Advertisement

Advertisement

Jadi lah Atasan Pemuji


MARWAHISLAM.net | Jadi lah Atasan Pemuji dengan harapan agar hubungan kekeluargaan bisa juga terjalin dalam lingkungan kerja anda !. Memuji itu tidak akan merendahkan harga diri anda melainkan pujian-pujian itu semuanya akan kembali kepada diri anda selaku atasan.

Seringkali tidak pernah kita sadari ketika bawahan kita yang kita berikan pujian akan termotivasi untuk bekerja secara ekstra dan lebih profesional. Apa sih susahnya jadi atasan pemuji ?. Apakah akan ada yang hilang atau berkurang dari anda ketika anda harus memuji kesuksesan atau kerja keras dari bawahan.

Ada salah seorang sahabat saya sebut saja Tony, menelpon saya, mengeluh karena tidak pernah ada satu pun pekerjaannya yang mendapatkan pujian dan penghargaan dari atasan nya, padahal hasil kerjanya Tony termasuk yang terbaik dan seringkali mendapatkan pujian dari para pelanggannya.

Memang Tony sahabatku itu sangat tabah. Niat pertama kawan saya ini adalah mencari uang sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup di kota yang lumayan besar. Namun pada akhirnya sahabatku itu tidak tahan juga dengan kecuekan bos nya. Uang bukan lagi tujuan utamanya, mengingat hasil kerjanya juga perlu dihargai prestasinya. Tony hanya memerlukan pengakuan. Ia merasa kehilangan motivasi diri yang mengakibatkan turunnya prestasi.

Atasan Pemuji

Kemudian saya teringat sebuah bingkisan kecil yang diberikan atasan saya sebagai hadiah untuk mengelola departemen yang baru. Bingkisan yang sekecil itu sangat menyentuh hati karena berisi tulisan ; "Berusahalah seperti Rasullulah SAW, yang tidak pernah memerintah tetapi meneladani, yang tidak pernah memaksa tetapi memberikan bimbingan dan pujian."

There is a great man who makes every man feel small. But the really great man is the man who makes every man feel great, "Ada seorang pembesar yang menjadikan semua orang merasa dirinya kecil. Tetapi seorang pembesar sejati ialah yang menjadikan diri tiap orang merasa besar".

Begitulah agan, mulai hari ini kita memulai memotivasi diri kita. Jadi lah Atasan Pemuji dengan ikhlas memberikan penghargaan kepoada para bawahan kita dengan menghargai pekerjaan bisa diselesaikan tepat waktu apalagi bisa lebih cepat dari biasanya. Memuji hasil kerja yang bagus atau kehadiran bawahan kita tepat waktu kita ucapkan terimakasih juga.

Banyak hal yang patut dipuji demi keharmonisan lingkungan kerja dan pencapaian tujuan bersama. Bisakah anda ???.

Baca juga : Mulailah Dari Dirimu Sendiri

Islam Dan Persatuan Arab


MARWAHISLAM.net | Islam Dan Persatuan Arab adalah merupakan impian dan harapan sehingga memunculkan aliran-aliran, menjatuhkan sistem dan kebohongan-kebohongan diluncurkan. Dan dengan persatuan itulah para komandan militer mencapai puncak kepemimpinannya. 

Para pahlawanpun berguguran sehingga para dajjal menjadi penguasa. Persatuan Arab senantiasa menjadi lagu indah yang menggerakkan kemalangan baik di masa lalu maupun masa mendatang.

Inggris, Prancis, lalu Eropa dan Amerika kemudian sadar akan persatuan di tanah Arab menghasilkan sebuah negara yang kuat di dunia yang memiliki kekuatan material sekaligus spitualnya yang berarti keagungan dan kekuatan yang tidak tertandingi.

Hanya Rusia yang mengerti bahwa persatuan Arab bukanlah sesuatu yang memerlukan perhatian.  Sehingga dengan berakhirnya pengrusakan agama di kawasan itu, kekuatan Arab telah berubah menjadi sepotong besi tua yang tidak berdaya dan tidak berpengaruh sama sekali. 

Penduduk Arab telah menjadi bangsa asing di negerinya sendiri karena telah kehilangan semangat dan identitasnya. Dan ini adalah bentuk lain dari penghancuran persatuan Arab sampai ke akar-akarnya. Rusia telah berhasil menghapus nasab, tabiat dan sejarahnya.


Persatuan Arab

Mereka sepakat untuk mengerdilkan jiwa serta memecah belah integritas dengan menggunakan senjata dan sarana yang beragam, mulai dari penjajahan terbuka, penjajahan ideologis, penjajahan ekonomi yang menyedot kekayaan, sampai kepada perang otak yang memporak-porandakan jiwa dan akal, serta ajakan permisivisme yang menguras tenaga generasi muda oleh pengaruh wanita, menghisap candu serta berfoya-foya dengan hartanya. 

Bagaimana negeri Syam dipecahkan oleh penjajah menjadi beberapa negeri kecil seperti : Suriah, Lebanon, Yordania. dan Palestina.

Kemudian mereka berusaha memecahkan lagi negara kecil Lebanon menjadi perkampungan Kristen, Muslim, Druz, dan perkampungan Syi'ah. Sebelumnya, mereka telah berupaya untuk memecah belah negara kita dengan pertentangan kelas dan memecah belah Sudan dengan pertikaian bersenjata.

Terkadang mereka mengadu domba antarkelompok, antara gama. Terkadang mereka memecahkan manusia ke dalam golongan kiri dan golongan kanan dan membagi manusia ke dalam borjuis dan proletar serta kaya dan golongan miskin serta minoritas.

Akhirnya mereka tidak punya selain satu pihak menghantam pihak lain, mereka masuk untuk memperpanjang pertikaian, pertumpahan darah, dan memboroskan harta kekayaan. Menebarkan fitnah agar setiap pihak terbagi lagi dalam kelompok-kelompok kecil yang saling memangsa tanpa berkesudahan, sampai semuanya hancur lebur dan lemah tidak berdaya.

Sepanjang sejarahnya, pemerintah kita berusaha mencarikan jalan keluar dan mengatakan, "Musuh kita adalah penjajahan yang harus dihancurkan." Tetapi, pemerintah pribumi yang mewarisi negeri ini lebih buruk dan lebih zalim dari penjajah itu sendiri, karena penjajah pergi dengan meninggalkan agen-agennya.

Penjajah pergi meninggalkan agen dan pengikutnya di bidang ekonomi,  meninggalkan akal-pikiran yang telah rusak dan keluarga-keluarga yang terpecah belah.

Gambaran umum bagi Negara-negara yang baru merdeka adalah negara-negara yang beruntun dilanda kudeta militer, negara-negara yang disibukkan oleh yel-yel, yang gegap gempita oleh semboyan-semboyan dan siaran media serta negara-negara dibawah kuasa pemerintahan polisionil dan opini tunggal.

Para pengelola Pemerintah berpikir bahwa jalan menuju persatuan hanya satu yaitu sistem sekuler. Kita menyaksikan upaya-upaya untuk mempersatukan negara-negara Arab kedalam panji-panji sosialisme Naser yang justru memberikan hasil sebaliknya dan membuahkan kudeta-kudeta gagal di Yaman, Iraq dan Suriah yang dipimpin oleh El-Salal dan jasim Ulwan dan semakin memecahkan persatuan dan menimbulkan permusuhan dan penderitaan rakyat. 

Kemudian upaya menciptakan satu blok komunis persatuan antara Cina dan Rusia yang mengumandangkan semboyan-semboyan yang sama dan mengajak pada sistem sekuler yang sama, kita lihat bagaimana rencana persatuan ini mengakibatkan permusuhan antara Timur jauh dan Barat jauh.

Contohnya adalah pemerintah Suriah dan Iraq dengan "kebodohan" yang sama, semboyan yang sama, dan menganut ideologi Bath yang sama, tapi keduanya bermusuhan dan terpecah belah yang lebih dahsyat daripada permusuhan Arab dan Yahudi.

Jelasnya tema persatuan menjadi lebih ruwet dari yang dianggap oleh para pengelola pemerintah yang menganggap enteng semua permasalahan. Jelaslah bahwa sistem yang dipersatukan dan semboyan-semboyan yang disatukan tidak cukup untuk membentuk persatuan.

Hanya Nabi Muhammad saw. yang Mampu mempersatukan bangsa Arab dari nol, dari suku-suku yang saling berperang. Dan Dialah seorang laki-laki yang semata-mata menegakkan risalah dan kalimatnya, perkataannya adalah perbuatannya. 

Muhammad adalah manusia pilihan Tuhan yang tidak berbicara mengikuti hawa nafsu. Allah berfirman kepadanya, "Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. . . . "  (al-Anfal: 63).

Ada satu rahasia lain dari persatuan yang tidak diwujudkan melalui penyatuan pikiran dan akal, namun harus malalui hati dan perasaan dan itu hanya mampu dilakukan Tuhan Penguasa hati manusia. 

Bakat kepemimpinan tidak mampu mempersatukan hati dan jiwa, tetapi sebagian besar hanya bisa menciptakan semboyan-semboyan dan menggerakkan akal yang mengikuti hawa nafsu dan suka berdebat sementara perdebatan hanya menghasilkan perpecahan.

Anehnya, tidak ada yang mengusulkan Islam sebagai jalan persatuan. Ketika ada yang mengusulkan Islam di forum-forum cendekiawan, kita lihat orang yang mengejeknya dengan berbagai isyaratnya.

Mereka telah melupakannya bahwa Islam, Al-Qur'an, dan Nabi Muhammad saw. telah memberi mereka satu bahasa yang mereka gunakan dan bangsa Arab terbentuk dengan sejarah yang dimilikinya.

Sebelum datangnya Islam tidak ada konsep tentang "bangsa Arab dan tidak ada yang bernama bangsa Arab". Yang ada hanyalah suku-suku yang saling berperang, negeri-negeri yang berbicara menggunakan berbagai bahasa dan bangsa-bangsa dibawah serbuan pasukan berkuda Romawi, Persia, orang-orang Macedonia, Mongol, dan Hyksos.

Yang lebih parah lagi, para cendekiawan menggambarkan bahwa Islam adalah jalan perpecahan, karena mereka memahami Islam sebagai musuh bagi agama lain dan menganggap Islam membawa fanatisme agama serta memerangi siapa saja yang bukan muslim.

Padahal Al-Qur'an menyatakan, "Untuk kamulah agamamu dan untukulah agamaku." (al-Kaafirun: 6). "Tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam....". (al-Baqarah: 256).

"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu........" (al-Mumtahanah: 8).

Bahwa seorang muslim hanya memerangi dan memusuhi orang yang memerangi dan memusuhinya. "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan kamu melampaui batas.... " (al-Baqarah: 190).

Malahan Seorang muslim berbuat kebaikan kepada orang Kristen dan Yahudi. Umar bin Khaththab pernah memberi nafkah kepada kaum Yahudi dan Kristen Bani Majzum yang gagal panen dengan mengkhususkan barang dan tanah Wakaf.

Islam itu toleran, lembut, dan terbuka dan merupakan agama yang menampung agama-agama lain yang menjadi saingannya dengan penuh kasih sayang selama mereka berdamai dan tidak menampakkan permusuhan. Islam, yang mereka pahami sebagai musuh bukanlah Islam tetapi fanatisme mungkar yang bukan berasal dari agama Islam.

Para penjahat mengatakan, bukankah Islam itu sendiri terpecah ke dalam berbagai golongan hingga 70 golongan yang saling berperang.

Bagaimana mungkin kita dapat mengharapkan Islam mampu mempersatukan kita sementara Islam sendiri tidak mampu mempersatukan dirinya ?. 

Islam tak pernah terpecah, tetapi kaum muslimin yang dipecah belah oleh nafsu dan tujuannya sendiri yang disesatkan oleh ambisi-ambisi politik dalam berbagai cara dan jalan, dikoyak oleh penjahat, dan mereka dibentuk oleh berbagai peristiwa.

Umar hanya memahami Islam sebagai satu-satunya jalan yaitu jalan yang lurus. Islam telah menentukan bahasa kita dan mampu mewujudkan persatuan di masa mendatang. Islam tidak memandang Kristen sebagai musuh yang harus diperangi, tetapi sebagai kawan sependeritaan dan pecinta damai yang harus dipersaudarai.

"...Dan sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata : Sesungguhnya kami ini orang Nasrani. Yang demikian itu karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib (juga), karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (al-Maa’idah: 82).

Islam sangat memuliakan dan menghormati ilmu serta mengajak untuk memperbanyak ilmu. "Katakanlah, Wahai Tuhanku, tambahkan kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha: 114). Kalau ada Islam yang memerangi ilmu adalah Islam palsu yang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk membangun masyarakat sekuler tanpa agama.

Islam merupakan salah satu kekuatan yang memiliki kemampuan memobilisasi di saat yang genting dan menentukan. Jika Islam mengadakan mobilisasi umum maka bangsa Arab berkumpul ketika mereka terancam pemusnahan. 

Jika itu merupakan kebenaran sejarah dan kenyataan, mengapa mereka para cendekia bersikeras pura-pura tidak tahu, melainkan karena kesombongan dan sikap keras kepalanya. 

"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini kebenarannya." (an-Naml: 14). "Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir." (an-Nahl: 83).

Akhirnya sebahagian besar mereka berkata jujur ketika terungkapnya kekalahan dan kesalahannya. Mereka tidak lagi mengingkari kalau Islam merupakan faktor yang punya kedudukan penting bagi persatuan. Begitu pula sejarah dan kenyataannya mengatakan bahwa Islam merupakan faktor utama dan penentu pada saat dibutuhkan.

Jika Arab atau umat Islam bersatu dengan menggenggam harta kekayaan, kemampuan dan keyakinan, maka terbentuklah sebuah negara yang sesungguhnya yang akan mengatasi negara-negara lain dan tidak terbendung oleh apa pun.

Apakah hari itu akan tiba ?. Ya, jika iman telah sempurna dan mukmin yang sempurna telah datang. Jika kepribadian dan perasaannya mengarah pada satu sumber lalu menyatu maka tidak terpecah dan jiwanya tidak terbelah.

Dengan tauhid, semangatnya berkumpul, kiblatnya satu, kerinduannya bersatu, dan pikiran-pikirannya teratur, seolah-olah dia adalah potongan-potongan kain yang melangkah dalam satu jahitan. Sebagaimana halnya peran tauhid pada individu, demikian pula perannya pada suatu bangsa, lalu beberapa bangsa. 

Mereka semua berbaris di belakang satu kiblat dan satu tujuan. Itulah persatuan yang sebenarnya, maka menyatulah semua tujuan dan langkahnya. "Sesungguhnya agama tauhid ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." (al-Anbiya: 92).

Begitulah persatuan yang sebenarnya. Dan, itulah al-Qur’an yang dibaca, bahkan Al-Qur'an masih tetap berjalan di muka bumi. 

Kita diusik oleh orang-orang yang berjalan di muka bumi seolah-olah mereka adalah Al-Quran, seperti Muhammad saw. melangkah di muka bumi dan seperti sahabatnya berjalan di muka bumi. Jika orang-orang bertauhid itu muncul, maka itulah kebangkitan yang sesungguhnya.

Baca juga : Jadi lah Atasan Pemuji

Jangan Sibuk Dengan Meratakan Tempat Sujud

MARWAHISLAM.net | Jangan Sibuk Dengan Meratakan Tempat Sujud dengan tujuan untuk Menghilangkan Segala macam Kendala Yang Mempengaruhi Diri Dari Kekhusyuan dalam shalat bagi yang memahami Hukum Khusyu Dalam Shalat.

Diriwayatkan oleh Bukhari rahimahumullah dari Mu'aiqib r.a. bahwasanya Nabi saw. berkata kepada seseorang yang sedang meratakan tanah, padahal ia sedang sujud, "Jika memang kamu perlu maka lakukanlah dengan cukup sekali saja."

Rasulullah saw. bersabda, "Janganlah kamu menyapu debu atau pasir padahal kamu sedang shalat, tetapi jika kamu perlu maka dibolehkan menyapu sekali saja."  (HR Abu Daud).

Adapun tujuan yang menyebabkan munculnya larangan itu adalah untuk menjaga kekhusyuan dalam shalat. Bahkan sebaiknya, jika tanah atau pasir di tempat sujud itu perlu diratakan maka hal itu boleh dikerjakan sebelum melakukan shalat. Termasuk ke dalam larangan ini ialah mengusap debu atau tanah atau pasir yang menempel pada dahi dan hidungnya. 

Meratakan Tempat Sujud

Nabi saw. Pernah shalat dan bersujud di atas air yang bercampur dengan tanah sehingga terdapat bekas tanah itu pada dahinya, namun beliau sama sekali tidak menyibukkan diri nya setiap kali bangkit dari sujud untuk menghilangkan sesuatu yang menempel pada dahi beliau karena pikiran yang tenggelam dalam shalat karena khusyu'nya, begitu pula khusyu di dalamnya, mampu melupakan semua itu. 

Bahkan, Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya di dalam shalat itu terkandung kesibukan." (HR Bukhari).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Abu Darda', ia berkata, "Aku tidak suka memiliki kuda-kuda merah atau kuda perang, padahal aku mengusap dahiku dari debu atau pasir yang menempel." 'Iyadh berkata, "Para ulama salaf memakruhkan mengusap dahi dari tanah atau debu atau pasir yang menempel sebelum selesainya shalat."

Baca juga : Hindari Yang Dapat Mengganggu Orang Shalat

Jangan Shalat Di Belakang Orang Yang Berbicara Atau Tidur

MARWAHISLAM.net | Jangan Shalat Di Belakang Orang Yang Berbicara Atau Tidur agar dapat menghilangkan segala macam kendala yang dapat mempengaruhinya dari Kekhusyuan di dalam shalatnya karena ianya sangat memahami tentang Hukum Khusyu Dalam Shalat.

Baginda Rasulullah saw. bersabda, yang artinya "Janganlah kamu mengerjakan shalat di belakang orang-orang yang sedang tidur dan jangan pula di belakang orang-orang yang sedang berbicara." (HR Abu Daud).

Nabi SAW melarangnya dikarenakan orang-orang yang berbicara dapat mempengaruhi konsentrasi orang yang sedang shalat. Begitu pula halnya orang yang sedang tidur, terkadang akan terlihat darinya sesuatu hal yang dapat mengganggu konsentrasi orang yang sedang shalat.

Al-Khathabi rahimahumullah berkata, "Menurut pendapat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad, orang yang shalat yang menghadap kepada orang-orang yang sedang berbicara adalah hukumnya makruh. Mereka berdalih bahwa pembicaraan tersebut dapat mempengaruhi konsentrasi mereka yang sedang shalat dalam menghayati shalatnya."

Shalat Di Belakang Orang Yang Berbicara Atau Tidur

Menurut pendapat para ulama hadits, dalil-dalil yang menerintahkan agar menghindari melaksanakan shalat di belakang orang-orang yang sedang tidur itu merupakan pendapat yang lemah.

Al-Bukhari rahimahumullah dalam kitab Shahihnya pada bab "Shalat di Belakang Orang yang Tidur", memaparkan hadits dari Aisyiah, "Nabi saw. pernah melakukan shalat sedangkan waktu itu aku sedang tidur terlentang di atas ranjang beliau."

Sedangkan Mujahid, Thawus, dan Malik mengemukakan pendapatnya bahwa makruh hukumnya shalat menghadap orang yang sedang tidur karena dikhawatirkan akan terlihat sesuatu yang dapat melalaikan orang shalat dari (menghayati) shalatnya. Akan tetapi, apabila ternyata yang dikhawatirkan tadi tidak akan terjadi maka dalam keadaan seperti ini tidaklah makruh hukumnya. Wallahu a’lam.

Baca juga : Jangan Sibuk Dengan Meratakan Tempat Sujud

Tidak Mengerjakan Shalat Dalam Keadaan Mengantuk

MARWAHISLAM.net | Tidak Mengerjakan Shalat Dalam Keadaan Mengantuk - juga penting menjadi perhatian kita dalam rangka memelihara kekusyuan shalat.  Baca juga Hukum Khusyu dalam shalat.

Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian mengantuk ketika mengerjakan shalat maka hendaknya tidur sampai mengerti apa yang diucapkan." Maksudnya, hendaklah tidur terlebih dahulu hingga hilang kantuknya.

Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, Apabila salah seorang dari kalian mengantuk, sedangkan ia mengerjakan shalat, maka hendaklah tidur hingga hilanglah kantuknya, karena apabila mengantuk maka ia tidak mengerti yang seharusnya ia beristigfar, namun nyatanya mencaci maki dirinya sendiri." (HR Bukhari).

Terkadang mengantuk itu terjadi pada saat ia mengerjakan shalat malam. Kadang-kadang bertepatan sekali déngan waktu yang amat mustajab (dikabulkannya doa) sehingga ia berdoa atas kecelakaan dirinya sendiri sedangkan ia tidak mengetahuinya.

Hadits ini juga mencakup shalat-shalat wajib asalkan diperkirakan dengan tidur itu waktu shalat belum habis.
Shalat Dalam Keadaan Mengantuk

Nah !. seharusnyalah kita menjaga tidur kita dengan baik dan sempurna sehingga kita tidak mengerjakan shalat dalam keadaan mengantuk.  Subhanallah, Rasulullah SAW telah mengatur semuanya dengan sunnahnya.

Baca juga : Jangan Shalat Di Belakang Orang Yang Berbicara Ata...

Jangan Mengerjakan Shalat Sambil Menahan Kencing Atau Berak


MARWAHISLAM.net | Salah satu Upaya yang lain untuk memelihara kekusyuan dalam shalat adalah Jangan Mengerjakan Shalat Sambil Menahan Kencing Atau Berak, dimana artikel ini juga berhubungan dengan artikel sebelumnya yaitu tentang HUKUM KHUSYU DALAM SHALAT.

Perlu diingat juga bahwasanya salah satu faktor yang menyebabkan hilangnya kekhusyuan ialah menahan air kencing atau air besar sewaktu melaksanakan shalat.  Makanya, Nabi saw. melarang seseorang melaksanakan shalat sambil menahan kencing dan atau berak. (HR Ibnu Majah).

Bila orang-orang merasakan dirinya sepertinya ingin buang air baik air kecil maupun air besar maka hendaknya ia pergi ke WC terlebih dahulu untuk buang hajat kendatipun ia akan ketinggalan untuk mengikuti shalat berjamaah.

Nabi saw. bersabda, "Apabila salah seorang kamu hendak pergi ke jamban sementara shalat telah dimulai, maka hendaklah didahulukan pergi ke jamban."  (HR Abu Daud).


Shalat Sambil Menahan Kencing Atau Berak

Seandainya anda merasakan sepertinya mau kencing atau berak di saat shalat sedang berlangsung maka lebih baik segera ia membatalkan shalatnya untuk buang hajat, kemudian berwudhu dan shalat kembali. 

Nabi saw. bersabda, "Tidak (boleh) shalat sedangkan makanan telah tersedia di hadapannya, dan tidak (boleh) pula shalat padahal ia menahan kencing atau berak." (Shahih Muslim).

Bisa dipastikan bahwa menahan air seperti itu akan dapat menghilangkan kekhusyuan dalam shalat. Hukum ini tidak hanya terbatas dalam hal menahan dari buang air kecil dan buang air besar, tetapi juga meliputi menahan dari buang angin.

Itulah sedikit alasan jangan mengerjakan shalat sambil menahan buang air kecil atau air besar karena menyangkut wajibnya memelihara khusyu dalam shalat.  Wallahu A'lam.

Baca juga : Tidak Mengerjakan Shalat Dalam Keadaan Mengantuk

Hindari Pakaian Dan Hidangan Yang Dapat Mengganggu Shalatnya

MARWAHISLAM.net | Hindari Pakaian Dan Hidangan Yang Dapat Mengganggu Shalatnya karena merupakan bagian dari kegiatan-kegiatan yang dapat mempengaruhi konsentrasi seseorang yang sedang atau akan melaksanakan shalat.

Sebaiknya janganlah Melakukan Shalat itu Dengan Memakai Pakaian Yang bertuliskan sesuatu atau ada Hiasannya, berWarna-Warni, Ataupun dengan Gambar-Gambar Yang dapat Menghilangkan konsentrasi Orang lain yang sedang Shalat, dan ini juga artikel yang berkaitan dengan HUKUM KHUSYU DALAM SHALAT.

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa pada suatu ketika Nabi saw. melaksanakan shalat dengan memakai gamis bergaris yang bergambar dan Nabi SAW terus memperhatikan gambar tersebut.

Segera setelah Selesai shalat, beliau berkata, "Bawalah gamis bergaris ini kepada Abu Jahm bin Hudzaifah dan bawalah untukku gamis yang tidak bergaris-garis dan tidak pula bergambar sebab kain ini telah melalaikan aku dalam shalat-ku."  (Termuat dalam Shahih Muslim).

Jika kepada kita tidak dibenarkan melaksanakan shalat dengan menggunakan pakaian yang bergaris-garis, apalagi jika menggunakan pakaian yang bergambar-gambar seperti gambar makhluk, abstrak dan lain sebagainya.
Hindari Pakaian Dan Hidangan

JANGAN SHALAT KETIKA HIDANGAN TELAH TERSEDIA

Hal ini juga dapat dipahami bahwa kita akan teringat dan membayangkan hidangan itu saat melaksanakan shalat. Rasulullah saw. bersabda, "Tidak (boleh) shalat sementara makanan telah tersedia di hadapannya." (HR Muslim).

Apabila hidangan makanan telah tersedia di hadapan kita maka kita harus mendahulukan makan sebelum melakukan shalat, karena kita tidak akan dapat melaksanakan shalat dengan khusyu ketika makanan tersebut kita tinggalkan dikarenakan hati kita akan tetap teringat padanya itu. 

Malahan, kita tidak harus tergesa-gesa untuk menyelesaikan makan kita, karena Nabi saw. bersabda, "Apabila makan malam telah dihidangkan, sementara waktu shalat telah tiba, maka makanlah terlebih dahulu sebelum kamu mengerjakan shalat magrib, dan janganlah kamu tergesa-gesa dalam makan malammu."

Dalam riwayat yang lain, "Apabila telah disediakan makan malam untuk salah seorang di antaramu, sedangkan iqamat sudah dikumandangkan, maka dahulukanlah makan malam dan janganlah tergesa-gesa (makan malam) sampai selesai." (HR Bukhari dan Muslim).

Namun kita tidak boleh juga terlalu santai sampai-sampai waktu shalat berakhir dan berlalu karena kita larut dalam makan malam tersebut !

Baca juga : Tidak Mengerjakan Shalat Dalam Keadaan Mengantuk

Hindari Yang Dapat Mengganggu Orang Shalat

MARWAHISLAM.net | Hindarilah Sesuatu Yang Dapat Mengganggu Orang Shalat karena merupakan upaya memelihara kekusyuan shalat bagi orang lain dan bagi kita sendiri dengan menghindari sesuatu yang dapat mempengaruhi konsentrasi kita melalui pandangan kita. Ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya tentang 'HUKUM KHUSYU DALAM SHALAT'.

Anas r.a. berkata, "Aisyah pernah memasang tabir atau gorden di rumahnya. Melihat yang demikian, Nabi saw. lalu berkata kepada Aisyah, 'Singkirkanlah tabir ini dariku karena gambar-gambarnya senantiasa menggangguku dalam aku mengerjakan shalat !". (HR Bukhari).

Diriwayatkan dari al-Qasim dari Aisyah r.a. bahwa Aisyah mempunyai tirai bergambar yang dipasang di bilik rumahnya, padahal Nabi saw. biasanya shalat menghadap ke arah dimana tirai itu dipasang. Beliau lalu bersabda,


"Singkirkanlah tirai itu dariku karena gambar-gambarnya senantiasa menggangguku dalam aku shalat." Kata Aisyah, "Lalu tirai itu kusingkirkan dan kujadikan bantal." (HR Muslim).



Mengganggu Orang Shalat

Suatu ketika, Nabi saw. masuk ke dalam Ka'bah untuk melaksanakan shalat di sana dan tampaklah oleh beliau dua buah tanduk kibas. Segera setelah selesai mengerjakan shalatnya, beliau berkata kepada Utsman al-Hajabi, "Sesungguhnya aku lupa memerintahkanmu agar menutupi dua tanduk itu karena tidak patut di dalam Ka’bah ada sesuatu yang dapat mengganggu orang -yang sedang shalat." (HR Abu Daud).



Samalah halnya dengan berhati-hati melaksanakan shalat di tempat-tempat yang sangat gaduh dan bising karena di sampingnya ramai oleh orang yang mengobrol. Hindarkan dirimu juga dari melakukan shalat di tempat-tempat hiburan dan sejenisnya yang dapat mengganggu pandangannya.



Kemudian, apabila memungkinkan hendaknya pula menghindarkan diri dari melaksanakan shalat di tempat-tempat yang amat panas. Karena Nabi saw. pernah menyuruh Bilal pada waktu musim panas karena pada saat itu udara sedang panas sekali, agar menunda pelaksanaan shalat zuhur sampai cuacanya agak dingin .



Dalam hal ini, Ibnul-Qayyim berkomentar, "Sesungguhnya shalat - yang dilaksanakan oleh siapapun pada waktu udara sedang panas-panasnya akan menghalanginya untuk memperoleh tingkat kekhusyuan, sebaliknya tanpa sadar ia melaksanakan ibadah itu dengan penuh perasaan tidak senang dan gelisah serta terburu-buru.



Itu pulalah yang merupakan hikmah, syariat yang memerintahkan kita agar menunda shalat pada saat terik matahari sangat menyengat hingga udara menjadi terasa agak dingin, sehingga kita dapat melaksanakan shalat dengan menghadirkan hati sepenuh jiwa dan benar-benar mencapai tingkat kekhusyuan dan menghadirkan jiwa raga kita kepada Allah SWT.”



Hukum Khusyu Dalam Melaksanakan Shalat

MARWAHISLAM.net | Hukum Khusyu Dalam Melaksanakan Shalat sangatlah penting dipahami agar shalat kita diterima oleh Allah SWT. Berdasarkan pendapat yang kuat atau raajih hukumnya adalah wajib. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan firman Allah SWT, "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi mereka yang khusyu."

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ayat tersebut secara tegas mencela mereka yang tidak khusyu dalam shalatnya. Jadi, jikalau mereka yang tidak khusyu dalam shalatnya mendapat celaan dari Allah, maka dapat diartikan kalau khusyu dalam shalat itu hukumnya wajib.

Hukum Wajibnya khusyu dalam shalat itu juga ditunjukkan oleh firman Allah SWT, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.... Mereka itulah yang akan mewarisi surga firdaus. Dan Mereka kekal di dalamnya."

Apabila khusyu dalam shalat itu hukum nya wajib, yang mencakup sikap tunduk yang tenang, maka barangsiapa yang mempercepat pelaksanaan shalatnya hingga seperti burung gagak mematuk makanan dengan paruhnya, jelaslah kalau dia tidak khusyu dalam sujudnya. 


Hukum Khusyu

Begitu pula orang yang tidak mengangkat kepalanya sama sekali ketika ruku dan tidak berdiam sejenak sebelum sujud atau adanya thuma'ninah.  Makanya, barangsiapa yang shalatnya tidak ada thuma'ninah, berarti tidak mungkin bisa khusyu ketika ruku dan sujud; dan barangsiapa yang tidak khusyu didalam shalatnya maka dia berdosa dan melanggar syariat-Nya.



Nabi saw. pernah memperingatkan kepada mereka yang tidak khusyu dalam shalatnya, sama seperti larangannya terhadap orang yang mengangkat pandangannya ke atas ketika sedang shalat. Nabi saw. bersabda, 



"Allah telah mewajibkan shalat lima waktu. Barangsiapa menyempurnakan wudhunya kemudian shalat tepat pada waktunya dengan menyempurnakan ruku dan khusyunya maka Allah berjanji akan memberikan ampunan kepadanya; dan barangsiapa yang tidak mengerjakan yang demikian maka Allah tidak akan memberikan janji kepadanya. Jika menghendaki maka diampuni-Nya, dan jika menghendaki maka disiksa-Nya." (HR Abu Daud).



Kemudian Nabi saw. bersabda : "Barangsiapa berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan shalat dua rakaat dengan menghadapkan hati dan wajahnya kepada-Nya (Dalam satu riwayat disebutkan, 'Tidak membicarakan dirinya di dalam shalat itu.') maka diampuni dosa-dosa yang telah lewat (dan dalam satu riwayat disebutkan, 'Melainkan baginya pasti mendapat surga')." (HR al-Bazzar).



Adapun cara untuk mendatangkan kekhusyuan dalam shalat terbagi menjadi dua bagian. Pertama, menarik sesuatu yang dapat mendatangkan kekhusyuan sekaligus memperkokohnya. Kedua, menolak atau membendung sesuatu yang dapat menghilangkan kekhusyuan sekaligus melemahkannya. 



Lalu, Ibnu Taimiyah memberikan penjelasan sebagai berikut ; Ada dua hal yang dapat memberikan jalan kepada kita untuk mencapai kekhusyuan dalam shalat, yaitu menguatkan daya konsentrasi dan menekan sesuatu penghalang yang dapat menghilangkan konsentrasi.



Maksud dari yang pertama itu, yaitu menguatkan daya konsentrasi, adalah dengan berupaya untuk dapat mengerti apa yang diucapkan dan dilakukannya dalam shalat, sambil berusaha untuk menghayati setiap bacaan, setiap zikir, dan doa-doanya. 



Di samping menghadirkan hatinya bahwa anda sedang bermunajah dengan Allah, seolah-olah anda melihat-Nya atau ihsan. Karena hakikat sebenarnya, seseorang yang shalat itu tengah bermunajah dengan Rabbnya.



Sedangkan yang dimaksud dengan ihsan adalah Anda menyembah Allah seolah-olah Anda melihat-Nya. Jika ternyata Anda tidak melihat-Nya (karena memang tidak mungkin melihatnya), maka yakinilah bahwa Allah pasti melihat anda. Kemudian, setiap kali orang itu dapat merasakan betapa manis (nikmat)nya shalat, maka sudah barang tentu ia akan selalu terdorong untuk mengerjakan shalat.



Kecenderungan seseorang untuk mengerjakan shalat amat bergantung dengan kekuatan imannya.  Kemudian yang menyebabkan iman semakin kuat dan kokoh itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena itu, Nabi  bersabda, "Disenangkan bagiku dari urusan duniamu, yaitu wanita dan harum-haruman, dan dijadikan shalat itu sebagai penyejuk hati."



Dalam hadits yang lain, Nabi bersabda, "Berilah kami kesenangan dengan melakukan penyegaran dengan melakukan shalat, wahai Bilal." Beliau tidak berkata, "Senangkan kami darinya (shalat)."



Sementara yang kedua adalah hilangnya penghalang yang bisa dilakukan dengan cara berusaha dengan segenap kemampuan untuk membendung sesuatu yang dapat menyibukkan hati memikirkan sesuatu yang tiada berguna beserta berusaha menghayati factor-faktor yang menyebabkan hati dapat memahaminya. 



Ini juga dikarenakan oleh banyaknya was-was di dalam hatinya, itu pun amat tergantung kepada banyaknya syubhat dan banyaknya keinginan yang bersifat duniawi yang terpendam dalam hati. 



Kemudian disebabkan juga karena hati yang terpaut dengan segala sesuatu yang dicintainya yang dapat menyebabkan hati tertaut dengannya.  Demikianlah hukum khusyu dalam shalat dan berbagai cara yang bisa ditempuh untuk dapat mendatangkan kekhusyuan dalam shalat.



Jangan Lecehkan Ulama

MARWAHISLAM.net | Jangan Lecehkan Ulama karena ulama merupakan warisatul Ambiya. Ulama adalah pewaris para Nabi. Ulama sebagai penerang ummat dan pemimpin bagi ummat. Banyak sekali masalah hidup di zaman moderen ini yang bertolak belakang dengan Ilmu pengetahuan yang kita miliki yang kadang tidak dapat terjawab. Namun semuanya dapat terjawab dengan adanya ijma' para ulama.

Disamping itu kita bertanya pada diri pribadi kita masing-masing, siapakah yang ilmunya paling banyak ?. Lalu siapakah yang paling tinggi tingkat taqwanya kepada Allah SWT ?. Siapa pula yang paling takut kepada Allah ?. Dan adakah manusia arif dan bijaksana lainnya ?. Ayolah introspeksi diri tentang kapasitas diri kita masing-masing !.

Mengenai Rukun shalat, shalatnya musafir dan tayamum saja ditanyakan kepada kita bisa megap-megap, apalagi masalah qisas, diyat, dan sebagainya. Makanya jangan lecehkan Ulama !. Seharusnya ulama memang harus dihargai dan dihormati.



Lecehkan Ulama

Selamanya kita akan membutuhkan para ulama karena tanpa mereka kita akan kebablasan dengan urusan dunia dan menghadapi jalan buntu untuk kembali ke hadhirat-Nya. Ulama telah yang menuntun kita jalan kembali ke kampung halaman kita yang sesungguhnya yaitu surga jannatun na'iim.



Anda yakin masih ingat dengan kejadian yang memprihatinkan, saat konflik seorang aparat memukul seorang ulama. Kejadian tersebut tidak saja menimbulkan luka dan nestapa namun telah berbuntut cukup panjang sampai beberapa generasi.



Apakah hari ini kita sudah tidak lagi menghormati dan menghargai para alim ulama ?. Ataukah kita beranggapan bahwa diri, profesi dan jabatan kita yang lebih terhormat dan lebih penting darinya ?. 



Andai mampu maka jadilah ilmuwan atau orang alim, kalau tidak, jadilah penuntut ilmu. Kalau tidak juga maka hormatilah dan cintailah para alim ulama dan kalau tidak bisa juga, maka janganlah membenci dan memusuhi para ulama." begitu pesan para arif dan bijak.



Karena semua kita harus tahu bahwa para ulama merupakan orang-orang hebat yang berilmu pengetahuan dan sangat takut kepada Allah SWT. Kepada merekalah kita bisa memperoleh bantuan. Bukankah Allah berfirman dalam surah Faathir ayat 28,



"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya itu hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."



Untuk itulah jangan lecehkan Ulama, karena nanti pasti kita mengharapkan sedikit syafa'ah dari mereka.


Baca juga : Islam Dan Persatuan Arab

Kata Siapa Hebat Bulan Daripada Matahari

MARWAHISLAM.net | Kata Siapa Hebat Bulan Daripada Matahari, ya, kata siapa ?. Iya gan, tuh kata orang-orang yang aktivitas hidupnya malam yang selalu bergelut diantara hitam dan putih atau antara suasana terang atau gelap sebagai situasi tetap yang tak pernah berubah.

Apakah yang mereka bayangkan ?. Pasti suasana terang itu adalah hari atau hari itu pasti terang, begitu juga sebaliknya gelap itu mereka identikkan dengan malam dan malam itu sudah pasti gelap sehingga pada zamannya itu menganggap Hebat Bulan Daripada Matahari.

Kisah ini terjadi ketika Nabi Ibrahim a.s. dilanda kegelisahan yang luar biasa karena keingintahuannya tentang siapa Tuhannya, beliau pun mengamati alam semesta raya dan pada akhirnya mencapai kesimpulan bahwa bintang, bulan, dan matahari tidaklah seperkasa yang terlihat. Namun Ada yang jauh lebih perkasa dari itu semua bila kita melihatnya dengan mata hati, Dialah Allah SWT. Subhanallah.


Kemudian kehebatan dari alam ini sama sekjali belum sehebat Penciptanya. Itulah pertanda bahwa hanya dengan mata hati yang tajam kita dapat melihatnya dengan terang. 



Hebat Bulan Daripada Matahari

Lalu. Seseorang yang sedang mengamati alam semesta ini bertanya-tanya dalam hati, apakah yang lebih berharga di atas langit luas, apakah bintang, bulan, ataukah matahari. Setelah merenung lama, akhirnya iapun sampai pada satu kesimpulan :



Ternyata rupanya bulan itu lebih hebat daripada matahari karena dia muncul di saat yang tepat pada saat dunia ini gelap gulita, saat dunia diliputi kegelapan dan membutuhkan cahaya. Sedangkan matahari, dia keluar di siang hari, di mana dunia memang sudah terang benderang."



Nah itu kan kisah kuno sebelum ilmu pengetahuan tentang tehnologi berkembang di dunia ini dan pendapat itu pun akhirnya terbantahkan dengan sendirinya ketika terjadinya Gerhana Matahari yang menyebabkan dunia ini menjadi gelap gulita.



Masihkah ada yang bertanya tentang apakah hebat bulan daripada matahari ?. Tentunya tidak. Itu hanyalah cerita awal bagaimana saat Nabi Ibrahim AS gelisah yang luar biasa karena belum mengenal Tuhannya. Kesimpulan itu berasal dari seseorang yang terus menerus mengamati alam pada masa itu dan mencoba membandingkan antara mana yang lebih berharga di langit antara bulan, bintang atau matahari.



Semakin berkembangnya Islam dan Ilmu pengetahuan yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits barulah kemudian dipahami bahwa sumber dari segala sumber panas dan cahaya itu adalah berasal dari matahari.  Wallahu A'lam.



Baca juga : Jangan Lecehkan Ulama

Gaya Pengungkapan Berdasarkan Pemikiran dan Sastra

MARWAHISLAM.net | Apakah gaya pengungkapan itu ? Itu adalah ungkapan makna-makna yang disusun dengan kata-kata indah yang teratur atau gaya pengungkapan adalah cara mengungkapkan sesuatu untuk menggambarkan kemampuan pada diri penulis yang berupa makna-makna dengan menggunakan bahasa.

Susunan kata-kata, sekalipun menonjol dalam gayanya, akan tetapi selalu berhubungan dengan makna-makna yang ditunjukkan oleh lafadz. Tulisan yang tersusun dalam gaya bahasa tertentu membutuhkan susunan makna-makna yang teratur dan terbentuk dalam diri seorang penulis atau pembicara. 

Sehingga dengan demikian ia memiliki gaya pengungkapan atau gaya berbicara tertentu yang kemudian muncul kecocokan dengan gayanya sehingga menjadilah itu sebagai ciri khasnya.

Seorang penulis atau pembicara harus memahami apa yang ingin ia sampaikan lalu berupaya menyampaikannya sesuai dengan pemahamannya dan dengan gayanya yang mengesankan. 

Setelah itu, baru dituangkan dalam bentuk bahasa dengan susunan kata-kata dan kalimat serta gaya yang digunakannya untuk menyampaikan pikirannya. Ia membutuhkan pengaruh dan reaksi dari pembicara yang memahami hakikat suatu kenyataan dan berupaya menyampaikannya.

Pemikiran dan Sastra

Makanya, ia harus menggunakan akal, pikiran, perasaan, hati, serta imajinasinya, untuk memahami setiap maknanya, lalu akan muncul kekuatan bahasanya yang menggunakan kata-kata yang tepat dan dapat menyampaikannya yang cocok dan sesuai dengan maknanya.

Perkataan yang "halus" membutuhkan kata-kata yang lembut, dan perkataan yang "luhur" menggunakan kata-kata yang agung, dan seterusnya.

Sebuah gaya bahasa menuntut penulis ataupun pembicaranya untuk memahami ungkapan yang berupa makna yang mendalam, dan mempertajam pemahamannya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keindahan kandungan bahasa (balaghah). 

Lalu dipilih ungkapan yang mempesona dan tepat sesuai dengan imajinasinya yang indah atau makna-makna yang mengagumkan serta menghindari kata-kata yang rancu dan saling bertabrakan yang hanya akan mengganggu selera dan rasa. 

Maksud tulisan atau pembicaraan adalah menyampaikan ungkapan makna-makna yang ada pada diri penulis atau pembicara yang ditujukan kepada para pembaca maupun pendengar.  Pada dasarnya yang menonjol dalam ungkapan adalah maknanya. Kemudian, barulah diperhatikan susunan kata yang mampu mengekpresikan makna tersebut sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Sehingga masalahnya hanya berkisar pada dua hal, yang pertama adalah ungkapan makna dan yang kedua kata-kata yang dipergunakan untuk menyampaikan makna-makna tersebut. 

Dari sinilah akhirnya muncul perbedaan ekspresi para penulis dan pembicara terhadap ungkapan makna dan kata-kata.  Sebagian menuangkan perkataannya kepada yang dimaksud terlebih dahulu dan menulis kata-kata yang dapat menjelaskan ungkapan makna secara mendalam. Yang lain lebih mementingkan kata-kata dan kurangnya perhatian tentang penyampaian makna-makna secara mendalam demi menjaga keindahan kata-kata.

Lalu, gaya pengungkapan terbagi dua yaitu ada yang bercirikan pemikiran dan ada yang bercirikan sastra, dan masing-masing mempunyai keserasian yang berbeda-beda. 

Gaya yang bercirikan pemikiran, seorang penulis atau pembicara memilih idea-idea yang dikehendakinya, karena kualitasnya atau sesuai dengan kebutuhan, kemudian idea-idea ini disusun agar menjadi lebih mudah dipahami.  Kemudian dituangkan dalam bentuk kata-kata yang sesuai untuk dipahami oleh pembaca.

Peranan emosi dari gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran adalah hal yang harus ada yang muncul dari jiwa yang bersih.  Ilmu yang diperoleh oleh akal merupakan landasan pertama dalam pembentukan gaya tersebut, sehingga tidak ada suatu isyaratpun yang menunjukkan emosi yang mengada-ada. 

Tetapi, perhatiannya adalah mengumpulkan dan mendalami idea-idea sehingga pantas disebut sebagai bahasa akal. Tujuannya adalah menyampaikan fakta-fakta dengan maksud untuk mengajarkan, membantu atau menuntun pengetahuan dan memperluas wawasan akal.

Hal yang istimewa dari pengungkapan dengan gaya ini adalah ketelitian, kejelasan dan kedalaman. Pada dasarnya, gaya pengungkapan yang berisi pemikiran selalu didasarkan akal dan dengan tujuan untuk menyebarluaskan pemikiran dan pengetahuan yang benar dan sesuai  fakta. 

Untuk mencapainya diperlukan upaya yang maksimal dan lebih dalam. Secara global, gaya tersebut tersusun dari dua unsur pokok yaitu ; pertama ide-ide, yang kedua adalah ungkapan.

Sedangkan gaya pengungkapan yang bercirikan sastra, para penulis dan pembicara tidak hanya berhenti sebatas fakta dan pengetahuan. Tujuannya tidak terbatas pada mengisi akal dengan pemikiran tetapi berusaha mengenalkan fakta-fakta, dan memilih mana yang terpenting dan paling menonjol, yang di dalamnya dapat ditemukan keindahan kalimatnya baik yang tampak atau tersembunyi. Gaya pengungkapan sastra meliputi nasihat dan pelajaran, ajakan untuk berpikir atau hal-hal yang menarik dan mempengaruhi jiwa. 

Kemudian itu diekspresikan dengan gaya bahasa tertentu, yang dapat memberi kesan pada dirinya sebagai kekaguman seseorang yang tersentuh hatinya (dengan nasihat) rela atau marah. Lalu berusaha mempengaruhi emosi atau perasaan pada diri pembaca atau pendengar agar mereka dapat menjadi pengagum, tersentuh hatinya, rela atau marah.

Gaya pengungkapan yang bercirikan sastra biasanya berusaha untuk membangkitkan emosi, lalu mengekspresikan emosi itu dalam bentuk kata-kata dan ungkapan yang digunakan untuk menyampaikan pemikirannya. Perhatiannya dititikberatkan pada gejolak emosi, sehingga patut disebut sebagai bahasa jiwa atau perasaan.

Tujuan dari gaya ini untuk mempengaruhi pembaca dan pendengar dengan cara menggambarkan fakta-fakta dalam bentuk yang indah dan mempesona sesuai dengan gambaran yang dimiliki atau sesuai dengan gambaran yang harus dimiliki oleh pemirsanya. 

Sasarannya adalah meletakkan kata-kata yang luhur atau penting, memiliki arti yang luas, menjelaskannya panjang lebar untuk menerangkan satu makna dengan memperbaiki aspek keindahan yang mempesona dan dapat membangkitkan emosi. 

Keistimewaannya terletak pada kekuatan jiwa atau perasaan yang mempengaruhi ungkapannya secara jelas yang tampak dalam bentuk kata-kata, susunan kalimat termasuk unsur balaghah atau sastra nya. Secara umum gaya ini tersusun atas tiga unsur : pertama pemikiran-pemikiran, kedua unsur sastra atau balaghahnya, dan ketiga ungkapan yang dibentuk oleh pemikiran dan unsur sastra nya.

Kekuatan gaya, kejelasan, dan keindahan dapat ditemukan pada gaya yang bercirikan pengungkapan pemikiran seperti juga dapat dijumpai pada gaya pengungkapan yang bercirikan sastra, jadi tidak khusus pada suatu gaya tertentu, karena hal ini merupakan sifat bagi suatu gaya, baik yang berupa sastra maupun pemikiran.

Makanya kita temui banyak gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran yang dapat mengungkapkan keindahan dan ketepatannya, melebihi gaya pengungkapan yang bercirikan sastra sehingga selalu harus digunakan dalam mengajarkan masyarakat tentang ide-ide, menjelaskan dan menumbuhkan kepercayaan terhadap ide tersebut kepada mereka. 

Semua itu tidak akan tercapai melainkan dengan gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran karena dapat juga memberikan pengaruh dalam membangkitkan perasaan dan mendorong untuk mengimplementasikan idea yang telah dipahaminya, walaupun pengaruh ini prosesnya lambat dan membutuhkan penghayatan sehingga dapat membangkitkan jiwa dan perasaannya.

Namun perasaan yang terwujud melalui cara ini menumbuhkan perasaan yang abadi, yang tidak akan lenyap kecuali jika kepercayaan terhadap ide itu hilang. Berbeda dengan gaya pengungkapan yang bercirikan sastra, yang tidak digunakan melainkan hanya untuk mempengaruhi perasaan. 

Cara ini sering dipakai untuk mendorong masyarakat melakukan sesuatu. Gaya ini, sekalipun mengajarkan pendengar dan pembaca akan fakta-fakta (terhadap kehidupan), akan tetapi yang diajarkan adalah suatu fakta dan pengetahuan yang sepele dan tidak mampu menyampaikan ide-ide yang mendalam. Kalaupun dipaksakan dia akan menyederhanakan atau mendramatisir, sehingga akan hilang arti dan makna-maknanya yang akhirnya tidak memiliki nilai apa-apa.

Dari itu, tidak mungkin menyampaikan suatu pemikiran untuk suatu ideologi, filsafat, tasyri’ (hukum) atau ilmu-ilmu eksakta dan semacamnya melainkan dengan gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran, sedangkan puisi dan pidato disampaikan dengan bahasa pengungkapan yang bercirikan sastra.

Atas dasar ini, maka gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran selalu harus digunakan untuk menyampaikan idea, sedangkan gaya pengungkapan yang bercirikan sastra harus selalu digunakan untuk mempengaruhi masyarakat dan mendorong mereka untuk berbuat sesuatu yang diinginkan. 

Makanya, gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran selalu digunakan oleh umat pada saat proses kebangkitannya dan menuju kemuliaan. Sedangkan gaya pengungkapan yang bercirikan sastra selalu digunakan oleh umat yang taraf berpikirnya rendah (dangkal) atau dalam keadaan hidup bermewah-mewahan. 

Ketika diutusnya Rasulullah Saw, syair dan karya sastra kurang berkembang dalam masyarakat, sementara gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran lebih banyak digunakan, baik dalam pidato maupun dalam pembicaraan sehari-hari.

Al-Qur'anul Karim adalah sebaik-baiknya contoh dalam gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran. Karena, di samping mengandung seindah-indahnya pengungkapan yang bercirikan sastra akan tetapi bentuknya selalu dirangkai dengan gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran, baik dari segi kedalaman maupun kejelasan.

Kini, umat Islam mulai menampakkan gejala kebangkitannya, sehingga sangat dibutuhkan sekali gaya pengungkapan yang bercirikan pemikiran untuk menyampaikan fakta atau ide yang benar kepada masyarakat dan memotivasi mereka untuk berbuat sesuatu. 

Akan tetapi, hal ini harus dilakukan setelah menanamkan dalam hati dan jiwa mereka pemikiran yang kita inginkan, agar mereka mengamalkannya serta melestarikan kepercayaan mereka terhadap pemikiran tersebut.

Baca juga : Kata Siapa Hebat Bulan Daripada Matahari