Advertisement

Advertisement

Gambaran Kehidupan dan Biologis Rasulullah SAW

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM.net - Gambaran Kehidupan dan Biologis Rasulullah saw. Sebelum memaparkan beberapa gambaran hubungan biologis dalam kehidupan rasul kita yang mulia, saya akan mengemukakan dua hal untuk membantu menjelaskan jalan yang lurus bagi kehidupan beliau, sehingga kita dapat menempatkan nash-nash pada proporsinya yang benar ; 

Pertama, kesempurnaan dan keseimbangan di dalam kehidupan Rasulullah saw., dan keadilan di dalam mendistribusikan tanggung jawab di dalam kehidupan beliau dan di dalam membatasi lapangan masing-masing. Allah berfirman, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu .... "(al-Ahzab: 21) 

Ini berarti mewajibkan pandangan yang menyeluruh terhadap kehidupan Rasulullah saw. dari segala aspeknya, dan tidak terpaku pada salah satu sisinya saja, karena memandang pada aspek atau sisi tertentu saja hanya akan menimbulkan pengertian yang tidak benar yang akan diikuti dengan penyimpangan di dalam menggambarkan jalan hidup beliau secara umum. 

Biologis Rasulullah SAW
Hal itu disebabkan orang yang hanya mengikuti gambaran ibadah Rasulullah saw. saja, niscaya dia akan menyangka bahwa beliau hanya mencurahkan segenap perhatiannya pada ibadah. Barangsiapa yang mengikuti gambaran tentang perjuangan dan peperangan-peperangan yang dilakukan Rasulullah saw., maka dia akan mengira bahwa yang menjadi perhatian beliau hanyalah perang dan mengirim pasukan. 

Barangsiapa yang mengikuti gambaran tentang pengajaran dan pengarahan yang beliau lakukan terhadap para-para sahabat dalam segala urusannya, yang kecil dan yang besar, niscaya dia akan mengira bahwa beliau hanya mencurahkan segenap waktu dan tenaganya untuk memberikan pengajaran dan pendidikan. 

Barangsiapa yang mengikuti gambaran kepedulian beliau terhadap para sahabat, mengunjungi yang besar dan yang kecil, menghadiri undangan mereka, memberi makan yang kelaparan, membantu yang lemah, menanyakan yang tidak hadir, menyambut tamu, mentahkik (menyuapkan makanan) kepada anak-anak mereka, menjenguk yang sakit, dan menshalati yang meninggal dunia-- niscaya dia akan mengira bahwa kerja beliau hanya melakukan pemeliharaan hati dan perasaan ( dengan melakukan aktivitas sosial) ini saja. 

Akhirnya, kami katakan bahwa barangsiapa yang mengikuti gambaran (potret) kecintaan Rasulullah saw. terhadap istri-istri beliau, kelemah-lembutannya, pemeliharaannya yang bagus terhadap istri-istri beliau, dan masalah hubungan biologisnya, niscaya dia akan mengira bahwa hati beliau hanya terpaut pada wanita dan tidak ada yang lain lagi di balik itu. 

Ringkasnya, kita akan memaparkan gambaran-gambaran tentang kehidupan seksual beliau, dengan tidak lupa mengingat bagaimana perhatian beliau terhadap ibadah, jihad, dan pengajaran, dan bagaimana pula potret pemeliharaan beliau terhadap sahabat- sahabat beliau, ditambah lagi dengan aktivitas beliau mengatur urusan daulah islamiah yang baru tumbuh itu, sehingga kita memiliki pemahaman yang benar dan komprehensif serta lurus dengan tidak dipalingkan oleh hawa nafsu dan kelengahan. 

Kedua, yang dapat membantu menjelaskan jalan hidup Rasulullah saw. ialah bahwa orang yang memiliki perasaan yang sempurna akan senantiasa mengungkapkan segala sesuatunya dengan penuh hormat, kemuliaan, dan penuh kasih sayang. 

Apabila perasaan berkaitan dengan salah seorang istri beliau, dan melakukan hubungan biologis, maka pada hakikatnya bukanlah semata-rnata kesenangan fisik yang dirasakannya, bahkan ia merupakan salah satu sisinya saja, dan di sana turut serta perasaan-perasaan lain yang banyak jumlahnya, seperti rasa cinta, menghormati, memuliakan, bahkan juga rasa kasihan. Semua perasaan yang baik itu diungkapkan dengan ciuman yang menyenangkan atau sentuhan yang penuh kasih sayang saja. · 

Berikut ini kami hadirkan beberapa nash yang melukiskan sebagian kehidupan biologis Rasulullah saw., bukan hanya merupakan kekhususan untuk Rasulullah saw. Saja, melainkan untuk menegaskan sisi kemanusiaan yang fitrah dalam perjalanan hidup Rasulullah saw.. Artinya, beliau juga seperti kaum mukminin lainnya yang mencintai istri dan menempuh kehidupan bersama istri mereka sesuai dengan fitrah yang sehat. · 

1. Mengelilingi lstri-istrinya Sekadar Menghampirinya Sesudah Shalat Subuh 

Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rasulullah saw. apabila selesai menunaikan shalat subuh, beliau duduk di tempat shalatnya, dan orang-orang pun duduk di sekeliling beliau hingga matahari terbit. Kemudian beliau menemui istri-istri beliau satu per satu, mengucapkan salam kepada mereka, dan mendoakan mereka. Apabila sampai pada istri yang hari itu mendapatkan gilirannya, maka beliau berada di situ." (HR Ibnu Mardawih)

2. Mengelilingi Istri-istrinya Sekadar Menghampiri Setelah Shalat Ashar 

Aisyah r.a. berkata, "Apabila Rasulullah saw. selesai menunaikan shalat Ashar, beliau menemui istri-istri beliau, lalu mendekati salah satunya." (HR Bukhari dan Muslim) 

Aisyah r.a. berkata, "Rasulullah saw. tidak melebihkan sebagian kami atas sebagian yang lain dalam pembagian untuk berdiam di sisi kami dan hampir tiada hari kecuali beliau mengelilingi kami semua lalu mendekati istri-istrinya satu per satu dengan tidak mencampurinya." (Di dalam riwayat al-Baihaqi, 'Lalu beliau mencium dan menyentuhnya, cuma tidak menyetubuhinya, Hingga sampai kepada istri tempat beliau bergilir, kemudian beliau bermalam di sisinya." (HR Abu Daud).

3. Bertemu dengan Para Istrinya Setiap Malam di Rumah Istri Tempat Beliau Bergilir 

Anas r.a, berkata, "Nabi saw, mempunyai sembilan orang istri. Apabila beliau membagi giliran di antara mereka, beliau tidak berhenti pada yang pertama saja, melainkan hingga sampai pada yang kesembilan. Kemudian mereka berkumpul setiap malam di rumah istri yang mempunyai giliran. Ketika beliau berada di rumah Aisyah, kemudian Zainab datang, lalu beliau mengulurkan tangan beliau kepadanya seraya berkata, 'Ini Zainab.' Kemudian beliau  menahan tangan beliau."·(HR Muslim) 

4. Mengadakan Undian di antara Istri-istrinya Ketika Hendak Bepergian·untuk Menemui Salah Seorang dari Mereka 

Riwayat dari Aisyah r.a., ketika orang-orang penyebar kabar bohong mengatakan apa yang mereka katakan. Aisyah berkata, "Apabila Rasulullah saw. hendak bepergian, beliau mengadakan undian diantara istri-istri beliau. Maka siapa saja yang keluar undiannya, dialah yang diajak pergi bersama Rasulullah saw.. Ketika Rasulullah saw. mengadakan undian diantara kami untuk suatu peperangan yang beliau lakukan, maka keluarlah undianku. Lalu aku pergi bersama Rasulullah saw. setelah turunnya ayat hijab, maka aku dibawa di atas sekedupku dan aku ditempakan di dalamnya." (HR Bukhari dan Muslim) 

