Advertisement

Advertisement

Berpikir dan Bertindak Ber-dasar-kan Al-Qur’an

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM.net - Berpikir dan Bertindak ber-dasar-kan Al-Qur’an - "Berpikir sesaat, lebih baik daripada beribadah setahun'.' (HR. Ibnu Hibban).

Secara Umum Berpikir adalah proses untuk menyimpan, mengingat, menganalisis, dan menyimpulkan berbagai informasi internal dan eksternal diri kita, sehingga menjadi sebuah konsep gagasan (ide) yang akan menjadi dorongan dan tindakan.

Pikiran pulakah yang akan mengarahkan ke mana kita pergi dan bagaimana kita harus berbuat. Karena, di dalam pilihan itulah seluruh keputusan, konsep dan tujuan hidup diputuskan. Maka dengan dasar pikiranlah manusia mampu mengarahkan kehidupannya mengikuti dimensi waktu,  kemanusiaan, dan alam. 

Mendayagunakan seluruh dimensi tersebut untuk menempatkan keberadaan dirinya dalam proses hidupnya, apakah dia akan menjadi mulia atau menjadi hina, jadi sukses atau gagal, dihargai atau bahkan dilecehkan. Semuanya betawal dari bagaimana cara kita berpikir

Berpikir berarti pula sebuah proses perenungan, mengingat, dan kemudian menyimpulkan serta berbagai kemungkinan untuk melakukan antisipasi ke masa depan.

Berbagai informasi yang ditangkap oleh indra akan diproses sebagai data pengalaman untuk menghadapi dan mempersiapkan sebuah tindakan. Itulah sebabnya, Allah Ta'ala memperingatkan, 
“Dan Dialah yang telah menciptakan untukmu sekalian pendengaran, penglihatan, dan hati (pikiran). Amat sediklah kamu bersyukur." (al- Mu'minuun: 78).

Dibawah Naungan Al-Qur’an Kita tidak bisa membayangkan bagaimana asbabun nuzul atau sebab turunnya wahyu pertama (surah al-Alaq ; 1-5) kepada Rasulullah Muhammad saw., seandainya beliau tidak bertafakur di Gua ternyata kasus ini menunjukkan sebuah peristiwa yang maha dahsyat bagi umat manusia, utamanya kata iqra. Kata iqra diambil dari kata kerja qara'a yang berarti 'menghimpun atau mengumpulkan yang terserak.

Hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa awal turunnya Al-Qur'an dimulai dengan perintah untuk berpikir dikarenakan pengertian menghimpun merupakan bagian dari proses berpikir. Bukankah berpikir berarti pula mengumpulkan atau menghimpun seluruh informasi yang berada dalam memori kita sebagai bahan mengambil keputusan dan tindakan ?.

Kalaupun kata iqra selama ini diterjemahkan dengan anti 'membaca', ini pun mempunyai anti menghimpun huruf yang disusun sedemikian rupa sehingga memberikan arti. Dengan demikian, di dalam proses iqra tersebut terkandung perintah untuk berpikir yang di dalamnya terkandung kegiatan mental seperti: mengingat, menghimpun, menganalisis, menyimpulkannya sehingga mempunyai makna (meaning fid).

Dalam proses berpikir tidak berhenti hanya pada tahapan mengingat dan menghimpun atau menganalisis saja, tetapi harus mampu sampai pada tahapan kesimpulan yang memberikan makna. Apalah artinya menghimpun huruf yang berserakan apabila tidak memberikan makna.

Hal tersebut seperti perumpamaan bahwa Anda ingin memperingatkan suatu bahaya, tetapi cara Anda menghimpun huruf-hurufnya tidak benar, kemudian Anda berteriak, "Wasa wasa mahariu!" Padahal yang Anda maksudkan, "Awas awas harimau !.

Kata iqra diikuti dengan "bismi Rabbikal Ladzii khalaq, seakan-akan memberikan informasi kepada alam pikiran kita bahwa cara yang benar berpikir adalah ber-dasar-kan kepada "Rabb" (berasal dari kata Tarbiyyah artinya 'pendidikan, pembinaan). Dengan mengaktifkan kegiatan berpikir berarti menjalankan proses pendidikan dan pembinaan diri.

Sebagaimana seorang murid, ia akan berkembang jiwanya bila mengikuti seluruh pedoman dan perintah sang pendidik (guru). Demikian pula dengan iqra yang dikaitkan dengan kata bismi rabbika memberikan pengertian bahwa hanya dengan menyandarkan diri kepada Allah, maka proses dan basil berpikir itu menjadi bernilai. Aisyah r.a. berkata, "Jiwa adalah tempat bisikan-bisikan hawa nafsu. Sedangkan, akal berperan untuk menolak dan meredamnya."

Kata iqra adalah kata yang paling awal (turunnya wahyu) diterima Nabi, juga seharusnya sebagai pendorong umat Islam untuk melahirkan semacam budaya kecintaan untuk membaca, kecintaannya untuk menjadi sosok manusia yang penuh dengan informasi (personal resources).

Karena, salah satu kekuatan seorang pemimpin (khalifah) adalah kemampuannya menguasai dan memiliki informasi sebagai akses dirinya dalam upaya mengaktualisasikan gagasan-gagasannya. Tidak ada satu pun negara yang maju, kecuali generasi muda bangsa tersebut mempunyai budaya baca yang tinggi.

Perpustakaan publik berkembang dan ramai dikunjunginya karena mereka semua haus dengan informasi dan ilmu pengetahuan. Rasa ingin tahu mereka telah menyebabkan roda kehidupan semakin dinamis dan terang cahaya pikirannya.

Al-Qur'an menempatkan potensi membaca sebagai bagian dari kegiatan berpikir dalam kedudukannya yang sangat mulia, bahkan Al-Qur'an memberinya predikat sebagai ulil albab (Ali Imran: 190-191), yaitu sosok manusia yang mempergunakan potensi akal dan pikirannya untuk menggali seluruh fenomena alam sebagai tanda dirinya bersyukur.

Yaitu, sebuah dorongan untuk memanfaatkan potensi anugerah Ilahiah sesuai dengan ridha Allah, sehingga seorang yang bersyukur adalah tipikal manusia yang mempergunakan pikiran dan tindakannya di jalan Allah semata-mata.

Dalam kehidupan budaya masyarakat, sering kita dengar peristiwa "tasyakur atau syukuran", tetapi sayangnya apa yang dilakukan tidak lebih semacam "pesta kecil" untuk memohonkan doa.

Padahal, yang dimaksudkan dengan bersyukur berarti semacam rehabilitasi, reformasi, dan rekonsolidasi untuk mempergunakan dan memanfaatkan anugerah Allah untuk meningkatkan dirinya lebih baik lagi di jalan Allah.

Bersyukur berarti memperkuat (reinforcement) diri untuk mempergunakan seuruh aset yang dimilikinya di jalan Allah. Bersyukur berarti sebuah komitmen untuk melakukan perenungan yang mendalam sehingga memberikan arah untuk bertindak. 

Betapa mungkin manusia tidak bersyukur kepada Allah SWT, sedangkan keajaiban otak sebagai perangkat keras berpikir manusia tersebut menunjukkan Yang Maha dahsyat. Simkalah beberapa pendapat dari ahli tentang kemampuan, susunan, serta keruwitan jaringan saraf dalam otak manusia, sebagaimana diuraikan oleh Paul Thomas, di dalam bukunya Advanced Psycho Cybernetics and Psychofiedback,

"Otak manusia tersusun dengan sangat padat Memiliki berat kira-kira 1400 gram untuk rata-rata orang dewasa dan 1.275 gram pada rata-rata wanita. Untuk bekerja secara efisien, otak hanya memerlukan 1/10 (satu per sepuluh) volt listrik untuk menghidupkan puluhan miliar sel saraf. Jaringan hubungan di antara miliaran sel-sel saraf di dalam otak (neuron) secara potensial mampu memproses segala bentuk informasi yang setara dengan 2 sampai 10 pangkat 13. Hal ini menunjukkan jumlah yang jauh lebih besar daripada jumlah atom di alam semesta. Otak manusia tersusun dengan sangat rapi sehingga untuk mendekati kemampuannya yang sedemikian rupa, sebuah komputer modern membutuhkan sekurang-kurangmya 10.000 (sepuluh ribu) kali lebih besar dari pada rata-rata otak.

Untuk menghitung jumlah sambungan saraf di otak, dibutuhkan 10 juta tahun lamanya, bila sambungan-sambungan itu dihitung dengan kecepatan detik (jam)."

Melihat pendapat pakar tersebut, sesaat diri kita tertegun, dan ucapan "subhanallah" akan terlontar dari bibir kita. Keajaiban apa lagi yang akan memukau diri untuk menyatakan syukur kepada Allah, setelah melihat data dan kemampuan saraf-saraf dalam otak manusia. Belum lagi kita melihat keajaiban kehidupan mikrobiologi dan susunan anatomi dalam tubuh kita, niscaya hanya kekaguman dan syukur yang terpanjatkan.

Pantaslah Allah memperingatkan diri kita agar bersyukur, sebagai mana Firman-Nya, "....Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim: 7).

Dengan dibekalinya otak yang ajaib tersebut, setiap pribadi muslim akan memanfaatkannya untuk berpikir dan mendorong tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Bahwa berpikir sesaat, lebih baik daripada ibadah seratus tahun." (HR. Ibnu Hibban).

Sebuah bahasa metaforis yang memberikan penghargaan tinggi terhadap orang-orang yang mempergunakan pikirannya untuk kemaslahatan umat sebagai tanda syukur kepada Allah.

Suatu saat, Anas bin Malik, seorang sahabat yang utama, pernah memuji-muji orang di dekat Rasulullah saw.. Setelah mendengar ucapan Anas, beliau bertanya, "Bagaimanakah akalnya ?" Sahabat itu menjawab, "Hamba memuji orang itu karena ia taat beribadah dan banyak macam-macam kebaikannya, bukanlah akalnya, ya Rasulullah." Selanjutnya Rasulullah bersabda,

"Ketahuilah wahai Anas, sesungguhnya orang-orang yang bodoh itu lebih banyak tertimpa musibah karena kebodohannya daripada orang jahat yang berakal. Sesungguhnya amat mudahlah seorang hamba mendekiti Tuhan-nya dengan akalnya." (al-Hadits).

Begitu pentingnya peranan berpikir sehingga berulang-ulang Al-Qur'an menyebut "yatafakaruun", sebuah kata kerja yang memberikan dorongan kepada manusia agar secara aktif mempergunakan aset otak untuk dipakai merenung, menganalisis, dan menyimpulkan untuk memperoleh nilai-nilai kebenaran. 

Berpikir yang berkualitas apabila dilakukan dalam kerangka kesengajaan serta bertujuan dan karenanya mendorong rasa ingin tahu yang mendalam (curiousity).

Para hukama berkata bahwa ayat-ayat Allah itu terdiri dari dua bagian. Pertama, ayat-ayat yang tertulis dengan tinta hitam pada lembaran kertas yang putih, itulah ayat Qur'ani. Kedua adalah ayat-ayat Allah yang tidak tertulis (qauniyah) yang hanya dapat dibaca dalam kejernihan pikiran dan rasa ingin tahu yang mendalam untuk mereguk kebesaran Allah.

Bagi orang awam, buah apel yang jatuh ke bawah adalah soal biasa. Sebuah peristiwa alam yang tidak mengubah apa pun sejak dahulu kala. Peristiwa yang memang begitu seharusnya. Tetapi, bagi Isaac Newton, apel yang jatuh ke bawah itu mengusik dirinya.

Informasi jatuhnya apel ke bawah tersebut mendorongnya untuk menganalisis, dan kemudian melahirkan kesimpulan ilmiah dengan lahirnya teori gravitasi. Isaac Newton telah menerjemahkan ayat-ayat qauniyah karena didorong rasa ingin tahunya yang mendalam.

Di sinilah kelebihan manusia dibandingkan dengan hewan atau makhluk lainnya. Dalam ilmu manthiq (logika), manusia disebut sebagai 'al-insaanu hayawanun nathiqun' manusia adalah hewan yang berpikir'. 

Seakan-akan tanpa mempergunakan pikiran secara aktif dan benar, niscaya manusia hanyalah benda yang layaknya sama dengan hewan belaka.

Pantaslah Earl Nightingale berkata, " Dirimu adalah apa yang kamu pikirkan (you are what you think)." Dengan pemahaman ini, berarti setiap pribadi muslim harus mendasarkan dirinya pada cara berpikir Qur'ani dan bertindak serta bersikap islami, yaitu sebuah tata cara perikehidupan yang disadari dan disengajakan untuk menggubah dunia dengan pantulan cahaya Qur'an.

Ralph Waldo Emerson (1803-1882) seorang filosof dan budayawan berkata, "Orang-orang besar itu adalah mereka yang mampu melihat dan memahami bahwa pikiranlah yang dapat menguasai dunia (great men are those who see that thoughts rule the world)." 

Hal ini memberikan indikasi bahwa pikiranlah yang menentukan "siapa kita". Pikiranlah yang memberikan arah ke mana langkah dan tujuan hidup diarahkan.

Seseorang bisa berpikir secara autistik (berkhayal) bila sekadar menggambarkan keinginan-keinginan khayali, wishfid thinking atau mungkin juga melamun. Tetapi, Anda juga dapat berpikir dengan daya nalar (akal), ada alasan-alasan faktual dalam rangka melakukan penyesuaian diri di dunia nyata.

Berpikir autistik diperlukan untuk menyusun berbagai konsep yang kemudian diikuti dengan cara nalar untuk melihat berbagai kemungkinan penyesuaian diri dalam dunia yang benar-benar nyata.

Pokoknya, hanya makhluk manusia yang mampu berautistik (berkhayal) maupun berpikir faktual dan nalar. Manusia mampu membuat gambaran tentang masa lalu dan rencananya di masa depan.

Apabila manusia tidak mempergunakan potensi pikirnya, mungkin yang lebih tepat kita katakan sebagai manusia yang tidak pandai bersyukur. Ada satu lelucon yang mengatakan bahwa orang-orang yang maju, otaknya "murah" karena sering dipakai berpikir. Sedangkan orang yang terbelakang, otaknya"mahal karena dia tidak berpikir dengan otaknya.

Daniel Webster (1782-1852), " Pikiran merupakan alat pengangkat segala sesuatu yang terbesar, pikiran manusia adalah proses yang pada akhirnya akan menjawab tujuan-tujuan manusia (mind is the great lever of all things: human thought is the process by which human ends are ultimately answered(Staple: 35)."

Anda mempunyai tujuan, keinginan, ambisi, dan harapan-harapan, serta caranya untuk mewujudkannya dimulai dari apa yang Anda pikirkan. Pikiranlah dan mendiskusikannya terlebih dahulu, lalu ada semacam dialog bathin (interpersonal communication), yang kemudian ada dorongan untuk mengungkapkan pikiran tersebut dalam bentuk tindakan.

Apabila Anda berpikir tidak mungkin menang maka sudah dipastikan Anda pasti kalah. Napoleon Hill berkata, “jika seseorang bertindak benar, dunianya akan baik If a man is right, his world will be right)." Pikiranlah yang menentukan, apakah Anda mau bertindak ataukah diam sebagai penonton.

Pikiran pula yang mengawali, apakah Anda akan menjadi orang yang berdisiplin tinggi ataukah Anda akan melanggarnya. Pikiranlah yang menentukan, apakah Anda akan berpikir Qur'ani ataukah kafir. 

Apakah Anda dipengaruhi oleh etika moral dan falsafah lain ataukah berpikir bebas tanpa nilai Ilahi dan menjadi seorang pengikut aliran freethought (berpikir tanpa ikatan agama, iman, dan segala hal yang berlandaskan moral agama, salah satu paham ini adalah sekuler dan ateis). 

Harus ada keyakinan yang mendalam di dalam diri kita bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin untuk dikerjakan selama kita yakin untuk melaksanakannya. Setiap orang harus mempunyai prinsip-prinsip yang dirakit di dalam benak pikirannya apabila dia ingin tindakannya terarah.

Memainkan sugesti serta keyakinan di dalam pikiran merupakan awal dari keberhasilan. Dapat pula kita katakan bahwa tidak ada orang yang sukses kecuali dia mempunyai keyakinan di dalam pikirannya. Tertanam sikap positif " aku adalah penentu takdir, aku adalah kapten jiwaku (Jam the master of my fate, lam the captain of my soul)'.

Para pakar menduga, ada ratusan miliar sel neuron pada korteks serebral manusia. Sel tersebut mampu menyimpan triliun potongan informasi. Dan, setiap unsur membentuk komponen besar tentang siapa diri Anda. 

Begitu besarnya potensi otak untuk menyimpan informasi, sehingga sangat disayangkan apabila masih terlalu banyak "ruang kosong" yang tidak terpakai atau mubazir. 

Jumlah informasi dari hasil rekaman pengalaman akan memberikan nilai yang sangat besar bagi pertumbuhan kematangan budaya dan sosial seseorang. 

Manusia yang hidup di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan bisa merekam jutaan sinyal informasi yang memasuki ruang pikirannya, direkam, disimpan, lalu direproduksi dalam bentuk perilaku yang dinamis. Lain halnya dengan mereka yang hidup terisolasi di hutan atau gunung-gunung.

Sinyal informasi yang sedikit dan monoton, membentuk pula cara dirinya berpikir dan bertindak. Pokoknya bertambah kaya informasi yang diperoleh, bertambah besar kemungkinan seseorang untuk mengembangkan dirinya di tengah-tengah pergaulan sosialnya.

Informasi yang diolah, kemudian mengendap dalam bentuk sosialnya. Informasi yang diolah, kemudian mengendap dalam bentuk potongan-potongan informasi atau memori yang merupakan modal yang sangat besar bagi perkembangan kehidupan seseorang. 

Saraf otak atau neuron yang merekam informasi itu merupakan aset Ilahiah yang menyebabkan jati diri, harga diri, serta konsep diri yang positif.

Dengan kata lain, kualitas pengalaman seseorang sangat menentukan kualitas berpikir dan tindakannya yang secara aktual dinyatakan dalam kehidupannya. John Hamilton pernah mengatakan,

"Pikiran mempunyai tempatnya sendiri dan di dalam tempatnya itu surga bagaikan neraka, dan sebaliknya neraka bagaikan surga (The mind is its own place, and in itself can make a heaven of Hell, a hell of Heaven)."

Memang benar bahwa tindakan dan perbuatan yang tampak merupakan ukuran individu dalam menyatakan dirinya di tengah-tengah pergaulan dengan manusia dan lingkungannya. 

Tetapi harus diingat, tindakan yang tampak itu adalah hasil keputusan pikirannya. Dan, belum tentu apa yang tampak tersebut adalah orisinal hasil pemikirannya.

Perbuatan dan tindakan yang diungkapkannya, bisa jadi bukan yang dia maksudkan sebagaimana apa yang dia pikirkan sebenarnya. Dengan demikian, betapa pun kita sebagai orang luar tidak bisa menangkap pemikirannya yang orisinal, tetapi tindakan-tindakannyalah yang kita jadikan sebagai ukuran sementara.

Mota katakan sementara, karena mungkin sekali perbuatan yang ditampakkannya hanya sekadar perbuatan pembukaan dan bukan akhir perbuatan yang dimaksudkan oleh pikirannya. Atau lebih hakiki lagi, belum tentu itu merupakan pernyataan dari hati nuraninya. Orang bisa mengungkapkan perbuatannya guna tercapainya tujuan.

Ini sebagaimana tampak pada seorang pemuda yang memberikan karangan bunga mawar kepada seorang gadis pujaannya sebagai tanda perkenalan atau simpati, yang kelak akan disusul dengan perbuatan yang lainnya untuk menuju pada perilaku perolehan cinta.

Dasar untuk menjadi pribadi yang berkualitas, mempunyai sikap. disiplin, dan menghargai makna hidup secara optimal, harus tertanam benak pikiran kita bahwa pikiran akan menentukan tindakan. Seluruh tindakan kita merupakan mata rantai yang mengikat satu kekuatan untuk mencapai keberhasilan.

Sungguh sangat jelas, para pemenang tidak dilahirkan, tetapi mereka lahir dengan upayanya, serta dengan usahanya. 

Hal ini harus menjadi keyakinan yang paling puncak esensial, inti keyakinan yang diyakini oleh para pemenang, apakah dia lelaki atau perempuan (clearly winners are not born, they are made a key core belief af all peak performing men and women) (Stales: 30).

Allah telah memberikan peluang kepada kita untuk menjadi pemenang dalam debu kehidupan ini. Umat Islam didorong agar memiliki semangat berkompetisi (fastabiqul-khairat). 

Kita pun dipanggil untuk tampil sebagai khairu ummah, menjadi umat yang terbaik. Hal itu hanya mungkin apabila dalam benak kita ada semacam optimisme dan keyakinan yang mendalam, "berpikir dan bertindak bagaikan seorang pemenang (think and act like a winner)'.

Seorang yang berpikir positif akan tampak dari tindakannya yang positif pula. Sebaliknya, orang yang berpikir negatif akan bertindak negatif pula. 

Bila Anda merasa takut-kecut dan kalah menghadapi lawan, berarti Anda telah kalah sebelum bertanding ! Bila Anda berpikir bisa, Anda bisa. Bila berpikiran tidak bisa, tentu saja tidak bisa; if you think you can, you can. And if you think can't, yes you can't! 

Baca juga ; Ibahah Adalah Hukum Asal Memanfaatkan Sesuatu Atau...

Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: