Advertisement

Advertisement

Kisah Nabi Isa AS

MARWAHISLAM.net | MARYAM IBUNDA NABI lSA AS

Maryam sejak kecil diasuh oleh mendiang Nabi Zakaria. Ia seorang gadis yang baik budi pekertinya. Sesudah menginjak usia dewasa ia selalu mengurung diri di tempat ibadah. Sama sekali tak pemah berhubungan dengan orang lain.

Pada suatu hari Nabi Zakaria menengok Maryam ditempatnya. Melihat aneka buah-buahan berada di kamar itu. Maryam menjelaskan bahwa semua itu adalah karunia Allah.

Nabi Ziakaria percaya akan hal itu. Memang tidak mustahil Maryam yang suci, taqwa dan tunduk pada perintah Aliah itu mendapat karunia berupa makanan dari surga.

Pada suatu hari Maryam kedatangan Malaikat yang mengatakan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang nantinya akan menjadi Nabi dan Rasul.

Maryam heran, bagaimana bisa ia seorang perawan, belum bersuami akan mempunyai anak. Malaikat menjawab bahwa jika Allah menghendaki sesuatu cukuplah berkata : “Jadilah” maka Kehendak-Nya pun jadi.

Nabi Isa AS

MARYAM MENGASINGKAN DIRI

Ternyata betul, tidak berapa lama kemudian Maryam Hamil. Segera saja ia jadi bahan pergunjingan masyarakat di sekitamya. Ia dianggap telah berbuat serong dengan lelaki lain. Sungguh tuduhan ini merupakan hal yang menyakitkan bagi Maryam. Inilah salah satu dari ujian berat yang harus dihadapi dengan iman yang teguh.

Ia mengasingkan diri dari keramaian untuk menghindari cemoohan masyarakat. Ia melahirkan bayinya dibawah sebatang pohon kurma yang diberkati Allah.

Bayinya lahir dengan selamat. Sesudah kesehatannya pulih Maryam kembali ke rumahnya dengan membawa bayinya itu.

SANG BAYI YANG MENJELASKAN SEMUANYA

Berbagai pendapat dan tuduhan ditujukan kepada Maryam. Bagaimana ia seorang perawan yang tekun beribadah bisa mempunyai seorang anak ?.

“Tanyakanlah pada bayi itu sendiri !“ kata Maryam menjawab pertanyaan orang-orang di sekelilingnya.

Walau merasa ragu. Dan menganggap Maryam tak waras mereka bertanya pula kepada Isa. anak Maryam yang masih bayi itu.

Tak disangka Isa yang masih bayi itu bisa menjawab atas kehendak Allah : “Aku adalah hamba Allah, akan di turunkan kepadaku Kitab lnjil. Allah telah memilihku menjadi seorang Nabi, menjadikanku orang yang mendatangkan berkah dan mengajarkan kebaikan, merintahkanku untuk mendirikan shalat dan membayar zakat selama hidupku, berbuat baik kepada orang tuaku. Aku tidak sombong pada orang lain dan tidak tenggelam dalam maksiat. Allah memberiku keselamatan pada hari lahirku dan kematianku dan juga pada hari kebangkitan dihari kiamat".

Dengan demikian yakinlah mereka bahwa Maryam mamang suci bersih dari tuduhan mereka selama ini.

KE-NABI-AN ISA. AS

Sejak kecil Isa sudah menampakkan diri sebagai manusia istimewa. Kecerdasannya luar biasa. Dan pada umur 30 tahun ia diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Sebelum itu telah diajarkan kepadanya Taurat dan Injil.

Dengan diangkatnya sebagai Rasul maka mulailah ia menyebarkan agama Islam kepada kaumnya. Menyerukan kaum Yahudi dan orang-orang Israi untuk kembali kepada Allah. Menyadarkan kesesatan mereka yang telah berani merubah Kitab Taurat peninggalan Nabi Musa.

KABAR TENTANG DATANGNYA NABI AKHIR ZAMAN

Salah satu ajaran Nabi Isa adalah kabar tentang adanya Nabi sesudahnya yaitu Ahmad atau Muhammad. Hal ini tersebutlah dalam Al-Qur’an surat-Ashshaff ayat 6:

“Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang Rasul yang akan datang sesudahku yaitu Ahmad (Muhammad).”

Al-HAWARIYYUN

Yaitu para sahabat Nabi Isa dan murid-murid yang dekat. Mereka inilah yang meneruskan dan menyebarkan ajaran Nabi Isa kepada kaumnya.

MU’JIZAT NABI ISA AS

Kedatangan Nabi Isa AS dengan ajarannya yang bersih dan benar telah membuat tokoh-tokoh agama dari kalangan rahib Bani Israil terancam kedudukannya. Maka mereka minta bukti kebenaran beliau selaku utusan Allah.

Maka Allah memberikan Mu’jizat kepada Nabi Isa untuk menguatkan ajarannya. Antara lain: Nabi Isa AS membuat mainan burung dari tanah Iiat, setelah ditiup burung ltu hidup dan terbang atas seizin Allah. Beliau dapat menyembuhkan orang buta. Beliau dapat menyembuhkan orang yang terkena sakit sopak. Dapat menghidupkan orang mati.

Bisa menceritakan jenis makanan yang dimakan orang-orang di rumah mereka dan juga makanan yang mereka simpan. Dapat menurunkan makanan dari langit untuk menuruti kaumnya yang minta hidangan dari surga.

WAFATNYA NABI ISA AS

Pemerintah Romawi tidak menyukai kehadiran Nabi Isa AS yang dianggap membahayakan imperium mereka. Mereka bermaksud membunuh Nabi Isa.

Salah seorang murid Nabi Isa yang bemama Yudas berkhianat. Dialah yang menunjukkan tempat persembunyian Nabi Isa. Tetapi Allah melindungi Nabi Isa, beliau diangkat ke langit. Sedang Yudas yang berkhianat diserupakan wajah dan penampilannya seperti Nabi Isa, maka Yudaslah yang ditangkap dan disalib tentara Romawi.

Menurut hadits shahih Nabi Isa AS akan diturunkan ke dunia lagi menjelang hari kiamat.

Baca juga : Kisah Nabi Yahya AS dan Raja Herodus

Islam Adalah Mafahim Bagi Kehidupan

MARWAHISLAM.net | Islam Adalah Mafahim Bagi Kehidupan - BUKAN SEKEDAR MAKLUMAT. Mafahim Islam bukanlah pemahaman kepasturan, bukan pula lnformasi-informasi kegaiban tanpa dasar. Mafahim Islam tidak lain adalah pemikiran-pemikiran yang memiliki penunjukan-penunjukan nyata, yang dapat ditangkap akal secara langsung, selama masih berada dalam batas jangkauan akalnya.

Namun, bila hal-hal tersebut berada di luar jangkauan akalnya, maka hal itu akan ditunjukkan secara pasti oleh sesuatu yang dapat diindera, tanpa rasa keraguan sedikit pun.

Karena itu, seluruh mafahim Islam berada di bawah penginderaan secara langsung, atau pada sesuatu yang dapat diindera secara langsung yang menunjukkan adanya pemahaman itu. Dengan kata lain, seluruh pemikiran Islam merupakan mafahim, sebab dapat dijangkau oleh akal, atau ditunjuk oleh sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal. Tidak ada satu pemikiran pun di dalam Islam yang tidak memillki mafhum. 

Mafahim Bagi Kehidupan

Artinya, pemikiran itu memiliki fakta dalam benak dan dapat dijangkau oleh akal. Atau dapat diterima dengan sikap pasrah (memuaskan akal dan jiwanya) dan dipercaya secara pasti, bahwa faktanya ada di dalam benak dan apa yang menunjuknya dapat dijangkau oleh akal. 

Dengan demiklan, di dalam Islam tidak ditemukan hal-hal gaib yang tidak masuk akal sama sekali [semacam dogma yang dipaksakan. Tetapi, masalah-masalah gaib yang diharuskan Islam untuk diimani adalah masalah gaib yang dapat diterima melalui perantaraan akal, yaitu melalui sumber yang dapat dibuktikan kebenarannya melalui akal, yang tidak lain adalah Al-Qur'an dan hadits-hadits mutawatir.

Berdasarkan hal ini. maka pemikiran-pemikiran Islam bersifat nyata, faktual, dan ada di dalam kehidupan. Sebab, semua pemikiran ini memiliki fakta di dalam benak, didasarkan pada proses penginderaan dan bersandarkan pada akal. Karena itu, sebenarnya akal manusia menjadi asas bangunan Islam, yakni aqidah dan syari'at Islam.

Aqidah dan hukum-hukum Islam merupakan pemikiran yang memiliki fakta dan dapat dijangkau dengan real, baik itu berupa hal-hal gaib atau hal-hal nyata, juga keputusan akal terhadap sesuatu (ide), atau hukum atas sesuatu (pemecahan masalah), atau berita dari dan tentang sesuatu. Semuanya ini ada faktanya dan pasti adanya.  Dengan kata lain pemikiran-pemikiran Islam, hukum-hukumnya, hal-hal yang real inderawi, atau hal-hal gaib, semuanya adalah kenyataan yang memiliki fakta di dalam benak dan bersandarkan pada akal manusia.

Aqidah Islamiyah adalah keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan qadha-qadar. Pembenaran terhadap semua ini dibangun dari kenyataan yang ada, dan tiap-tiap dari keimanan tersebut memiliki fakta di dalam benak.

lman kepada Allah, Al-Qur’an, dan kenabian Muhammad Saw dibina di atas penemuan bahwa wujud (eksistensi) Allah itu azali, tidak ada awal dan akhir bagi-Nya. Dan akal telah menemukan secara inderawi bahwa Al Qur'an itu Kalamullah berdasarkan kemu’jizatannya bagi manusia yang dapat diindera di setiap waktu.

Akal pun telah menemukan secara inderawi bahwa Muhammad Saw adalah nabi Allah dan rasul-Nya, berdasarkan bukti yang nyata bahwa beliau adalah yang membawa Al-Qur'an sebagai Kalamullah yang membuat manusia tak berdaya untuk membuat yang semisalnya. Maka, ketiga hal ini, yaitu wujud (eksistensi) Allah, Al Qur'an sebagai Kalamullah, dan Nabi Muhammad sebagai Rasulullah, dapat ditangkap oleh akal dengan perantaraan indera dan dapat diimani. Dengan demikian, tiga hal di atas memiliki fakta yang dapat diindera dalam benak dan merupakan fakta yang nyata.

Adapun iman kepada malaikat, kitab-kitab sebelum Al-Qur’an (seperti Taurat dan Injil), nabi dan rasul sebelum Rasulullah Saw (seperti Musa, Isa, Harun, Nuh, Adam), dibangun berdasarkan khabar dari Al-Qur’an dan hadits mutawatir. Kaum muslimin diperintahkan membenarkan adanya semua itu. Dan itu semua memiliki fakta dalam benak, karena bersandarkan pada sesuatu yang terindera, yaitu Al Qur’an dan hadits mutawatir. Berarti, seluruhnya merupakan mafahim, sebab merupakan fakta dari ide-ide (Islam), yang dapat dijangkau dalam benak.

Sedangkan iman kepada qadha dan qadar, dibangun di atas akal berdasarkan pengamatan terhadap perbuatan manusia; bahwa perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia atau telah menimpa dirinya (arti qadha); dan berdasarkan penangkapan secara aqli dan inderawi, bahwa karakteristik yang dimiliki benda bukanlah diciptakan oleh benda itu sendiri (arti qadar). 

Buktinya, suatu pembakaran tidak akan terjadi kecuali dengan derajat panas atau aturan tertantu [misalnya pembakaran kayu perlu panas dengan derajat terientu yang berbeda dengan yang diperlukan untuk pembakaran besi. Seandainya karakteristik itu diciptakan oleh api itu sendiri, maka kebakaran itu dapat terjadi sesuai dengan kehendaknya, tanpa tergantung pada derajat panas atau aturan tertentu. 

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa karakteristik atau sifat benda itu diciptakan Allah SWT, bukan ciptaan yang lainnya. Oleh karena qadha dan qadar dapat ditangkap oleh akal secara langsung dengan perantaraan indera, maka, keduanya itu diimani menjadi fakta dalam benak dan terindera. Dengan demikian, keduanya merupakan mafahim, sebab merupakan fakta dari ide, yang dijangkau oleh akal.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka aqidah Islam merupakan mafahim yang pasti adanya dan pasti penunjukannya. Aqidah Islam memiliki fakta dalam benak seorang muslim yang dapat menginderanya, atau mengindera sesuatu yang dapat menunjukkannya. Dengan demikian, aqidah Islam akan dapat memberikan pengaruh besar terhadap manusia.

Sedangkan hukum-hukum syara', kedudukannya adalah sebagai pemecah terhadap kenyataan atau problematika hidup manusia. Di dalam menyelesaikan semua problema hidup ini diharuskan terlebih dahulu mengkaji dan memahami masalah yang dihadapi. Lalu mempelajari hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan problema tersebut, dengan memahami nash-nash syara' yang berkaitan dengannya. Kemudian, pemahaman tersebut dipertimbangkan untuk mengetahui apakah itu hukum Allah atau bukan. 

Jika penerapan itu tepat, menurut pandangan seorang mujtahid, maka pemahaman itu pun merupakan hukum Allah. Jika tidak tepat, maka dicarilah makna atau nash lain, hingga ditemukan yang tepat dengan kenyataan itu. Dengan demikian, maka hukum-hukum syara' merupakan pemikiran yang memiliki fakta dalam benak (mafhum), sebab hukum-hukum syara‘ merupakan pemecahan yang dapat diindera untuk suatu masalah yang nyata, yang dipahami dari nash-nash yang ada. Maka berdasarkan hal ini hukum-hukum syara’ adalah merupakan mafahim.

Dengan demikian, sesungguhnya aqidah Islam dan hukum-hukum syara’ bukanlah pengetahuan yang semata-mata untuk dihapal dan bukan pula sekedar pemuas akal. Tetapi, keduanya merupakan mafahim yang mendorong manusia untuk berbuat, menjadikan perbuatannya selalu terkait, terikat, dan teratur karenanya. 

Atas dasar inilah, maka seluruh ajaran lslam merupakan mafahim yang mengatur kehidupan manusia, bukan sekedar informasi atau pengetahuan semata. Wallahu A’lam.
Baca juga : Metode Kehidupan Islam Yang Unik

Dua Problem Cinta

MARWAHISLAM.net | Dua Problem Cinta – yang lazim berlaku pada diri manusia normal terutama generasi muda yang baru akil baligh. Kadang sama sekali belum mengenal apa itu cinta yang sesungguhnya apalagi untuk membedakan cinta dan hawa nafsu. Namun dua problem cinta ini tidak terbatas pada usia, waktu dan status sosial tetapi bisa melanda siapa saja dan kapan saja.

Tiap orang dihadapkan pada dua kesusahan. Pertama apabila dia kehilangan cinta dan kedua apabila dia mencintai sesuatu,” begitu menurut Bernard Shaw. Apakah Anda setuju?.

Kehilangan cinta tidak mustahil menjadikan seseorang merasa hampa dan tidak memiliki semangat untuk terus mengarungi samudra kehidupan. Kehilangan cinta dari pacar, dari anak, dari orang tua, atau dari atasan. 

Bahkan, kita juga kehilangan dalam bentuk lain, seperti cinta harta, kemewahan, kecantikan, kesehatan, jabatan, dan kekuasaan. Sudah sulit mencintai, sulit juga kehilangan cinta. Begitu cintanya kita pada nikmat duniawi, melemahkan kita mendapatkan cinta ukhrawi seperti dijanjikan Allah SWT.

Begitulah dua - problem cinta yang terus menerus menghantui manusia sejak akil baligh sampai akhir hayatnya maka hanya orang-orang yang arif dan bijaksana yang mampu menghadapinya dengan santai tanpa beban karena sesungguhnya kedua problem ini lumrah saja dalam kehidupan kita sehari-hari, hanya saja bagaimana kita mensikapinya.

Problem Cinta

Kita memang mudah terkecoh oleh hal-hal yang tampaknya baik dan indah; oleh bujuk rayu dan cumbu yang menggetarkan. Namun yakinlah bahwa keindahan nurani, kenikmatan iman akan mampu melelehkan semua kepalsuan. 

Bukankah Allah berfirman dalam surah Al-Hujuraat ayat 7, ”;.. Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan... ”

Ayat diatas memberikan kita petunjuk yang sesungguhnya untuk menghadapi dua - problem cinta di atas, semoga kita menjadi lebih arif dan lebih bijaksana. Tanamkan cintamu pada keimanan dan tanamkan benci kepada kekafiran !.

Sesungguhnya dua - problem cinta ini adalah antara cinta dan benci yang kadang-kadang sulit untuk membedakannya. 

Apakah kita termasuk orang yang mencintai kepada keimanan dan membenci kekafiran ?.

Wallahu A’lam.
Baca juga : Islam Adalah Mafahim Bagi Kehidupan

Apa Yang Dikhususkan Allah Untuk Nabi-Nya

MARWAHISLAM.net | Apabila Allah SWT telah mernberikan kekhususan kepada Nabi-Nya saw dengan memberinya keleluasaan dalam bidang perkawinan dan seks, maka para sahabat yang mulia --juga istri-istri beliau-- sangat memperhatikan kekhususan ini.  

Terdapat beberapa bukti mengenai bal ini, antara lain sebagai berikut, Sahl bin Sa'ad r.a, berkata, "Disebut-sebut kepada Nabi saw. seorang wanita dari Arab. Lalu beliau mengutus Abu Usaid as-Sa'idi untuk menemuinya, kemudian wanita itu datang, lalu turun (singgah) di benteng Bani Sa'idah." (HR Bukhari dan Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Di dalam riwayat Ibnu Sa'ad disebutkan bahwa Nu'man bin al-Jun al-Kindi datang kepada Nabi saw. dengan menyatakan diri memeluk Islam, seraya berkata, 'Maukah aku kawinkan engkau dengan janda yang paling cantik di Arab?' Lalu beliau mengawininya dan dikirimnya Abu Usaid as- Sa 'idi, Abu Usaid berkata, 'Maka aku tempatkan dia di kampung Bani Sa'idah. Kemudian wanita-wanita suku Bani Sa'idah ini menemuinya dan mengucapkan selamat kepadanya. Kemudian mereka keluar sambil menyebut-nyebut kecantikannya.”

Anas bin Malik r.a. berkata, "Kami datang ke Khaibar. Maka setelah Allah membukakan bagi Rasulullah saw. bentengnya, disebut-sebutlah kepada beliau kecantikan Shafiyah binti Huyai bin Akhthab, Kemudian Nabi saw. memilihnya untuk diri beliau”.

Dikhususkan Allah Untuk Nabi-Nya

Di dalam riwayat Muslim disebutkan, "Shafiyah itu telah menjadi tawanan Dihyah setelah pembagian, dan mereka memuji-muji Shafiyah di sisi Rasulullah saw. dengan mengatakan, 'Kami tidak pernah melihat seorang tawanan seperti dia ( cantiknya).' Lalu beliau mengirim utusan kepada Dihyah. Kemudian Dihyah memberikannya kepada beliau sesuai yang beliau kehendaki.” (HR Bukhari danMuslim)."

Ummu Salamah r.a. berkata, "Rasulullah saw. menyuruh Hathib bi Abi Balta'ah meminangku untuk beliau. Lalu saya katakan, 'Aku mempunyai anak perempuan dan aku seorang yang sangat pencemburu.' Kemudian beliau berkata, 'Adapun anakmu, kita berdoa kepada Allah semoga Dia mencukupinya dari ibunya, dan saya berdoa kepada Allah semoga Dia rnenghilangkan kecemburuanmu.!" (HR. Muslim).

Al-Hafidz lbnu Hajar berkata, "Di dalam satu riwayat dari Imam Ahmad, Ummu Salamah berkata, 'Setelah saya melahirkan Zainab, Rasulullah datang kepadaku dan meminangku. Beliau datang kepada kami seraya berkata, 'Mana Zainab?' Hingga datang Ammar bin Yasir, lalu memisahkan Zainab, dan dia berkata, 'Inilah yang menghalangi hajat Rasulullah saw.”

Abdullah bin Umar berkata bahwa Rasullah saw. menyerbu kubu Banil-Mushthaliq, Lalu beliau berperang melawan mereka dan menawan anak-anak perempuan mereka, dan pada waktu itu beliau mendapatkan Juwariyah. (HR Bukhari dan Muslim).

Umar bin al-Khaththab berkata, " ... dan aku mempunyai seorang teman dari Anshar. Apabila aku tidak datang kepadanya tentu dia mengabarkan tentang aku. Apabila dia tidak datang kepadaku, maka aku yang mengabarkan tentang dia. Kami takut kepada salah seorang raja dari Ghassan. Terbetik berita bahwa dia hendak datang kepada kami, maka dada kami penuh sesak. Tiba-tiba temanku orang Anshar itu mengetuk pintu seraya, 'Bukalah, bukalah!' Aku bertanya, 'Apakah raja Ghassan itu sudah datang ?' Dia menjawab, 'Bahkan lebih hebat dari itu, yaitu Rasulullah saw. telah memisahkan diri dari istri-istrinya ?' (HR Bukhari dan Muslim).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "Hadits ini juga menunjukkan betapa para sahabat sangat antusias untuk mengetahui segala keadaan Nabi saw., yang besar ataupun yang kecil, dan betapa perhatian mereka kepadanya, dimana seorang sahabat Anshar mengatakan bahwa berpisahnya Nabi saw. dari istri-istri beliau --yang dikiranya beliau telah menceraikan mereka, karena melihat kesedihan beliau terhadap hal itu-- sebagai suatu perkara yang lebih besar daripada kedatangan Raja Syam al-Ghassani dengan pasukannya ke Madinah untuk memerangi mereka. 

Hal ini terlihat bahwa sahabat Anshar tersebut menyatakan bahwa seandainya musuh mereka datang menyerang mereka, maka mereka akan dapat dikalahkan, dan kemungkinan selain itu adalah lemah. Berbeda dengan jika yang terjadi itu sesuatu yang menyedihkan mereka, yaitu talak (perceraian) Nabi saw. dengan istri-istri beliau, melihat kesedihan yang tampak pada beliau. 

Mereka sangat memperhatikan hati dan perasaan Rasulullah saw., jangan sampai beliau mengalami kekeruhan dan kesedihan meskipun kecil. Hati mereka bergoncang jika Rasulullah mengalami kegoncangan, dan mereka marah terhadap apa yang menjadikan Rasulullah marah, dan mereka sedih bila Rasulullah bersedih.Telah berlalu dari kita --di celah-celah memaparkan bukti kedua terhadap kekhususan keleluasaan untuk berpoligami --banyak nash yang menunjukkan betapa perhatian para sahabat r.a, lebih-lebih para istri beliau-- mengenai apa yang dikhususkan Allah untuk beliau. Di antara nash-nash itu adalah sebagai berikut.

Ummu Habi bah berkata, "Wahai Rasulullah, kawinilah saudara perempuanku .... ".  Ali berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau melebihkan orang-orang Quraisy dan engkau tinggalkan kami ... ?" Dalam hadits Anas, Rasulullah ditanya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak kawin dengan orang Anshar ... ?"

Dalam had.its Anas diriwayatkan bahwa seorang wanita mendatangi Rasulullah seraya berkata, "Saya mempunyai seorang anak perempuan --lalu dia menyebut-nyebut kecantikannya-- maka aku mengutamakanmu dengannya .... ". 

Dalam hadits Sahl diriwayatkan bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah saw, seraya berkata, "Aku datang untuk menghibahkan diriku kepadamu .... " .

Subhanallah, para sahabat sangat memperhatikan apa yang dikhususkan Allah kepada Nabi-Nya. Wallahu A’lam.

Baca juga : Islam Adalah Mafahim Bagi Kehidupan

Jujur Dan Larangan Berdusta

MARWAHISLAM.net | Jujur Dan Larangan Berdusta - Penting sekali untuk dipahami karena akibat dan mudharat yang ditimbulkannya. Hendaknya kamu selalu bertindak jujur, karena kejujuran itu membawa kamu kepada kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan kamu ke surga. Seseorang itu selalu benar dan membiasakan kebenaran itu sehingga ia dituliskan oleh Allah sebagai muslim yang baik. 

Janganlah berdusta karena dusta itu mengajak kamu kepada kejahatan dan kejahatan itu membawa kamu ke neraka. Seseorang yang selalu berdusta dan membiasakan dusta itu sehingga ia dicatat sebagai pendusta di sisi Allah Ta'ala”.

Orang-orang dikategorikan munafik bila berkata ia bendusta; bila berjanji ia mengingkari dan bila bersumpah ia berkhianat". 

Baginda Nabi saw. Bersabda : "Buatkanlah jaminan 6 persoalan kepadaku tentangmu, maka aku akan jamin kamu sebagai penghuni surga, yaitu : Jujurlah dalam berkata, bila berjanji maka tepatlah, bila kamu dipercaya maka tunaikanlah, jagalah kemaluanmu, pejamkanlah matamu, dan peliharalah kedua tanganmu”.

AlFakih berkata bahwa pernyataan Nabi saw. mengenai 6 persoalan di atas meliputi segala kebaikan ;

Larangan Berdusta

1. Jujur dalam perkataan, 
2. Menepati janji, 
3. Menunaikan apa yang dipercayakan kepadanya. 
4. Memelihara kemaluan, 
5. Memejamkan mata dari aurat orang lain dan keelokan wanita 
6. Menjaga kedua tangan dari perbuatan yang haram, 

Hudzaifah bin Al-Yaman r.a. Meriwayatkan bahwa : "Ada seseorang pada masa Rasulullah saw. yang mengucapkan satu perkataan lantas ia menjadi orang munafik, dan kini saya mendengar perkataan itu diucapkan seseorang sepuluh kali dalam satu hari'".

Maka jelaslah bahwa apabila seseorang suka berdusta maka ia termasuk orang munafik. Oleh karenanya kita wajib menjaga diri dari tanda-tanda orang munafik, karena jika seseorang terbiasa berdusta maka ia akan ditulis disisi Allah sebagai orang munafik, dan ia akan dibebani dosa dirinya dan dosa orang-orang yang meniru perbuatannya.

AlFakih berkata : "Abu Manshur bin 'AduIlah Al-Fara'idly di Samarkand menceritakan kepada kami dengan sanadnya dari Sammah bin Jundub dimana ia berkata : "Apabila selesai mengerjakan Shubuh, Rasulullah saw. menghadapkan muka ke arah kami lantas bertanya kepada para shahabatnya "Apakah tadi malam ada salah seorang di antara kamu yang bermimpi ?". Kemudian para shahabat, satu persatu, menceritakan apa yang dia mimpikan. Pada suatu pagi, seperti biasanya beliau bertanya:

"Apakah tadi malam ada salah seorang di antara kamu sekalian yang bermimpi ?". Kami menjawab : "Tidak". Beliau bersabda ; "Tadi malam aku mimpi, yaitu ada dua orang datang kepadaku lantas memegang tanganku seraya berkata : kita pergi". 

Maka aku ikuti mereka, dan mereka membawa aku ke tanah yang datar dan kami melihat ada seseorang berbaring dan ada satu orang lagi yang berdiri dengan membawa batu besar yang ia jatuhkan ke kepala orang yang berbaring itu, lantas pecahlah kepala orang yang berbaring itu dan batu itu menggelundung. 

Lalu batu itu diambil kembali dan dijatuhkan ke kepala orang yang berbaring itu yang waktu itu kepalanya sudah pulih kembali. Demikian diulang terus menerus. Aku lalu berkata : "subhanallah, apakah ini ?". Akan tetapi kedua orang itu malah berkata : "Mari kita pergi". 

Aku pun kembali mengikuti mereka sampai kami melihat ada seseorang yang terlentang sedang yang satunya lagi berdiri dengan membawa bantolan besi di tangannya yang digunakan untuk merobek pipi orang yang terlentang itu dan ditarik sampai ke belakang, kemudian yang sebelah kiri, lalu ke sebelah kanan. 

Setelah kembali seperti semula, lalu dirobeknya lagi; dan begitu seterusnya. Aku berkata : "subhanallah, apakah ini ?". Akan tetapi kedua orang itu malah berkata : kita pergi". 

Kemudian kami pergi bersama sampai kami melihat ada suatu bangunan yang di atasnya seperti dapur dan bagian bawahnya luas, ketika aku melihat, di dalamnya ada orang laki-laki dan perempuan yang telanjang, dimana bila terasa ada uap api dari bawah maka mereka naik; dan bila sudah merasa panasnya berkurang maka mereka turun kembali, dan bila api yang menyala-nyala mendatangi mereka maka mereka menjerit dan naik kembali sehingga hampir keluar. 

Aku berkata : "Subhanallah, apakah ini ?". Akan tetapi kedua orang itu malah berkata : kita pergi". Kami pun pergi sehingga kami sampai ke sungai yang melintang yang airnya merah seperti darah. Di situ ada orang yang berenang, dan di tepi sungai ada orang yang mengumpulkan batu. 

Jika orang yang berenang itu sampai ke tepi, ia membuka mulut lalu orang yang berada di tepi itu memasukkan batu ke mulut orang yang berenang tadi. Aku berkata : "Subhanallah, apakah ini ?". Akan tetapi kedua orang itu malah berkata : "Mari kita pergi". 

Kami pun pergi dan kemudian bertemu dengan seseorang yang dikelilingi api yang sangat besar dimana ia justru mengobar-ngobarkannya. Aku berkata : "Subhanallah, apakah ini ?". Kedua orang itu malah berkata: "Mari kita pergi". Kami pun pergi sehingga kami melihat ada sebuah taman yang penuh buah dan bunga, dan di tengah-tengah taman itu ada seseorang yang tinggi yang dikelilingi oleh anak yang banyak sekali. 

Aku berkata : "Subhanallah, apakah ini?". Kedua orang itu malah berkata: "Mari kita pergi". Kamipun pergi sampai kami melihat ada sebuah pohon besar yang banyak rantingnya yang sangat indah dimana sebelumnya aku belum pernah melihat ada pohon seindah itu. 

Kami lantas memanjat pohon itu, dan kemudian kami sampai ke suatu perkotaan yang dibangun dengan batu emas dan perak. Kami lalu mengetuk pintu gerbang kota itu, dan pintu pun dibukakan untuk kami. Aku masuk ke dalamnya, namun kedua orang tadi menarik aku untuk masuk rumah yang lebih baik dan lebih bagus. Di situ aku melihat ke atas, dan di atas terlihat ada istana yang berwarna putih bagaikan kaca. 

Kedua orang tadi berkata: "Itulah tempatmu". Aku bertanya : "Apakah boleh aku masuk ke dalamnya?". Kedua orang itu menjawab : "Sekarang belum, tapi nanti kamu pasti akan masuk ke dalamnya". Kemudian aku berkata: "Malam ini aku melihat hal-hal yang cukup mengherankan, apakah arti semuanya itu ?". 

Kedua orang tadi menjawab : "Pertama kali yang kamu lihat, yaitu orang yang kepalanya dipukuli dengan batu adalah orang yang mengerti Al-Qur'an namun ia tidak mengamalkannya bahkan lalai untuk mengerjakan shalat fardlu.  Sedangkan orang yang dirobek pipinya sampai ke belakang, maka ia adalah orang yang suka berkata dusta dan menyebarluaskannya. 

Sedang lelaki dan perempuan telanjang yang berada di suatu bangunan yang seperti dapur maka mereka adalah orang-orang yang berzina. Orang yang berenang di sungai adalah orang yang memakan riba. Orang yang dikelilingi oleh api itu adalah Malik, malaikat penjaga neraka. 

Orang tinggi yang berada di taman dengan dikelilingi oleh anak-anak itu adalah Nabi Ibrahim a.s., dan anak-anak yang berada di sekitarnya itu adalah putera-puteri orang-orang yang beriman. Sedangkan rumah yang kamu masuki pertama itu adalah rumah orang-orang yang beriman secara umum; dan rumah yang lain adalah rumah orang-orang yang mati syahid. Aku adalah Jibril dan ini adalah Mikail". 

Salah seorang shahabat bertanya : "Bagaimana tentang anak-anak orang musyrik ?". Beliau bersabda : "Anak-anak orang musyrik juga berada di sekitar Nabi Ibrahim as.". Namun mengenai anak orang musyrik ini ada beberapa hadits yang berbeda-beda; dimana salah satu diantaranya menyatakan bahwa anak-anak orang musyrik itu menjadi pelayan di surga, dan riwayat yang lain menyatakan bahwa mereka berada di neraka. Wallahu alam.

Al-Faqih berkata : "Abu Ja'far menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al-Fadlil menceritakan kepada kami, Abu Hudzaifah di Bashrah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, 'Abdur Rahman bin 'Abbas menceritakan kepada kami dimana ia berkata :

"Teman-teman 'Abdullah bin Mas'ud menceritakan kepadaku dimana 'Abdullah berkata : "Sebenar-benar perkataan adalah firman Allah, semulia-mulia perkataan adalah dzikir Allah, dan sejelek-jelek buta adalah buta hati. Sedikit yang mencukupi itu lebih baik daripada banyak namun melalaikan. 

Sejelek-jelek penyesalan adalah penyesalan pada hari kiamat, sebaik-baik kaya adalah kaya jiwa, dan sebaik-baik bekal adalah taqwa. Minuman keras adalah sumber dosa, perempuan adalah perangkap syetan, dan masa muda adalah sebagian dari gila. Seburuk-baruk penghasilan adalah penghasilan hasil riba, dan sebesar-besar dosa adalah lidah yang berdusta''.

Al-Faqih berkata : "Muhammad bin Al-Fadlil menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Yusuf menceritakan kepada kami, Sufyan bin Abu Hushain memperoleh berita yang disandarkan kepada Nabi saw. dimana beliau bersabda : "Dusta itu tidak pantas kecuali dalam tiga hal yaitu :

(1). dalam peperangan, karena sesungguhnya peperangan itu adalah tipuan,
(2). seseorang yang mendamaikan dua orang yang bertengkar,
(3).seseorang yang memperbaiki hubungan dirinya dengan istrinya".

Diriwayatkan dari salah seorang tabi'in bahwasanya ia berkata : "Ketahuilah bahwa jujur (benar) adalah perhiasan para wali, sedangkan dusta adalah tanda orang-orang yang celaka, sebagaimana dijelaskan Allah ta'ala melalui firman-Nya yang artinya : "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar (mengenai) kebenaran mereka".

Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar".

Artinya : "Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka".

Allah mencela dan mengutuk orang-orang yang berdusta melalui firmanNya Artinya ; "Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta". Artinya : "Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam ?.  Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang dhalim".

Wallahu A’lam
Baca juga : Apa Yang Dikhususkan Allah Untuk Nabi-Nya

Hak Dua Orang Tua

MARWAHISLAM.net | Hak - Dua - Orang - Tua - merupakan hal yang wajib ditunaikan sebagaimana Al-Faqih berkata tentang "Hak - Dua Orang - Tua" :

Sulaiman At-Taimi menceritakan kepada kami dari Sa'id bin Mas'ud dari Ibnu 'Abbas ra. dimana ia berkata : "Seorang mukmin yang memiliki dua orang tua dan setiap pagi ia berbuat baik kepada keduanya itu melainkan Allah membukakan dua pintu surga kepadanya, Allah akan ridla". 

Seorang bertanya : "Namun ibu bapaknya itu dhalim ?". Ia menjawab : "Meskipun zalim". Tambahnya : "Dan tiap-tiap pagi ia sakiti hati dua - orang - tua-nya maka Allah bukakan dua pintu neraka untuknya; dan bila hanya satu orang - tua-nya maka yang dibukakan hanya satu pintu neraka". 

Seseorang tidak dibenarkan untuk berjihad pada jalan Allah apabila dua ibu bapaknya tidak mengizinkannya. Jadi berbakti kepada dua ibu bapaknya itu lebih utama daripada keluar untuk berperang.

Kata "ah" termasuk durhaka kepada ibu bapaknya. Orang-orang durhaka boleh melakukan semua yang ia inginkan, tetapi ia tidak akan masuk surga; dan orang yang berbakti kepada ibu bapaknya boleh mengerjakan apa saja yang ia inginkan maka ia akan masuk surga”. 

Hak Orang Tua

Allah telah memerintahkan di dalam semua kitabNya dan mewahyukan dan berwasiat kepada semua nabi untuk berbakti kepada dua orang tua, mengetahui hak keduanya, serta menjadikan keridlaanNya tergantung kepada keridlaan dua orang tua dan kemurkaanNya tergantung kepada kemurkaan dua - orang - tua.

Firman Allah Ta'ala : (yang artinya :"Hendaknya kamu bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orang - tua-mu"). 

Bersyukur kepada Allah tanpa bersyukur kepada ibu bapaknya maka syukurnya kepada Allah tidak akan diterima. Yang menjadi dalil adalah hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda, Artinya : "Sesungguhnya kutukan ibu bapaknya itu memutuskan hubungan anak dan kedua ibu bapaknya itu apabila anak itu durhaka kepada mereka.

Barangsiapa merasa senang kepada dua ibu bapaknya berarti ia senang kepada Dzat Penciptanya; dan barangsiapa marah kepada ibu bapaknya berarti ia marah kepada Dzat Penciptanya. Barangsiapa yang tidak berbuat baik kepada ibu bapaknya maka ia masuk neraka. Dan Allah menjauhkannya dari rahmatNya".

Nabi saw. ditanya : "Amal perbuatan apakah yang paling utama ?". Beliau menjawab : "Shalat tepat waktu, lalu berbakti kepada ibu bapaknya, kemudian berjuang pada jalan Allah".

Seorang anak tidak pantas berbicara di depan ibu bapaknya kecuali atas izinnya. Ia tidak pantas berjalan di depan dan di sampingnya melainkan anak berjalan di belakang ibu bapaknya". 

Seseorang menghadap Nabi saw. Lantas berkata,  "Wahai Rasulullah, Ibuku mengigau di tempatku kemudian aku beri makan dan minum serta aku mewudlu'inya dan menggendongnya. Apakah aku membalasnya ?". Beliau bersabda : "Belum, belum satu persenpun. Akan tetapi kamu telah berbuat baik dan Allah akan memberi pahala yang banyak terhadap amalmu itu". 

Sesungguhnya di antara dosa besar adalah orang memaki kedua ibu bapaknya". Ditanyakan kepada Nabi : "Bagaimanakah seseorang memaki kedua kedua ibu bapaknya ?". Beliau bersabda : "Seséorang memaki ayah orang Iain dan orang itu memaki ayahnya, ia memaki ibu orang maka orang itu memaki ibunya”.

Nah ... Bagaimana dengan kondisi anak muda zaman edan ini yang setelah terkontaminasi dengan sabu lantas memaki ibu kandungnya sendiri secara langsung ???. Bayangkan gan, tega dia menuduh ibunya pelacur dan sebagainya. Na'udzubillah.

Saya teringat bahwa ada anak muda yang bernama Alqamah yang murka ibunya hanya karena hanya sekali waktu ia lebih mendengarkan istrinya maka ia tak mampu mngucapkan kalimat tauhid pada saat sakratul maut.  Barulah setelah ibunya dipanggil oleh rasul yang membeitahukan tentang azab Allah di akhirat dan rasul akan membakar Alqamah lalu ibunya berdo'a kepada Allah memohon ampunan kepada anaknya sehingga Alqamahpun meninggal dengan kalimat tauhid.  Subhanalladzi laa yamuut.

Maka pada hari itu pula ’Alqamah meninggal dunia, dan Rasulullah saw. datang ke sana lalu memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya, dan beliau menshalatkannya.

Barangsiapa lebih mendahulukan isterinya dari ibunya maka ia mendapatkan kutukan Allah, serta ibadah-ibadah fardlu dan sunnatnya tidak akan diterima”. kata Rasul setelah pemakaman Alqamah.

Maksud berbakti kepadanya adalah kita selalu bersikap dan berbuat baik kepada keduanya, dan bila keduanya atau salah satunya telah tua renta janganlah sekali-kali mengatakan "ah", atau mengucapkan kata-kata yang bisa menyinggung perasaannya.

Bila orang - tua kita sudah jompo dan memerlukan bantuan di dalam buang air besar maka janganlah kita merasa malas atau bermuka masam di dalam melayaninya. Ingatlah bahwa keduanya telah berupaya dengan sulutnya membesarkan kita. Kita senantiasa harus sopan dan lemah lembut, serta mendokan keduanya setiap selesai shalat.

10 hak - orang - tua dari anaknya yaitu ;

1. Apabila orang - tua nya membutuhkan makanan, berikan makanan kepadanya.
2. Apabila orang - tua membutuhkan pakaian berikan pakaian kepadanya 
3. Apabila orang - tua membutuhkan melayaninya maka layanilah !
4. Apabila orang - tua memanggil anaknya, dan datang kepadanya. 
5. Apabila orang - tua memerintahkan sesuatu, maka anaknya harus patuh kecuali untuk berbuat maksiat dan menggunjing. 
6. Anak harus berbicara dengan sopan.
7. Anak tidak boleh memanggilnya dengan menyebutnya. 
8. Anak berjalan di belakang orang tuanya. 
9. Anak harus membuat senang orang tuanya sama dengan kesenangannya sendiri, dan menghindari apa yang dibencinya seperti ia menghindari apapun uhkan yang dibenci dirinya. 
10. Anak harus memohonkan ampun kepada Allah selama ia berdoa untuk dirinya sendiri. Allah menceritakan tentang keadaan Nabi Nuh as. dimana ia berdoa yang artinya :  “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan dua orang tuaku").

Jika mereka telah meninggal maka yang dapat menyenangkannya dengan tiga hal, yaitu : (1) menjadi anak yang shalih  
(2) mempererat tali silaturrahmi dengan kerabatnya.
(3) memohonkan ampun dan mendoakannya serta Bershadaqah untuknya". 

Mari Tunaikan Hak - Dua - Orang - Tua Kita !. Baca juga :  Jujur Dan Larangan Berdusta

Jaga-lah Lisan-mu

MARWAHISLAM.net | Jaga-lah Lisan-mu - dari berbagai perkataan kecuali ucapan-ucapan yang baik sehingga kamu mendapat manfaat, atau diam yang akan menyelamatkan kamu. 

Al-Faqih berkatal : "Abu Ja'far, Abul Qasim Ahmad bin Muhammad,  Muhammad bin Salamah, ‘Abdul A'la, Ya'qub bin Abdullah Al-Qummi menceritakan kepada kami dari Al-Laits dari Mujahid dari Abu Sa‘id Al-Khudri ra. Dimana ia berkata, Artinya :

"Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat”. Beliau bersabda :"Hendaknya kamu bertaqwa kepada Allah karena taqwa itu adalah himpunan dari segala kebaikan. Hendaknya senantiasa berjihad sebab jihad merupakan suluk bagi kaum muslimin". 

Atau beliau bersabda "orang lslam". "Dan hendaknya kamu senantiasa berdzikir kepada Allah Ta'ala dan membaca Al-Qur’an karena sesungguhnya yang demikian itu merupakan kemenanganmu di muka bumi dan namamu disebut-sebut di langit. Dan jaga-lah lisan-mu melainkan dalam kebaikan. Sesungguhnya dengan demikian kamu mengalahkan syetan”.

Al-Faqih menjelaskan yang dimaksud dengan taqwa dalam hadits di atas adalah Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhkan segala yang dilarang. Jika demikian maka ia benar-benar bisa mengumpulkan segala kebaikan. Sedangkan mengenai sabda Nabi saw.

Lisan-mu

"jaga-lah lisan-mu" maka yang dimaksud adalah jagalah lisanmu dari segala ucapan kecuali ucapan-ucapan yang baik sehingga kamu mendapat manfaat, atau diam sajalah niscaya kamu akan selamat, karena keselamatan itu berada dalam keadaan diam. Manusia tidak bisa mengalahkan syetan melainkan dengan diam. Oleh karena itu maka setiap muslim harus menjaga lisannya sehingga dirinyai terlindung dari syetan dan Allah akan menutupi aibnya.

Al-Faqih berkata : "Abul Hasan Ahmad bin Hamdan menceritakan kepada kami, Al-Husain bin ‘Ali Ath-Thusi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Hassan menceritakan kepada kami, Ishaq bin Sulaiman Ar-Razi menceritakan kepada kami dari Al-Mughirah bin Muslim" dari Hisyam dari 'Umar ra. dimana ia berkata : "Rasulullah saw. bersabda, Artinya :

"Barangsiapa yang menampar budaknya maka karafatnya adiziah memerdekakannya. Barangsiapa yang bisa menguasai lisannya maka Allah menutupi auratnya. Barangsiapa yang bisa menahan amarahnya maka AlIah menyelamatkan dari siksaanNya. Dan barangsiapa yang minta maaf kepada Allah maka Allah menerima permintaan maafnya”.

Al-Faqih berkata : "Muhammad bin Al-Fadlil menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Yusuf menceritakan kepada kami, Yazid bin Zurai' menceritakan kepada kami dari Yunus dari Al-Hasan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda, Artinya : "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tetangganya, memuliakan tamunya, dan berkata yang baik atau diam”.

Al-Faqih berkata : "Muhammad bin Al-Fadlil menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far menceritkan kepada kami, Ibrahim menceritakan kepada kami, Ya'la menceritakan kepada kami dimana ia berkata : "Kami masuk ke rumah Muhammad bin Suqah Az-Zahid kemudian ia berkata : "Bolehkah aku menceritakan kepadamu suatu hadits yang barangkali bermanfaat bagimu karena hadits itu telah memberi manfaat kepadaku".

Ia lalu berkata : "Atha' bin Abu Rabah berkata kepadaku : "Wahai keponakanku, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu tidak suka berbicara yang tidak penting, dan mereka menganggap bahwa semua perkataan itu tidak penting kecuali mémbaca Al-Qur'an, mengajak untuk berbuat baik, melarang dari perbuatan munkar, atau berbicara dalam mencari penghidupan yang memang kamu harus mengucapkannya (seperti dalam berniaga)", kemudian ia berkata : "Apakah kamu mengingkari firman Allah Ta'ala yang berbunyi :

Yang artinya :”Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)”

Yang artinya :”Satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. Ataukah kamu tidak malu seandainya catatan amalmu digelar dan disitu dipenuhi dengan catatan yang bukan urusan agama dan urusan duniamu ?". 

Al-Faqih berkata : "Ayahku menceritakan kepada kami dengan sanadnya dari Anas bin Malik dimana ia berkata : "Rasulullah saw. bersabda, Artinya : "Empat hal tidak terdapat melainkan pada seorang mu’min, yaitu ; (I) diam, yang merupakan ibadah yang pertama, (2) rendah hati; (3) dzikir kepada Allah Ta'ala; (4) sedikit sekali berbuat kejahatan". 

Ada juga yang meriwayatkan bahwa hadits tersebut disabdakan pula oleh Nabi Isa as. Artinya : ”Termasuk sebaik-baik Islam seseorang (bila) ia meninggalkan apa yang tidak berguna baginya”.

Diriwayatkan dari Luqman Al-Hakim bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepadanya : "Apakah yang menghantarkan kamu sampai bisa demikian ini ?". Luqman menjawab ; "Berkata benar, menunaikan amanah dan meninggalkan apa yang tidak berguna bagiku".

Diriwayatkan dari Abu Bakr bin 'Ayyasy bahwasanya ia berkata : "Ada empat raja yang mengucapkan satu ungkapan yang bagaikan anak panah. Raja Kisra berkata : "Aku tidak menyesal terhadap apa yang belum aku ucapkan, tetapi aku menyesal terhadap apa yang telah aku ucapkan".

Raja Cina berkata : "Selama aku belum mengucapkan suatu perkataan maka aku menguasai perkataan itu, akan tetapi bila aku sudah mengucapkan suatu perkataan maka perkataan itu menguasai aku". Raja Rum berkata : "Aku lebih mudah menahan apa yang telah aku katakan, akan tetapi tidak dapat mengembalikan apa yang telah aku katakan". 

Raja India berkata : "Sungguh mengherankan seseorang yang mengucapkan suatu perkataan yang apabila dituntut maka akan berbahaya, dan bila tidak dituntut maka tidak ada gunanya". 

Diriwayatkan dari Ar-Rabi‘ bin Khutsaim bahwasanya jika berada di waktu pagi ia mengambil kertas dan pena dan setiap apa yang diucapkan ia catat kemudian sore harinya ia perhitungkan akhirat karena perhitungan di dunia itu lebih mudah daripada perhitungan di akhirat. Men-jaga - lisan di dunia itu lebih mudah daripada penyesalan di akhirat.

Diriwayatkan dari Ibrahim At-Taimi bahwasanya ia berkala : "Salah seorang kawan Ar-Rabi’ bin Khutsaim menceritakan kepada saya dimana ia berkata : "Saya berkawan dengan Ar-Rabi‘ selama 20 tahun, saya tidak mendengar satu kalimat pun yang tercela yang diucapkan olehnya". Musa bin Sa'id berkata : "Ketika Al-Husain bin 'Ali ra. terbunuh maka salah seorang di antara teman-teman Ar-rabi' ada yang berkata : "Mungkin hari ini Ar-Rabi’ akan berbicara". 

Kemudian ia datang ke rumah Ar-Rabi‘ lantas melihat ke atas seraya berdoa : (yang artinya : "Wahai Allah, Pencipta Iangit dan bumi, Yang mengetahui barang yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah Yang memutuskan antara hamba-hambaMu tentang apa yang selalu mereka perselisihkan”), tidak lebih dari itu.

Salah seorang di antara para cendekiawan berkata, bahwa ada enam macam perbuatan yang menunjukkan kebodohan, yaitu :

1. Marah tidak pada tempatnya, seperti marah pada manusia, binatang dan sesuatu yang lain yang berada di hadapannya yang ia merasa tidak senang padanya.

2. Berbicara yang tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu setiap orang yang berakal sehat hendaknya tidak mengucapkan perkataan yang tidak berguna bagi dirinya, dan hanya mengucapkan perkataan yang membawa manfaat dalam urusan dunia dan akhiratnya.

3. Memberikan harta tidak pada tempatnya, maksudnya memberikan harta kekayaannya kepada orang Iain yang tidak pantas untuk menerimanya.

4. Menyebarluaskan rahasia pada setiap orang.

5. Percaya kepada setiap orang.

6. Tidak membedakan kawan dan lawan. Namun demikian ia harus mengetahui siapa kawan yang sebenarnya sehingga ia bisa taat atau bekerja sama dengannya, dan siapa musuh yang sebenarnya sehingga ia menjauhinya. Musuh yang paling utama adalah syetan dan oleh karenanya ia harus benar-benar menjauhi dari tidakakan patuh kepadan syetan.”

Diriwayatkan dan Nabi ‘Isa bin as. bahwasanya beliau bersabda, Artinya : "Setiap perkataan yang bukan dzikir kepada Allah maka itu adalah tidak ada gunanya. Setiap diam yang bukan berfikir adalah kelalaian. Setiap pandangan yang bukan untuk mengambil pelajaran adalah sia-sia. Maka beruntunglah orang yang perkataannya adalah dzikir kepada Allah, diamnya adalah berfikir, dan pandangannya untuk mengambil pelajaran". ‘

Diceritakan dari Al-Auza'i bahwasanya ia berkata : "Orang yang beriman itu sedikit bicara dan banyak amal, tetapi orang munafik itu banyak bicara sedikit amal". 

Diriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwasanya beliau bersabda, artinya : ”Ada lima sifat yang tidak terdapat pada orang munafik, yaitu ; (1) mendalami agama, (2) hati-hati dengan lisan, (3) cerah muka, (4) cahaya di dalam hati, (5) cinta kepada kaum muslimin".

Yahya bin Aktsam berkata : "Tiada seseorang yang baik perkataannya melainkan akan tampak di dalam amal-amal perbuatannya yang lain, dan tiada seseorang yang jelek perkataannya melainkan akan tampak di dalam amal-amal perbuatannya yang lain".

Dari Rasulullah saw. bahwasanya beliau bersabda, artinya : "Beruntunglah orang yang bisa menguasai lidahnya, lapang di rumahnya, dan menangisi dosa-dosanya”.

Al-Faqih berkata : "Abu Ja'far menceritakan kepada kami dengan sanadnya dari Al-Hasan Al-Bashri, dimana ia-berkata : "Sesungguhnya lisan orang yang bijaksana itu berada di belakang hatinya dimana bila ia hendak bicara maka ia pertimbangkan matang-matang di dalam hatinya, apabila apa yang akan diucapkan itu bermanfaat baginya maka ia ucapkan, dan apabila akan merugikan atas dirinya maka ia menahannya. Sedangkan hati orang yang bodoh itu berada di ujung lidahnya, dimana ia tidak pernah mempertimbangkan bila akan mengucapkan sesuatu, apa pun yang ingin ia ucapkan langsung saja ia ucapkan".

Al-Faqih berkata : "Ayahku meriwayatkan kepada kami dengan sanadnya dari Abu Dzarr Al-Ghiffari bahwasanya ia berkata ; "Saya bertanya : "Wahai Raslilullah, apa saja yang terdapat di dalam shuhuf Nabi Ibrahim ?". Beliau bersabda, Artinya : ”Di dalamnya terdapat contoh-contoh dan pelajaran-pelajaran (diantaranya) : 

"Orang yang berakal seyogyanya, selama ia tidak terkalahkan hatinya, selalu menjaga lisannya, mengetahui zamannya, mengerjakan urusannya dengan sungguh-sungguh, karena sesungguhnya orang yang menganggap ucapannya termasuk amaI perbuatannya maka ia akan sedikit bicara kecuali dalam hal yang bermanfaat baginya".

Al-Faqih berkata : "Abu Ja'far meriwayatkan kepada kami dengan sanadnya dari Abu Ishaq Al-Hamdani dari Al-Harts dari ‘Ali bin Abu Thalib ra. dimana ia berkata : "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, Artinya :

”0rang yang berakal itu seharusnya tidak bersungguh-sungguh kecuali dalam tiga hal, yaitu : (1) usaha untuk keperluan hidupnya, (2) beramal untuk hari kemudiannya, (3) bersenang-senang di dalam apa yang tidak diharamkan". 

Beliau juga bersabda : "0rang yang berakal itu seharusnya dapat memanfaatkan kesempatan di siang harinya, yaitu (1) kesempatan untuk bermunajat kepada Tuhannya, (2) kesempatan untuk menghitung-hitung dirinya, (3) kesempatan untuk mendatangi para cendekiawan yang mendalami urusan agama dan dunia dan untuk meminta nasehat kepada mereka, (4) kesempatan untuk memenuhi kesenangan dirinya dalam hal yang halal dan baik". 

Beliau juga bersabda : ”0rang yang berakal itu seharusnya selalu memperhatikan urusannya, mengenal orang-orang di zamannya, serta menjaga kemaluan dan lidahnya”.

Al-faqih berkata : "Diriwayatkan bahwa pernyataan di atas juga tertulis di dalam kumpulan kata-kata mutiara keluarga Nabi Dawud".

Diriwayalkan dari Anas bin Malik ra. bahwasanya Luqman’ Al-Hakim datang ke rumah Nabi Dawud as. dan Nabi Dawud as. sedang membuat baju besi (untuk perang) dan Luqman kagum melihat apa yang dikerjakan oleh Nabi Dawud as. dan ingin menanyakannya, namun ia tertahan karena hikmahnya, jadi ia tidak menanyakan apa pun. 

Ketika Nabi Dawud as. selesai dan mencoba baju besi itu, Nabi Dawud bersabda : "Betapa baiknya baju ini untuk berperang, dan memang dibuat oleh orang yang baik”. Luqman lantas berkata : "Diam itu adalah hikmah, namun sedikit orang yang dapat mengerjakannya".

Seorang penyair berkata, artinya : "Ilmu itu adalah perhiasan dan diam itu adalah keselamatan, apabila kamu berkata-kata maka janganlah banyak bicara. Kamu tidak akan menyesal karena diam sekali, namun sungguh kamu akan menyesal karena bicara berulang kali".

Penyair yang lain mengatakan, Artinya : ”Seorang pemuda bisa mati karena tergelincir lidahnya, dan tidak ada seorang yang mati karena tergelincir kakinya”.

Penyair yang lain mengatakan, Artinya : "Janganlah sekali-kali kamu mengucapkan apa yang kamu tidak suka, karena bisa jadi lidah itu mengucapkan sesuatu maka terjadilah apa yang diucapkannya".

Humaid bin 'Abbas membuat sya'ir sebagai berikut, Artinya : "Sungguh tidak ada sesuatu yang saya ketahui tempatnya, yang lebih pantas untuk dipenjara daripada lisan yang sangat lemas.

Apa yang ada di mulutmu yang tidak bermanfaat bagimu maka kuncilah yang kuat-kuat, dimana kamu menguncinya. Banyak perkataan yang meluncur dari (mulut) orang yang bergurau, tetapi meluncurkan anak panah yang menyebabkan mati dengan segera.

Sungguh, diam itu lebih baik daripada ucapan yang bergurau, maka jadilah kamu orang yang pendiam niscaya kamu selamat, dan bila kamu berkata maka harus adil. Janganlah kamu bertindak sembrono kepada kawan, dan bila kamu membenci orang yang kamu benci maka biasa-biasa saja. Karena sesungguhnya kamu tidak tahu kapan kamu membenci kekasihmu atau kamu mencintai orang yang kini kamu benci, maka gunakanlah akal sehatmu”.

Seorang cendekiawan mengatakan bahwa diam itu mengandung 7.000 kebaikan, dan kesemuanya itu dirangkum dalam tujuh kalimat yang masing-masing kalimat terdapat seribu kebaikan. Ketujuh kalimat itu adalah : 

Diam itu merupakan ibadah yang tanpa susah payah.
Diam itu merupakan perhiasan yang tanpa emas permata.
Diam itu merupakan kewibawaan yang tanpa kekuasaan.
Diam itu merupakan benteng yang tanpa pagar.
Diam itu merupakan kekayaan yang tanpa merendahkan orang lain.
Diam itu merupakan istirahat bagi malaikat pencatat amal.
Diam itu merupakan penutup aib.

Ada yang mengatakan bahwa diam itu merupakan hiasan bagi orang yang pandai, dan merupakan tirai bagi orang yang bodoh.

Seorang cendekiawan berkata ; "Jasad manusia itu terdiri dari tiga bagian, yaitu : hati, lidah dan anggota-anggota badan. Allah memuliakan masing-masing bagian dengan kemuliaan. Kemuliaan hati adalah dengan ma'rifat dan tauhid, kemuliaan lisan adalah dengan persaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan membaca Al-Qur'an, dan kemuliaan anggota-anggota badan adalah dengan shalat, puasa-puasa dan ibadah-ibadah yang lain. 

Masing-masing bagian itu ada pengawas dan pemelihara. Pemeliharaan hati diserahkan kepada dirinya sendiri, maka tidak ada yang mengetahui sesuatu yang berada di dalam hati kecuali Allah. Pemeliharaan lidah diserahkan kepada malaikat pencatat amal dimana Allah Ta'ala berfirman, yang artinya ; "’Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadlir". 

Sedangkan pemeliharaan hati diserahkan kepada perintah dan larangan. Kemudian setiap bagian itu harus jujur. Jujurnya hati adalah tetap beriman, tidak dengki, tidak berkhianat dan tidak membuat tipu daya. Jujurnya lisan adalah tidak menggunjing, tidak bohong dan tidak mengucapkan apa yang tidak berguna. 

Sedangkan jujurnya anggota-anggota badan adalah tidak maksiat kepada Allah dan tidak mengganggu sesama muslim. Barang siapa yang hatinya tergelincir maka ia kafir; dan barangsiapa yang anggota-anggota badannya tergelincir maka ia orang yang durhaka".

Diriwayatkan dari Al-Hasan dimana ia berkata ; " 'Umar bin Al-Khaththab ra. melihat seorang pemuda lalu ia berkata : "Wahai anak muda, jika kamu dapat menjaga kejelekan yang tiga maka berarti kamu menjaga kejelekan masa mudamu, yaitu bila kamu bisa menjaga kejelekan lidah, kemaluan dan perutmu". 

Diceritakan bahwa Luqman Al-Hakim adalah seorang budak yang berkebangsaan Ethiopia, dan hikmah yang pertama kali nampak dari padanya yaitu sewaktu majikannya berkata kepadanya : "Sembelihlah kambing ini dan ambilkan dua bagian yang paling baik untukku". 

Kemudian Luqman mengambilkan hati dan lidahnya untuk majikannya. Pada waktu yang lain, majikannya berkata kepadanya : "Sembelihlah kambing ini dan ambilkan dua bagian yang paling jelek untukku". Kemudian Luqman mengambilkan hati dan lidahnya. 

Majikannya lalu menanyakan kepada Luqman hal yang demikian itu, kemudian Luqman menjawab : "Di tubuh ini tidak ada yang lebih baik daripada hati dan lidah apabila keduanya itu baik, dan tidak ada yang lebih jelek daripada hati dan lidah apabila keduanya itu jelek".

Diriwayatkan dari Rasulullah saw. bahwasanya ketika beliau mengutus Mu'adz ke Yaman, ia berkata : "Wahai Nabiyullah, berilah saya wasiat". Kemudian beliau menunjuk lidahnya, maksudnya, Mu'adz harus menjaga lidah dengan sebaik-baiknya. Nampaknya Mu'adz menganggap remeh terhadap jawaban Nabi saw., maka ia berkata lagi : ''Wahai Nabiyullah, berilah saya wasiat". 

Beliau bersabda, artinya : ”Celaka kamu, tidaklah orang-orang akan terjerumus ke dalam neraka Jahannam melainkan karena akibat dari lidah mereka".

Al-Hasan Al-Bashri berkata : "Barangsiapa yang banyak bicaranya maka banyak salahnya; barangsiapa yang banyak hartanya maka banyak dosanya, dan barangsiapa yang jelek budi pekertinya maka ia menyiksa dirinya sendiri".

Diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri bahwasanya ia berkata : "Seandainya saya harus melempar seseorang dengan anak panah, maka itu lebih aku sukai daripada aku harus melempar dengan lidahku, karena lemparan lidah itu tidak pernah meleset sedangkan lemparan anak panah itu kadang-kadang meleset".

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. bahwasanya ia berkata : "Bila waktu pagi tiba, maka semua anggota tubuh berkata kepada lidah : "Wahai lidah, kami berpesan kepadamu dengan menyebut nama Allah untuk jujur. Bila kamu jujur maka kami pun akan jujur, tetapi bila kamu curang kami pun akan curang".

Diriwayatkan dari Abu Dzarr Al-Ghiffari ra. bahwasanya ia berdiri di depan Ka'bah seraya berkata : "Ketahuilah, orang yang telah mengenal aku maka ia tentu mengerti siapa aku, tetapi bagi yang belum mengenal, aku adalah Jundub bin Junadah Al-Ghiffari Abu Dzarr. 

Mendekatlah kamu sekalian kepada kawan yang akan menyampaikan nasehat dan sayang kepadamu. Kemudian berkumpullah orang-orang di sekeliling Abu Dzarr, lantas ia berkata : "Wahai manusia, barangsiapa yang ingin bepergian di dunia ini maka ia tidak bisa melakukannya bila tidak mempunyai bekal. 

Maka bagaimana orang yang ingin bepergian ke akhirat tanpa membawa bekal ?". Orang-orang yang berada di sekelilingnya menjawab ; "Apakah bekal kita, wahai Abu Dzarr". Ia menjawab :

"Shalat dua raka'at di kegelapan malam untuk menghadapi gelapnya kubur; puasa di saat yang sangat panas untuk menghadapi hari kebangkitan dari kubur, shadaqah kepada orang-orang miskin niscaya kamu akan selamat dari siksaan di waktu yang sangat sulit, haji untuk menghadapi hal-hal yang besar, dan jadikanlah dunia ini menjadi dua majlis saja, satu majlis untuk mencari dunia, dan satu majlis lagi untuk mencari akhirat, sedangkan majlis ketiga adalah berbahaya dan tidak bermanfaat. 

Jadikanlah perkataan itu hanya dua macam saja, yaitu perkataan yang membawa manfaat bagi urusan duniamu, dan satu perkataan macam yang ketiga adalah berbahaya dan tidak bermanfaat, gunakanlah hartamu itu untuk dua macam, yaitu harta yang kamu belanjakan untuk kepentingan keluargamu, dan harta yang kamu simpan untuk masa depanmu sendiri (akhirat), sedangkan jenis yang ketiga maka berbahaya dan tidak bermanfaat".

Kemudian Abu Dzarr berkata : "Aduuh, saya telah terbunuh oleh kerisauan suatu hari yang tidak dapat saya kejar". Ada salah seorang diantara mereka bertanya : "Apakah itu ?". Abu Dzarr menjawab : "Angan-anganku melebihi batas ajalku, sehingga terasa sukar bagiku untuk beramal".

Diceritakan bahwa Nabi Isa as. bersabda, Artinya : "Janganlah kamu banyak bicara selain untuk berdzikir kepada Allah, (karena bila kamu banyak bicara selain dzikir) maka hatimu akan keras, dan hati yang keras itu jauh dari Allah, akan tetapi kamu tidak mengetahuinya".

Salah seorang sahabat berkata : "Apabila kamu merasa hatimu keras, badanmu lemah dan rizkimu sulit maka ketahuilah bahwa kamu telah banyak berbicara tentang apa yang tidak berguna bagimu".

Ayo sobat ; JAGA-LAH LISAN-MU !

Wallahul muwaffiq. Baca juga : Hak Dua Orang Tua