Aisyah berkata bahwa apabila Nabi saw. hendak bepergian, maka beliau mengadakan undian di antara istri-istri beliau. Maka keluarlah undian untuk Aisyah dan Hafshah. Ketika Nabi saw. berjalan pada malam hari bersama Aisyah, beliau bercakap-cakap dengannya. Maka Hafshah bertanya (kepada Aisyah ), "Apakah pada malam ini engkau tidak naik kendaraanku dan aku naik kendaraanmu sehingga antara aku dan engkau dapat saling memandang ?" Aisyah menjawab, "Ya" Lalu dia naik. Kemudian Nabi saw. mendatangi unta (kendaraan) Aisyah, tetapi di atasnya ternyata Hafshah. Beliau mengucapkan salam kepadanya, kemudian berjalan hingga turun di suatu tempat. Lalu Aisyah menaruh kedua kakinya di antara rumput-rumput “idzkhir” seraya berkata, "Ya Tuhan, datangkanlah padaku kelajengking atau ular yang akan menggigitku dan aku tidak dapat berkata apa-apa lagi kepada beliau." (HR Bukhari dan Muslim) 

Al-Hafizh lbnu Hajar berkata, "Perkataannya, 'Apabila Nabi saw. berjalan malam dengan Aisyah beliau bercakap-cakap dengannya,” ini dijadikan dalil oleh al-Muhallab bahwa membagi giliran bagi Nabi saw. itu tidak wajib, dan tidak ada petunjuk ke arah itu, karena pada dasarnya pembagian giliran malam itu pada waktu hadlar (di rumah, tidak dalam bepergian). Adapun di dalam bepergian, maka prinsip pembagiannya ialah pada waktu turun (singgah), sedangkan pada waktu berjalan, maka tidak ada pembagian, baik malam maupun siang. 

Perkataannya, 'Apakah engkau tidak naik kendaraanku pada malam ini ?' tampaknya Aisyah memenuhi permintaan Hafshah ini, karena dia ingin sekali melihat apa yang tidak biasa dia lihat. Ini memberikan kesan bahwa keduanya tidak saling berdekatan pada waktu berjalan, bahkan masing-masing berada pada arah (tempat) yang berbeda, sebagaimana kebiasaan perjalanan dua kereta api. Akan tetapi, boleh jadi yang dimaksud dengan memandang di situ adalah naik unta dengan perjalanan yang baik dan nyaman. " 

5. Mencium Istri kemudian Pergi Menunaikan Shalat 

Dari Aisyah bahwa Nabi saw. mencium salah seorang istrinya, kemudian pergi menunaikan shalat dengan tidak berwudhu lagi. (HR Tirmidzi) 

6. Mencium dan Memeluk lstri dalam Keadaan Berpuasa 

Aisyah berkata, "Nabi saw. mencium dan memeluk (istriya) padahal beliau berpuasa, dan beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan libidonya di antara kalian. " (HR. Bukhari dan Muslim) 

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, "An-Nasa'i meriwayatkan dari jalan Thalhah bin Abdullah at- Taimi dari Aisyah, dia berkata, 'Nabi saw, mau menciumku, lalu aku berkata; 'Aku sedang berpuasa.' Beliau menjawab, 'Aku juga berpuasa, ' Lalu beliau menciumku. " 

7. Mengelilingi Istri-istrinya dan Mencampurinya Beberapa Waktu Sebelum Ihram 

Aisyah r.a. berkata, "Aku memakaikan wewangian pada Rasulullah saw.. Kemudian beliau mengelilingi istri-istri beliau. Keesokannya beliau melakukan ihram." (HR. Bukhari dan Muslim) 

8. Bercampur Sesudah Tahallul dari Ihram 

Aisyah r.a. berkata, "Kami menunaikan haji bersama Nabi saw. Lalu kami melakukan thawaf ifadhah pada hari Nahr. Kemudian Shafiyah mengeluarkan haid, sedangkan Rasulullah saw. hendak melakukan sesuatu terhadapnya sebagaimana yang dikehendaki seorang lelaki terhadap istrinya. Maka aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia sedang haid.' Beliau berkata, 'Dia menahan kami ?' Mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, dia telah melakukan thawaf ifadhah pada hari Nahr,' Beliau berkata, 'Keluarlah!" (HR Bukhari dan Muslim) 

9. Adakalanya Mencampuri Salah Seorang lstrinya, Kemudian Mengulanginya Lagi 

Aisyah r.a. berkata, "Nabi saw mencampuri (istrinya), kemudian mengulanginya lagi dengan tidak berwudhu.” (HR. ath-Thahawi) 

1O. Kadang-kadang Mencampuri Beberapa Orang Istrinya dalam Satu Malam 

Abu Rafi' berkata bahwa pada suatu hari Nabi saw. mencampuri istri-istrinya, beliau mandi setelah mencampuri ini dan ini. (HR Abu Daud) 

11.Para Ummul Mukminin Tidak Mengqadha Puasa Ramadhan Kecuali pada Bulan Sya'ban 

Yahya dari Abi Salamah, berkata, "Aku mendengar Aisyah r.a. berkata, 'Aku mempunyai utang puasa Ramadhan, maka aku tidak dapat mengqadhanya melainkan pada bulan Sya'ban. "' Yahya berkata, '(Yang menghalanginya) ialah kesibukannya melayani Nabi saw." (HR Bukhari dan Muslim)

Aisyah r.a. berkata, "Apabila salah seorang dari kami berbuka puasa ( tidak berpuasa) pada masa Rasulullah saw., maka dia tidak dapat mengqadhanya bersama Rasulullah saw. (Dalam satu riwayat, 'Karena kedudukan Rasulullah saw.. ') hingga datang bulan Sya'ban." (HR Muslim) 

Imam Nawawi berkata di dalam syarah-nya terhadap Shahih Muslim, "Sesungguhnya setiap istri Nabi saw. itu senantiasa menyiapkan diri untuk melayani Rasulullah saw, agar dapat bersenang-senang dengannya sewaktu-waktu jika beliau menghendakinya. Ini termasuk adab, dan mereka hanya mengqadhanya pada bulan Sya'ban. Ini karena beliau saw, biasa berpuasa pada sebagian besar bulan Sya 'ban sehingga beliau tidak berhajat kepada mereka pada Masa itu. 

12. Saudah Memberikan Hari Gilirannya kepada Aisyah

Aisyah r.a. berkata, ,, ... Dan beliau membagi untuk masing-masing istri beliau akan siang dan malam harinya. Hanya saja Saudah binti Zam'ah memberikan harinya dan malamnya (giliran-nya) kepada Aisyah, karena hendak mencari kesenangan hati Rasulullah saw.. " (HR Bukhari).

Aisyah berkata, "Aku tidak melihat seorang wanita yang aku ingin seceria dia daripada Saudah binti Zam'ah, seorang wanita yang sudah ada tanda ketuaan padanya. Ketika usianya sudah tua, dia memberikan harinya untuk Rasulullah saw. kepada Aisyah. Dia berkata, 'Wahai Rasulullah, aku jadikan hariku untukmu buat Aisyah.' Maka Rasulullah saw. menggiliri Aisyah dua hari, yaitu harinya Aisyah dan harinya Saudah." (HR Muslim).

Subhanallahi, Wallahu A’lam.
Baca juga : Rasulullah SAW Bukan Mujtahid
Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: