Advertisement

Advertisement

Pendapat Ulama Tentang Mendidik Anak

MARWAHISLAM.net | Pendapat Ulama Tentang Mendidik Anak dimana ANAK-ANAK adalah amanah Allah yang ada di pundak kedua orang tua. Oleh karena itu, orang tua harus menjaga amanah ini dan tak menyia-nyiakannya. 

Orang tua harus mendidik anak-anak mereka tentang prinsip-prinsip keimanan yang mulia agar mereka menjadi alat pembangunan, bukannya alat penghancur dan perusak, serta agar anak-anak berbakti kepada orang tua mereka.

Orang tua perlu mendampingi anak saat online di google, di facebook, instagram dan lain-lain. Orang tua seperti ini akan mendapatkan kenikmatan sebagaimana diriwayatkan dari lbnu Umar bahwa la berkata tentang firman Allah swt., "Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan." (al-Infithaar: 13).

la berkata, "Allah swt. menanamkan mereka sebagai "abrar" (banyak berbakti) karena mereka telah berbakti kepada orang tua mereka dan berbuat baik kepada anak-anak mereka. Karena sebagaimana orang tuamu mempunyai hak atas kamu, demikian juga anakmu mempunyai hak atasmu."

Mendidik Anak

Abu Hamid al-Ghazali, pengarang Ihya Ulumuddin berkata ; "Seorang anak adalah amanah di pundak kedua orang tuanya dan hatinya yang masih bersih merupakan berlian yang berharga yang masih kosong dari pahatan dan gambaran, sehingga ia dapat menerima semua gambaran yang dilukiskan padanya, dan cenderung kepada kecenderungan pihak yang mengarahkannya.

Oleh karena itu, jika ia dibiasakan kebaikan dan diajarkan kebaikan itu, niscaya ia akan tumbuh dalam kebaikan, berbahagia di dunia dan akhirat, serta menjadi sumber pahala bagi kedua orang tuanya, orang yang mengajarkannya dan yang mendidiknya.

Sementara jika ia dibiasakan jahat dan disia-siakan niscaya ia akan menderita dan celaka, serta menjadi sumber dosa bagi pendidiknya serta yang bertanggung jawab atasnya."

Muhammad Quthb mengatakan dalam bukunya ‘Manhaj at-tarbiyah al-islamiya’ sebagai berikut, "Jika rumah, jalan, sekolah dan masyarakat adalah fondasi-fondasi pendidikan yang utama, maka rumah merupakan factor pertama yang memberikan pengaruh. Dan ia adalah unsur pemberi pengaruh yang terkuat dibandingkan yang lainnya. 

Karena, ia menerima anak semenjak pertama kali dan karena waktu yang dihabiskan oleh seorang anak dalam rumah itu lebih banyak dari waktu yang mana pun, serta karena kedua orang tua itu adalah manusia yang paling banyak memberikan pengaruh kepada anak."

Seorang anak dilahirkan dengan membawa otak yang kosong seperti lembaran kertas putih, untuk ia merekam segala hal yang diukirkan di otaknya. Ia mempelajari apa yang diajarkan kepadanya. Sehingga jika ia diberikan didikan kebaikan, niscaya ia akan tumbuh menjadi sosok yang saleh dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Sementara jika dididik tidak seperti itu, niscaya ia akan tumbuh sebagai sosok yang rusak dan durhaka kepada kedua orang tuanya. Allah swt. berfirman :

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur."  (an-Nahl : 78).

Baca juga : Pendapat Seorang Mujtahid Adalah Hukum Syar'i

Cermin-Cermin Kalbu

MARWAHISLAM.net | Cermin-Cermin Kalbu  Menunggang Harimau Lapar, Siapa Takut ?. Menunggang harimau lapar ?. Siapa berani ?. Dalam realitas bisa dipastikan hanya segelintir yang bernyali melakukannya.  

Sebagai tamsil bagi para pemimpin negeri ini, penggambaran tersebut masih jauh dari harapan kita.

Negeri ini terpuruk bangkrut, sarat nista, karena umatnya, terutama para pemimpinnya, sejak zaman penjajahan, bahkan sejak zaman sebelum Ken Arok menghalalkan segala cara untuk merebut takhta. Banyak yang tak peduli dengan konsekuensi menjadi pemimpin.

Bagi mereka, menjadi pemimpin bukanlah bagian dari bentuk cobaan dari Sang Khaliq untuk dirinya, yang memang seringkali tidak berupa kesusahan, melainkan cobaan berupa kesenangan, kekayaan, maupun kekuasaan.

Kalbu

Bagi mereka, menjadi pemimpin bukanlah merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan sampai akhirat. Jangan tanya mereka urusan akhirat yang masih sangat panjang atau masih lama sekali !. Jangan tanya mereka urusan jangka panjang bangsa ini !. Jangan tanya mereka urusan jangka menengah !. Bahkan jangka pendek sekalipun !.

Tanyakanlah kepada mereka tentang segala urusan jangka-imah (segala urusan yang bisa menggemukkan pundi mereka) !. Untuk yang satu ini, mereka menjadi sangat lihai. 

Keteguhan seorang Chichi, seorang bunda muda, untuk terus konsisten menjadi pengrajin "cermin kalbu" di tengah atmosfir yang sarat polusi "bahan kimia KKN" alias Kolusi, Korupsi dan Nepotisme yang mampu menjadi katalis untuk mengubah perilaku korupsi, kolusi, nepotisme menjadi darah-daging dalam tubuh bangsa ini patut disambut dengan geleng kepala keheranan dan sekaligus kekaguman atas keras kepalanya bersiteguh menjadi pengrajin "cermin kalbu".

"Cermjn-cermin kalbu" buatannya ini sesungguhnya wajib dimiliki setiap umat yang tertimpa amanah menjadi pemimpin (ketua kelas, ketua senat, ketua regu, komandan pasukan, kepala keluarga, ketua RT, lurah, bupati, walikota, panglima, direktur, hakim, notaris, anggota DPR/MPR, menteri, menko, wapres, presiden, supir angkot, nahkoda, pilot, dan lain-lain. Agar selalu menggunakan "kompas mata hati" mereka dalam menjalankan amanah menjadi pemimpin.

Menjadi pemimpin bukanlah peluang mendulang tambang harta dan kekuasaan sebanyak-banyaknya. Menjadi pemimpin semestinya dilihat sebagai cobaan yang seringkali disertai dengan ujian kenikmatan harta dan kekuasaan guna derajat, ketakwaan, dan bekal mereka pada masa akhir yang abadi.

Semoga "cermin-cermin kalbu" buatan bunda Chichi ini bisa menjadi bola salju untuk mengingatkan para pemimpin bahwa "meskipun hanya sedikit", namun itu mengandung unsur-unsur yang tidak halal, materinya, atau caranya (kolusi, korupsi, nepotisme).

Semoga cermin-cermin kalbu buatan bunda Chichi ini bisa menjadi "bola salju kebaikan" agar para pemimpin senantiasa peduli halal pada setiap langkah saat bangun, saat tidur, hingga saat bangun kembali dalam perikehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun dalam bermasyarakat dan bernegara (halal sosial). Amiin.

Baca juga : Meninggalkan Pesona Dunia

Menunggang Harimau Lapar

MARWAHISLAM.net | Menunggang Harimau Lapar  terkadang juga menyenangkan dan terkadang juga bermanfaat namun penuh resiko. Menunggang harimau saja sudah merupakan suatu masalah, apalagi harimau lapar. Pasti ada maunya !.

