Advertisement

Advertisement

Mengoptimalkan Kenikmatan Hubungan Suami ­Istri

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM.net - Mengoptimalkan Kenikmatan Hubungan Suami ­Istri - merupakan beberapa upaya yang secara umum meningkatkan kebahagiaan rumah tangga.

1. Memulainya dengan Berdoa dan Menyebut Nama Allah 

Ini merupakan persoalan spiritual murni, tetapi bagus sekali digunakan untuk membuka sesuatu yang nikmat, bagus, dan halal. Bagus pula aktivitas ini dimulai dengan memasang niat yang baik dan diikuti dengan menyebut nama Allah, kemudian berdoa dengan merendahkan diri kepada Allah Ta'ala.

Mengenai niat yang baik itu hendaknya dilakukan oleh keduanya ketika melakukan hubungan, yaitu niat menjaga diri dan mencukupkan diri dengan yang halal dan baik, dan menjauhkan diri dari terjatuh ke dalam sesuatu yang haram dan jelek. 

Memang benar terdapat hadits yang mengatakan, "Fi budhi ahadikum shadaqah (pada kemaluan seeorang dari kamu itu terdapat sedekah)." yang mengisyaratkan bahwa kedua suami ­istri tersebut mendapat pahala dalam segala hal, meskipun mereka tidak berniat sesuatu, karena mereka melakukan sesuatu yang halal dan bagus. 

Kenikmatan Hubungan Suami ­Istri

Akan tetapi, apabila perbuatan yang halal dan bagus itu meskipun tanpa niat macam-macam sudah mendapatkan pahala, maka kalau disertai dengan niat yang bagus sudah barang tentu akan menambah pahalanya. 

Alangkah baiknya kalau suami ­istri tersebut melakukannya dan meniatkannya sebagai syukur terhadap nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, karena mereka telah dimudahkan melakukan sesuatu yang halal dan bagus ini. 

Mengenai ucapan Basmalah dan doa, maka Rasulullah saw. telah mengajarkannya kepada kita. Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,

"Ketahuilah, seandainya seseorang dari kamu ketika hendak mencampuri istri nya mengucapkan, 'Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan dari apa yang engkau berikan kepada kami, ' kemudian dari hubungannya itu ditakdirkan anak buat mereka, maka si anak itu tidak akan diperdayakan oleh setan selama-lamanya. "(HR Bukhari dan Muslim). 

2. Masing­-masing Bersolek untuk Pasangannya 

Bersolek dengan menggunakan berbagai macam kosmetik itu dapat menambah kecantikannya, ketampanan dan banyak menutupi kekurangannya.  Allah SWT yang telah memberi keindahan fisik, telah menciptakan dan memudahkan bermacam-­macam sarana berhias tradisional maupun yang modern. 

Wanita dan lelaki muslim hendaklah mempergunakan sarana­-sarana tersebut untuk mendapatkan kesenangan yang baik dan halal. Di sini kami tidak membicarakan perhiasan lahir, melainkan perhiasan yang merupakan kekhususan suami ­istri dan ini tidak dibatasi selain oleh larangan-­larangan syara’ yang jumlahnya terbatas, dan yang terpenting ialah yang tercantum di dalam dua buah hadits berikut ini, Abdullah bin Mas'ud berkata bahwa Nabi saw. bersabda, 

"Allah melaknat wanita yang menato dan minta ditato, wanita yang minta dicukur alisnya, dan yang menjarangkan giginya agar menjadi cantik, yang mengubah ciptaan Allah Ta'ala." (HR. Bukhari dan Muslim).

Abu Hurairah berkata bahwa Nabi saw. bersabda, 

"Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan minta disambung rambutnya." (HR Bukhari). 

Larangan-­larangan ini telah dipaparkan secara terperinci dalam bagian terdahulu dalam pembahasan tentang keluarga. Apabila Larangan-larangan ini kita jauhi maka tidak ada Iarangan bagi kita untuk berhias dan bersolek. Kami menyebut ­ulang beberapa saksi / bukti berkenaan dengan masalah ini. 

a. Wanita Berhias 

Abdullah bin Salam berkata bahwa Nabi saw. bersabda, 

"Sebaik-baik wanita (istri) ialah yang menyenangkan hatimu apabila kamu memandangnya. "(HR. ath­Thabrani).

Abu Zuhaifah meriwayatkan dari ayahnya, dia (ayahnya) berkata, " ... Kemudian Salman berkunjung kepada Abu Darda', maka dia melihat Ummu Darda' (istri Abu Darda') dalam keadaan kusut masai, lalu dia bertanya kepadanya, 'Mengapa keadaanmu begitu?' Ummu Darda' menjawab, 'Saudaramu sudah tidak membutuhkan dunia Iagi. ... " (HR. Bukhari)". 

Riwayat dari Aisyah, "Dulu istri Utsman bin Mazh'un biasa memakai khidhab (pewarna tangan) dan memakai wewangian, kemudian ditinggalkannya, kemudian dia menemui saya, Saya bertanya kepadanya, 'Mengapakah engkau ?' Dia menjawab, 'Utsman, sudah tidak menghendaki dunia dan tidak menghendaki wanita lagi.” Di dalam riwayat Thabrani dari Abu Musa al­Asy'ari, " ... 

Kemudian Nabi saw. menemui Utsman seraya berkata, 'Wahai Utsman, mengapakah engkau tidak meneladani aku ? Sesungguhnya keluargamu (istri mu) mempunyai hak atas dirimu .... ' Sesudah itu mereka didatangi oleh istri Utsman dengan memakai kosmetika seperti pengantin, lalu para wanita berkata, 'Lihatlah dia berkata, 'kami telah ditimpa sesuatu yang menimpa orang­-orang.?' (HR. Ahmad).

Anas bin Malik melihat Ummu Kultsum putri Rasulullah saw. mengenakan burdah berlapis sutra. (HR Bukhari). 

Subai'ah r.a. berkata '' ... Maka setelah ia suci dari nifasnya, ia bersolek untuk para peminang .... " (HR Bukhari dan Muslim )34 

Di dalam riwayat Ahmad disebutkan, " ... Dia memakai celak, rnemakai inai, dan bersiap­siap .... " (HRAhmad).

Apabila Subai'ah bersolek dengan memakai celak dan inai buat para calon peminang, maka kami kira berhias untuk suami itu seyogianya lebih utama dan lebih pantas dari itu. 

Jabir bin Abdullah berkata, "Kami pulang bersama Nabi saw. dari suatu peperangan .... Maka ketika kami hendak masuk rumah, beliau berkata, Tunggulah hingga kamu masuk pada malam hari, agar wanita (istri) yang kusut rambutnya bersisir lebih dahulu. ... " (HR. Bukhari dan Muslim).

Aisyah berkata, "Kami pergi ke Mekah bersama Nabi saw., lalu kami menyeka wajah kami dengan parfum yang wangi." (HR. Abu Daud).

Umaimah binti Raqiqah berkata bahwa istri-­istri Nabi saw. memakai pembalut yang dicelup wars dan za’faran, yaitu mereka ikat bagian bawah rambut mereka dari dahi mereka." (HR. Thabrani)''

Imran bin Hushain berkata bahwa Nabi saw. bersabda, "Kosmetika wanita itu berwarna, tetapi tidak berbau. " 

Sa'ad (salah seorang perawinya) berkata, "Saya melihat mereka menafsirkan sabda beliau, 'Kosmetika wanita itu berwarna, tetapi tidak berbau,' adalah apabila wanita itu pergi keluar. Adapun jika ia berada di sisi suaminya, maka hendaklah ia memakai parfum apa saja yang ia sukai." (HR Abu Daud). 

Anas berkata, "... Maka datanglah Abu Thalhah, kemudian Ummu Sulaim mengihdangkan makan malam kepadanya, lantas ia makan dan minum. Kemudian Ummu Sulaim bersolek untuknya dengan dandanan yang sangat cantik yang belum pernah ia berdandan seperti itu, kemudian Abu Thalhah tertarik dan lantas mencampurinya." (HR Bukhari dan Muslim ).

b. Laki-laki Berhias

Allah berfirman, 

"... Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf .... "(al­Baqarah: 228) 

Tercantum dalan tafsir rith·Ath-Thabari dari Ibnu Abbas (katanya), 

“Aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka dia berhias untukku, karena Allah Ta 'ala telah befirman, 'Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma iruf. " 

Apabila Ibnu Abbas berhias untuk istrinya sebagai aplikasi terhadap ayat ini, maka karni pikir dia juga berhias karena melaksanakan sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya istrimu mempunyai hak atas dirimu.' 

Sedangkan hak istri ini bermacam-macam, yang di antaranya ialah hak bersolek, Berhiasnya Ielaki itu ialah dengan sesuatu yang layak bagi lelaki yang terhorrnat, dan sebagai tokoh rnereka ialah Rasulullah saw. Di dalam bukti­-bukti (riwayat-­riwayat) berikut ini terdapat petunjuk beliau dalam berhias.

Al­Barra' bin Azib berkata, "Aku melihat Rasulullah saw. mengenakan pakaian merah yang aku belum pernah melihat pakaian yang lebih baik darinya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Anas berkata bahwa kain lurik Yaman merupakan pakaian yang paling disukai oleh Nabi saw.. (HR Bukhari dan Muslim).

Disebutkan di dalam Fathul Bari, "Hibarah (kain lurik) Yaman itu terbuat dari katun, dan merupakan pakaian yang paling bagus di kalangan mereka. Al­Qurthubi berkata, 'Kain itu disebut hibarah karena dipergunakan untuk berhibrah (berhias )." 

Dari Aisyah bahwa Nabi saw. suka memulai sesuatu dengan dari yang kanan dulu sedapat mungkin di dalam menyisir rambut." (di dalam satu riwayat, 46 "Aku pernah menyisir kepala Rasulullah saw.) (HR Bukhari dan Muslim).

