Advertisement

Advertisement

Melatih Anak Untuk Melanggengkan Zikir Kepada Allah SWT

MARWAHISLAM.net | Durhaka kepada kedua orang tua merupakan perbuatan yang dimurkai Allah swt. dan disukai setan. Oleh karena itu, iblis selalu membisikkan (kejahatan) dan menggoda kita untuk berbuat durhaka terhadap keduanya sehingga menyebabkan kita terjauhkan dari rahmat Allah.

Hanya dengan zikir kepada Allah swt, kita akan mampu mengalahkan tipu daya iblis. Maka kedua orang tua berkewajiban untuk melatih putra-putrinya agar selalu ingat zikir kepada Allah swt. sehingga mereka terjaga dari lingkaran dan jaringan setan.

Dengan zikir hati akan tenang, jauh dari bisikan (kejahatan) setan dan tidak akan terjatuh dalam kejelekan dan durhaka kepada kedua orang tua. Allah swt. berfirman, "Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (ar-Ra’d: 28).

Dan dalam firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." (al-Anfaal - 45).

Melanggengkan Zikir Kepada Allah SWTNabi saw. bersabda, "Saya melihat seorang laki-laki dari umatku terperangkap dalam kepungan setan. Kemudian dia berzikir kepada Allah swt dan akhirnya dia mampu mengusir setan-setan dari dirinya."


Dengan melatih anak-anak untuk memperbanyak memohon ampunan Allah swt. minta perlindungan kepada-Nya dari godaan setan, membaca kalimat Iaa haula walaa quwwata illa billahi 'aliyyil aziim, mengamalkan zikir di waktu pagi dan sore serta melatihnya dengan terus menerus maka mereka akan terjaga dari setan, tidak akan berbuat durhaka kepada kedua orang tua dan akan memotivasi mereka untuk berbakti dan taat kepada keduanya.

Subhanallah walhamdulillah .... agan akan mendapatkan anak-anak yang selalu zikir kepada Allah swt dan berbakti kepada kedua orang tua.  

Artikel di atas berawal dari : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Kedua Orang Tua Harus Mendidik Anak Untuk Mematuhi Syariat Allah SWT

MARWAHISLAM.net | Bagi seorang anak yang selalu mematuhi perintah Allah swt dan senang melakukan amal kebaikan tentu akan mendorongnya menjadi anak yang lebih berbakti kepada kedua Orang tua.

Allah berfirman, "Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat kelak; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (Ibrahim: 27).

"Di dalam kehidupan dunia, Allah swt. meneguhkan iman mereka dengan kebaikan dan amal saleh sedangkan maksud di akhirat adalah di dalam kubur." Begitulah kata Qatadah dan para ulama terdahulu.

Sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua itu termasuk amal saleh yang paling mulia sehingga Allah swt. berjanji akan meneguhkan iman mereka di dunia dan menyelamatkan mereka di akhirat, yaitu orang-orang yang mau berbakti kepada kedua orang tua.

Berbuat amal saleh merupakan bentuk motivasi yang sangat penting untuk berbakti dan taat kepada keduanya. Para orang-orang saleh terdahulu sangat gemar sekali melakukan amal saleh karena mereka mengetahui bahwa melakukan amal saleh merupakan penyebab teguhnya iman dan menjadikan pendorong untuk melakukan amal-amal saleh lain yang lebih banyak lagi.

Mendidik Anak Untuk Mematuhi Syariat Allah SWTSyaddad r.a. berkata, "Ketika kamu memperhatikan salah seorarg melakukan ketaatan, maka ketahuilah bahwa ketaatan tersebut menunjukkan kepada kawan-kawannya (ketaatan-ketaatan) yang lain. Sesungguhnya melakukan satu ketaatan berarti menunjukkan pada kawannya (ketaatan yang lain) dan mengerjakan satu kemaksiatan menunjukkan pada kawannya (kemaksiatan yang lainnya) ."

Allah swt. berfirman, "Adapun orang yang menyumbangkan hartanya di jalan Allah serta bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak Kami akan mempersiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan terhadap pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar." (al-Lail: 5-10).

Seorang anak yang mematuhi perintah Allah swt , memuliakan kedua orang tua dan melakukan amalan yang wajib dan amalan yang sunnah, berarti menunjukkan bahwa dia seorang anak yang sangat senang berbakti kepada kedua orang tua. Karena, hal itu merupakan manifestasi dari bentuk kecintaannya kepada Allah swt. dan akan mengarahkannya untuk melakukan keutamaan-keutamaan yang lain.

Sahabat g+ dan FB tentunya juga pasti menginginkan anak-anak yang berbakti kepada orang tua dan mematuhi perintah Allah SWT.  Untuk itu ikuti terus lanjutan dari artikel ini pada point keduabelas yaitu "Melatih Anak untuk Melanggengkan Zikir Kepada Allah swt". Wassalam dan sampai jumpa !

Ulasan di atas merupakan bagian dari sini dan harus dibaca lebih dahulu yaitu : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Mendidik Anak Untuk Taat dan Melaksanakan Perintah Kedua Orang Tua

MARWAHISLAM.net | Apabila kedua orang tua mau melatih dan mendidik putra-putrinya untuk cinta dan taat perintah kedua Orang tua selagi perintah tersebut tidak melanggar syara' maka niscaya mereka akan melaksanakan perintah tersebut sesuai dengan metode yang benar dan mereka akan berbakti dan menaatinya. Karena taat kepada kedua Orang tua termasuk bagian dari taat kepada Allah swt..

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Ketaatan kepada Allah swt. terdapat di dalam ketaatan terhadap kedua orang tua dan kemaksiatan kepada Allah terdapat di dalam kemaksiatan terhadap keduanya." (HR ath-Thabrani dengan sanad yang baik).

Ketaatan kita kepada seorang ibu mendapatkan bagian tiga perempat dibanding ketaatan kita kepada ayah, karena melakukan maksiat kepada ibu itu lebih dicela dari pada melakukan maksiat kepada ayah. 

Maka, ketika hadits Nabi saw. menyebutkan kalimat al-walid secara otomatis memasukkan kalimat al-walidah.  Dengan alasan bahwa kedudukan seorang ibu itu lebih utama jika dibandingkan dengan kedudukan seorang ayah.

Taat dan Melaksanakan Perintah Kedua Orang Tua

Diriwayatkan dari Abi ad-Darda r.a. bahwa Rasulullah saw. telah berwasiat kepadaku dan bersabda, "Taatlah kamu kepada kedua orang tua dan jika seandainya kedua Orang tuamu menyuruh kamu untuk meninggalkan kesenanganmu di dunia maka lakukanlah demi taat terhadap keduanya." (HR Bukhari dalam kitab al-Adabul mufrad. Hadits ini mempunyai riwayat dan syawahid yang lain).

Oleh karena itu, pendidikan terhadap anak-anak untuk berbakti dan melaksanakan perintah kedua orang tua itu termasuk bentuk motivasi yang sangat penting.

Begitulah gan, kita ketemu di artikel selanjutnya point nasihat kesebelas yaitu tentang "Kedua Orang Tua Harus Mendidik Anak Untuk Mematuhi Syariat Allah swt". Wassalam

Dan .............. mulailah dari : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Harus Ditanamkan Dalam Jiwa Anak Sikap Hormat dan Memuliakan Kedua Orang Tua

MARWAHISLAM.net | Kedua Orang tua wajib memberikan pendidikan kepada anak-anaknya tentang Sikap menghormati dan memuliakan kedua Orang tua sehingga di suatu saat tidak akan terlintas di benak mereka untuk meremehkan atau menghina Orang tua karena keduanya adalah Orang yang mempunyai keutamaan di sisi mereka.

Penanaman pendidikan yang berkaitan dengan sikap menghormati terhadap kedua Orang tua harus diberikan kepada anak dengan sifat yang arif, dengan penuh pemahaman dan tanpa harus berlebihan atau gegabah.

Apabila pendidikan tersebut diberikan kepada anak secara berlebihan (di Iuar batas mendidik yang sewajarnya) maka hubungan anak dan Orang tua akan terhalarig oleh pembatas yang mengakibatkan mereka akan melakukan tindakan yang menyeleweng dari ketentuan yang semestinya. 

Sikap Hormat dan Memuliakan Kedua Orang Tua

Begitu sebaliknya, jika pendidikan tadi diberikan kepada anak secara gegabah (tanpa adanya keseriuan dari kedua Orang tua) maka mereka akan meremehkan kedua Orang tua. Sikap meremehkan ini akan menjadi tabiat dan kebiasaan mereka.

Sungguh bagus syair berikut, "Barangsiapa yang memiliki jiwa yang rendah maka dengan mudah ia dihina, seperti halnya Orang yang telah meninggal tidak akan merasakan rasa sakit jika dilukai."

Karena itu, peranan orang tua dalam mendidik anak sangat penting sekali sehingga mereka menjadi putra-putri yang berbakti, taat dan tidak akan melakukan durhaka kepada keduanya. Demikian juga kedua orang tua harus menanamkan di dalam pribadi mereka tentang peranan kedua orang tua dalam kehidupannya sehingga jiwanya akan selalu mengatakan; 

"Semoga keselamatan diberikan kepada orang yang telah menyebabkan keberadaan kita di dunia dan yang telah memberikan segala keindahan untuk diri kita, keselamatan bagi orang yang telah mempersembahkan segala kebaikan kepada kita dan keselamatan juga kita peruntukkan terhadap orang yang wajib kita taati.

Sehingga Allah swt. menyebutkan bahwa kewajiban ketaatan kita kepada kedua orang setelah kewajban ketaatan kita mengabdi kepada-Nya. Seperti firman Allah swt.,  "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbakti kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya." (al-Israa': 23).

Keselarnatan untuk ibunda yang telah mengandung dan melahirkan kita dalam keadaan susah dan payah. Dia telah rela tidak tidur di waktu malam demi menjaga dan merawat kita. Dia senang atas kebahagiaan kita dan dia susah atas pengaduan yang kita sarnpaikan. 

Kita persembahkan juga keselamatan untuk kedua orang tua. Allah swt telah berwasiat kepada kita untuk mendoakan mereka berdua. Dalam firman-Nya, "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil." (al-Israa': 24).

Sesungguhnya pembelajaran menghormati terhadap kedua Orang tua merupakan faktor pendorong terpenting yang bisa mendidik anak-anak untuk berbakti kepada keduanya, baik ketika kedua Orang tua masih kuat fisiknya ataupun di kala mereka lanjut usia.

Untuk lebih rinci maka harus dibaca : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Wajib Memperingatkan Anak Tentang Bahaya Durhaka dan Akibatnya

MARWAHISLAM.net | Di antara faktor yang mendorong anak-anak mau berbakti kepada kedua Orang tua adalah memperingatkan mereka tentang bahaya durhaka terhadap Orang tua. Sebab apabila mereka tidak tahu, maka mereka akan berbuat durhaka. Penanaman pemahaman ini harus diberikan kepada anak-anak, supaya mereka menjauhinya dan menjaga agar jangan sampai terjadi.

Durhaka termasuk fenomena yang paling berbahaya yang mengancam kebahagiaan seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Maka termasuk hal yang berbahaya apabila seseorang tidak tahu bahaya durhaka, karena seseorang yang tidak tahu kejelekan, dia akan terjatuh ke dalamnya.

Diriwayatkan dari Hudhaifah al-Yaman r.a. dia berkata, "Orang-orang pada bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya tentang kejelekan karena aku khawatir jatuh di dalamnya."

Bahaya Durhaka dan AkibatnyaSungguh bagus syair berikut ini,  "Saya rnengetahui kejelekan bukan untuk berbuat jelek tetapi untuk menjaga dari berbuat jelek dan barangsiapa yang tidak mengetahui kejelekan dari perkara yang baik maka dikhawatirkan dia akan terperangkap ke dalam kejelekan."

Oleh karena itu, berikut ini kami sebutkan beberapa hal tentang bahaya durhaka kepada kedua orang tua agar anak-anak mau menjauhinya dan selamat dari perbuatan yang amat tercela ini.

a. Durhaka Kepada Kedua Orang Tua Termasuk Dosa yang Paling Besar

Diriwayatkan dari Said al-Jurairi, dari Abdir-Rahman bin Abi Bakrah. Dari Abi Bakrah,dia berkata, "Ketika kita berada di samping Rasulullah saw. beliau berkata. 'Ingatlah, saya akan beri tahu kalian semua tentang dosa-dosa yang paling besar (kaIimat ini diulang sampai tiga kali) yaitu berbuat syirik terhadap Allah Swt, durhaka kepada kedua orang tua dan kesaksian palsu atau perkataan bohong. 

Pada waktu itu Rasulullah saw. bersandar kemudian duduk. Rasulullah saw. selalu mengulangi kalimat tersebut sehingga kita sampai mengatakan, "Alangkah baiknya seandainya beliau terdiam." (HR Bukhari dalam Syahadat: 10, al-adab: 6, Muslim dalam bab Iman: 143 dan Ahmad: 3/131).

Dalam surat Nabi saw. yang ditulis untuk penduduk Yaman beliau mengatakan, "Sesungguhnya di antara dosa-dosa yang paling besar menurut Allah swt. di hari kiamat nanti adalah masyrik terhadap Allah swt., membunuh Orang mukmin dengan tanpa salah, melarikan diri dari medan peperangan, durhaka terhadap kedua Orang tua, menuduh zina kepada wanita yang sudah nikah, mempelajari ilmu sihir, makan harta riba, dan makan harta anak yatim." (HR Ibnu Hibban,1ihat Shahih Bukhari bab adab: 6 dan Ahmad: 2/201).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Ibnul-ash ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, "Yang termasuk dosa-dosa besar adalah berbuat syirik kepada Allah swt., durhaka kepada kedua orang tua, membunuh Orang, dan bersumpah palsu."  (HR Bukhari dalam shahihnya bab adab: 6 dan_ Ahmad: 2/201).

Maksud sumpah ghamus ialah sumpah yang menyebabkan terambilnya harta Orang lain dengan cara yang tidak benar. Dinamakan sumpah ghamus karena dengan bersumpah Orang tersebut bisa terjerumus ke dalam api neraka.

b. Orang yang Durhaka Kepada Kedua Orang Tua Akan Mendapatkan Kutukan dari Allah swt.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasalullah bersabda, "Sesungguhnya Allah swt. melaknati tujuh golongan dari langit tingkat tujuh."  Kemudian beliau mengulangi kalimat laknat ini sebanyak tiga kali kepada salah satu di antara mereka dan cukup melaknati setiap salah satu mereka dengan satu laknatan saja. 

Kemudian beliau bersabda, "Akan dilaknati orang-orang yang berbuat seperti perbaatan kaum Luth, akan dilaknati orang-orang yang menyembelih dengan atas nama selain Allah swt, akan dilaknati orang-orang yang durhaka terhadap kedua orang tua, dan akan dilaknati orang-orang yang mengubah batas tanah." (HR ath-Thabrani dan Hakim).

Diriwayatkan bahwa dikatakan kepada Ali r.a., "Wahai Ali bin Abi Thalib r.a. berilah kami sedikit kabar yang dirahasiakan Rasulullah kepada kamu ?" 

Kemudian Ali berkata, "Rasulullah saw. tidak pernah merahasiakan sesuatu, yang disembunyikan kepada manusia tetapi aku mendengarnya. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah swt. Melaknat orang-orang yang memaki kedua orang tuanya, melaknat orang-orang yang mangubah batas-batas tanah, dan orang yang memberi perlindungan kepada seseorang yang berbuat maksiat." (HR Ahmad dalam Musnad: 1/108, 309).

c. Orang yang Durhaka Tidak Akan Masuk Surga

Durhaka kepada kedua orang tua termasuk perbuatan dosa yang sangat berbahaya karena pelakunya akan terhalang untuk masuk surga.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Ada empat kelompok di mana Allah swt. berhak untuk tidak memasukkan mereka ke dalam surga dan tidak akan memberikan nikmatnya kepada mereka.  Mereka adalah pecandu minuman arak, orang yang memakan harta riba, orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak benar dan orang yang durhaka kepada kedua orang tua." (HR Hakim dan dishahihkannya).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ibnul-ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Ada tiga golongan yang Allah Swt mengharamkannya masuk surga, mereka adalah pecandu minuman arak, orang yang durhaka kepada kedua orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu terhadap keluarga merelakan adanya maksiat oleh keluarga tersebut." (HR Ahmad dalam Musnad: 2/134 dan Nasa’i dalam Sunannya bab zakat: 69).

d. Durhaka Kepada Kedua Orang Tua Menyebabkan Amal Saleh Kita Tidak Diterima

Di antara bahayanya durhaka seorang anak terhadap kedua orang tua, yaitu bisa menyebabkan amal-amal saleh anak tersebut tidak diterima oleh Allah swt.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tidak akan di terima shalatnya seorang anak yang benci terhadap kedua orang tuanya sedangkan kedua orang tuanya tidak pernah berbuat zalim kepadanya." (HR Abul-Hasan Ma'ruf).

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Ada tiga golongan yang Allah swt. tidak akan menerima sharf dan adlu-nya, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tua, orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikan, dan orang yang mendustakan terhadap takdir." (HR Ibnu Ashim dalam kitab as-sunnah).

Ibnul-Atsir mengatakan sharf, artinya ’perbuatan tobat, sedangkan menurut sebagian pendapat yang lain artinya ‘amalan sunnah’. Adapun adl, artinya ’tebusan’, sedangkan menurut riwayat yang lain artinya ’amalan wajib’.

e. Durhaka Kepada Kedua Orang Tua Bisa Mempercepat Balasan di Dunia

Di samping siksa yang akan diterima di akhirat nanti seorang anak yang durhaka juga akan menerima pembalasan di dunia.

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah saw bersabda, "Ada lima golongan yang Allah swt. akan mempercepat pembalasannya di dunia, mereka adalah pelacur, pengkhianat, orang yang durhaka kepada kedua orang tua, orang yang memutuskan tali persaudaman, dan orang yang diberikan kebaikan tetapi dia tidak pandai bersyukur." (HR Ibnu Lal dalam Makaarimul akhlaaq).

Diriwayatkan dari Aisyah binti Thalhah, dari Aisyah Ummul-Mu'minin bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Amal baik yang paling cepat mendapatkan balasan pahala adalah berbakti kepada kedua orang tua dan bersilaturrahmi. Sedangkan amal jelek yang paling cepat mendapat balasan siksa adalah melakukan perbuatan kezaliman dan memutus tali persaudaraan." (HR Tirmidzi dalam Sunannya dan Ibnu Maajah dalam Sunannya bab zuhud: 34).

Tidak diragukan lagi, apabila kedua Orang tua telah memberikan peringatan kepada anak-anaknya akan bahaya durhaka terhadap kedua Orang tua, maka mereka akan berusaha menjauhi dan tidak akan melakukannya sehingga mereka tidak terkena dosanya dan mereka akan menjadi anak yang baik dan berbakti kepada Orang tua, baik di waktu mereka masih kecil maupun setelah mereka tua.

Sampai jumpa di artikel yang sama dengan point kesembilan yaitu "Harus Menanamkan Dalam Jiwa Anak Sikap Hormat dan Memuliakan Kedua Orang Tua".

Inilah bagian pokok yang harus dibaca : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Wajib Menjelaskan Kepada Anak Tentang Makna Durhaka Kepada Orang Tua

MARWAHISLAM.net | Merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh kedua Orang tua kepada anaknya untuk memberikan penjelasan tentang makna durhaka terhadap Orang tua.

Maksud dari durhaka adalah keluar dari ketaatan terhadap kedua Orang tua, melakukan maksiat, meninggalkan hak-haknya dan menyakitinya, baik dengan perkataan atau perbuatan. Juga kita harus mengajarkan bahwa Allah swt. melarang kita berbuat durhaka, Allah swt. berfirman,

"....Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka...." (al-Israa’: 23).

Imam Alusi, pengarang kitab Ruhul Ma'aani, berkata ; "Maksudnya kepada salah satu di antara kedua Orang tua, baik ketika kedua Orang tua masih hidup semua atau hanya tinggal salah satunya saja." 

Pada intinya kita tidak boleh membuat gelisah mereka dengan perkataan yang kotor dan membebani kebutuhan hidupnya. Secara qiyas jali larangan berkata "Ah"’ berarti melarang segala bentuk yang menyakitkan karena termasuk kategori mafhum aula, juga disebut mafhum muwafaqah, dilalah an-Nash, dan fatwal khithab.

MAKNA DURHAKA KEPADA ORANG TUA

Baca juga : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Maksud firman Allah swt. yang berbunyi, "Dan janganlah kamu membentak merera" adalah kita dilarang berkata kasar terhadap mereka.  Pengarang kitab al-Kasyaf mengatakan bahwa mencegah, membentak, dan menghardik itu termasuk dalam satu jenis yang dilarang.

Maksudnya, janganlah kamu mencegah perbuatan yang orang tua kerjakan walaupun perbuatan tersebut tidak kamu senangi.

Dalam kitab Ruuhul Ma'aani dijelaskan bahwa maksud dari firman Allah, "Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan "Ah" adalah kita dilarang menggelisahkan mereka baik dalam skala kecil atau besar. Sedangkan maksud dari firman Allah swt., "Dan janganlah kamu membentak mereka" adalah kita dilarang untuk menentang dan berdusta terhadap mereka.

Allah swt. mengancam dengan ancaman yang pedih kepada orang-orang yang berbuat jelek kepada orang tuanya, walaupun kejelekan itu kecil dan orang-orang yang mengatakan "Ah" kepada mereka. Allah swt. berfirman,

"Dan orang-orang berkata kepada dua orang ibu bapakmu 'Cis' bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya mengingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa abat sebelumku, lalu kedua ibu bapaknya memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, ’Celaka kamu, berimanlah.’ Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar...."(al-Ahqaaf:17).

Diriwayatkan dari Mughirah bin asy-Syu'bah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah swt. telah mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada para ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, tidak mau memberikan sesuatu yang semestinya ia keluarkan dari meminta sesuatu yang ia tidak berhak menerimanya. Dan membenci tiga hal yaitu banyak berbicara dan banyak bertanya dan menghamburkan harta benda." (HR Bukhari dalam shahihnya bab ar-riqaq: 22, al-I’tisham: 3, Muslim dalam Aqdhiyah: 11, 14, ad-Darimi dalam ar-riqaq: 28 dan Ahmad dalam Musnad: 4/24).

Apabila kita melarang mereka berbuat durhaka maka mereka pun akan menjauhinya. Perintahlah mereka berbakti dan ketaatan, niscaya mereka akan menjadi orang-orang yang baik dan saleh.

Orang Tua Harus Mengajarkan Anak Tentang Buah Keutamaan Berbakti Kepadanya

MARWAHISLAM.net | Apabila kedua Orang tua sering menjelaskan kepada anak-anak mereka tentang buah keutamaan berbakti terhadap kedua Orang tua, niscaya akan menjadi pendorong bagi anak-anak untuk melaksanakannya dengan senang hati tanpa rasa malas atau menganggap remeh masalah ini.

Banyak ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi saw. yang memerintahkan untuk berbakti kepada kedua Orang tua, sekaligus menjelaskan keutamaan yang bisa diperoleh. Sungguh ketaatan kepada mereka berdua membuahkan keuntungan di dunia dan di akhirat.  Di antara keuntungan yang terpenting yang bisa diperoleh adalah sebagai berikut ;

a. Memberikan Berkah Dalam Kehidupan dan Rezeki Yang Luas 

Seorang anak yang berbakti akan selalu mendapatkan berkah dan rezeki yang luas.  Dengan ketaatan, sesuatu yang kecil bisa menjadi besar, yang hina bisa menjadi mulia dan yang jelek bisa menjadi baik.  Semua itu disebabkan adanya berkah yang diturunkan Allah swt. terhadap anak yang berbakti kepada kedua orang tua.

Buah Keutamaan Berbakti Kepada Orangtua

Diriwayatkan dari Anas bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang berbakti kepada kedua orang tua, maka dia akan mendapat kebahagiaan dan Allah swt. akan menambah umurnya". (HR Bukhari dalam shahihnya bab adab: 5 dan Abu Ya'la).

Diriwayatkan dari Tsauban r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba terhalang dari rezeki dikarenakan dosa yang dilakukan, seorang hamba tidak bisa menolak takdir kecuali dengan doa, dan umurnya tidak akan bisa bertambah kecuali dengan berbakti terhadap kedua orang tua". (HR Ahmad dalam musnad: 5/277, 280, Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Hakim).

Menurut para ulama, yang dimaksud dengan bertambahnya umur di dalam hadits di atas adalah makna hakikatnya (makna yang sebenarnya). Ada sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud bertambahnya umur di dalam hadits di atas adalah melambangkan keberkahan umur seseorang atau menjadikan citra dirinya harum semerbak (selalu dikenang manis sepanjang zaman).

b. Berbakti kepada Kedua Orang Tua Menjadi Salah Satu Sebab Ketaatan Anak-Anak Kita Nanti

Barangsiapa yang berbakti kepada kedua Orang tua, maka anak-anaknya kelak akan menaati dia karena pembalasan amal itu disesuaikan dengan jenis amal yang telah dilakukan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda, "Jagalah dirimu dari berbuat jelek terhadap istri-istri orang lain, maka istri-istrimu akan menjaga dirinya".

Berbaktilah kepada kedua orang tua, maka anak-anakmu nanti akan berbakti kepadamu dan barangsiapa didatangi saudaranya dengan membawa pedang terhunus maka dia harus menyambutnya, baik dia itu benar ataupun salah.   Barangsiapa tidak melakukan hal itu maka dia tidak akan masuk ke telaga surga." (HR Hakim dalam Mustadrak kemudian dishahihkannya dan Thabrani dalam al-Ausath).

Barangsiapa yang durhaka atau membentak kedua orang tua maka kelak anak-anaknya juga akan durhaka dan melakukan hal sama terhadapnya.

Diriwayatkan dari Tsabit al-Bannani, dia berkata,  "Saya pernah melihat di suatu tempat seorang anak laki-laki menyeret ayahnya, kemudian ayah tadi ditanya, "Apa-apaan ini ?" Kemudian ayah tersebut menjawab, "Biarkan dia menyeret aku karena aku dulu pernah menyeret ayahku di tempat ini juga sehingga di tempat inilah aku sekarang diseret anakku."

Baca juga ;  Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

c. Berbakti Kepada Orang Tua Bisa Menyebabkan Masuk Surga

Di antara sebab terpenting yang bisa mengantarkan kita masuk surga setelah kita beriman kepada Allah swt. adalah ketaatan kita kepada kedua orang tua.

Melakukan ketaatan, melakukan kebaikan-kebaikan yang bisa mendekatkan kepada Allah swt. berbakti kepada kedua orang tua dan lain-lainnya merupakan syarat diterimanya iman kepada Allah swt.  Oleh karena itu setiap sedekah atau amal baik yang lain tanpa didasari dengan keimanan kepada-Nya, tentu tidak akan diterima.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Ketika saya masuk surga, saya mendengar adanya bacaan, kemudian saya bertanya siapa pembacanya ?.  Kemudian mereka (para malaikat) menjawab,

Pembacanya adalah Haritsah bin Nu'man. Kemudian Rasulullah bersabda, 'Begitulah contoh orang yang berbakti kepada orang tuanya.'  Haritsah bin Nu'man dulunya adalah orang yang sangat berbakti kepada ibunya." (HR Hakim kemudian dishahihkannya dan Nasa’i dalam Sunannya).

Imam Ahmad dalam kitab Musnad meriwayatkannya dengan kalimat, "Haristah bin Nu'man adalah orang yang paling berbakti dengan ibunya."

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Hina dan rugi, hina dan rugi, hina dan rugi." Kemudian Rasulullah saw. ditanya, "Siapakah dia, wahai Rasulullah ?" 

Kemudian beliau menjawab, "Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya dalam keadaan lanjut usia, tetapi ia tidak mempergauli keduanya dengan baik maka ia tidak bisa masuk surga." (HR Ahmad dalam Musnad: 2/246 dan Muslim dalam shahihnya bab al-birr 8).

Menurut Imam Nawawi, hadits ini menganjurkan kepada kita untuk berbakti kepada kedua orang tua karena pahala berbakti kepada keduanya sangat besar sekali. Sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua seperti membantu, merawat, memberikan nafkah, dan lainnya ketika mereka lanjut usia termasuk sebab yang mengantarkan kita masuk surga.

Maka, barangsiapa yang menyia-nyiakan kesempatan ini, dia akan terhalang untuk masuk surga dan Allah swt. akan memusuhinya.  Berbakti kepada Kedua Orang Tua Menjadikan Sebab Dosa Kita Diampuni dan Doa Kita Terkabulkan.

Berbakti kepada kedua Orang tua termasuk amal yang paling baik yang bisa mendekatkan diri kepada Allah swt. dan juga termasuk amal yang bisa menghapus dosa dan maksiat.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. kemudian bertanya, "Saya telah melakukan perbuatan dosa besar, apakah masih ada pintu tobat bagiku ?" Kemudlan beliau bertanya, "Apakah kamu masih mempunyai kedua Orang tua?"

Lalu dia menjawab, "Tidak." Kemudian Rasulullah saw. bertanya lagi, "Apakah kamu masih mempunyai bibi perempuan ?" Lalu dia menjawab, "Ya." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Berbaktilah kepadanya." (HR Tirmidzi dalam Sunan-nya bab al-birr: 6, Ahmad dalam Musnad: 2/14, Ibnu Hibban dalam shahihnya dan hadits ini dishahihkan Hakim).

lmam Ahmad berkata, "Berbakti kepada kedua Orang tua merupakan perantara untuk menghapus dosa-dosa besar, doa mudah terkabulkan dan segala kesulitan bisa menjadi lapang, seperti kisah orang-orang yang berada dalam gua."

Jlka kita benar-benar mendidik dan menanamkan dasar-dasar ajaran ini dan juga menerangkan tentang faedah-faedahnya maka anak-anak kita akan berperilaku dengan baik, selalu taat dan menjauhi tindakan durhaka dan maksiat.

Mengajarkan Anak Bentuk Berbakti Kepada Orang Tua Dalam Kehidupan Sehari-hari

MARWAHISLAM.net | Terkadang sebagian anak ingin menyenangkan kedua Orang tuanya dan berbakti kepada keduanya, tapi mereka tak tahu bagaimana bentuk berbakti yang benar, oleh karena itu kedua Orang tua harus menjelaskan kepada anak-anak mereka tentang bentuk-bentuk bakti kepada Orang tua dan menunjukkan kepada mereka apa yang membahagiakan orang tua dan apa yang membuat Orang tua murka, sehingga dengan itu mereka menempuh jalan bakti dengan mudah dan tanpa kesulitan.

Para ulama telah menjelaskan bahwa bakti adalah kumpulan kebaikan dan mengandung makna memberikan kebaikan bagi kedua Orang tua, menghadirkan kebahagiaan kepada keduanya, serta tak melakukan segala hal yang dapat membuat keduanya sedih, atau membuat keduanya murka, selama hal itu jauh dari kemaksiatan kepada Allah swt.

Ulama yang lain berkata bahwa berbakti itu adalah suatu yang mudah, yaitu antara lain dengan berwajah ceria, berkata lembut, tak melakukan aniaya, berusaha mendatangkan kebahagiaan, menghilangkan kesedihan dari hati dan berusaha untuk taat.

Bentuk Berbakti Kepada Orang Tua Dalam Kehidupan Sehari-hari

Para ulama mengatakan bahwa bentuk berbakti seorang anak terhadap kedua orang tua dapat terwujud dalam beberapa hal.  Di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut :

a. Patuh dan Taat kepada Kedua Orang Tua 

Patuh dan taat kepada kedua orang tua merupakan salah satu bentuk berbakti kepada orang tua yang paling utama, selama tidak untuk melakukan tindakan maksiat terhadap Allah swt.  Karena hakikat taat harus terwujudkan dalam setiap perkara yang baik. Dalam sebuah hadlts  Rasulullah saw. bersabda, "Tiada kewajiban mentaati perintah makhluk untuk berbuat maksiat kepada Sang Pencipta."

Dlriwayatkan dari Abud-Darda r.a., dia berkata, "Rasulullah saw. telah berwasiat kepadaku tentang sembilan perkara, "Janganlah kamu menyekutukan Allah swt. dengan sesuatu apapun, tetaplah pada keyakinan ini meskipun kamu akan menerima siksaan seperti dipotong atau dibakar dalam mempertahankannya, jangan sekali-kali meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja, karena barangsiapa berani meninggalkannya dengan sengaja, maka dia telah terbebas dari tanggungan agama, jangan sekali-kali minum minuman keras karena sesungguhnya minuman keras merupakan sumber segala kejelekan, 

patuhlah terhadap perintah kedua Orang tua walaupun misalnya mereka memerintahkanmu untuk keluar dari kesenangan kehidupanmu sekarang, maka keluarlah kamu untuk mereka, janganlah menentang para penguasa sekalipun kamu beranggapan bahwa pendapatmu yang paling benar, janganlah meIarikan diri dari peperangan sekalipun akan berakibat pada kematian, hormatilah kawan-kawanmu, berilah nafkah keluargamu dari rezeki yang kamu miliki, janganlah berbuat sewenang-wenang terhadap mereka dan didiklah mereka untuk takut kepada Allah." (HR Bukhari dalam kitab al-adaabul mufrad). 

b. Kewajiban Memberi Nafkah kepada Keduanya 

Merupakan kewajiban seorang anak yang berbakti kepada Orang tuanya untuk memberikan nafkah kepada mereka berdua. Bahkan bukan sekadar itu saja, para ulama menegaskan bahwa Orang tua berhak mengambil harta anaknya sesuai kadar yang dibutuhkannya, walaupun tanpa mendapatkan izin terlebih dahulu darinya. Allah swt. berfirman, "......Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik...." (Luqman: 15).

Oleh karena itu, berbaktilah terhadap keduanya, yaitu dengan memberikan nafkah dan janganlah bersikap bakhil.  Diriwayatkan dari Asma binti Abi Bakar ash-Shiddiq, ia berkata, "Suatu ketika ibuku datang kepadaku, sedangkan beliau adalah seorang wanita musyrik di masa Rasulullah saw.. 

Kemudian aku bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai masalah ini, saya berkata kepada Rasulullah saw, "Namun ibuku adalah orang yang tidak senang terhadap Islam," 'mungkinkah aku bisa menyambung tali silaturrahim terhadapnya ?’ Kemudian Rasulullah saw. menjawab, ’Ya, sambunglah tali silaturrahim kepada ibumu." (HR Bukhari dalam shahihnya bab hibah: 29, Muslim dalam bab zakat: 50, Ahmad dalam kitab Musnad, 6/344).

lbnu Uyainah berkata, "Selaras dengan masalah ini, Allah swt. menurunkan ayat, "Allah tiada melarang kamu untuk berbakti dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.  Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (al-Mum-tahanah: 8). 

Dia bukan orang yang senang terhadap Islam, tetapi ia menginginkan harta Asma binti Abi Bakar. Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya ra. sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi saw, kemudian bertanya, 

"Sesungguhnya aku mempunyai harta dan anak-anak, tetapi orang tuaku membutuhkan hartaku tersebut ?" Salanjutnya Rasul bersabda,  "Kamu dan hartamu adalah milik kedua orang tuamu, sesungguhnya anak-anakmu adalah hasil yang paling baik bagimu, maka makanlah dari hasil usaha anak-anakmu."   (HR Ahmad dalam kitab Musnad: 2/179, Abu Dawud dalam Sunan-nya, bab jual beli: 77).

c. Minta Izin Terlebih Dahulu Kepada Kedua Orang Tua Sebelum Masuk

Bagi seorang anak yang hendak masuk ke kamar kedua orang tuanya maka ia wajib meminta izin terlebih dahulu.  Suatu ketika seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hudzaifah ibnul Yaman r.a., "Apakah aku harus minta izin terlebih dahulu kepada ibuku ?"  Kemudian Hudzaifah menjawab, "Apabila kamu tidak minta izin terlebih dahulu maka kamu akan melihat sesuatu yang tidak kamu senangi."

d. Berdiri untuk Menghormati dan Bersikap Lembut Kepada Orang Tua 

Di antara tindakan yang terpuji ketika kedua orang tua baru datang ialah berdiri, menampakkan kegembiraan dan bersikap lembut.  Kita tidak boleh memanggil dengan nama aslinya, tidak boleh berjalan di depannya kecuali dalam keadaan darurat, tidak boleh mengusik ketenangannya di waktu tidur dan istirahat.  Dan, ketika kedua orang tua sedang marah maka seorang anak harus bersikap tunduk dan lembut terhadapnya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa berdiri untuk menyambut orang tua ketika baru datang merupakan perwujudan nilai dari berbakti, hormat, tawadhu dan patuh terhadapnya. Perilaku ini mencerminkan sifat senang dan cinta seorang anak kepada orang tnanya.

Sikap seperti ini sebagai salah satu cara untuk membalas jasa yang telah mereka berdua lakukan. Mereka telah mendidik kita semenjak kecil dan rela tidak tidur di malam hari demi menjaga dan merawat kita dengan baik. 

Mengingat betapa besarnya hak kedua orang tua terhadap anaknya maka Allah swt. memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya diikuti dengan perintah syukur kepada orang tua. Selanjutnya, Allah swt. Memerintahkan untuk bersikap tawadhu dan selalu menaati perintah keduanya. 

Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar mengatakan, "Menurut pendapat yang saya pilih, memuliakan orang yang baru datang dengan berdiri hukumnya sunnah jika orang tersebut mempunyai sifat keutamaan seperti ilmu, kesalehan, kemuliaan dan kedudukan yang terjaga, atau dengan orang yang memiliki hubungan, baik hubungan anak atau dengan orang yang lebih tua yang memiliki hubungan kerabat dan sebagainya.

Tindakan yang dilakukan dengan berdiri hanya bertujuan untuk berbakti dan memberi penghormatan, bukan untuk pamer dan membanggakan diri. Pendapat yang aku pilih ini dilakukan secara terus-menerus, baik oleh orang-orang terdahulu maupun orang sekarang."

e. Meminta Kerelaan Orang Tua di Saat Anak Sibuk dan Tidak Bisa Melayaninya 

Termasuk bentuk berbakti kepada orang tua adalah meminta kerelaan kepada orang tua di saat akan mengerjakan kesibukan yang menyebabkan si anak tidak bisa melayani dan memberikan perhatian kepada mereka berdua. 

Karena di antara kewajiban seorang anak terhadap orang tuanya adalah berusaha membuat orang tua sayang dan senang kepadanya, membantu, memberikan perhatian dan pelayanan dengan baik serta meminta kerelaan kepada orang tuanya jika hendak melakukan kegiatan apapun, yang menyita waktunya, sehingga dia tidak bisa memberi perawatan dan perhatian kepada orang tua dengan semestinya. 

Kecuali jika hendak melakukan perbuatan yang wajib, seperti shalat lima waktu atau kewajiban yang lainnya, maka tidak perlu meminta kerelaan orang tua. 

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a. bahwa seorang laki-laki berasal dari penduduk Yaman berhijrah dan ingin berjihad bersama Rasulullah saw.. Kemudian Rasul bertanya, "Apakah kamu masih mempunyai seseorang (keluarga) di Yaman ?" Laki-laki itu menjawab, "Kedua orang tuaku." Lalu Nabi saw. bertanya :

"Apakah mereka mengizinkanmu ?" Kemudian dia menjawab "Tidak." Selanjutnya Rasulullah saw. berkata ; Kembalilah dan mintalah izin terlebih dahulu, apabila mereka memberikan izin maka kamu boleh berjihad. Namun sebaliknya, jika keduanya tidak mengizinkanmu, maka berbaktilah terhadap mereka." (HR Abu Dawud bab jihad: 2168).

Imam Nawawi memberikan komentar hadits di atas dengan mengatakan bahwa hukum jihad bisa menjadi haram apabila dilakukan oleh seorang anak yang tidak mendapat izin dari kedua orang tuanya.

Selanjutnya dia berkata, "Para ulama menjelaskan, apabila kedua orang tuanya muslim, maka dia harus meminta izin kepada keduanya, atau meminta izin kepada orang tua yang muslim saja, apabila salah satunya ada yang musyrik.  Dan jika keduanya musyrik maka menurut pendapat Imam Syafi'i dan ulama yang sependapat dengannya mengatakan bahwa tidak disyaratkan untuk meminta izin terlebih dahulu."

Berbeda dengan ats-Tsauri yang berpendapat bahwa selama dia belum masuk dalam barisan peperangan dan hukum jihad belum menjadi fardhu 'ain maka beliau mensyaratkan untuk meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua.

Sebaliknya, jika dia sudah masuk dalam barisan peperangan dan hukum jihad tersebut adalah fardhu 'ain maka jihad diperbolehkan baginya tanpa harus meminta izin terlebih dahulu kepada mereka.

Dengan demikian, melakukan perbuatan yang sunnah, seperti shalat atau puasa, hingga melalaikan berbakti kepada kedua orang tua, hukumnya tidak diperbolehkan kecuali sudah mendapatkan izin dari mereka.

Dan jika si anak tetap melakukan perbuatan tersebut, sedangkan kedua orang tuanya marah maka dia termasuk melakukan perbuatan maksiat dan durhaka.

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada al-Hasan r.a. mengenai masalah ibunya yang menyuruhnya untuk membatalkan puasa (yang dimaksudkan adalah puasa sunnah) kemudian al-Hasan menjawab laki-laki tersebut untuk membatalkan puasanya dan dia tidak wajib mengqadhanya tetapi, dia masih mendapat pahala puasanya. 

Lain halnya, jika ibu tadi melarang agar tidak melakukan shalat wajib maka tiada ketaatan baginya, karena melakukan shalat hukumnya fardhu. 

Mujahid pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang sedang shalat, kemudian bapak atau ibunya memanggil dia, kemudian Mujahid berkata, "Dia wajib menjawab panggilan tersebut walaupun dalam keadaan shalat (maksudnya hanya dalam shalat sunnah saja bukan yang lain)."

Baca juga : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

f. Mengikuti Pendapat Kedua Orang Tua Apabila Terjadi Perbedaan Pendapat

Dalam musyawarah keluarga, mungkin bisa terjadi perbedaan pendapat antara anak dan kedua orang tua.  Ketika hal ini terjadi, maka sikap seorang anak harus mengalah dan mengikuti pendapat kedua orang tua. 

Jika dia telah bersumpah untuk melakukan pendapatnya tersebut, maka ia harus mengesampingkannya dan tetap menjalankan pendapat kedua orang tua, kemudian ia membayar kafarat atas sumpah yang diucapkan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Demi Allah, jika salah satu diantara kalian tetap berpegang teguh dengan sumpahnya atas keluarganya, maka dia itu lebih berdosa disisi Allah Swt. Daripada jika dia memberikan kafarat yang telah diwajibkan oleh Allah."(HR Ahmad dalam Musnad: 2/317).

Makna hadits di atas menurut Imam Nawawi (semoga Allah swt. memberikan rahmat-Nya) ialah apabila seseorang mengucapkan kalimat sumpah yang berkaitan dengan keluarganya dan sumpah tersebut akan menimbulkan petaka jika tidak dilanggar, maka dia harus melanggar sumpahnya dan membayar kafarat.

Menerjang sumpah dalam keadaan ini bukan termasuk perbuatan maksiat.  Oleh karena itu, jika dia tetap tidak mau menerjang sumpahnya tersebut karena ia tetap berpegang bahwa menerjang sumpah itu merupakan perbuatan dosa maka dia telah melakukan kesalahan dengan anggapan tersebut.

Sebab dosa orang yang tetap pada pendirian sumpahnya hingga mengakibatkan petaka pada keluarganya itu lebih besar daripada melanggar sumpah.

g. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Setelah Meninggal

Berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya terbatas ketika mereka masih hidup saja, tetapi berlanjut sampai keduanya meninggal.

Diriwayatkan dari Abu Usaid Malik ibnu Rabi’ah as-Sa'idi, ia berkata, "Ketika kita duduk bersama di samping Rasulullah saw. tiba-tiba datang seorang laki-laki dari bani Salamah dan berkata, ’Wahai Rasulullah, masih adakah amalan yang harus saya lakukan untuk berbakti kepada bapak dan ibu setelah mereka meninggal ?’ 

Kemudian beliau menjawab, 'Ya, yaitu mengerjakan shalat untuk kedua orang tua (maksudnya mendoaka kedua orang tua atau meshalati jenazahnya), memohon ampunan atas segala dosanya, melaksanakan janji mereka setelah mereka meninggal, meneruskan tali silaturrahim yang pernah dilakukan orang tua ketika masih hidup, dan memuliakan kawan-kawannya." (HR Abu Dawud dalam Sunan-nya dan Ahmad dalam Musnad: 3/498).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik sesungguhnya Nabi Muhammad saw. bersabda, "Seorang hamba berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya sampai kedua orang tuanya atau salah satunya meninggal dunia. Lalu dia terus berdoa memintakan ampunan untuk kedua orang tuanya, sehingga akhirnya Allah swt. mencatatnya sebagai anak yang berbakti."  (HR Baihaqi dalam Syu’abul Iiman). 

Diriwayatkan dari Malik bin Zararah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Meminta ampunan yang dilakukan oleh seorang anak untuk kedua orang tuanya setelah keduanya meninggal adalah termasuk bentuk berbakti kepada orang tua."  (HR Ibnu an-Najjar).

Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasalullah saw bersabda, "Barangsiapa yang menziarahi kabur kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jum'at, maka Allah swt. Akan mengampuni dosanya dan mencatatnya sebagai anak yang berbakti."  (HR ath-Thabrani dalam al-Ausath). 

h. Menjalin Tali Persaudaraan Dengan Sahabat Kedua Orang Tua

Di antara cara berbakti kepada kedua orang tua setelah meninggal adalah menjalin kembali tali persaudaraan dan berziarah kepada sahabat orang tua.

Diriwayatkan, dari Abu Burdah r.a., dia berkata, "Saya pernah berkunjung ke Madinah, kemudian Abdullah bin Umar r.a. mendatangiku dan berkata ; ’Tahukah kamu mengapa aku mendatangimu ?’" Kemudian Abu Burdah menjawab, "Tidak."  Kemudian Abdullah bin Umar berkata, "Rasulullah saw. pernah bersabda, 

'Barangsiapa yang ingin menjalin hubangan dengan orang tuanya di dalam kubur, maka dia harus meneruskan tali persaudaraan dengan kawan-kawan kedua orang tuanya setelah mereka meninggal.

Ketahuilah bahwa antara ayahku, yaitu Umar dengan ayahmu, (ada hubungan persaudaraan dan kasih sayang maka aku ingin meneruskan ikatan tersebut.’" (HR Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dan Abdur Razaq dalam kitab Mushannaf-nya.).

i. Mendoakan Kedua Orang Tua

Mendoakan kedua Orang tua termasuk salah satu bentuk berbakti kepada orang tua karena Allah swt. berfirman,  "Dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya."  (al-Isra’: 24).

Kalimat perintah dalam ayat di atas menunjukkan arti wajib.  Oleh karena itu, menurut para ulama, mendoakan kedua Orang tua secara terus-menerus hukumnya wajib sebab keutamaan Orang tua di sisi anak-anaknya sangatlah besar sekali.

Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya tentang kuantitas doa yang harus dilakukan oleh seorang anak untuk kedua orang tuanya, berapa kalikah dalam sehari, sebulan, atau setahun ?. 

Kemudian beliau menjawab, "Saya mengharapkan supaya Orang tua didoakan dalam setiap tahiyyat akhir shalat."  Sebagian para tabi'in berkata,  "Barangsiapa mendoakan kedua Orang tuanya sebanyak lima kali, maka sungguh dia telah melaksanakan hak orang tuanya dalam doa." Hal ini dikatakan juga oleh para ulama karena Allah swt. berfirman, 

"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (Luqman: 14).

Syukur kepada Allah swt. adalah dengan cara melakukan shalat lima waktu sehari semalam. Sedangkan syukur kepada kedua orang tua adalah dengan cara mendoakannya sebanyak lima kali sehari semalam. 

Tidak diragukan lagi, ketika kita telah mengajarkan anak-anak kita berbagai cara berbakti kepada orang tua dan menjelaskan jalan yang baik maka kita telah memberikan mereka jalan yang terang dan menghilangkan rintangan yang ada di jalan. 

Sehingga mereka rnenjadi orang yang benar-benar dapat mewujudkan arti berbakti kepada kedua orang tua, tanpa mengalami hambatan yang berarti. Akhirnya, mereka tidak akan tersesat di jalan dan kehilangan landasan berpijak sehingga mereka akan menjadi buah hati dan kesayangan kedua orang tua. 

Terkadang ada orang yang bertanya, "Mengapa banyak anak-anak yang sudah tahu cara berbakti kepada orang tua tetapi mereka masih saja berbuat durhaka kepadanya ?".

Maka, kita menjawabnya, "Fenomena seperti ini jarang sekali dan kami akan selalu mengatakan kepada orang-orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya dengan alasan ketidaktahuan mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah termasuk perbuatan durhaka. Kami akan selalu mengatakan kepada mereka bahwa apa yang mereka lakukan tersebut adalah termasuk perbuatan durhaka kepada Orang tua."

Seorang penyair berkata, "Apabila kamu tidak tahu maka itu suatu musibah dan apabila kamu sudah tahu maka itu adalah musibah yang lebih besar".

Wajib Mengajarkan Anak Bentuk Berbakti Kepada Orang Tua Mengikuti Sejarah Kehidupan Orang Saleh

MARWAHISLAM.net | Jika kita ingin mendapatkan bakti anak-anak kita kepada Orang tuanya, ketika mereka besar dan menjadi dewasa, maka kita harus mengajarkan mereka dan menceritakan kepada mereka beberapa bentuk bakti kepada kedua Orang tua dalam kehidupan orang saleh.

Karena, hal itu akan mendorong mereka untuk berbakti kepada mereka, membuat mereka taat dan tunduk kepada kedua Orang tua. Ini adalah satu prinsip yang besar dari prinsip-prinsip pendidikan yang benar.  Karena cerita merupakan salah satu dasar pendidikan dan salah satu faktor yang penting.

Orang-orang Saleh pada zaman dahulu mengetahui bahwa seorang anak sejauh apa pun ia berusaha untuk membalas jasa kedua Orang tuanya, melakukan kebaikan bagi keduanya dan taat kepada keduanya, niscaya ia tak mampu membalas semua jasa Orang tuanya yang diberikan kepadanya saat ia kecil dan tak berdaya.

Kemudian meletakkan hadits Nabi saw. di mata dan hati mereka untuk mereka ambil pelajaran darinya dan mereka terapkan dalam kehidupan mereka. Sehingga hadits Nabi saw itu menjadi manhaj kehidupan dan penerang jalan bagi mereka.

Berbakti Kepada Orang Tua Mengikuti Sejarah Kehidupan Orang SalehNabi saw. telah menjelaskan tentang betapa besarnya jasa kedua Orang tua terhadap anak-anaknya. Hal itu agar anak-anak menyadari tentang keharusan berbakti kepada keduanya dan melakukan hal itu secara terus menerus. 

Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Seorang anak tak dapat membalas jasa orang tuanya kecuali jika orang tuanya ia dapati menjadi budak kemudian ia membelinya dan membebaskannya."

Hadits ini mengingatkan anak-anak tentang keharusan berbakti kepada kedua orang tuanya. Hal itu mengingat keutamaan keduanya yang besar. Sang ibu telah menanggungnya saat hamil selama sembilan bulan dengan penuh kesulitan, kemudian melahirkannya dengan penuh kesulitan, dan perutnya menjadi tempat baginya dan dadanya menjadi tempat minum sang anak.

Sang ibu tak dapat tidur demi menjaga ketenangan tidur anaknya. Sang ibu merasa gelisah dengan gelisahnya sang anak. Dan merasa gembira atas gembiranya sang anak. 
Dan sang ibu tak merasa tenang jika anaknya tak ada di depan matanya. Sementara ia akan merasa bahagia ketika melihat anaknya datang. la berdoa kepada Allah swt. Agar memberkahi anaknya, serta mengharapkan kebahagiaan, kesejahteraan dan kesehatan bagi anaknya itu.

Demikian pula sang ayah bekerja dengan keras untuk mewujudkan kehidupan yang enak bagi anak-anaknya. Ia bekerja sepanjang hari agar ia pulang dengan membawa makanan dan minuman bagi anak-anaknya. la merasa bahagia dan senang ketika bekerja, meskipun kerjanya berat, kasar, dan amat lelah.  Itu semua karena ia sedang berusaha mendapatkan harta untuk anak-anaknya.

Apakah anak-anaknya dapat melakukan seperti itu dan bekerja dengan keras untuk menyenangkan kedua Orang tuanya, dan berusaha menjadi Orang yang disenangi oleh keduanya ?.

Apakah anak-anaknya memberikan bantuan dan pemberian kepada keduanya ketika keduanya memerlukan bantuan itu pada saat keduanya tua renta.  Ataukah mereka akan disibukkan oleh dunia, istri, dan harta sehingga tak memperhatikan kedua Orang tuanya ?. Dan apakah mereka meminta maaf dan alasan ketika tak dapat melakukan hal itu ?.

Tentunya jika anak-anak dididik berdasarkan prinsip-prinsip keimanan, dan mereka mempelajari bentuk-bentuk bakti dalam kehidupan orang-orang saleh, niscaya hal itu akan menjadi pendorong baginya untuk berbakti kepada kedua Orang tua.

Kedua Orang tua yang berhasil dalam mendldik anak akan mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa Allah swt mengiringkan bakti kepada Orang tua dengan ibadah kepada Allah swt. dan taat kepada-Nya. Dan taat kepada orang tua merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah, selama bukan dalam dosa atau maksiat. Allah Swt. berfirman,

"Dan Tuhammu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (al-Israa’: 23).

Anak-anak harus melihat gambaran yang bercahaya ini dalam masalah berbakti kepada orang tua dan belajar darinya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah saw., ‘saya pernah membopong ibu saya pada saat panas yang amat terik, yang jika ketika itu ada sepotong daging yang dilemparkan ke lapangan niscaya akan matang, apakah ketika saya melakukan hal itu berarti saya telah menunaikan kewajiban syukur saya kepada ibu saya ?". 

Rasulullah saw. menjawab, "Barangkali perbuatanmu itu baru membalas jasa satu kontraksi (yang ia alami saat melahirkanmu)’ (HR Thabrani dalam al-Ausath).

Dalam kisah Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya, yaitu Azar terdapat banyak pelajaran dan nasihat yang dapat diambil faedahnya oleh anak-anak kita.

Ibrahim telah mengajak bapaknya, Azar, untuk beribadah kepada Allah swt. semata dan meninggalkan peribadatan kepada berhala dan batu. Namun Azar ngotot mempertahankan kemusyrikannya dan mengancam akan menganiaya Ibrahim serta mengucilkannya.  Meskipun demikian Ibrahim telah bersikap lembut kepada Azar dan tak menyakitinya dengan perkataan atau perbuatan.

Beliau juga mengajaknya untuk menyembah Allah dengan penuh kelembutan dan adab yang baik. Allah swt. berfirman melalui lisan Ibrahim yang berbicara kepada anaknya, Azar, sebagai berikut,

"Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi satan." (Maryam: 44-45).

Kemudian Azar membantahnya dengan keras dan kasar, "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhan kami hai Ibrahim ?. Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama." (Maryam: 46). 

Maka apa jawaban Ibrahim a.s.?. Apakah ia menghadapi kekerasan dan ancaman itu dengan sikap yang sama ?. 

Tidak. Sebaliknya Ibrahim a.s. tetap bersikap lembut, penuh adab, dan berakhlak baik terhadap bapaknya. Dan berkata, ". .. Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku...." (Maryam :47).

Alangkah agungnya akhlak Ibrahim a.s.. Demikian juga betapa besarnya baktinya terhadap kedua orang tuanya. Dengan demikian, mengetahui kisah-kisah kehidupan orang-orang saleh dalam bersikap terhadap orang tua mereka menjadi pelajaran yang besar dalam berbakti dan bersilaturahmi.

Diriwayatkan dari Ali bin Husain r.a. bahwa kepadanya pernah dikatakan, "Engkau adalah orang yang paling baik, tapi engkau tak mau makan bersama ibumu dalam satu nampan, mengapa ?". Ia menjawab,  "Karena saya takut jika tangan saya mendahului tangannya untuk mengambil sesuatu yang telah dilihatnya, sehingga dengan begitu berarti saya telah durhaka kepadanya."

Abu Hurairah jika masuk ke tanahnya di Aqiq ia mengucapkan, "Assalamu‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh, ibu."  Ibunya pun menjawab, "Wa‘alai'kum salam wa rahmatullahi wa barakatuh." Abu Hurairah kemudian berkata kepada ibunya, "Semoga Allah selalu memberi rahmat kepada ibu, yang telah mendidik saya semenjak kecil."

Dan ibunya pun menjawab, "Dan engkau, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan meridhaimu sebagaimana engkau berbakti kepadaku saat aku tua renta." (Riwayat Bukhari dalam al-Adabul Mufrid).

Mereka itu memandang berbuat bakti kepada kedua orang tua antara lain dengan tak meninggikan suara melebihi suara kedua orang tuanya dan menganggap bersuara keras di hadapan keduanya sebagai perbuatan durhaka.

Diriwayatkan dari Ibnu Aun bahwa ibunya pernah memanggilnya, kemudian dia pun menyahutinya, tapi dengan suara yang melebihi suara ibunya. Karena kejadian itu dia pun menyesal dan membebaskan dua budak sebagai kaffarat atas perbuatannya itu.

Mereka berpendapat bahwa di antara bentuk bakti kepada dua orang tua adalah dengan melayani keduanya. Al-Makmun bin Harun ar-Rasyid berkata; "Saya tak melihat orang yang lebih berbakti terhadap ayahnya melebihi Fadhl bin Yahya.

Salah satu bentuk baktinya kepada orang tuanya karena orang tuanya, yaitu Yahya tak dapat berwudhu kecuali dengan air angat, sementara keduanya ketika itu di penjara dan sipir penjara melarang memasukkan kayu bakar ke penjara di malam yang dingin. 

Maka, Fadhl ketika Yahya tidur, ia memanaskan air dengan cara mengisi teko dengan air setelah itu ia mendekatkan teko itu ke api lampu penjara, yang terus ia pegangi hingga subuh agar air di dalam teko itu hangat.

Diriwayatkan bahwa seseorang dari Yaman pernah Thawaf di Ka'bah sambil memanggul ibunya di punggungnya, sambil berkata,

"Saya bagi ibu saya laksana unta tunggangan jika penunggangnya merasa kaget saya tak kaget. Kemudian ia bertanya kepada Ibnu Umar, "Ketika saya berbuat seperti itu, apakah menurutmu saya berarti sudah membalas jasanya ?" Ibnu Umar menjawab, "Tidak, meskipun hanya untuk membalas jasa satu kontraksi saat ibumu melahirkanmu."

Diriwayatkan dari Urwah tentang firman Allah swt., "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (al-Israa’: 24). ia berkata, "Artinya tundukkanlah dirimu kepada kedua orang tuamu, sebagaimana seorang hamba tunduk kepada tuannya yang keras dan kasar." (Riwayat Bukhari dalam al-Adabul Mufrid).

Karena itu, jika kedua orang tua berusaha mengajarkan anak-anaknya bentuk-bentuk bakti kepada kedua orang tua dalam kehidupan orang-orang saleh, niscaya dengan itu ia akan dapat menghasilkan buah kebaktian anak dan ketaatan mereka. 

Dengan itu, maka anak-anaknya menjadi sumber kebahagiaannya bagi kedua orang tuanya dalam kehidupannya, serta buah yang bermanfaat bagi keduanya setelah keduanya meninggal.

Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, "Jika seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan baginya."

Bila artikel ini bermanfaat maka itu karena qudrah dan iradah Allah, silahkan bagikan dan bila dianggap kurang berkenan kami mohon maaf karena itulah keterbatasan kami. Wassalam.