Kita mempunyai obsesi bagaimanapun juga, baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa, benar-benar dapat menemukan kembali dan membangun jati diri kita sebagai individu, mudah-mudahan juga sebagai bangsa.

Secara singkat jati diri adalah totalitas penampilan seseorang secara utuh menyeluruh, dimana pemikiran, sikap dan perilakunya diberi warna dari tata nilai yang bersumber dari hati nuraninya yaitu hati nurani yang hanya akan mampu memantulkan nur Ilahi atau cahaya Tuhan yang ada pada setiap insan. Yaah ... Kalau mata hatinya terbuka. Jadi tidak membatu dan buta mata hatinya.

Dengan demikian, seseorang yang berjati diri akan bersikap dan berperilaku tulus dan membuang segala yang semu, juga sepenuhnya dalam lingkup pancaran akhlakul karimah dan fungsi menumbuh-kembangkan nilai-nilai jati diri inilah yang bisa dipetik dari artikel ini !.

Untuk itu, artikel ini penting untuk dibaca bagi setiap pribadi, terlebih orang tua, karena selama membaca artikel ini akan mengalir rasa menyenangkan dan memahami i'tikad baik yang dilakukan dengan penuh resiko yang akhirnya menyadari bahwa ternyata sangat bermanfaat.

Harimau Lapar

Sekarang menjadi jelas "makna" atau "persepsi" terhadap judul Menunggang Harimau Lapar. Dia yang menunggang harimau adalah cermin seseorang yang memiliki jati diri. Seorang yang percaya diri dan dapat mengendalikan dirinya dan mengendalikan harimau yang ditungganginya.

Begitulah kita ibaratkan Menunggang Harimau Lapar itu bagi pemimpin negara sebesar Negara Republik Indonesia ini yang memiliki ribuan pulau, ribuan suku, bahasa dan berbeda Agama serta suhu politik yang meledak-ledak karena sumberdaya manusianya yang melimpah tetapi tak kebagian kekuasaan maka jadilah ia sebagai harimau lapar.

Kebanyakan mereka dari keturunan raja-raja sebelum lahirnya "Sumpah Palapa" yang akhirnya lebur dan bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Siapapun yang menjadi pemimpin, dia tahu risikonya. Kalau terjatuh, ia yang pertama dimakan harimau lapar yang ia tunggangi. Tetapi ia tetap mantap, karena sebelum menunggangi, ia telah memohon rahmat dan ridha Tuhan Yang Maha Esa.

Akhirnya, siapapun yang mengakhiri kepemimpinannya di Negara ini akan menerima umpatan, cacian dan berbagai cemoohan.

Ya Allah !. Anugerahkan kepadaku dan bangsaku untuk beradab dan beretika serta tawakkal kepada-MU ! Amiin Ya Rabbal 'Aalamiin.

Baca juga : Cermin-Cermin Kalbu

Rezeki Semata-Mata Dari Sisi Allah

MARWAHISLAM.net | Rezeki semata-mata dari sisi Allah tetapi tidak identik dengan pemilikan, sebab rezeki adalah pemberian. 

Dalam bahasa Arab, razaqa berarti a'tha, yaitu memberikan sesuatu.  Pemilikan adalah penguasaan terhadap sesuatu dengan metode-metode yang benar untuk memperoleh harta yang dibenarkan oleh syara'.

Rezeki dapat berupa rezeki halal ataupun haram, tetapi kedua-duanya dinamakan rezeki juga. Misalnya, harta yang diperoleh seorang pekerja sebagai upah kerjanya. Begitu pula kekayaan seorang penjudi yang diperoleh dari permainan judian yang dilakukannya. 

Semuanya adalah harta yang diberikan Allah SWT kepada mereka, tatkala mereka memeras keringat dan tenaganya dalam mengusahakan suatu pekerjaan yang biasanya dapat mendatangkan rezeki.

Semata-Mata Dari Sisi Allah

Orang-orang mengira bahwa mereka sendirilah yang mendatangkan rezeki untuk dirinya. Sebagai contoh, seorang pegawai yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu karena telah menguras tenaganya, menyangka bahwa dia sendirilah yang menghasilkan sejumlah rezeki itu untuk dirinya.

Begitu juga ketika ia mendapatkan kenaikan gaji karena bekerja lebih keras dan memang ia telah berusaha mendapatkan kenaikan gajinya itu, dia pun menyangka bahwa dirinyalah yang mendatangkan rezeki dari kenaikan gajinya itu. 

Lagi-lagi Seorang pebisnis yang mendapatkan keuntungan dari usahanya menyangka pula bahwa dialah yang mendatangkan rezeki bagi dirinya sendiri. 

Demikian juga dengan seorang dokter yang mengobati pasien lalu menerima upah, menyangka bahwa ia memberikan rezeki kepada dirinya sendiri, dan lain sebagainya. Banyak orang menyangka demikian karena mereka belum dapat memahami hakikat "keadaan" atau upayanya yang dapat mendatangkan padanya rezeki, sehingga mereka menyangka usahanya itu sebagai sebab datangnya rezeki.

Seorang muslim meyakini dengan pasti bahwa rezeki itu berasal dari sisi Allah SWT, bukan dari yang lain apalagi dari manusia, dan bahwa keadaan atau upaya yang biasa dilakukannya dapat menghasilkan rezeki hanyalah situasi dan kondisi tertentu yang berpeluang mendapatkannya.

Tetapi semua upayanya bukanlah penyebab datangnya rezeki. Apabila upaya yang telah dilakukan dianggap sebagai sebab maka pasti setiap upaya akan mendatangkan rezeki. Padahal kenyataannya kan tidak demikian.

Kadang-kadang berbagai upaya telah diupayakan namun rezeki tidak kunjung datang. Ini menunjukkan bahwa apapun upaya kita bukanlah merupakan penyebabnya, namun hanya "metode atau upaya-upaya" untuk mendatangkan rezeki.

Di samping itu, merupakan kekeliruan yang fatal bila ada anggapan bahwa "kegiatan dan upaya” yang lazimnya dapat memberikan rezeki merupakan sebab untuk memperoleh rezeki. 

Begitupun tidak dapat dikatakan bahwa orang yang melakukan suatu usaha, dialah yang menghasilkan rezeki kepada dirinya melalui usaha tersebut, sebab pengertian ini bertentangan dengan nash-nash Al-Qur'an yang qath'i, baik ditinjau dari dalalahnya (penunjukannya maknanya) dan tsubutnya (sumbernya).

Jika setiap sesuatu (pengertian) bertentangan dengan nash yang qath'i, baik dalalahnya maupun sumbernya, maka harus dipilih nash yang qath'i, kemudian mengambilnya dan menolak yang selainnya. 

Banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang menunjukkan dengan keterangan yang jelas dan gamblang serta tidak dapat menerima ta'wil lain bahwa rezeki adalah semata-mata dari sisi Allah SWT, bukan berasal dari yang lainnya juga bukan dari manusia.

Semuanya telah memberikan kepastian bahwa apa yang kita saksikan berupa sarana atau mertode untuk mendatangkan rezeki, maka hal itu semata-mata adalah berupa cara atau upaya atau usaha atau keadaan yang dapat menghasilkan rezeki. Allah SWT berfirman: "(Dan) makanlah dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu." (AI-Ma’idah ; 88).

"Allahlah yang menciptakan kamu, kemudian memberikan rezeki." (Ar Rum ; 40). "Nafkahkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu." (Yasin ; 47). "Sesungguhnya Allah memberlkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya." (Ali-Imran ; 37).

"Allah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu." (Al-Ankabut ; 60). "Kamilah yang memberi rezeki kepadamu." (At-Thaha ; 132). "Kamilah yang akan memberi rezeki pada mereka dan kepadamu.“ (AI-Israa’ ; 31).

"Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka." (Al-An’am ; 151). "Benar-benar Allah akan memberi rezeki kepada mereka." (Al-Hajj’ ; 58). "Allah meluaskan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya." (Ar-Ra ad ; 26).   "Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah." (AI-Ankabut ; 17).

"(Dan) tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya." (Huud ; 6). "Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki."  (Ad-Dzariyat ; 58).

Ayat-ayat di atas dan ayat-ayat lain yang amat banyak jumlahnya penunjukan maknanya bersifat qath'i, tidak terkandung di dalamnya kecuali makna yang satu dan tidak mempunyai ta'wil yang lain, bahwa rezeki semata-mata  dari sisi Allah, bukan dari yang lain.

Meski begitu, Allah SWT telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berupaya melakukan berbagai macam pekerjaan sesuai kesanggupan yang telah Allah berikan untuk memilih dan melaksanakan cara/usaha yang biasanya mendatangkan rezeki. 

Nah, jelasnya Mereka harus berusaha dengan segala cara atau usaha untuk dapat memperoleh rezeki, akan tetapi bukan mereka yang mendatangkan rezeki, sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat-ayat di atas. 

Bahkan, hanya Allah yang memberikan rezeki kepada mereka dalam berbagai keadaan/cara, tanpa memandang apakah rezeki itu halal ataukah haram, dan tanpa memandang cara atau usaha itu apakah termasuk hal yang dibolehkan, diharamkan atau diwajibkan oleh Allah. Begitu juga tanpa melihat apakah dengan usaha atau cara yang dilakukan itu akan dapat menghasilkan rezeki atau tidak.

Walaupun begitu, Islam telah menjelaskan tata cara yang diperbolehkan dan yang dilarang dalam mengusahakan usaha/cara yang dapat mendatangkan rezeki. 

Dalam hal ini, Islam menjelaskan sebab-sebab pemilikan, bukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan rezeki, dan membatasi pemilikan dengan sebab-sebab yang telah ditentukan. Tidak boleh seorang pun berhak memiliki suatu rezeki kecuali dengan sebab-sebab yang telah ditentukan oleh syara', karena hal itu merupakan rezeki yang halal.

Selain itu, ada rezeki yang haram, walaupun semuanya (baik rezeki yang halal maupun yang haram) berasal dari sisi Allah SWT.   Subhanallahi walaa haula walaa quwwata illa billah.

Baca juga : Menunggang Harimau Lapar

Perbuatan Yang Terikat Dengan Hukum Syara' Bukanlah Mubah Atau Haram


MARWAHISLAM.net | Perbuatan Yang Terikat Dengan Hukum Syara' Bukanlah Mubah Atau Haram. Pengertian mubah adalah apa yang ditunjukkan oleh dalil dalil yang sampai pada kita melalui riwayat yang berasal dari seruan syari'at Allah yang mengandung dua pilihan antara melaksanakan ataupun meninggalkannya. Jadi, mubah adalah apa yang menjadi pilihan seseorang antara berbuat atau meninggalkan berdasarkan syara'.

lbahah (kebolehan) termasuk salah satu hukum syara', sedangkan mubah adalah hukum syara'nya. Hukum syara' membutuhkan dalil tentang kedudukannya.  Selama tidak ada dalil yang menunjukkannya, maka tidak ada hukum syara' tentang hal itu. Mempelajari hukum Allah terhadap perbuatan yang menunjukkan mubah, maka membutuhkan dalilnya. 

Tanpa dalil syara' atas suatu perbuatan tidak menunjukkan bahwa perbuatan itu mubah, karena tidak adanya dalil maka tidak menunjukkan menunjukkan adanya suatu hukum apapun atas perbuatan tersebut, akan tetapi hanya menunjukkan belum adanya hukum atas perbuatan itu.

Wajib mencari dalil untuk mengetahui hukum Allah atas suatu perbuatan sehingga dapat ditentukan sikapnya. Maka mengenal hukum syara' dalam suatu perbuatan tertentu adalah wajib bagi setiap mukallaf agar dapat memutuskan sikapnya apakah dia harus melaksanakan atau meninggalkannya.

Hukum Syara' Bukanlah Mubah Atau Haram

Ibahah adalah seruan syara' untuk memilih antara dua pilihan yaitu mengerjakan atau meninggalkan. Maka, bila tidak mengetahui seruan syara', mustahil mengetahui hukum syara'. Makanya, selama tidak ditemukan seruan syara' tentang kebolehan, maka hukum mubahpun tidak ada. Artinya, tidak ada hukum sebelum datangnya syara'.



Karena dasar inilah maka menetapkan sesuatu itu mubah, mandub, makruh, fardhu, dan haram harus didasarkan kepada adanya dalil sam'i tentang hukum-hukum tersebut.  Tanpa dalil sam'i tidak dapat menetapkan suatu hukum atas sesuatu itu, dan tidak pula dapat menetapkan bahwa sesuatu itu mubah ataupun haram, atau hukum lainnya dari hukum yang lima di atas, melainkan mengetahui adanya dalil sam'i.

lni bukan berarti meninggalkan kewajiban untuk mencari hukum syar'i, dan membatalkan hukum syara' atau meninggalkan tugas dan kewajiban hidup karena tidak mengetahui hukum, karena akan melanggar hukum syara'.

Akan tetapi, segala sesuatu memerlukan pengetahuan tentang hukum yaitu wajib mencari dalil-dalil syar'i dan menyesuaikan dalil-dalil dengan fakta tersebut sehingga dapat diketahui hukum atas sesuatu itu, apakah haram, makruh, mubah, mandub, atau fardhu.  Ini menjadi tolok ukur perbuatan bagi seorang muslim berupa perintah dan larangan. 

Mengetahui hukum Allah atas perbuatan yang akan dilakukannya, apakah itu haram, makruh, mubah, mandub, ataukah fardhu merupakan kewajiban setiap muslim karena itu adalah perintah Allah SWT. 

Jadi, setiap sesuatu perbuatan haruslah berkaitan dengan hukum antara haram, makruh, mubah, mandub, atau fardhu. Dan setiap sesuatu yang akan dilakukan muslim harus diketahui lebih dahulu hukumnya, karena Allah akan meminta tanggung jawab atas setiap sesuatunya.

Sebagaimana firman Allah : "Maka demi Tuhan-mu, pastilah kami akan menghisab mereka tentang apa yang mereka telah kerjakan dahulu." (Al Hijr 92-93).

"Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat Al Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya." (Yunus 61).

"Kami menjadi saksi" yang dimaksud dalam ayat di atas, berupa berita dari Allah kepada hamba-Nya bahwa Dia menyaksikan perbuatan mereka dan bahwa Dia akan menghisab mereka.

Rasulullah pun menjelaskan tentang wajibnya melakukan perbuatan sesuai dengan hukum Islam, dengan sabdanya : "Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak didasarkan perintah kami, maka tertolak."

Para sahabat r.a. tentang perilaku mereka hingga mereka mengetahui hukum Allah sebelum melakukan sesuatunya selalu bertanya kepada rasul Saw lebih dahulu.

Ibnul Mubarak telah mengeluarkan hadits bahwa Usman bin Madh'un telah datang kepada Rasul Saw dan bertanya : "Apakah aku diizinkan melakukan ikhtisha' (pengebirian) ?“. Jawab rasul, "Bukan tergolong umatku yang melakukan pengebirian, baik terhadap dirinya sendiri ataupun orang lain, dan sesungguhnya pengendalian syahwat bagi umatku adalah shaum."

Kemudian dia bertanya lagi, "Apakah aku diizinkan melakukan perjalanan (melancong ke berbagai negara)?" Maka rasul menjawab, "Perjalanan (melancong) bagi umatku adalah jihad fisabilillah." Ibnu Madh’un pun bertanya lagi, "Apakah aku diizinkan bertapa ?" Maka Rasul menjawab lagi, "Bertapanya umatku adalah duduk di dalam masjid sambil menunggu shalat." (Al Hadits).

Hal ini jelas menunjukkan bahwa para sahabat selamanya tidak melakukan sesuatu sebelum bertanya terlebih dahulu kepada Rasul. 

Jika asal dari perbuatan adalah mubah maka mereka akan melakukannya, dan tidak akan bertanya kepada Rasul karena apabila Allah mengharamkan perbuatan tersebut pasti mereka akan meninggalkanya, jika tidak tentu mereka melakukannya dan tidak perlu bertanya kepada Rasul lagi.

Adapun diamnya terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dijelaskan hukumnya dan manusia melakukannya bukan berarti tidak ada ketentuan hukum tentang perbuatan tersebut, baik itu berupa ucapan atau pun perbuatan, bahwa hal ini merupakan dalil untuk membolehkan perbuatan yang nash tidak melarangnya secara jelas baik dalam bentuk ucapan ataupun perbuatan Rasul. 

Arti diam di sini ialah bahwa perbuatan yang dilakukan di hadapan atau sepengetahuan Rasul Saw bahwa orang-orang yang berada di bawah kekuasaan Rasul telah mengerjakannya, menunjukkan bolehnya perbuatan-perbuatan itu saja, tidak menunjukkan perbuatan-perbuatan manusia secara mutlak, karena diamnya Rasul (taqrir) atas perbuatan-perbuatan tersebut (yang merupakan pengakuan beliau) adalah dalil yang menunjukkan bolehnya perbuatan itu.

Maka, diamnya Rasul Saw dapat dianggap sebagai dalil yang membolehkannya, dengan syarat sesuatu hal itu diketahui Rasul yang dilakukan di hadapan beliau atau beritanya telah sampai kepada beliau. 

Apabila diamnya Rasul karena belum sampai beritanya atau terjadi di luar kekuasaan (wilayah Islam) meskipun beliau mengetahuinya, maka hal ini tidaklah pengakuan yang termasuk salah satu dalil syara'.

Maksud dari taqrir/pengakuan yang menunjukkan kebolehan, adalah diamnya Rasul, bukan Al-Qur'an. 

Maka tidak dapat dikatakan bahwa tidak adanya penjelasan dari Al-Qur'an tentang sesuatu berarti hukum atas sesuatu itu didiamkan, tapi yang dimaksud diam dalam suatu perbuatan adalah diamnya Rasul Saw asalkan beliau tahu dan dikerjakan di hadapannya atau berada dalam kekuasaannya yang diketahuinya tapi mendiamkannya.

Contoh sikap sebagian sahabat yang mengambil dalil atas diperbolehkannya 'azl (mengeluarkan mani di luar tempatnya) karena Nabi Saw mendiamkannya, dalil tersebut adalah riyawat yang ditunjukkan oleh apa yang mereka sampaikan : "Kami melakukan 'azl sedangkan Al Qur'an masih turun."

Artinya, Rasul Saw masih hidup. lalu mereka pahami dari teks riwayat "sedangkan Al-Qur'an masih turun." Kalimat ini adalah kiasan bahwa Rasul Saw masih bersama-sama mereka dan beliau tidak melarangnya.

Begitupun sebagian para mujtahid beralasan memanfaatkan dalil yang membolehkan memakan daging biawak, karena diamnya Rasul yang diriwayatkan bahwa daging biawak telah dihidangkan di atas nampan dan dimakan oleh para sahabat.  Rasul saat itu tidak memakannya namun diam saja menunjukkan kebolehannya.

Makanya diamnya Syari’ atas suatu perbuatan yang telah diketahuinya adalah dalil kebolehannya, bukan sebaliknya tidak ada ketentuan hukum dari Syari’ terhadap suatu perbuatan dijadikan dalil untuk membolehkannya. Terdapat perbedaan antara diamnya Syari’ dengan tidak adanya penjelasan ditinjau dari segi dalalah.

Jelaslah bahwa asal setiap sesuatu merupakan hukum syara' yang wajib bagi seseorang untuk mencari dalil syara’ untuk perbuatan-perbuatan itu sebelum dilakukan.

Ditetapkannya status hukum suatu perbuatan dengan 5 jenis ketentuan hukum di atas, ditentukan dari adanya dalil sam'i yaitu dalil yang bersumber dari Al Kitab, Sunnah, Ijma’ (sahabat) dan qiyas. Wallahu A’lam....

Baca juga : Rezeki Semata-Mata Dari Sisi Allah

Mencintai Diri Saat Duduk dan Berbaring

MARWAHISLAM.net | Mencintai Diri Saat Duduk dan Berbaring sesuai dengan tingkat keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Tentunya juga sesuai dengan tingkatan ilmu pengetahuan yang kita miliki dan kita amalkan dalam keseharian kita.

Mencintai Diri Saat Duduk dan Berbaring yang kami maksudkan adalah berusaha mengingat Allah swt yang telah menciptakan manusia dan alam ini serta seluruh isinya dalam keadaan duduk dan berbaring pun harusnya selalu berzikir mengingat-Nya.

Perbanyak mengingat Allah swt itu pertanda mencintai diri sendiri, baik di rumah, di kantor, di sekolah, sawah, ladang, di google, facebook dan lain-lain. Baik itu saat duduk dan berbaring maupun ketika sedang dalam perjalanan.

Anda pernah kasmaran kan ?. Pasti begitu indah terasa. Namun Kadangkala duduk dan berdiri pun susah. Merem salah, melek apalagi, hanya ada satu alasan tidak jumpa dengan si pujaan hati sehari rasanya setahun, weleh .... weleh meeek !. 

Mencintai Diri

Jantung kita selalu berdetak tidak stabil bila mengingat si "dia", otak kita selalu dijenuhi memikirkannya, bibir kita pun tak henti-hentinya menyebut namanya. Itu barulah cinta antar sesama manusia berlainan jenis.

Pernahkan anda mengalami cinta sesungguhnya atau pernahkah Anda mengalami jatuh cinta dalam bentuk yang lain ?. Baru menyebut asma-Nya saja keringat dingin meluncur deras. Karena perasaan haru, takut, rindu dan cinta berkecamuk menjadi satu. Jatuh cinta yang ini emang lain, zikir, mengingat Allah adalah lebih utama daripada mengingat lainnya.

Surah Ali Imran ayat 191 melukiskan, "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka’."

Bagi yang sudah menjiwai mencintai diri saat duduk dan berbaring, teruskan dan tingkatkanlah!. Sementara yang belum, mari kita mulai dan berusaha untuk selalu mengingat Allah swt dalam situasi dan kondisi apapun. Subhanallah, pasti kita akan meraih Ridha-Nya. Aamiin.

Baca juga : Perbuatan Yang Terikat Dengan Hukum Syara' Bukanla...

Sejarah Memelihara Budak

MARWAHISLAM.net | Sejarah Memelihara Budak,  dimana Al-Faqih berkata : "Muhammad bin Al-Fadll menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far menceritakan, Ibrahim bin Yusuf menceritakan, Isma'il bin Ja'far menceritakan kepada kami dari Syarik bin Abu Namr dari 'Atha' bin Yasar bahwa Abu Dzarr ra. memukul pada bagian muka budaknya lalu budak itu mengadu kepada Nabi saw., kemudian beliau bersabda kepada Abu Dzarr yang artinya :

"Janganlah kamu memukul muka orang-orang (budak-budak) yang selalu menegakkan shalat, berikan kepadanya makanan yang sama dengan yang kamu makan dan berikanlah kepada mereka pakaian yang sama dengan apa yang kamu gunakan. Jika mereka memberikan kamu kesulitan maka jual sajalah mereka".

AlFakih berkata :"Muhammad bin AlFazil menceritakan, Muhammad bin Ja'far menceritakan, Ibrahim bin Yusuf menceritakan kepada kami, Al-Asbath menceritakan kepada kami dari Mathraf dari "Amir Asy-Sya'bi ra. dimana ia berkata :

"Seseorang di kalangan sahabat meminta air kepada tetangganya, lalu tetangga itu memanggil budak perempuannya tetapi budak itu lambat, lalu tetangga itu menuduhnya dengan zina. Lalu sahabat Nabi itu berkata : 

Memelihara Budak

"Kamu akan mendapatkan azab-Nya pada hari kiamat karena menuduhnya zina melainkan kamu dapat menghadirkan empat orang saksi terhadap apa yag kamu tuduhkan itu". Langsung saja tetangga itu memberikan kemerdekaan kepada budak perempuannya itu, dan sahabat itu berkata : "Semoga perbuatanmu ini dapat menebus dosa tuduhanmu tentang zina kepadanya".


Abu Dzarr ra. meriwayatkan dari Nabi saw. dimana beliau bersabda yang artinya : "Saudara-saudara (para budak mu) itu adalah penolong bagimu. Allah telah menjadikan mereka di bawah penguasaanmu.

Oleh karena itu siapa yang mempunyai saudara (budak) yang dibawah penguasaannya maka hendaklah ia memberi makan mereka itu sama dengan apa yang ia makan, dan memberikan pakaian untuk mereka sama dengan apa yang ia pakai. Jangan pernah memberikan pekerjaan kepadanya diluar kemampuannya. Apabila harus kamu meminta mereka mengerjakan pekerjaan yang berat maka kamu harus membantunya".

Abu Bakr Ash-Shiddiq ra meriwayatkan dari Nabi saw. Dimana beliau bersabda yang artinya : "Tidak akan masuk surga mereka yang jahat kepada para budaknya. Muliakanlah sebagaimana kamu memuliakan anak-anakmu, dan berikan kepadanya makanan seperti apa yang kamu makan". 

Saya bertanya : "Wahai Nabi Allah, apa sajakah yang bermanfaat dari dunia ini ?. Beliau bersabda, "Kuda yang telah kamu persiapkan untuk ikut berperang di jalan Allah, dan budak yang membantu kamu. Jika budakmu itu selalu melaksanakan shalat maka ia itulah saudaramu".

Diriwayatkan dari nabi saw. bahwa ada seorang bertanya berapa kali beliau memberikan maaf kepada pelayannya, beliau menjawab : "70 kali dalam sehari".

Dari Qatadah ra. dimana ia berkata : "Termasuk sabda terakhir Nabi SAW yang artinya : "Shalat dan budak yang kamu miliki", Maksudnya : "Peliharalah shalat kamu itu dan bersikap dengan baiklah terhadap para budak yang kamu miliki".

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. Bersabda : "Seorang wanita yang masuk ke neraka karena seekor kucing yang diikatnya dalam rumah dan ia tidak memberinya makan dan minum, dan tidak melepaskannya juga sehingga kucing itu bisa mencari makan dari sampah-sampah yang ada di muka bumi. Ialah yang menyebabkan kucing itu mati".

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-bashri dimana ia berkata : "Pada satu pagi, Nabi saw. berjalan melewati seekor unta yang diikat.  Setelah beliau menyelesaikan kepentingannya dan kembali lewat jalan itu, beliau menyaksikan bahwa unta itu masih tetap diikat.  Lalu beliau bertanya kepada pemilik unta itu :

"Apakah kamu tidak melepas dan tidak memberi makan kepada unta itu sepanjang hari ?". Pemilik unta itu menjawab : "Tidak". Beliau bersabda : "Renungkanlah bahwa nanti pada hari pembalasan unta itu akan mempermasalahkanmu tentang ini kepada Allah".

Diriwayatkandari 'Abdu Khair dari Ali bin Abu Thalib kw. Dari Nabi saw. dimana beliau bersabda di dalam khutbahnya : "Wahai segenap manusia, ingatlah kamu sekalian kepada Allah, ingatlah Allah dalam memperlakukan para budak. Berikan budakmu makanan yang sama dengan apa yang kamu makan, berikanlah mereka pakaian yang sama dengan apa yang kamu gunakan dan janganlah kamu memberikan beban untuk mereka apa yang mereka tidak sanggup untuk melaksanakannya. 

Karena tubuh mereka sesungguhnya juga terdiri dari daging, darah dan ia juga makhluk seperti kamu. Ingatlah, siapa yang menganiaya mereka maka nanti pada hari tiada pertolongan kecuali dari-Nya,  aku adalah lawan mereka, dan Allah adalah hakimnya".

Abu Burdah bin Abu Musa meriwayatkan bahwas Nabi SAW bersabda yang artinya : "Ada 3 golongan yang memperoleh 2 pahala, yaitu : 
  1. Seseorang yang memiliki budak perempuan yang dididiknya dengan baik lantas ia memberinya kemerdekakaan dan mengawinkannya, maka ia mendapat 2 pahala. 
  2. Seseorang penganut ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan bertemu dengan nabi Muhammad saw. lantas beriman kepadanya, maka ia mendapat 2 pahala.
  3. Budak yang dapat menunaikan hak Allah Ta'ala dan juga hak majikannya, maka ia mendapat 2 pahala".
AlHasan AlBasri meriwayatkan bahwa ia ditanya tentang budak yang diperintahkan oleh majikannya untuk sesuatu keperluan dan bersamaan tiba untuk shalat berjama'ah, maka manakah yang harus lebih didahulukan. 

Sedangkan Al-Faqih berpendapat, jika waktunya masih lama dan ia yakin masih cukup waktu maka lebih baik ia mendahulukan keperluan majikannya. Namun jika ia khawatir akan kehabisan waktu maka ia harus melaksanakan shalat tepat pada waktunya, karena Nabi saw. bersabda yang artinya :"Tidak boleh ada kepatuhan kepada makhluk dengan melakukan maksiat kepada Khaliq".

Seseorang haruslah tetap waspada dalam memperlakukan budak yang ia miliki dan tidak memberikan beban pekerjaan yang sekiranya ia tidak mampu untuk melaksanakannya, karena Allah Ta'ala tidak membebani hamba-hambaNya sesuatu yang mereka tidak mampu.

Seseorang itu hendaknya berhubungan secara baik dengan budak yang ia miliki karena cara itu termasuk akhlak orang-orang yang beriman. Nabi saw. bersabda yang artinya :

"Tidak akan masuk surga orang yang berlaku jahat kepada budak-budak yang ia miliki. Muliakanlah budak-budakmu itu sebagaimana kamu memuliakan anak-anakmu, dan berikanlah kepada mereka makanan yang sama dengan apa yang kamu makan".

"Abdullah bin 'Umar ra. meriwayatkan bahwa ia melihat ada sepotong roti yang terbuang lalu ia meminta budaknya untuk mengambilkanlah roti itu dan membersihkan dari kotorannya".  Saat tibanya waktu hendak berbuka puasa, ia bertanya : "Kamu apakan dengan roti tadi itu ?". Budaknya menjawab :"Sudah saya makan". Lalu ia berkata : "Kamu aku merdékakan sekarang, karena aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda :

Jika seseorang yang mendapatkan sepotong roti lalu ia mengambil dan memakannya maka roti itu tidak akan sampai ke perutnya sebelum Allah mengampuni dosa kepadanya".  Sesungguhnya aku ('Abdullah bin 'Umar) tidak ingin memperbudak seseorang yang telah diampuni oleh Allah".

Membebaskan Diri Dari Rasa Takut

MARWAHISLAM.net | Membebaskan Diri Dari Rasa Takut  Merupakan upaya pengendalian potensi hawa dalam diri kita terhadap situasi dan kondisi di sekeliling kita dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara pengendalian potensi hawa adalah membebaskan diri kita dari rasa takut kehilangan dunia. Rasa takut terhadap dunia bukanlah fitrah diri manusia itu sendiri. Karena, dia terlahir sebagai manusia pemberani, bukan seorang pengecut (dayuts).

Rasulullah bersabda, "Orang yang ahmaq itu ialah mereka yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan akan memperoleh surga dari Allah" (HR. Tirmidzi).

Sungguh banyaknya orang tipe ahmaq. Mereka berdalih untuk kepentingan akhirat, padahal hawa nafsunya telah menguasai diri untuk memalingkan akhirat kepada kenikmatan dunianya yang fana. Banyak sekali manusia takut kehilangan dunia, tetapi sedikit di antara mereka yang takut kehilangan akhirat.

Padahal, dunia tak pernah merasa takut ditinggalkan diri nya, sementara itu akhirat pasti dia datangi dengan penuh rasa takut. Sesungguhnya, lebih baik memiliki rasa takut yang akan melahirkan kesenangan daripada rasa senang yang akan melahirkan rasa takut.


Rasa Takut

Ruwaim berkata, "Orang yang takut adalah dia yang tidak takut kepada apa pun kecuali Tuhan." Betapa mungkin kita merasa takut ?. Sedangkan kehadiran kita ke dunia karena keberhasilan kita membuahi indung telur dan begitu banyak mengalahkan saudara kembar (sperma laki-laki). Kita sudah tercipta sebagai "pemenang".

Dan, rasa takut memandang dunia adalah kejahatan yang paling esensial bagi martabat diri nya. Karena rasa takut itulah yang kemudian melahirkan berbagai pikiran dan keyakinan yang menerabas, bahkan melanggar norma-norma yang ada.

Rasa takut kepada dunia telah menjadikan diri nya menjadi sosok pemberani untuk menjadi hamba hawa nafsunya sendiri. Seharusnya kita menempatkan rasa takut hanya kepada Allah dan menempatkan berani hanya kepada dunia.

"....... Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan, agar Kusempurnakan nikmat-Ku atas kamu dan supaya kamu mendapat petunjuk." (al-Baqarah: 150).

Memang benar bahwa Allah memberikan ujian berupa rasa takut kepada manusia, tetapi rasa takut itu justru dalam rangka membuat kalbu lebih cemerlang dan hanya semata-mata takut yang amat sangat kepada Allah. Ujian tersebut untuk mengambil sikap, apakah kita lebih takut kehilangan dunia ataukah kita takut kehilangan rahmat dan pengampunan Allah.

"Dan, barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan hanya takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan."(an-Nuur: 52).

Rasa takut akan murka dan azab Allah akan mendorong kalbu penuh dengan kewaspadaan dari sergapan godaan hawa. Potensi shadr yang mendawamkan zikir yang melangit dengan diikuti keyakinan bahwa azab akhirat lebih pedih dibandingkan dengan kenikmatan dunia yang sesaat, menyebabkan diri nya menjadi orang-orang yang berani menundukkan dunia.

Dia tidak merasa kehilangan bila dunia meninggalkannya. Tak pula merasa sepi didera oleh kehampaan materi. Karena, di hatinya ada cahaya cinta yang menyebabkan diri nya tenteram, walau dalam kemiskinan sekalipun.

"Katakanlah, Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat)_...." (al-An’aam: 15).

Orang yang takut akan dunia cenderung untuk membuka diri kepada hawa nafsu dan melupakan akhiratnya. Sedangkan, orang yang takut akan azab akhirat membuka kalbunya dengan cahaya Ilahi dan memenuhi makna hidupnya sebagai subjek yang menundukkan dunia.

Dia tenggelam dalam kesibukan dunia, bukan karena diperhamba dunia, tetapi justru ingin memperdayakan dunia, betapa kecilnya engkau dibandingkan pengampunan Allah. Rasa takutnya kepada Allah menyebabkan diri nya menjadi seorang yang pemberani. Menampakkan sosok seorang yang bekerja keras untuk menimba bekal akhirat dengan amal-amal saleh.

Manusia harus membebaskan diri dari rasa takut kepada duniawi, karena dunia tak akan pernah jera untuk menakut-nakuti manusia dengan segala bujukan asesoris kenikmatannya. Mereka hidup dalam dunia modern yang hedonistik serta materi, yang telah melupakan diri nya kepada upayanya yang melangit.

Bahkan sebaliknya, dia menjadi bagian dari materi itu sendiri. Mereka sibuk memenuhi perabotan rumah tangganya, membeli barang mewah yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Mengapa?. Tidak lain karena orang lain pun berbuat seperti itu. Dia kehilangan potensi fuad dan shadr-nya.

Mereka tidak berdaya untuk memilih yang lain, seakan-akan hidup tanpa alternatif. Hanya dengan begitulah, dia merasa bahwa diri nya adalah bagian dari masyarakatnya. 

Peranan media massa yang menawarkan segala produk yang dikemas dengan mengetuk-ngetuk hawa membuat diri nya tak mempunyai lagi tempat, di mana dan bagaimana dia harus berbuat. Inilah tipikal orang yang didera rasa takut dunia.

Mereka telah dibentuk oleh kebutuhan semua yang diproyeksikan ke dalam hawa nafsunya. Dia tidak ingin berbeda dari yang lain. Dia takut berinovasi. Dia takut menampakkan kepribadian yang berpihak kepada fuad dan shadr karena masyarakat di sekitarnya akan menentangnya.

Tidak ada kebahagiaan sejati baginya kecuali menjadi bagian dari masyarakat tersebut, betapapun masyarakat tersebut adalah tipikal masyarakat jahiliah modern, yang cerdas dan kaya secara materi tetapi compang-camping jiwanya dirobek kebodohan dan kemiskinan rohani. Mereka takut menjadi diri nya sendiri karena diri nya telah disublimasi menjadi bagian dari massa.

Betapapun keinginan massa itu bertentangan dengan jeritan hati nuraninya sendiri. Memang benar bahwa rasa takut merupakan salah satu potensi diri yang melekat pada fitrah manusia itu sendiri.

Rasa takut merupakan mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism), sehingga reaksi-reaksi biochemistry memberikan pertahanannya untuk melindungi diri dari ancaman. Dengan rasa takut itu, manusia mempertahankan eksistensinya.

Bayangkan bila manusia tidak mempunyai rasa takut. Dia akan terjun ke jurang, terbakar api, dan hilang sudah eksistensinya. Tetapi, itu semua adalah bagian dari insting (gharizah) manusia untuk mempertahankan diri agar tetap eksis, yang justru bagian dari nikmat karunia Allah.

Sedangkan yang diarahkan oleh fuad dan shadr, bukan rasa takut itu, melainkan rasa takut yang lebih mendasar, yaitu rasa takut akan penyimpangan dari rasa takutnya sendiri. Dia boleh takut, tetapi janganlah rasa takutnya memperbudak diri nya, karena dia harus selalu berusaha menjadi hamba yang merdeka dengan cara membebaskan diri dari rasa takut kecuali takut kepada Allah.

Kehancuran peradaban manusia justru dikarenakan rasa takut para pemimpinnya akan kehilangan dunia, sehingga rasa takutnya berubah menjadi sikap keserakahan yang agresif, merusak dan menampakkan nafsu hawa kebinatangannya.

Dengan kata lain, cara kita mengendalikan potensi hawa adalah mengendalikan rasa takut yang berlebihan terhadap dunia, dan mendidik kalbu agar hanya takut kepada Allah yang menyebabkan dia berani untuk menghadapi segala tantangan dunianya.  Wallahu A'lam Bishshawab.

Baca juga : Sejarah Memelihara Budak

Keutamaan Sepuluh Hari Permulaan Bulan Dzulhijjah


MARWAHISLAM.net | Keutamaan Sepuluh Hari Permulaan Bulan Dzulhijjah dimana tidak ada hari yang apabila didalamnya dilakukan amal salih dan itu lebih dicintai oleh Allah. Hari-hari yang dimaksud adalah 10 hari permulaan bulan Dzulhijjah.  

Rasulullah saw. Bersabda : "Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai oleh Allah dan lebih utama daripada hari-hari sepuluh dari permulaan bulan Dzulhijjah". Ada seseorang yang bertanya : "Tidakkah sama dengan berjuang pada jalan Allah ?. Beliau bersabda : "Tidak juga sama dengan berjuang pada jalan Allah melainkan seseorang yang kudanya terluka dan mukanya tersungkur". Dalam riwayat yang lain : "Kudanya terluka dan darahnya berceceran".

Aisyah r.a. berkata yang artinya : "Ada seorang pemuda yang suka bernyanyi dikala datangnya Bulan Dzulhijjah, ia mengerjakan puasa. Berita ini sampai kepada Nabi saw. kemudian beliau mengutus seseorang untuk memanggilnya, dan ketika ia datang beliau bertanya : "Apa yang mendorong kamu untuk berpuasa pada hari-hari ini ?”. la menjawab : ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari-hari ini adalah hari-hari syiar dan hari-hari hajji. Mudah-mudahan Allah menyertakan saya dalam doa-doa mereka". 

Sepuluh Hari Permulaan Bulan Dzulhijjah

Beliau bersabda .' "Sesungguhnya bagimu dengan setiap satu hari kamu berpuasa itu sama nilainya dengan memerdekakan 100 orang budak, shadaqah 100 ekor unta dan 100 ekor kuda yang kamu gunakan umuk berjuang pada jalan Allah. Jika berpuasa pada hari Tarwiyah yakni tanggal 8 Dzulhijjah maka untukmu sebanding dengan memerdekakan 1.000 orang budak, shadaqah 1.000 ekor unta dan 1.000 ekor kuda yang kamu gunakan untuk berjuang pada jalan Allah. 



Jika melakukan puasa pada hari Arafah yaitu tanggal 9 Dzulhzjjah maka bagimu sebanding dengan memerdekakan 2.000 orang budak, shadaqah 2.000 ekor unta dan 2.000 ekor kuda yang kamu gunakan unluk berjuang pada jalan Allah. Puasa pada hari ’Arafah itu sama dengan puasa dua tahun, satu tahun sebelum hari itu dan satu tahun setelahnya".

Nabi saw. juga Bersabda yang artinya : "Puasa pada hari Arafah itu sama nilainya dengan puasa dua tahun, dan puasa pada hari 'Asyura' itu sama nilainya dengan puasa satu tahun".

Rasululah saw. Bersabda yang artinya : "Celakalah bagi orang yang terhalang kebaikan-kebaikan hari-hari" sepuluh, terutama hendaknya kamu berpuasa pada hari kesembilan karena di dalamnya ada kebaikan-kebaikan yang lebih banyak dari pada yang dihitung (diperkirakan) oleh orang-orang yang suka menghitung-hitungnya".

Allah ta'ala menghadiahkan kepada Nabi Musa bin 'Imran as. dengan lima macam doa yang disampaikan oleh Malaikat Jibril as.. pada hari sepuluh awal dari bulan Dzulhijjah yaitu :

"Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laaisyarika lahuu lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu biyadihil khairu wahuwa 'alaa kulli syai'in qadiir". Artinya : "Tidak ada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia hidup. Tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan. Dan Dia Maha Kuasa atas segala-galanya".

Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahuu Iaa syariika lahuu ilaa-haw waahidan ahadan shamadal lam yattakhidz lahuu shaahibataw walaa waladaa. Artinya : "Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia adalah Tuhan Yang Satu, tunggal, tempat bergantung. Dia tidak mempunyai isteri dan anak".

Asyhadu allaa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lahuu ahadun shamadul lam yalid walam yuulad walam yakul lahuu . kufuwan ahad Artinya : "Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia adalah Tuhan Yang satu, tempat bergantung, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang sepadan dengan-Nya". 

Asyhadu anlaa ilaaha illallaahu wahdahuu Iaa syariika lahuu Zahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wahuwa hayyun Iaa yamuutu biyadihil khairu wahuwa 'alaa kulli syai'in qadiir. Artinya : "Saya bersaksi bahwa lidak ada Tuhan melainkan Allah Yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kekuasaan dan bagi-Nya pujian. Dia hidup, tidak mati. Ditangan-Nya segala kebaikan. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. 

Hasbiyallaahu wakafaa sami'allaahu liman da'aa laisa waraa-'allaahu muntahaa. Artinya : ”Allah adalah Dzat yang menjamin dan mencukupi aku. Allah mendengar orang yang berdoa. Tidak ada yang sempurna selain Allah". 

Doa-doa di atas disebutkan pula dalam kitab Injil, dan orang-orang Hawariyyin bertanya kepada Nabi ‘Isa as. tentang keutamaan doa-doa tersebut, kemudian beliau menyebutkan kepada mereka bahwa pahala dan keutamaan orang yang membacanya pada hari sepuluh awal bulan Dzulhijjah, tidak ada seorang pun yang mampu melukiskannya.

Abun Nadir Hasyim bin Al-Qasim berkata : "Ada seseorang menceritakan kepadaku bahwa ia berdoa dengan doa-doa di atas pada hari-hari sepuluh awal Dzulhijjah kemudian ia bermimpi seolah-olah di rumahnya ada lima tingkatan dari cahaya yang satu berada di atas yang lain". 

Mujahid menceritakan dari Ibnu 'Umar r.a. bahwa Nabi saw. bersabda : "Tidak ada hari-hari yang lebih mulia di sisi Allah dan lebih dicintai oleh-Nya dalam beramal daripada hari-hari sepuluh. Maka perbanyaklah membaca Takbir, tahmid dan tahlil pada hari-hari itu”.

Nafi' meriwayatkan dari Ibnu 'Umar r.a. bahwasanya ia senantiasa bertakbir pada seluruh hari-hari sepuluh itu baik sewaktu berbaring maupun duduk. Sedangkan 'Alba’ bin Abu Rabah selalu bertakbir pada hari-hari sepuluh itu baik di tengah jalan maupun di pasar.

Jarir bin Yazid meriwayatkan dari Abu Ziyad dimana ia berkata : "Sa'id bin Jabir dan 'Abdur Rahman bin Abu Laila dan para ulama' yang kami lihat, pada hari raya dan hari-hari Tasyriq mengucapkan Takbir dan tahmid serta tahlil.

Ja'far bin Sulaiman berkata : "Saya melihat Tsabit Al-Bannani memotong pembicaraannya pada hari-hari Tasyriq, maksudnya dalam majlis dzikir, kemudian mengucapkan Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar dan berkata : "Hari-hari itu adalah hari-hari untuk berdzikir". Demikian pula orang-orang melakukan hal yang sama. Ja'far berkata : "Saya melihat Malik bin Dinar melakukan yang demikian itu".

Al-Mughirah bin Syu'bah meriwayatkan dari Abu Mi'syar dimana ia berkata : "Saya bertanya An-Nakha'i mengenai Takbir di tengah jalan pada hari-hari Tasyriq, kemudian ia menjawab: "Hanya tukang-tukang tenun saja yang melakukan hal itu". Dan dari Laits bin Abu Sulaim, ia berkata : "Saya bertanya kepada Mujahid mengenai takbir di tengah jalan pada hari-hari sepuluh, kemudian dia menjawab : "Hanya tukang tenun saja yang melakukannya".

AlFakih berkata : "Barangsiapa yang bertakbir pada hari-hari itu untuk dirinya sendiri maka hal itu lebih baik baginya meskipun ia bertakbir dan mengeraskan suara serta bermaksud untuk menampakkan syari'at dan mengingatkan orang lain. Yang demikian itu tidak menjadi masalah karena ada hadits yang menerangkannya".

Abdullah bin Mas'ud r.a. menceritakan dari Nabi saw. bahwasanya beliau bersabda yang artinya : "Sesungguhnya Allah ta'ala telah memilih empat dari hari, empat dari bulan, empat dari orang perempuan, empat orang yang akan mendahului ke surga, dan empat orang yang dirindukan oleh surga. Sedangkan hari-hari (yang empat) itu adalah : 

Hari "Jum’at, yang di dalamnya ada suatu saat yang tiada seorang pun hamba yang muslim memohon sesuatu kepada Allah baik urusan dunia maupun urusan akhirat melainkan Allah akan memberinya. 

Hari 'Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah). Pada hari itu Allah ta'ala berbangga kepada malaikat-Nya dengan berfirman ”Wahai malaikat-Ku, lihatlah hamba-hamba-Ku yang datang dengan rambut yang kusut dan berdebu, mereka telah membelanjakan harta kekayaannya dan meletihkan badannya; saksikanlah bahwasanya Aku telah mengampuni mereka. 

Hari Nahr (’ldul Adlha). Apabila hari itu datang dan seseorang menyembelih hewan qurbannya maka tetesan darah yang pertama dari hewan qurban itu menjadi kaffarat (penebus) semua dosa yang telah dilakukan oleh orang itu. 

Hari raya Fithrah (ldul Fitri). Apabila kaum muslimin mengerjakan puasa pada bulan Ramadlan dan keluar menuju tempat shalat ’Id maka Allah ta'ala berfirman kepada malaikat .' "Bahwasanya setiap pekerja itu menuntut upahnya, sedangkan hamba-hamba-Ku telah mengerjakan puasa pada bulan Ramadlan dan mereka keluar menuju tempat shalat 'ld dengan mengharapkan pahala. Saksikanlah olehmu (wahai para malaikat) bahwasanya Aku telah mengampuni mereka"; kemudian ada seruan yang berkata .' "Wahai ummat Muhammad, kembalilah kamu; kejelekan-kejelekanmu telah Aku ganti dengan kebaikan-kebaikan”. 

Sedangkan bulan-bulan yang dipilih Allah itu adalah : Satu Bulan Allah yaitu bulan Rajab, dan tiga bulan yang berturut-turut yakni .' Dzulqa'dah, Dzulhzjjah dan Muharram. 

Sedangkan orang-orang perempuan yang dipilih Allah adalah : Maryam binti 'lmran, Khadijah binti Khuwailid, perempuan pertama di dunia yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, Asiyah binti Muzahim isteri Fz'r’aun, dan Fathimah binti Muhammad, perempuan ahli surga yang terkemuka. 

Sedangkan orang yang akan mendahului masuk surga, maka setiap bangsa ada orang yang menjadi pendahulu untuk masuk surga. Muhammad saw. sebagai pendahulu bangsa Arab, Salman sebagai pendahulu bangsa Persia, Shuhaib sebagai pendahulu bangsa Rum, dan Bilal sebagai pendahulu bangsa Habsyi. 

Sedangkan empat orang yang dirindukan oleh surga itu adalah . Amirul Mukminin, ’Ali bin Abu Thalib k.w., Salman, 'Ammar bin Yasir dan Al-Miqdad bin Al-Aswad r.a.

Salim bin Abul Ja'd meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda kepada Fathimah r.a. yang artinya : "Bangkitlah unluk melaksanakan qurbanmu, karena sesungguhnya Allah ta'ala mengampunkan dosa-dosamu pada tetesan pertama dari darah hewan qurban itu”. lmran bin Al-Hushain bertanya . "Apakah khusus bagimu dan anggota keluargamu atau bagi segenap kaum muslimin ?. Beliau bersabda : "Bahkan untuk segenap kaum muslimin".

Dari 'Aisyah r.a. bahwa ia berkata: "Rasulullah saw. bersabda : "Berkurbanlah kamu sekalian dan pilihlah hewan yang baik untuk berkurban itu, karena barangsiapa yang membawa hewan kurbannya pada hari disembelih kemudian ia menghadapkannya ke arah kiblat maka tanduk, kotoran, darah, rambut dan bulu-bulunya nanti pada hari kiamat akan didatangkan kepadanya. Dan sesungguhnya ketika darah itu jatuh ke tanah maka sebenarnya ia jatuh pada simpanan Allah. Belanjakanlah sedikit hartamu niscaya kamu diberi pahala yang banyak".