Ibnu Abbas berkata bahwa Nabi saw, menurunkan rambut depan kepalanya, kemudian memilahnya sesudah itu. {IHR. Bukhari dan Muslim)48 

Aisyah pernah meminyaki Rasulullah saw, dengan sesuatu yang paling wangi yang ia dapati, (Dalam satu riwayat bagi Imam Muslim­49 dengan wewangian yang mengandung misk). (HR. Bukhari dan iuslim). 

Ibnu Umar berkata bahwa Nabi saw. pernah beristijmar (beruap) dengan kayu gaharu dan kafur. (HR. Muslim).

c. Mencukur Bulu Kemaluan 

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,. 

"Fitrah (kesucian) itu ada lima macam, yaitu: khitan, istihdad (mencukur bulu kemaluan), memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. "(HR Bukhari).

Jabir bin Abdullah berkata, "Kami pulang bersama Nabi saw. dari suatu peperangan. Maka ketika kami hendak masuk rumah, beliau berkata, "Tunggulah, hingga kamu masuk pada malam hari, supaya istri yang kusut menyisir rarnbutnya, dan istri yang ditinggal pergi mencukur bulu kemaluannya. '" (HR Bukhari dan Mus­ lim 3

Al­Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Pokok Sunnah ini harus terlaksana dengan menghilangkan (rambut yang harus dihilangkan itu) dengan semua macam alat yang dapat menghilangkannya. "

Bagaimanapun, apa pun alat yang digunakan untuk istihdad (rnenghilangkan bulu kemaluan), maka dalam istihdad itu sendiri terdapat aspek berhias, baik dari pihak wanita maupun laki­laki, dan mempersiapkan anggota­-anggota tubuh dalam bentuk yang ceria yang disukai oleh keduanya (suami dan istri). 

d. Memelihara Organ­organ Tubuh yang Sensitif pada Pria dan Wanita 

Abu Hurairah r.a. berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Fitrah (kesucian) itu ada Iima, yaitu: khitan, .... " (HR Bukhari).

Perlu diperhatikan di sini bahwa khitan laki­laki itu adalah untuk membuka hasyafah, yaitu bagian depan/kepala zakar (glans penis), dan hasyafah ini mempunyai tabiat amat perasa (sensitif) dan dapat menambah kenikmatan ketika melakukan hubungan intim.

Khitan bagi Wanita 

Khitan bagi wanita merupakan kebalikan dari laki­laki, karena khitan bagi laki­laki itu menghasilkan tambahan nikmat ketika bersenggama, sedangkan khitan bagi wanita dapat mengurangi kenikmatan dalam bersenggama, dan telah jelas kelemahan hadits yang mengisyaratkan bahwa khitan merupakan kemuliaan bagi wanita sebagaimana banyak hadits yang melarang orang­-orang yang ingin mengkhitan anak perempuannya agar jangan merusaknya (mernotong habis kelentitnya). 

Masalah ini telah kita bahas dalam membicarakan kesalahpahaman yang membatasi bersenang­-senang dengan sesuatu yang baik dan halal. 

e. Mandi atau Berwudhu bagi Orang yang Hendak Mengulangi Bersenggama 

Abu Sa'id al-­Khudri berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, 

"Apabila salah seorang dari kamu mencampuri istri nya, kemudian ia hendak mengulangi lagi, maka hendaklah ia berwudhu." (lbnu Khuzaimah menambahkan di dalam satu riwayatnya), "Karena yang demikian itu lebih menyemangatkan pengulangan. "(HR Muslim).

Al-­Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Ibnu Khuzaimah berargumentasi bahwa perintah berwudhu di sini adalah sunnah, bukan wajib, dengan apa yang diriwayatkannya, 'Karena yang demikian itu lebih menyemangatkan pengulangan,' karena hal ini menunjukkan bahwa perintah itu adalah untuk memberikan tuntunan dan anjuran. 

Ketidakwajiban berwudhu ini juga ditunjuki oleh apa yang diriwayatkan oleh ath­-Thahawi bahwa Nabi saw. pernah bersenggama, kemudian beliau mengilanginya lagi dengan tidak berwudhu’.

Ibnu Qayyim berkata di dalam Zadul-Ma’ad, 'Mandi dan berwudhuk sesudah bersenggarna itu dapat menyegarkan badan, menyenangkan hati, karena bersenggama, menyempurnakan kebersihan dan kesucian dan menghimpun kehangatan semangat kedalam tubuh setelah tercerai berai karena bersenggama dan menghasilkan kebersihan yang disukai Allah dan dibenci-Nya kebalikannya. Ini merupakan tata aruran yang sangat bagus dalam bersenggama, serta dapat memelihara kesehatan dan menguatkan bersenggama.

Begitulah cara Mengoptimalkan Kenikmatan Hubungan Suami ­Istri. Baca juga :
 Kekuatan Rohani Memiliki Pengaruh Paling Besar
Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: