Advertisement

Advertisement

Membangun Keyakinan Berdasarkan Al-Qur'an

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM | Membangun Keyakinan Berdasarkan Al-Qur'an - Betapa besarnya pengaruh lingkungan terhadap diri seseorang. 

Jutaan informasi dan pesan yang disampaikan media massa tentang keluarga, orang yang dihormati, para sahabat, tetangga, dan lain-lain, semuanya itu memaksa kita untuk menentukan pilihan-pilihan dan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak.



Tetapi, masih banyak yang tidak kita sadari bahwa jutaan pesan yang kita terima setiap hari tersebut tidaklah berarti selama kita mempunyai kekuatan dan keyakinan diri sendiri. 

Berbagai pesan, seperti : iklan, kampanye partai, rayuan sahabat, dan sebagainya tidak akan mempengaruhi pola pikir dan cara bertindak Anda, karena cara berpikir Anda telah dibentuk oleh keyakinan diri.

Membangun Keyakinan

Begitu pula seseorang yang berpola pikirnya Qur’ani. Ia tidak akan tergoyahkan oleh berbagai pesan yang berseliweran dengan segala tipu dayanya, karena Anda mempunyai keyakinan yang kuat terhadap kebenaran Al–Qur’an. 

Sehingga dapatlah kita katakan bahwa keyakinan-keyakinan itulah yang membentuk karakter dan cara bertindak Anda. 

Keyakinan adalah pelabuhan yang sekaligus berupa mercusuar yang menjadi acuan para nakhoda agar tidak terbentur pada karang-karang lautan.  Keyakinan diri Anda yang positif dan maju akan melahirkan tindakan yang positif pula.

Sebaliknya, keyakinan negatif apalagi ragu-ragu, akan melahirkan tindakan yang ragu-ragu pula sehingga tidak akan dapat memberikan hasil yang optimal. Itulah sebabnya, Allah berfirman,

“...Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (al-An’aam: 114)

Keragu-raguan dan kebimbangan merupakan cerminan diri yang lemah, kehilangan harapan, dan rapuhnya keyakinan. Bagaikan mengaminkan Al-Qur’an. Dr. Walter Doyle Staples berkomentar,

“Anda harus memikirkan keyakinan kalau Anda ingin berpikir sebagai seorang pemenang. Percayalah pada diri Anda sendiri. Percayalah pada kemampuan-kemampuan Anda, sebab Anda adalah apa yang Anda pikirkan (You must think beliif if you want to think like a winner. Have confidence in yourself Believe in your abilities, for you are who you think you are).

Keyakinan tidak datang dengan sendirinya. Dia merupakan rarnuan yang diracik dari berbagai sumber, sehingga kewajiban kita adalah meng arungi berbagai sumber tersebut, kemudian menyimpulkannya dalam satu “paket keyakinan”. 

Pengalaman akan menjadi pupuk yang akan memperkuat keyakinan; atau sebaliknya, ia dapat menghancurkan keyakinan yang selama ini Anda pegang. Untuk itu, seorang yang ingin berpikir dan bertindak secara Qur’ani harus merumuskan dirinya terlebih dahulu. 

Bahwa Al –Qur’an 
merupakan puncak kebenaran yang tidak bisa diragukan, 
diubah, dan dipengaruhi apa pun.

Sugestilah diri Anda dengan keyakinan yang paling mendasar sebagaimana Allah berfirman,

“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (a1-Baciarah: 147)

Di mana pun dan dalam situasi apa pun Anda berada, keyakinan inilah yang harus menjadi pegangan pertama dan utama. Tanpa keyakinan ini, niscaya identitas diri Anda sebagai seorang muslim akan terombang-ambing dalam arus kehidupan yang penuh dengan tantangan.

Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban manusia ditentukan oleh manusia yang sangat kuat dalam keyakinannya. Berbagai inovasi yang memperkaya khazanah peningkatan kehidupan dan martabat manusia selalu saja terlibat di dalamnya para pemikir dan manusia yang tangguh dengan keyakinannya tersebut.

Kita sangat meneladani pemikiran dan keyakinan dari junjungan kita, Nabi Allah Muhammad saw.. Kita juga mengenal tokoh lain yang kuat dengan keyakinannya, seperti Bukhari sebagai pengumpul halits yang tangguh dan ulet karena dipacu oleh rasa tanggung jawab terhadap keyakinan yang dimilikinya, atau Thomas Alfa Edison dengan penelitiannya.

Di samping itu, keyakinan itu pula yang membuat manusia eksis dan berkembang dengan menapak mata rantai peradabannya. Dan, keyakinan yang dimaksud adalah asumsi serta kesimpulan dari pengalaman-pengalaman yang relevan dengan ajaran Al –Qur’an itu sendiri. 

Di luar keyakinan Qur’ani, adalah sebuah kepalsuan yang hanya akan menjadikan diri sebagai “pemain sandiwara” yang harus memainkan serentetan kebohongan dan kepalsuan.

Bagi seorang muslim, menempatkan keyakinan di luar kerangka Al-Qur’an merupakan keyakinan yang palsu. Kepuasan diri yang dibentuk oleh keyakinan palsu tersebut hanya akan melahirkan tindakan-tindakan yang tidak jelas dan sulit untuk dipegang apalagi diberi amanah.  

Untuk itu, pengalaman mendalam yang dibentuk dalam lingkungan pergaulan dan pendidikan Qur’ani akan menjadikan diri Anda mampu membuat program-program tindakan yang Qur’ani pula. Hal ini sebagairnana disebutkan oleh Dr. Walter Doyle,

“Keyakinan palsu merupakan musuh kebenaran yang paling buruk, sebab keyakinan palsu itu menyebabkan berkurangnya prestasi dan menimbulkan rasa puas diri yang semu seumur hidup. 

Anda adalah apa yang telah Anda program ke dalam pikiran Anda untuk memikirkan siapakah Anda (False convictions are the worst enemy of truth, for they result in a lifetime of underachievement and compkcensy. You are what your mind has been programmed to think you are).

Pada dasarnya, sikap kompromistis adalah bentuk kepalsuan yang secara lambat tetapi pasti akan mengikis keyakinan. Bagaikan air tenang yang membuat erosi pada batu cadas dan mendangkalkan dan kemudian membuat keruh warna sungai tersebut.

Sejarah telah membuktikan naiknya orang-orang sukses di panggung dunia hanya karena kekuatan dirinya memegang keyakinan yang melahirkan dinamika, konsistensi, tangguh, dan tidak pernah takut menghadapi risiko. 

Ketika Rasulullah dihina dan dicerca, kemudian dibujuk dengan segala kenikmatan dunia; beliau menjawabnya dengan gagah berani dan penuh keyakinan,

“Betapapun engkau letakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, tidaklah aku akan mundur dari dakwah ini, sampai nyawa memisahkan diriku.” (al-Hadits)

Inilah sebuah keyakinan Qur’ani yang tak lekang oleh panas tidak lapuk oleh hujan. Lihatlah Thomas Alfa Edison yang cacat karena pendengarannya tuli. Dia dicemooh, bahkan ditampar seorang masinis kereta api. Tetapi, tekad dan keyakinannya telah melahirkan inovasi paling signifikan dalam peradaban manusia. 

Dia telah melakukan 999 kali percobaan untuk menyempurnakan inovasi yang diyakininya. Seseorang dengan nada sinis mengejeknya, “Apakah Anda mau membuat percobaan yang gagal untuk keseribu kalinya?”

Dia menjawab, “Aku tidak gagal. Apa yang kulakukan adalah rangkaian penemuan yang saling bersambung untuk menemukan berbagai penemuan lainnya, bukan hanya sekadar menemukan bola lampu listrik !”  

Boleh juga kita menoleh kegigihan para pastor dan misionaris dalam menyebarkan agamanya, yang menempuh ngarai dan hutan belantara, serta menerjang samudra menatap segala risiko.

Dengan keyakinan tersebut, ia telah membuat dirinya bertambah nikmat dalam mereguk cahaya. Seakan-akan dia berkata, “Bahaya adalah urusanku (Danger is my business).”

Kita bisa menyimak para pionir Islam (assabiquunal awwalun), mulai dari ilal yang ditindih batu panas. Sumayyah dan suaminya, Yasir bin Amir, bahkan putranya, Ammar bin Yasir yang syahid, dan ribuan para mujahid yang dengan tersenyum menatap segala tantangan dan kesulitan hidup demi mempertahankan keyakinan. 

Para pengikut Rasulullah yang terusir dari tanah tumpah darahnya dan hijrah ke Madinah, mereka menjalani kehidupan yang pahit tersebut dengan tersenyum karena di dalam dadanya ada keyakinan.

Seakan-akan mereka berkata, “Kami diusir dan hijrah demi Al-Qur’an, kami tinggalkan tanah air kami, dan sekarang bersama Allah (We are driven into exile for the Qur’ an sake, we leave our homeland and are now in the hands Allah).”

Ini semua karena keyakinan telah mencengkeram diri mereka. Seseorang yang mempunyai keyakinan lebih berharga dari sembilan puluh sembilan manusia yang ragu-ragu.

Seseorang yang mempunyai semangat yang dibakar oleh keyakinannya yang membara lebih kuat dibandingkan dengan seribu manusia bebal yang tidak mau mempergunakan akal pikirannya.

Seorang yang berpikir Qur’ani akan menjadikan pengalaman sebagai percikan lampu yang akan menerangi kehidupannya.

Memetik hikmah dari orang yang gagal dan mengambil bahkan meniru sepak terjang orang-orang yang sukses bukanlah sebuah kehinaan, melainkan sebuah mutiara yang berbinar untuk bekal kehidupan.

“Anda dapat belajar dari setiap pengalaman manusia dan dengan demikian kesuksesan akan selalu menyertai segala yang Anda lakukan (you can learn from every human experience and can thereby always succeed in anythingyou do),” 

Begitu yang diucapkan oleh Anthony Robbins pengarang buku terlaris: Unlimited Power. 

Drs. H. Toto Asmara, Menuju Muslim Kaffah – Menggali Potensi Diri, Hal. 21-25. 

Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: