksikan  perbuatan dosanya itu”.
Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abu Thalib kw. dari Nabi saw. bahwasanya beliau bersabda yang artinya :
“Telah ditulis di sekitar ‘arasy 4.000 tahun sebelum Allah menciptakan makhluk : “Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh,  kemudian  tetap di jalan yang benar”.

Baca juga : Cara Taubat Kepada Allah SWT
Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: