Advertisement

Advertisement

Kisah Nabi Yahya AS dan Raja Herodus

MARWAHISLAM.net | Kisah Nabi Yahya AS & Raja Herodus yang di suatu hari Yahya mendengar berkenaan Raja Herodus yang menguasai Palestina ingin mengawini Herodia anak tirinya. Menurut syariat atau undang-undang dari Kitab Taurat & Zabur bahwa mengawini anak tiri itu hukumnya haram artinya tidak boleh. 

Kisah Nabi Syu’aib AS

MARWAHISLAM.net | Nabi Syu’aib AS diutus di negara Madyan. Warga negara Madyan telah lama melupakan falsafah Nabi-Nabi & Rasul-Rasul yang diutus diawal mulanya.

Mereka tak yakin adanya Allah. Mereka menyembah hutan & menyembah Aikah adalah sebidang Padang Pasir yang ditumbuhi pohon & tanaman.

AJAKAN NABI SYU’AlB Pada KAUMNYA

Pada periode itu warga Madyan telah amat sangat sesat. Kemungkarannya telah amat melampaui batas.

Kemaksiatan telah jadi factor yang biasa mereka jalankan & adat jelek mereka yang amat sangat jahat ialah mengurangi takaran atau timbangan dalam berdagang. Inilah kiranya yang mesti dihindari para pedagang jaman ini.

Nabi Syu'aib menggandeng kaumnya menyembah Allah. Menjauhi kezalirnan, kemungkaran & segala macam wujud kemaksiatan. Beliau pun mengajak mereka berlaku jujur, menimbang dengan benar tidak dengan dikurangi seperti kebiasaan mereka.

Nabi Syu’aib AS

Nabi Syu'aib pula memperingatkan mereka biar tak menghalang-halangi para pengikutnya yang beriman untuk beribadah pada Allah. Dikarenakan kaum Madyan punyai adat tidak baik, mereka senang menghalang-halangi para pengikut Nabi Syu’aib yang beriman.

Bahkan tidak sedikit dari mereka yang dipaksa dengan kekerasan untuk meninggalkan falsafah Nabi Syu'aib.

Walaupun begitu Nabi Syu'aib masihlah sabar & konsisten jalankan dakwahnya. Kegigihan Nabi Syu'aib ini agaknya membuat beberapa orang kafir gatal & amat jengkel. Mereka mendatangi Nabi Syu'aib & meneror bakal menyiksa & merajam Nabi Syu'aib seandainya ia tak ingin menghentikan dakwahnya.

Nabi Syu'aib & pengikutnya seterusnya pindah ke negara lain, sebab masyarakat Madyan telah tak dapat diharap lagi keimanannya. Mereka malah mengejek & menghina falsafah Nabi Syu'aib dengan penuh kepongahan.

Cuma sekian banyak waktu sesudah Nabi Syu'aib & pengikutnya pindah, tiba-tiba masyarakat Madyan dikejutkan oleh adanya gempa maha dahsyat maka mereka mati bergelimpangan.

BERDAKWAH Terhadap KAUM ASHABUL AIKAH

Nabi Syu'aib & pengikutnya pindah ke negara Aikah pas bersama anjuran Allah yang memang lah menugaskannya untuk berdakwah di sana.

Nyata-nyatanya warga Aikah pun sama durhakanya dengan masyarakat Madyan. Mereka menolak ajakan Nabi Syu'aib untuk menyembah Allah SWT. Mereka bahkan mengejek & meneror Nabi Syu'aib. Bahkan mereka menantang supaya Nabi Syu'aib AS serta-merta mendatangkan azab yang dijanjikan Allah.

Lantaran terus menerus berbuat kedurhakaan & kemaksiatan. Tidak mampu diingatkan lagi & tidak dapat di harapkan keimanannya lagi, sehingga Allah mengazab mereka. Pertama mereka di serang hawa yang amat panas, maka mereka samua ke luar dari hunian masing-masing buat mencari hawa segar.

Tapi di manapun mereka berada, hawa sudah beralih jadi panas sampai menyesakkan dada & nafas mereka. Ingatlah hawa semacam ini sempat melanda kawasan Amerika yang populer akan kemaksiatannya, sampai beberapa ratus jiwa melayang sia-sia. Ini hendaknya jadi pelajaran & cermin bagi manusia abad ini.

Waktu mereka lagi bingung, tiba-tiba kelihatan awan hitam menaungi kawasan lembah. Mereka gembira, dikira awan itu dapat mendatangkan hujan, udara sejuk yang mereka rindukan bakal serentak terhirup.

Tapi cita-cita itu buyar berantakan. Lantaran tanpa diduga datanglah angin kencang, mereka samua terhempas & terlempar. Pada saat begitu dari awan yang hitam pekat itu menyambar guntur yang saling menyusul.

Binasalah kaum yang durhaka itu. Satupun tak ada yang tersisa. Cuma Nabi Syu'aib AS & pengikutnya yang selamat sebab mendapat Rahmat & perlindungan dari Allah SWT.

Baca juga : Kisah Nabi Yahya AS dan Raja Herodus

Kisah Nabi Shalih AS

MARWAHISLAM.net | Kisah Nabi Shalih AS dimana Nabi Shalih ialah keturunan Nabi Nuh AS. Menurut silsilah, dia yaitu putra ‘Ubaid Badan Intelijen Negara Tsamud Badan Intelijen Negara ‘Amir Badan Intelijen Negara Iram Badan Intelijen Negara Sam Badan Intelijen Negara Nuh A.S. Nabi Shalih diutus ke tengah-tengah bangsa Tsamud yang hidup di second reruntuhan kaum Aad. 

Bangsa Tsamud nyata-nyatanya lebih pandai daripada kaum Aad. Mereka sanggup membangun lagi jaringan irigasi yang lebih sempuma guna mengairi lahan pertanian & perkebunan. Mereka pun membangun ruang tinggal yang jauh lebih indah & megah di bukit-bukit. Mereka hidup makmur & berlomba-lomba dalam kemegahan. 

AJAKAN NABI SHALIH Kepada KAUMNYA 

Seperti kaum Aad. Nyata-nyatanya bangsa Tsamud menyembah berhala. Mereka pun senang mengerjakan dosa, kemaksiatan & kedurhakaan. 

Allah mengutus Nabi Shalih ke tengah-tengah mereka. Berbicara Nabi Shalih terhadap kaumnya : "Hai kaumku, sembahlah Allah. Tak ada Tuhan tidak hanya Ia. Jangan Sampai anda Menyekutukan-Nya bersama sesembahan lain. Allah sudah membuat anda dari tanah. Dialah yg menjadikanmu dapat membangun bersama sediakan sarana-sarananya. 

Sehingga telah semestinya kalian memohon ampun atas aksi dosa kalian. Bertaubatlah KepadaNya. Sesungguhnya Tuhanku teramat dekat (Rahmat-Nya) & memperkenankan do’a Hamba-Nya." 
Nabi Shalih AS

Tapi kaum Tsamud tak menghiraukan ajakan Nabi Shalih. Mereka bahkan mendustakan Nabi Shalih & mempunyai anggapan Nabi Shalih sebagai pembual belaka. 

Bagi Nabi Shalih, dakwah ialah tugasnya. la tak berharap bayaran dari kaumnya. la cuma mengatakan. Sehingga tidak dengan, putus asa, dgn sabar & telaten dia terus melancarkan dakwah buat menyembah Allah & meninggalkan kekufuran. 

Nabi Shalih Dituntut Kaumnya Mengeluarkan Mu'jizat. Kalau Nabi Shalih giat lakukan dakwah. Kaum Tsamud pun giat berikhtiar unruk memalingkan perhatian ummat dari Nabi Shalih. Mereka mencari beraneka ragam upaya biar Nabi Shalih diremehkan semua bangsa Tsamud. 

Kepada satu buah hri Kaum Tsamud menemui Nabi Shalih. "Hai Shalih, apabila engkau benar-benar benar satu orang Nabi. Sehingga datangkanlah sebuah keajaiban. Kalau engkau tak sanggup mengeluarkan mu'jizat berarti kau seseorang pembohong." Begitu kata kaum Tsamud. 

Menghadapi tuntutan begitu tidak ada jalan lain bagi Nabi Shalih kecuali memohon terhadap Allah biar memberikan mu'jizat kepadanya. 

Allah mengabulkan do'a Nabi Shalih. Pada suatu hari Nabi Shalih menggandeng kaumnya buat berangkat ke kaki gunung. Beberapa Orang kafir itu mengikuti Nabi Shalih. Bukan lantaran mempercayai Nabi Shalih melainkan menginginkan supaya Nabi Shalih tidak dapat mengeluaikan mu'jizat. 

Dgn begitu mereka mampu mengolok-olok & menghina Nabi Shalih. Namun betapa terperanjat beberapa orang kafir itu. Tidak lama sesudah mereka berkumpul di kaki gunung. Tampaklah seekor unta betina yang keren rupanya. Unta itu agung & gemuk belum sempat mereka menonton unta sebagus itu. Tetek onta itu penuh bersama susu. 

Nabi Shalih berpesan pada ummatnya ; "Inilah unta mu'jizat dari Tuhanku. Unta ini boleh kalian peras susunya tiap-tiap hri. Susunya tak bakal habis-habis. Namun tonton pesanku : Unta ini mesti dibiarkan bebas berkeliaran, tak seseorang pula boleh mengganggunya. 

Unta ini pun mempunyai wewenang meminum air sumur bergantian dengan masyarakat. Jikalau hri ini unta ini minum sehingga tidak satu orang dari warga boleh membawa air sumur. Sebaliknya besok masyarakat boleh membawa air sumur & si unta tak minum sedikitpun pula. 

Kaum Tsamud setuju bersama perjanjian itu. Hari itu pula unta mu'jizat itu menuju sumur & meminum airnya. Para warga serta-merta membawa ruangan susu & memerah susu unta itu bergantian. 

KEDURHAKAAN KAUM TSAMUD 

Sejak munculnya unta yg mengambil barokah air susu, warga dari beberapa orang beriman bertambah kuat & tebal imannya, sedangkan beberapa orang kafir makin iri & menyimpan dendam terhadap Nabi Shalih. Mereka terus mengupayakan mematahkan dakwah yang dilancarkan Nabi Shalih. 

Beberapa Orang kafir itu seterusnya mengadakan sayembara. Siapa yang berani membunuh unta Nabi Shalih sehingga mereka dapat hadiah berupa perawan kece. 

Tersebutlah, dua orang pemuda nekad mengikuti sayembara itu. Mereka telah sepakat dapat menikmati hadiah wanita elegan itu bersama-sama. Sungguh mesum niat ini. Demikianlah, diwaktu unta itu baru saja minum di salah satu sumur warga salah satu orang dari pembunuh kejam itu melepaskan anak panah. Tepat mengenai kaki unta. 

Unta itu berlari kesakitan, tetapi satu orang lagi yang telah siap dengan golok di tangan cepat menghabisi unta itu. Mereka sukses membunuh unta & automatis mendapati hadiah wanita elegan. 

Sesudah unta itu mati beberapa orang kafir merasa lega. Mereka dengan beraninya menantang Nabi Shalih : "Hai Shalih, unta yang kau banggakan itu waktu ini telah kami bunuh. Mengapa tak ada balasan siksa bagi kami. Bila kau memang lah utusan Allah pastinya kau mampu mendatangkan siksa yang kau ancamkan pada kami !" 

Bicara Nabi Shalih : "Kalian memang lah sudah berbuat dosa. Saat Ini kalian boleh bersenang-senang selagi tiga hari. Setelah melalui tiga hri, sehingga datanglah ancaman yang dijanjikan Allah kepadamu." 

Disaat tiga hari itu sebenarnya merupakan peluang bagi bangsa Tsamud untuk bertobat & menyadari kesalahannya. Tetapi mereka malah mengejek Nabi Shalih. Mereka punya anggapan Nabi Shalih cuma membual belaka. 

Belum hingga tiga hari mereka datang lagi terhadap Nabi Shalih & bicara : "Hai Shalih, mengapa tak kau percepat datangnya siksa itu pada kami ?" 

Bicara Nabi Shalih : "Wahai kaumku. Kenapa kau minta langsung datangnya siksa. Bukannya kebaikan ? Mengapa anda tak minta ampun terhadap Allah, semoga anda dikasih ampun." 

Diam-diam beberapa orang kafir itu merasa takut. Bukankah, kata kata Nabi Shalih senantiasa terbukti kenyataannya. Bagaimanakah seandainya siksa itu memang lah datang terhadap mereka. Sehingga utk mencegah datangnya siksa itu, sehari sebelum ketika yg dijanjikan habis, mereka mengadakan rapat gelap. Mereka bermaksud membunuh Nabi Shalih biar siksa itu tidak menjadi diturunkan. Sungguh keji & busuk ide mereka. 

Tapi Allah melindungi Hamba-Nya yang benar. Nabi Shalih diselamatkan dari ide pembunuhan yang keji itu. Esok harinya terjadilah histori yg mengerikan itu. Bangsa Tsamud disambar petir yang meledak & menggelegar membelah angkasa. Bumi pula ikut murka atas kesombongan bangsa yang ingkar itu. 

Gempa yang dahsyat sudah menghancurkan & memporak-porandakan lokasi tinggal mereka yang megah & agung. Tak ada satu orang juga dari kaum yang ingkar itu ada yang selamat. Cuma Nabi Shalih & para pengikutnya saja terhindar dari malapetaka. 

Musnah sudah satu buah peradaban tinggi dari yang kuat perkasa. Hunian, tempat tinggal, harta & hewan peliharaan mereka memang lah sudah hancur keseluruhan. Itulah adzab bagi kaum yang durhaka.

Baca juga : Kisah Nabi Yahya AS dan Raja Herodus

Kisah Nabi Musa AS

MARWAHISLAM.net | Kisah Nabi Musa AS bermula disaat Musa & Harun sama-sama diutus utk berdakwah ke negara Mesir & mengajak kaum Israil menyembah Allah SWT. 

Musa & Harun yakni sama-sama keturunan keempat dari Nabi Ya’qub yang tinggal di Mesir sejak Nabi Yusuf berkuasa di Mesir. 

Mesir, pada periode itu dikuasai oleh Fir'aun. Kerajaannya luas & tajir raya. Penduduknya terdiri dari dua bangsa. Yang mula-mula bangsa asli Mesir ialah orang Qubti, sedang yg ke-2 merupakan beberapa orang Israil ialah keturunan Nabi Ya’qub. 

Rata Rata beberapa orang Qubti menduduki jabatan-jabatan tinggi. Sedang orang Israil cuma berkedudukan rendah, seperti para buruh, pelayan & pesuruh. 

Fir'aun memerintah dengan tangan besi. Dia diktator bengis yang tak berperi kemanusiaan. Mabuk & rakus terhadap kekuasaan, maka dirinya berani menyebutkan dia Tuhan. 

KELAHIRAN MUSA 

Pada suatu hari satu orang ahli nujum datang menghadap Fir'aun, bahwa menurut perhitungannya tidak lama lagi akan lahir satu orang bayi dari bangsa Israil yang nanti bakal jadi musuh & menjatuhkan kekuasaannya. 

Fir'aun berang mendengar laporan itu. Dikala itu pula beliau memberikan perintah supaya membunuh bayi laki laki yg lahir dari kalangan bangsa Israil. 


Nabi Musa AS

Musa dilahirkan oleh pasangan suami istri Imran & Yukabad. Begitu mengetahui bahwa anaknya yang lahir ialah cowok, Yukabad & Imran gugup seandainya tidak cepat disembunyikan anak itu, tentu nya bakal dibunuh oleh kaki tangan Fir'aun. 

Yukabad amat sangat sayang kepada bayinya yang molek & sehat juga lucu itu. Dia tidak rela bayi itu hingga terbunuh. Tetapi untuk menyembunyikannya secara konsisten  tidak memungkinkan.

Allah memberikan ilham pada ibu Nabi Musa itu menciptakan peti tahan air Ialu menghanyutkan Musa di dalam peti di Sungai Nil. Kakak Musa diperintahkan mengikuti ke mana peti itu hanyut & ditangan siapakah Musa kelak ditemukan. Nyatanya peti itu ditemukan putri Raja Fir'aun. Peti di buka sesudah tahu isinya bayi mereka bawa ke hadapan ibu mereka merupakan istri Fir'aun yg bemama Asiah. 

Istri Fir'aun amat sangat gemar menyaksikan bayi itu. Dia mau mengangkatnya sebagai anak. Sehingga diutarakan niatnya itu terhadap Fir'aun. Pertama Fir’aun menolak, tetapi atas bujukan istrinya itu hasilnya dirinya setuju. Asiah pula suka langsung dicari inang pengasuh yang menyusui Musa. Tetapi sekian banyak inang yang didatangkan gak ada yang sesuai, Musa tidak ingin menyedot tetek susu inang-inang itu. 

Kakak Musa menawari ibunya untuk jadi inang. Mereka pura-pura tak mengenal Musa. Demikianlah sebab disusui ibunya sendiri hasilnya Musa mau menetek. Musa diserahkan terhadap Yukabad hingga musim menyusunya selesai. Yukabad mendapat gaji upah yg lumayan gede. 

Setelah usai periode menyusu, Musa dikembalikan ke istana Fir'aun. Dia dididik juga sebagai mana anak-anak raja yg lain. Dirinya berpakaian seperti Fir'aun mengendarai kendaraan Fir'aun maka dikenal sebagai Pangeran Musa Bin Fir’aun. Sesudah Musa dewasa Allah menganugerahkan pangkat kenabian & ilmu wawasan. 

MUSA MENINGGALKAN ISTANA 

Pada suatu hari Musa berjalan-jalan di kota. Dia menonton orang Qubti & orang Israil sedang berkelahi. Dikarenakan kondisi tidak seimbang Musa membela orang Israil. Orang Qubti tak akan diajak damai. Musa jadi geram orang itu segera dipukulnya. Sekali tempeleng orang itu mati. 

Ada satu orang saksi yang menyaksikan kejadiannya itu. Musa dilaporkan pada Fir'aun. Sesudah Fir'aun tahu bahwa Musa membela orang Israil, la serentak memerintahkan orang buat menangkap Musa

Musa melarikan diri, tujuannya ke negara Madyan. Beliau menyesal sudah membunuh orang. Dirinya bertaubat & memohon ampun pada Allah. Allah mengabulkan do'anya & dia diampuni. 

Dari Mesir ke Madyan mesti ditempuh jalan kaki selama delapan hari. Dikarenakan kelelahan & merasa lapar, Musa beristirahat dibawah pepohonan. 

Tidak jauh dari tempatnya beristirahat dia menonton dua orang perempuan menawan sedang berebut untuk meraih air di sumur guna berikan minum ternak yang mereka gembalakan. Gadis-gadis menawan itu berebutan bersama sekelompok laki-laki kasar yang ingin menangnya sendiri. 

Musa serentak bergerak membantu dua perawan itu. Laki Laki kasar tadi cobalah melawan Musa tetapi Musa bakal mengalahkan mereka. 

MUSA MENIKAH 

Ke-2 orang perawan itu melaporkan apa yang sudah dialaminya pada ayah mereka di hunian. Ayah mereka merupakan Nabi Syu'aib memerintahkan terhadap anak gadisnya buat mengundang Musa ke hunian mereka. 

Musa memenuhi undangan itu. Keluarga itu menyukai kehadiran Musa, sikapnya sopan & terlihat sekali kalau dia seseorang pemuda berpendidikan dari kalangan bangsawan. 

Musa selanjutnya menceritakan sejarah yang membuatnya terusir dari negara Mesir. Nabi Syu'aib setelah itu menyarankan supaya Musa tinggal di rumahnya biar terhindar dari beberapa orang Fir'aun. 

Atas saran anaknya. Nabi Syu'aib seterusnya bermaksud mengawinkan Musa dengan salah seseorang putrinya. Musa diminta bekerja menggembalakan ternak-ternak Nabi Syu’aib selama delapan tahun. Itu sebagai syarat atau mas kawinnya. Musa setuju malah dia menggenapkannya jadi sepuluh tahun untuk mengembalakan ternak Nabi Syu’aib. 

Musa menjalani periode perjanjiannya dengan Nabi Syu’aib dengat amat sabar. Sewaktu itu nampaklah bagi keluarga Syu'aib bahwa Musa yakni pemuda kuat, perkasa, jujur & mampu. Tidak salah seandainya Nabi Syu’aib mengambilnya juga sebagai menantu. 

Musa amat sangat bahagia hidup dengan istrinya. Nabi Syu'aib pula merasa lega dikarenakan anaknya mendapat pelindung yang bisa diakui. Sesudah bertahun-tahun hidup di negara Madyan bersama istrinya, dan pada suatu hari Musa mau kembali ke Mesir. 

MUSA KEMBALI KE MESIR 

Musa sadar bahwa tak mustahil beberapa orang Mesir masihlah dapat mencarinya. Sehingga beliau menempuh perjalanan ke Mesir dengan jalan memutar, tak lewat jalan biasa. Istrinya turut menemani perjalanan Musa

Pada suatu tengah malam Musa & istrinya tersesat. Tidak tahu arah mana yang mesti di tempuh untuk melanjutkan perjalanan ke Mesir. Di disaat itulah beliau menyaksikan api yang jelas benderang diatas suatu bukit. 

Bicara Musa terhadap istrinya : "Tunggulah di sini, saya dapat membawa api itu buat menerangi perjalanan kita." Istrinya menurut. Musa menghampiri api itu. Sesudah beliau dekat dengan api itu tiba-tiba terdengar seruan : "Hai Musa ! Saya ini yakni Tuhanmu, sehingga tanggalkanlah ke-2 terompahmu. Sesungguhnya anda berada di lembah yang suci, Thuwa. 

Dan Saya sudah pilih anda, sehingga dengarkanlah apa yg bakal diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Saya ini ialah Allah, tidak ada Tuhan selain Saya, sehingga sembahlah Saya & dirikanlah shalat untuk mengingat Saya." 

Inilah wahyu mula-mula yang di terima serta-merta oleh Nabi Musa AS. Beliau sudah diangkat juga sebagai Nabi & Rasul. Seterusnya dirinya di bekali pun mu'jizat sebagai aset untuk berhadapan dengan Fir'aun. 

Nabi Musa AS diperintah Tuhan biar meletakkan tongkat yg dipegangnya ke tanah. Tongkat pemberian mertuanya itu mendadak beralih jadi seekor ular yang gede. Musa ketakutan & berlari menjauh. 

Allah berfirman : "Jangan takut, peganglah ular itu. Kami dapat mengembalikannya seperti kondisinya semula." 

Sehingga saat ular itu diringkus mendadak beralih lagi jadi sebatang tongkat. Mu'jizat ke-2, Allah memerintahkan Nabi Musa mengepitkan tangannya ke ketiak, sesudah perintah itu dilaksanakan tangannya jadi putih cemerlang. 

Allah setelah itu memerintahkan Musa bertolak ke Mesir utk berdakwah pada Fir'aun. Musa merasa takut lantaran lalu sempat membunuh orang Mesir, namun Allah menjanjikan perlindungan untuknya sehingga hati Musa jadi tentram. la pula minta saudaranya Harun biar dipertemukan dengannya buat bersama-sama menghadap Fir'aun, dikarenakan Harun lebih Fasih bicara & berdebat. 

Permintaan Musa dikabulkan. Harun yang tetap berada di Mesir digerakkan hatinya hingga menemui Musa. Bersama-sama seterusnya mereka menghadap Fir'aun. 

Berjumpa dengan satu orang raja yang mengaku dirinya Tuhan bukanlah perihal yang gampang. Mereka mesti lewat liku-liku birokrasi & protokoler yang rumit. Tetapi akhirnya mereka akan berjumpa.

Fir'aun didampingi sekian banyak penasihat & pejabat-pejabat pemerintah yang lain. "Siapakah anda berdua ini ?" bertanya Fir'aun . 

Musa menjawab : "Kami Musa & Harun yaitu pesuruh. Kami diutus kepadamu supaya kau membebaskan bangsa Israil dari perbudakan & penindasanmu & menyerahkannya kepada kami supaya mereka menyembah terhadap Allah dengan leluasa & menghindari siksaanmu." 

Fir'aun tertawa sinis & mengejek Musa bersamaan menyampaikan bahwa Musa tak tahu kalau dulu beliau diasuh & dibesarkan di istana Mesir sekarang malah berbalik menentang Fir'aun. Musa dianggap orang yg tidak tahu balas budi. 

Musa menjawab bahwa seluruhnya itu lantaran ulah Fir'aun sendiri. Apabila Fir'aun tak memerintahkan membunuh bayi cowok, tak kemungkinan dia dihanyutkan di sungai Nil & hasilnya ditemukan & diambil juga sebagai anak angkat oleh istri Fir'aun. Musa merasa tak berhutang budi, cuma Fir'aun sendiri yang menyebabkan seluruhnya itu berlangsung. 

Bicara Musa : "Adapun berkenaan pembunuhan yang lalu kulakukan merupakan akibat godaan setan, tapi histori itu hasilnya jadi rahmat terselubung bagiku. Dikarenakan dalam pengembaraanku sesudah saya melarikan diri dari negerimu, saya dikaruniai hikmah & ilmu oleh Allah & saya diutus juga sebagai Rasul, sehingga datanglah saya kepadamu buat menggandeng engkau & kaummu menyembah Allah & meninggalkan kezaliman pun penindasanmu kepada kaum bangsa lsrail." 

"Siapakah Tuhan yg kau sebut-sebut itu, Musa ?" bertanya Fir’aun. "Adakah Tuhan lain di atas bumi ini tidak hanya saya yang pantas disembah & dipuja ?" "Ya, ada, yakni Tuhanmu & Tuhan nenek moyangmu pun Tuhan semua alam semesta," jawab Musa. 

Demikianlah berlangsung perdebatan antara Musa & Fir'aun. Fir'aun sama sekali tidak akan menolak hujah & argumen Musa yg diwakili Harun. Fir'aun hasilnya meneror Musa & Harun bersama berkata : 

"Hai Musa. Apabila engkau mengakui Tuhan terkecuali saya sehingga tentu engkau kumasukkan ke dalam penjara !" Berbicara Musa : "Apakah engkau dapat memenjarakan saya meski saya bakal membuktikan & memberikan tanda-tanda fakta dakwahku ?" 

Fir'aun menantang & bicara : "Datangkanlah tanda-tanda yg sanggup membuktikan kenyataan kata-katamu jikalau benar-benar kau memang lah tak berdusta." 

MUSA & PARA AHLI SIHIR FlR’AUN 

Musa selanjutnya melemparkan tongkatnya. Mendadak beralih jadi ular yang merayap ke arah Fir'aun. Fir'aun Iari ketakutan & meminta Musa utk menangkap ularnya lagi. 

Demikian dibekuk beralih jadi tongkat lagi. "Adakah fakta kebenaranmu yang lain ?" bertanya Fir"aun. 

Musa selanjutnya memasukkan tangannya ke dalam pakaian & diwaktu dikeluarkan lagi tangan itu jadi putih cemerlang, menyilaukan mata Fir'aun & para pejabatnya. 

Biarpun mu'jizat Nabi Musa AS sudah dikeluarkan, Fir'aun masih belum yakin. la mengira Musa sudah mengeluarkan ilmu sihir, sehingga beliau hendak menghimpun ahli-ahli sihir di seluruhnya kerajaan Mesir buat bertanding melawan Nabi Musa AS. 

Tantangan itu diungkapkan terhadap Musa & telah ditentukan waktunya juga. Musa menyanggupi tantangan itu. Pada hari yang sudah ditentukan berkumpullah para ahli sihir di lokasi yang sudah ditentukan juga. Rakyat turut menonton adu kepandaian sihir itu. 

Sesudah seluruh berkumpul, Fir'aun berikan aba-aba supaya turnamen dimulai. Musa mempersilahkan para ahli sihir AndaIan Fir'aun buat menampilkan kemampuan lebih dulu. Mereka melemparkan tali & tongkat-tongkatnya. Tidak lama selanjutnya tali-tali & tongkat yang mereka lemparkan itu beralih jadi ular, sejumlah ribuan ekor. Fir'aun tertawa bangga melihat kapabilitas para ahli sihirnya. Rakyat tidak sedikit yang terkagum-kagum. 

Dengan santai Nabi Musa AS melemparkan tongkatnya, tongkat itu cepat beralih jadi ular yang teramat agung & segera memakan ular-ular para ahli sihir Fir'aun. jangka waktu singkat ular-ular para ahli sihir itu habis ditelan ular Nabi Musa AS. 

Para ahli sihir ita terbelalak heran. Apa yg ditampilkan Nabi Musa AS bukanlah sihir seperti yang mereka pelajari dari setan. Sadar dapat elemen itu para ahli sihir sama berlutut & menyebut diri jadi pengikut falsafah Nabi Musa AS. Mereka bertaubat & cuma bakal menyembah Allah saja. 

Fir'aun murka menyaksikan pembelotan para ahli sihir yang sudah bertaubat itu. Beliau mengintimidasi bakal menyiksa para ahli sihir itu dengan siksaan di luar batas perikemanusiaan. Tapi para ahli sihir itu tidak ada merasa takut, mereka masihlah pilih jadi pengikut Nabi Musa AS. 

Sejak diwaktu itu terdapat dua ajaran di Mesir. Yang perdana mereka menyembah Fir'aun & yg ke-2 para pengikut Nabi Musa AS. 

Tapi para pengikut Nabi Musa AS semakin lama semakin bertambah banyaknya, lantaran aliran Nabi Musa AS amat sangat terang & mereka dihormati sebagai mahluk Tuhan layaknya yang lain. Tak begitu dengan Fir'aun yang senantiasa bertindak bengis & kejam. 

KEHANCURAN FlR'AUN & PENGIKUTNYA 

Kebengisan Fir'aun makin menjadi-jadi. Para pengikut Nabi Musa AS disiksa di luar batas supaya jadi kafir & mengikuti perintah Fir'aun.

Nabi Musa AS selanjutnya berdo'a biar Allah menimpakan azab terhadap Fir'aun & para pengikutnya. Do'anya dikabulkan. Mesir dilanda kemarau panjang maka tidak sedikit panen yang tidak sukses. Tanaman & pepohonan tidak sedikit yang mati. Disusul badai topan yang merobohkan rumah-rumah mereka, jutaan belalang didatangkan menyerbu hewan & perkebunan, pun kutu & katak. 

Terakhir seluruh air di Negara Mesir mendadak beralih jadi darah. Wabah penyakit melanda dimana-mana, tiap-tiap anak cowok bangsa Mesir mendadak mati tidak cuma anak-anak Fir'aun sendiri termasuk juga putra mahkotanya. 

Dalam kondisi begitu mereka mendatangi Nabi Musa AS supaya berdoa pada Tuhan untuk mencabut azab itu. Nabi Musa AS ingin berdo'a sesudah Fir'aun berjanji dapat membiarkan kaum Bani Israil berangkat dari Mesir dengan Musa. 

Tapi sesudah azab itu berakhir & kondisi jadi normal Fir'aun mengingkari janjinya. Kaum Bani Israil yang jadi buruh, budak dsb terus diperintahkan bekerja di Mesir & para pengikut Nabi Musa AS masihlah tidak sedikit yg disiksanya. 

Dalam kondisi begitu datanglah wahyu dari Allah biar Musa menggandeng kaumnya berangkat meninggalkan Mesir. Mereka bertolak dengan cara diam-diam dimalam hari. Takut diketahui Fir'aun. Tapi hasilnya Fir'aun mengetahuinya jua. Dia & bala tentaranya langsung menyusul rombongan Nabi Musa AS. 

Dan, rombongan Musa sudah di pinggir Laut Merah. Mereka tidak bakal meneruskan perjalanan lantaran terhalang laut. Para pengikut Nabi Musa AS gugup sebab Fir'aun dari kejauhan telah kelihatan dengan bala tentaranya yang dapat membunuh mereka. 

"Jangan takut ! Tuhan dengan kita". Kata Nabi Musa AS sambil memukulkan tongkatnya ke laut & seketika laut terbelah. Para pengikut Nabi musa dengan cepat berada di tengah-tengah laut yang terbelah itu. 

Sesudah mereka hingga di daratan seberang, Fir'aun tiba & menyusul mereka lewat jalan di laut yang terbelah tersebut. 

Tapi saat Fir'aun & para pengikutnya hingga dipertengahan mendadak laut terbelah itu mengatup kembali. Tenggelamlah Fir'aun & para pengikutnya. Seluruhnya binasa, tidak ada tersisa. 

TURUNNYA KITAB TAURAT 

Setelah selamat dari kejaran Fir'aun, Musa & pengikutnya melanjutkan perjalanan. Dikala mereka kehausan & tak mendapat air Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya ke batu, sehingga dari batu itu memancarlah air yang bakal mereka minum. 

Tatkala mereka berada di semenanjung Sinai mereka kepanasan, matahari seperti memanggang bumi. Tidak ada area berteduh dikarenakan tidak satupun pohon tampak oleh mereka. Di dikala sepert inilah Allah memberikan nikmatnya berupa awan yang melindungi perjalanan mereka. 

Dan ketka kehabisan aset, mereka minta terhadap Nabi Musa AS supaya Allah menurunkan makanan untuk mereka. Allah setelah itu berikan mereka makanan berupa Manna & Salwa. 

Manna rasanya manis seperti madu. Sedang Salwa ialah burung puyuh yang datang berbondong-bondong silih berganti. Mendapat makanan yang baik itu mereka bukannya bersyukur malah ingin minta makanan dari tipe yang lain lagi. 

Inilah kerewelan kaum Bani lsrail.
Bac juga : Kisah Nabi Shalih AS

Kisah Nabi Ishak AS

MARWAHISLAM.net | Nabi Ishak AS yakni putra Nabi Ibrahim dengan Sarah. lshak artinya tertawa. Disebut begitu sebab ibunya tertawa tatkala mendengar berita dari malaikat bahwa dia dapat mengandung, padahal usia Sarah pada ketika itu telah 99 tahun & Ibrahim telah 120 tahun. Ada juga yang menyebut Sarah pada ketika itu berusia 90 tahun & Ibrahim 100 tahun. 

Sarah merasa telah terlampau lanjut usianya untuk melahirkan, itulah sebabnya dia tertawa saat mendengar info bakal mengandung dan melahirkan anak. 

Mengenai kenabian Ishak ini tersebut di dalam AI-Qur’an : "Dan Kami beri beliau khabar gembira bersama (kelahiran) Ishak, seseorang Nabi yang termasuk juga beberapa orang shaleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya & atas lshak. & diantara anak cucunya ada yang berbuat baik & ada juga yang dzalim terhadap beliau sendiri dengan nyata." (Ash-Shaffaat : 112-113). 

Nabi Ishak AS menggandeng kaumnya buat beribadah & cuma menyembah Allah saja tidak dengan Menyekutukan-Nya. Beliau juga menerima wahyu & menambahkan falsafah ayahnya yaitu Ibrahim. 

Nabi Ishak AS kawin bersama perempuan Haran (Irak) & dikaruniai dua orang putra. Yang perdana bemama ‘Ish & yang ke-2 bernama Ya'qub. 


Nabi Ishak AS

Dalam memimpin ummat, Nabi Ishak AS dikenal juga sebagai Nabi yang bersifat ramah tamah sampai ummatnya merasa suka, rukun & dikasih kemakmuran yang berlimpah ruah oleh Allah.

Baca juga : Kisah Nabi Musa AS

Kisah Nabi Ilyasa AS

MARWAHISLAM.net | Kisah Nabi Ilyasa AS - tak tidak sedikit disebutkan di daiam Al-Qur'an. & berkenaan beliau teramat minim sekali. Namun dia termasuk juga salah satu orang Nabi yang wajib diimani. 

Seperti tersebut di dalam Al-Qur'an : "Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ & Dzulkifli. Semuanya termasuk juga beberapa orang yang paling baik". 

Jadi Nabi Ilyasa AS termasuk juga beberapa orang yang paling baik. Beliau merupakan pengikut Nabi Ilyas. Sejak mungil dia telah patuh pada Allah. Dia senantiasa mengikuti Nabi Ilyas. Sesudah Nabi Ilyas Meninggal sehingga Ia Ilyasa’ diangkat jadi Nabi & Rasul.

Terhadap musim Nabi Ilyasa AS masyarakat Bani Israil hidup rukun, tenteram & makmur sebab bertakwa & berbakti terhadap Allah. 


Nabi Ilyasa AS

Sesudah beberapa tahun selanjutnya Nabi Ilyasa AS meninggal, kaum Bani Israil amat sedih kehilangan Dirinya. Saat Ini tidak ada pembimbing lagi bagi mereka. 

Beberapa tahun sesudah Nabi Ilyasa AS meninggal kaum Bani Israil kembali jadi ingkar. Pada waktu itulah Allah mengutus Nabi Yunus.

Baca juga : Kisah Nabi Musa AS

Kema'shuman Para Nabi dan Rasul

MARWAHISLAM.net | Kema'shuman para nabi & rasul - ditetapkan kepastiannya berdasarkan akal. Lantaran keberadaannya sebagai nabi atau rasul sudah menentukan bahwa beliau ma’shum dalam faktor penyampaian risalah (tabligh) yang datang dari Allah. 

Kalau berjalan suatu cacat yang memungkinkan hilangnya sifat kema'shuman, meski dalam satu masalah saja, berarti ada barangkali terjadinya cacat kepada semua masalah. Bila itu berjalan, sehingga dapat rusaklah nilai kenabian & kerasulan dengan cara total. 

Kepastian bahwa seorang yakni nabi atau rasul yang diutus Allah, berarti pun bahwa la bersifat ma'shum dalam masalah penyampaian risalah yang datang dari Allah. Kema'shuman dalam perihal tabligh bersifat tentu, maka ingkar/kufur kepada sifat ini berarti kufur pada risalah yang dibawa oleh rasul tersebut, atau kufur pada kenabiannya yang sudah ditetapkan oleh Allah. 

Adapun kema'shuman dalam perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan perintah & larangan Allah, sehingga yang jadi sebuah kepastian bahwa rasul/nabi ma'shum dalam tindakan yang termasuk juga kategori dosa-dosa besar (Al kabaair) maka satu orang nabi atau rasul tak mungkin laksanakan satu buah aksi yang termasuk juga dosa besar dengan cara mutlak. 
Kema'shuman

Karena, mengerjakan sebuah dosa besar berarti sudah terjerumus dalam ”kemaksiatan”. Padahal ketaatan itu tak bakal dipisah (mesti utuh), demikian pula kemaksiatan tak bersifat parsial. Jikalau kemaksiatan sudah mewamai sebuah tindakan, sehingga dia dapat merambat terhadap masalah tabligh (penyampaian risalah). 

hal tersebut terang tidak sesuai dengan (hakikat) risalah & kenabian. Oleh lantaran itu para nabi & rasul bersifat ma'shum kepada dosa-dosa besar, layaknya ma'shumnya mereka dalam penyampaian risalah (tabligh). 

Adapun pada dosa-dosa kecil(ash shaghaair), para ulama tidak sama opini, apakah para nabi & rasul ma'shum dari tindakan dosa-dosa kecil. Sebahagian mengemukakan para nabi/rasul tak ma'shum dari mengerjakan dosa-dosa kecil, dikarenakan hal tersebut tak termasuk juga jenis "maksiat". Sedangkan sebahagian yang lain menyampaikan, para nabi/rasul ma'shum dari mengerjakan dosa-dosa kecil, dikarenakan hal tersebut telah termasuk juga tipe "maksiat." 

Yang benar ialah bahwa seluruh yang haram untuk dikerjakan & yang wajib dilakukan, adalah berupa seluruh type fardhu & semua wujud yang haram, sehingga dalam aspek ini para nabi & rasul bersifat ma'shum. 

Dengan begitu, mereka ma'shum dari mengerjakan sesuatu yang diharamkan atau meninggalkan satu buah kewajiban. Baik hal tersebut termasuk juga dosa-dosa besar atau dosa-dosa kecil. Ini berarti mereka ma’shum dari mengerjakan tiap-tiap sesuatu yang termasuk juga tindakan maksiat. 

Tidak Hanya itu, dalam perbuatan yang termasuk juga khilaful aula (tak mengerjakan yang terbaik/paling patut), sehingga mereka ltidalilah ma'shum. Dibolehkan mereka mengerjakan perbuatan khilaful aula dengan cara mutlaq. Lantaran, ditinjau dari berbagal segi manapun, hal tersebut tak termasuk juga dalam type maksiat. 

Demikianlah, mampu dijamin dengan cara aqli, adanya sifat ma'shum terhadap nabi & rasul yang ditentukan oleh keberadaan mereka yang merupakan nabi & rasul. 

Muhammad Saw ialah seseorang nabi & rasul. Ia, layaknya nabi & rasul yang lain, ma'shum dari kesalahan dalam mengatakan sesuatu yang berasal dari Allah SWT. Elemen ini bersifat tentu, layaknya yang sudah ditunjukkan dengan dalil-dalil akal ataupun syara’. Rasulullah Saw tak pernah mengemukakan satu hukum pun, kecuali dari al wahyu. Allah belfirman : 

"Katakanlah. sesungguhnya saya hanyalah berikan peringatan kepadamu dengan al wahyu" (Al-Anbiya 45). 

Tujuan ayat itu yakni, Allah memerintahkan pada Muhammad buat mengemukakan bahwa beliau hanyalah berikan peringatan pada mereka dengan al wahyu yang diturunkan kepadanya. 

Dengan kata lain, peringatan-peringatan terhadap mereka cuma terbatas terhadap yang di wahyukan saja. & Allah SWT pula berfirman : "(&) beliau (Muhammad) tidaklah mengucapkan sesuatu dari hawa nafsunya. Apa yang diucapkannya ltu hanyalah wahyu yang diwahyukan." (An Najm 3-4). 

Lafadz (wamaa yanthiqu) dalam wujud umum, mencakup Al-Qur'an & tidak cuma Al Qur'an. Tak ditemukan satu nash pun, baik dari Al-Qur’an ataupun Sunnah yang mengkhususkan (mentakhshish) wahyu tersebut hanya dengan Al Qur’an saja. 

Sehingga beliau masih dalam wujud umum. Artinya, seluruhnya kata kata Rasulullah Saw dalam masalah tasyri’, cuma berupa wahyu yang diwahyukan kepadanya. Tak dibenarkan melaksanakan pengkhususan arti lafadz tersebut, bahwa apa yang diucapkan Rasul Saw hanyalah Al-Qur‘an saja, tapi lafadz itu masihlah dalam wujud umum yang mencakup Al Qur'an & Hadits. 

Adapun pengkhususan ayat ini dengan cuma apa yang diungkapkan Allah berupa tasyri’, hukum-hukum, aqaaid, pemikiran-pemikiran & kisah-kisah, juga tak tercakup di dalamnya persoalan uslub (kiat) & sarana-sarana dalam menciptakan taktik peperangan, teknik penyerbukan tanaman korma, & lain sebagainya. 

hal tersebut disebabkan ia mempunyai kedudukan sebagai rasul. & pembahasan di sini berkenaan dengan keberadaan ia juga sebagai rasul & apa yang dibawa oleh ia, tak mencakup aspek lain. 

Sehingga, yang dikhususkan di sini ialah topic pembicaraan dalam ayat tersebut di atas. Lafadz yang berbentuk umum, terus dalam wujud keumumannya, dalam batas cakupan topik pembahasan. Apa yang dibahas di atas tak termasuk juga type pengkhususan, berdasarkan firman Allah SWT : 

"Katakan Muhammad. saya hanyalah berikan peringatan kepadamu dengan al wahyu" (Al-Anbiya’ 45). "Yang diwahyukan kepadaku yakni Saya cuma satu orang pemberi peringatan yang nyata." (Shaad ; 70). 

Ayat tersebut menuturkan, bahwa yang termasuk juga dalam pembahasan ini yaitu yang mengenai dengan masalah aqaaid, hukum, & tiap-tiap masalah yang diperintahkan oleh Allah untuk diungkapkan & berikan peringatan pada manusia. 

Oleh sebab itu, tak tercakup pemakaian cara/taktik atau tindakan jibiliyah, merupakan tindakan alamiyah manusia yang sudah jadi perilaku penciptaannya, seperti makan, kiat berjalan, berkata, & lain sebagainya. 

Jadi, dalam aspek ini kekhususan merupakan dalam tindakan & pemikiran manusia, bukan masalah kiat & media atau yang semisal dengan ini. Sehingga tiap-tiap perkara yang dibawa oleh Rasulullah yang mengenai dengan aksi manusia (af aalul ‘ibaad) & pemikiran-pemikirannya yaitu berasal dari wahyu Allah. 

Wahyu mencakup perkataan, tindakan, & diamnya Rasul Saw atas sesuatu. Karena, kita diperintahkan mengikuti dia & menjadikannya suri tauladan. Layaknya firman Allah : 

"Apa yang dibawa oleh Rasul ke padamu, maka ambillah. & apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (Al Hasyr 7). "Sesungguhnya sudah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu." (AI Ahzab 21). 

Berdasarkan dua ayat tersebut, sehingga kata kata, aksi, & diamnya Rasulullah, yakni dalil syar’i. Seluruhnya itu ialah wahyu dari Allah. Rasulullah Saw sudah menerima al wahyu & mengemukakan segala sesuatu yang diterimanya dari Allah SWT terhadap manusia. Dia memberikan alternatif panduan pemecahan problematika kehidupan pas dengan wahyu, tidak dengan menyimpang sedikit pun. Allah SWT berfirman : 

"Aku tak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku" (Al Ahqaf 9). "Katakanlah: ’Sesungguhnya saya cuma menglkuti apa yang di wahyukan dari Tuhanku kepadaku." (Al 'A’raf 203). 

Pengertian ayat ini ialah bahwa la cuma mengikuti wahyu yang diturunkan kepadanya oleh Allah SWT. Aspek ini berarti membatasi meneladani Rasulullah dengan apa yang sudah di terima dari Allah SWT. Seluruh itu sangat terang & gamblang, bahwa apa yang diperintahkan terhadap Rasulullah Saw untuk menyampaikannya pada manusia merupakan wahyu semata. 

Kehidupan Rasul Saw, yang mengenai dengan masalah tasyri’, dalam menuturkan hukum-hukum terhadap manusia/masyarakat sesuai dengan wahyu, Dia Saw, dalam banyak persoalan hukum, seperti zhihar, li'aan, & lain sebagainya, menanti turunnya al wahyu. 

Ia tak mengucapkan sesuatu hukum/ketetapan, atau mengerjakan & mendiamkan sesuatu yang mengenai dengan tasyri’, kecuali seluruhnya itu berdasarkan wahyu dari Allah SWT. 

Di kalangan teman, kadang-kadang berjalan kerancuan antara hukum-hukum yang termasuk juga dalam tindakan manusia & pemikiran (rencana) atas sesuatu, dengan masalah fasilitas atau kiat. Mereka juga tanya pada Rasulullah Saw apakah hal tersebut berupa wahyu, atau satu buah pernyataan pribadi (Rasul) & sebuah kesepakatan (cocok yang dimusyawarahkan). Seandainya Rasulullah Saw menyampaikan bahwa itu adalah wahyu, mereka semuanya diam. 

Mereka mengetahui bahwa hal tersebut bukan berasal dari diri Rasulullah Saw. Akan tetapi bila Rasul Saw mengemukakan bahwa itu yakni satu buah pernyataan pribadi (Rasul) atau sesuatu yang dimusyawarahkan, mereka juga laksanakan dialog dengan Rasulullah Saw. & terkadang, Rasul Saw mengikuti opini mereka, sama seperti yang berlangsung dalam sejarah Perang Badar, Perang Khandaq, & Perang Uhud. 

Dalam hal-hal yang tak ada kaitannya dengan apa yang di sampaikan oleh Allah, dirinya katakan pada mereka : "Kalian lebih tahu urusan dunia kalian" 

Sama Seperti yang berjalan terhadap sejarah penyerbukan tanaman korma. Jikalau Rasulullah Saw diperbolehkan mengucapkan sesuatu yang mengenai dengan masalah tasyri’, tidak dengan disandarkan kepada al wahyu, pasti lah ia tak menunggu-nunggu turunnya al wahyu, sebelum ia menetapkan satu buah hukum, demikian pula para sohib tak akan tanya pada dirinya, apakah sesuatu itu berasal dari al wahyu atau opini pribadi Rasulullah. 

Seandainya tidak begitu pasti Rasul dapat menjawab dengan cara serentak pertanyaan mereka atau mereka bakal ajukan opini tidak dengan meminta penjelasan. 

Oleh Karena itu, Rasulullah Saw tak sempat berbicara, bertindak, atau berdiam diri atas sesuatu, kecuali seluruhnya itu berasal dari wahyu Allah, bukan dari opininya sendiri & tak perlu diragukan lagi bahwa dirinya Saw bersifat ma'shum dalam mengemukakan segala sesuatu yang datang dari sisi Allah SWT.

Baca juga : Kisah Nabi Yahya AS dan Raja Herodus

Kekuatan Rohani Memiliki Pengaruh Paling Besar

MARWAHISLAM.net | Dorongan untuk melakukan suatu perbuatan pada manusia tergantung pada kekuatan yang dimilikinya. Semakin besar kekuatan yang dimiliki, semakin kuatlah dorongan untuk berbuat sesuatu. Demikian juga, ukuran keberhasilan perbuatannya, tergantung pada ukuran kekuatan yang dimilikinya.

Manusia memiliki beberapa kekuatan dalam dirinya, antara lain :

1. Ke-kuat-an materi atau fisik yang meliputi tubuh dan sarana-sarana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.


2. Ke-kuat-an moral/jiwa yang berupa sifat-sifat mental yang selalu dicari dan ingin dimiliki oleh seseorang.

3. Ke-kuat-an rohani yang terbentuk dengan adanya kesadaran atau perasaan akan hubungannya dengan Allah SWT atau menyadari dan merasakan hubungan tersebut.

Ketiga jenis ke-kuat-an tersebut mempunyai dampak atau pengaruh terhadap manusia untuk melakukan suatu perbuatan.

Kekuatan Rohani
Akan tetapi, besar-kecilnya pengaruh tiga jenis ke-kuat-an tersebut berbeda satu sama lain. Di antara ketiga jenis ke-kuat-an tadi, kekuatan materi mempunyai dampak atau pengaruh yang paling lemah, sedangkan ke-kuat-an rohani / moral memiliki pengaruh paling besar dari kekuatan fisik. 

Dan ke-kuat-an rohani mempunyai pengaruh atau dampak yang paling besar dibandingkan kekuatan-kekuatan lainnya terhadap perbuatan manusia, sebab ke-kuat-an materi yang terdapat dalam ke-kuat-an jasmani atau sarana-sarana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya, akan memberikan dorongan pada keinginan pemiliknya untuk memuaskan syahwat/keinginannya sesuai dengan ukuran kekuatan yang ditentukannya, tidak lebih dari itu. 

Kadangkala bahkan tidak memberikan dorongan sama sekali untuk melakukan suatu perhuatan, meskipun ke-kuat-an itu terdapat dalam dirinya, sebab perniliknya memang tidak membutuhkan perbuatan itu. Oleh karena itu, ke-kuat-an ini memiliki dorongan yang terbatas. Keberadaannya tidak memberikan dorongan untuk berbuat sesuatu dengan sendirinya.

Sebagai contoh, ketika akan memerangi musuhnya, manusia tentu akan mempertimbangkan ke-kuat-an fisik/jasmaninya dan berusaha mencari sarana-sarana fisik atau materi. Jika ia merasa telah memiliki ke-kuat-an yang cukup (ke-kuat-an jasmani/senjata) untuk berperang melawan musuhnya, maka berangkatlah ia menuju medan perang. Sebaliknya, bila ia merasa bahwa ke-kuat-annya tidak cukup untuk menghadapi musuh, maka ia pun akan mundur dan kembali, urung melawan mereka.

Kadangkala seseorang merasa telah memiliki cukup ke-kuat-an yang dapat menghancurkan musuhnya, akan tetapi tiba-tiba muncul kekhawatiran padanya bahwa musuh mendapat bantuan ke-kuat-an yang jauh Iebih besar dari ke-kuat-an yang dimilikinya, yang menimbulkan rasa takut dan gentar melawan musuhnya atau ia memandang lebih baik mengerahkan tenaganya untuk kesejahteraan diri atau meningkatkan derajat hidupnya, sehingga ia bimbang untuk menghadapi musuh.

Memerangi musuh, adalah suatu tindakan yang biasa dilakukan oleh manusia. Tetapi, jika ia menyandarkan hal itu pada kekuatan materi saja, maka daya "dorong"nya terbatas.  Jika ia dihadapkan pada hal-hal yang dapat membangkitkan rasa takut dan khawatir sikapnya dipenuhi kekhawatiran.   Padahal ia memiliki ke-kuat-an materi.

Ke-kuat-an moral berbeda dengan ke-kuat-an fisik/materi. Ke-kuat-an moral timbul dari dalam jiwa. Pada mulanya ia mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan, kemudian berusaha mewujudkan ke-kuat-an yang cukup untuk melakukan perbuatan tersebut, yang dapat melampaui batas-batas ke-kuat-an yang dimilikinya. 

Kadang-kadang ke-kuat-an moral ini memberikan dorongan yang lebih besar kepada manusia dibandingkan dengan ke-kuat-an materi yang sudah dimilikinya. Tetapi, kadang-kadang la menerima ke-kuat-an moral meskipun belum maksimal. Namun demikian, dalam berbagai kondisi, ke-kuat-an moral lebih banyak memberikan dorongan berbuat dibandingkan dengan ke-kuat-an materi.

Misalnya saja, seseorang yang ingin memerangi musuh untuk membebaskan diri dari dominasi musuhnya, untuk membalas dendam atau mendapatkan penghargaan, untuk membela yang lemah maupun untuk tujuan-tujuan lainnya, maka ia akan lebih semangat berperang, dibandingkan dengan seseorang yang ingin melakukan peperangan sekedar untuk mendapatkan harta rampasan perang atau untuk menjajah, atau sekedar menguasai suatu daerah.

Ke-kuat-an rohani / moral merupakan dorongan yang muncul dari dalam yang berkaitan erat dengan mafhum yang dimiliki manusia yang lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan mafahim yang muncul dari naluri (rasa takut dalam peperangan). 

Dorongan menuntut adanya pemenuhan, dan mendorong pula munculnya ke-kuat-an untuk mendapatkan sarana-sarana demi terpenuhinya kebutuhan tersebut, sehingga mampu mengalahkan mafahim yang muncul dari naluri dan menggunakan ke-kuat-an materi yang dimilikinya.

Dengan demikian. maka ke-kuat-an rohani / moral lebih dominan dibandingkan dengan ke-kuat-an materi. Kita telah menyaksikan bagaimana negara-negara di dunia senantiasa berusaha menanamkan ke-kuat-an moral kepada para prajurit, di samping berupaya menyempurnakan dan mempercanggih ke-kuat-an materi (mesin perang).

Adapun ke-kuat-an rohani adalah suatu ke-kuat-an yang memiliki pengaruh yang paling besar pada diri manusia dibandingkan dengan ke-kuat-an moral atau pun ke-kuat-an materi. Sebab, ke-kuat-an rohani lahir dari kesadaran manusia akan hubungannya dengan Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu, termasuk Pencipta segala ke-kuat-an

Kesadaran dan perasaan akan hubungannya dengan Allah SWT ini, baik yang muncul dari proses berpikir atau pun yang muncul dari perasaan yang timbul dari dalam (naluri), menghasilkan dorongan kepada manusia sesuai dengan apa yang dituntut oleh Allah SWT dan tidak tergantung pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki atau yang berhasil dihimpunnya.

Kekuatan ini hanya bergantung pada tuntutan dan seruan Allah SWT, apakah jenis tuntutan itu, apakah sesuai dengan kadar kemampuannya, lebih besar atau lebih kecil dari kadar kemampuannya. 

Kadang-kadang tuntutan itu berupa penyerahan hidupnya dan mengorbankan nyawanya atau mungkin berupa sesuatu yang akan mempertaruhkan nyawanya. Ia pun akan melakukannya, walaupun tuntutan Allah tersebut lebih besar dibanding ke-kuat-an yang dimiliki atau mampu diusahakannya. 

Dari sini terlihat bahwa ke-kuat-an rohani memberikan dorongan dan pengaruh terbesar di antara kekuatan-kekuatan lain pada diri manusia. Tetapi, jika ke-kuat-an rohani muncul dari perasaan yang timbul dari naluri semata, maka dikhawatirkan ia akan mengalami kemunduran atau perubahan, karena dilindas oleh perasaan lain atau dialihkan secara keliru pada perbuatan-perbuatan lain yang tidak menjadi sasaran dorongannya. 

Oleh karena itu ke-kuat-an rohani ini harus berupa kesadaran dan perasaan yang berdasarkan keyakinan akan hubungannya dengan Allah SWT. Saat itu, menjadi kokohlah kekuatan tersebut dan senantiasa memberikan dorongan (yang dinamis) sesuai dengan tuntutan kekuatan tersebut, tanpa ada kebimbangan sedikit pun.

Seandainya dalam diri seseorang telah menghujam ke-kuat-an rohani, maka ke-kuat-an moral tidak akan berpengaruh apa-apa karena manusia saat itu akan terdorong oleh ke-kuat-an rohani bukan ke-kuat-an moral. Apabila ia memerangi musuh, maka ia tidak melakukan peperangan untuk mencari harta rampasan atau kemasyhuran setelah mendapat kemenangan. 

Dia melakukan peperangan karena hal itu semata-mata perintah Allah. Tidak peduli, apakah akan mendapatkan harta rampasan atau tidak, akan dikenal orang atau tidak, sebab ia melakukannya hanya sekedar menjalankan perintah Allah, sedangkan ke-kuat-an materi hanya merupakan sarana saja, bukan pendorong.

Demikianlah, Islam telah menjadikan ke-kuat-an rohani sebagai ke-kuat-an pendorong dalam berbuat bagi seorang muslim, walaupun penampakannya berupa ke-kuat-an materi atau moral. 

Islam menjadikan ke-kuat-an rohani sebagai satu-satunya dasar bagi kehidupan, yakni menjadikan aqidah Islam sebagai landasan kehidupan, halal dan haram sebagai tolok ukur perbuatan, serta mencapai ridha Allah sebagai tujuan dari segala tujuan (ghayatul ghayah). 

Di samping itu, dengan menjadikan ke-kuat-an rohani sebagai dasar kehidupan, berarti setiap amal perbuatannya, baik kecil atau besar, senantiasa dikaitkan dengan perintah dan larangan Allah SWT, serta dibangun berdasarkan kesadarannya akan hubungannya dengan Allah SWT yang disertai dengan perasaan dan keyakinannya, adalah dasar tegaknya kehidupan seorang muslim. Ia adalah ke-kuat-an yang mampu mendorong untuk berbuat sesuatu, baik perbuatan itu kecil atau pun besar. Ia merupakan spirit yang mendasari seluruh aspek perbuatan manusia dalam kehidupan. 

Kadar ke-kuat-an kesadaran dan perasaan akan hubungannya dengan Allah SWT, menentukan seberapa besar ke-kuat-an rohani yang dimilikinya. Oleh sebab itu, setiap muslim wajib menjadikan ke-kuat-an rohani sebagai harta simpanan yang takkan sirna, dan rahasia mencapai keberhasilan dan kemenangan.

Baca juga : Kedudukan Do'a Dalam Islam