Advertisement

Advertisement

Orang Tua Bersifat Adil Dalam Setiap Pemberian dan Berinteraksi dengan Anak

MARWAHISLAM.net | Orang Tua Bersifat Adil Dalam Setiap Pemberian dan Berinteraksi dengan Anak - sebagai artikel point ketigapuluh dari 51 point dalam artikel utamanya yaitu "Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak".

Terkadang seorang anak akan merasakan adanya kezaliman dari kedua orang tua atau sikap lebih mementingkan kedua orang tua terhadap salah satu saudaranya, baik dalam pemberian, pujian, maupun kasih sayang. Sehingga perbuatan tersebut mendorong seorang anak untuk melakukan tindakan menentang atau durhaka kepada keduanya.

Nabi Muhammad saw. telah berwasiat kepada kedua orang tua untuk berbuat adil kepada anak-anaknya dalam setiap pemberian. Beliau bersabda, "Bertakwalah kamu semua dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu dalam setiap pemberian seperti anak-anakmu senang berbuat adil dalam kebaikan dan kasih sayang." (HR. Bukhari dalam hibah: 12 dan Ahmad dalam Musnad: 4/268).

Diriwayatkan dari Nu'man bin Basyir r.a. dia berkata, "Ayahku telah memberikan sedekah dari sebagian hartanya. Kemudian ibuku berkata ; "Saya tidak rela dengan pemberian ini kecuali minta kesaksian terlebih dahulu dari Rasulullah saw".  Kemudian ayahku menghadap Rasulullah saw. untuk memintakan kesaksian atas pemberian tersebut, kemudian Rasulullah saw. bertanya,

Bersifat Adil Dalam Setiap Pemberian dan Berinteraksi dengan Anak
'Apakah semua anakmu kamu kasih seperti ini ?' Kemudian ayah tadi menjawab, 'Tidak'. Lalu Rasulullah bersabda, 'Bertakwalah kamu semua dan berlakulah adil terhadap anak-anakmu'. Kemudian ayahku menarik kembali pemberian tadi." (Hadits shahih, HR Bukhari dalam hibah: 12, Ahmad dalam Musnad: 4/268 dan Muslim dalam hibah: 9, 10).

Oleh karena itu, kedua orang tua harus bersikap adil terhadap anak-anaknya, terutama dalam setiap pemberian. Sedangkan memberikan pujian terhadap salah satu anak tanpa memberikan pujian terhadap yang lain harus dilakukan dengan perhitungan dan menurut kebutuhan.

Pujian tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kompetisi di antara anak-anaknya yang lain untuk meraih kesuksesan. Apabila pujian tadi diberikan secara berlebihan (tanpa disertai dengan maksud mendidik) maka akan mengakibatkan sikap menentang dari sebagian anak-anaknya dan akhirnya akan timbul sikap durhaka dari sebagian mereka.

Kehidupan seperti ini mengakibatkan keluarga menjadi kurang harmonis dan situasi tersebut pasti tidak diinginkan oleh kedua orang tua.

Kita masih akan membahas point-point dari artikel utama yaitu "Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak" di minggu yang akan datang dengan point ketigapuluhsatu yaitu "Orang Tua Mengawasi Tingkah Laku Anak dan Meluruskannya Ketika Dibutuhkan".

Bacalah lebih dahulu artikel utama dari uraian di atas yaitu : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Orang Tua Harus Menjaga Anak dari Bahaya Kebodohan

MARWAHISLAM.net | Tidak akan terjadi kemaksiatan terhadap Allah swt kecuali disebabkan oleh kebodohan dan tiada seorang hamba yang bisa takut kepada Allah kecuali disertai dengan ilmu.  Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama". (Faathir: 28).

Memberikan pendidikan ilmu pengetahuan terhadap anak-anak, bisa menjaga mereka dari kerusakan yang diakibatkan oleh kebodohan. Sebab, kebodohan selalu mengajak kepada kerusakan, sedangkan ilmu pengetahuan mengarahkan mereka untuk melakukan tindakan yang mulia.

Pendidikan ilmu pengetahuan yang paling utama bagi mereka adalah Al-Qur'anul Karim. Dengan mempelajari kandungan Al-Qur'an niscaya mereka akan mendapat jalan yang lurus dan mendorong mereka berbuat amal saleh serta berbakti kepada kedua orang tua.

Menjaga Anak dari Bahaya Kebodohan
Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus." (al-Israa’: 9).  Al-Qur'an telah memberikan berbagai kemanfaatan bagi kedua orang tua dan anak-anak dan memberikan manfaat bagi kita semua.

Diriwayatkan dari Sahl bin Mu'ad al-Juhani, dari ayahnya bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang membaca Al-Qur'an kemudian ia mengamalkarmya, maka di hari Kiamat nanti, Allah swt akan memakaikan mahkota kepada kedua orang tuanya. Sinar mahkota tadi lebih indah daripada sinar matahari di dunia.

Andaikata kamu termasuk orang dimaksud hadits tersebut bagaimana prasangkamu terhadap orang yang mengamalkan amalan ini." (HR Abu Dawud dalam sunannya, bab witir: 14 dan Ahmad dalam Musnad: 3/440).

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "DidikIah anak-anakmu dengan tiga perkara : cinta Nabimu, cinta pada keluarga Nabi, dan membaca Al-Qur'an. Sesungguhnya besok di hadapan Allah swt. (pada saatu hari yang tiada tempat berlindung kecuali kepada-Nya) orang-arang yang hafal Al-Qur'an akan dikumpulkan bersama para nabi dan para hamba-hamba kekasih Allah swt.". (HR at-Thabrani dan Ibnu an-Najjar).

Dengan ilmu kita akan dapat membangun peradaban. Sungguh bagus syair ini, "Ilmu pengetahuan dapat membangun 'rumah' tanpa tiang, sedangkan kebodohan menghancurkan 'rumah' keluhuran dan kemuliaan."

Maka cintakanlah mereka terhadap ilmu yang bermanfaat seperti mempelajari Al-Qur'an dan al-Hadits.  Jauhkan mereka dari ilmu pengetahuan yang merusak (ilmu filsafat Barat, teori Darwin, dan pemikiran-pemikiran yang menghancurkan), karena semua itu tidak ada manfaatnya.

Dengan mendidik mereka dengan baik maka mereka akan terbebas dari bahaya kebodohan (tingkah laku yang buruk dan durhaka kepada kedua orang tua).

Baiklah kita sambung esok dalam artikel selanjutnya yaitu artikel ketigapuluh tentang "Orang Tua Bersifat Adil Dalam Setiap Pemberian dan Berinteraksi dengan Anak".

Baca artikel utamanya dulu gan ; Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Orang Tua Menghindari Tindakan Kekerasan Terhadap Anak

MARWAHISLAM.net | Bertindak kasar terhadap anak-anak terkadang bisa mengarah terhadap kekerasan, penyelewengan, dan perbuatan durhaka. Dengan bersikap kasar terhadap mereka, maka akan menyebabkan tumbuhnya jiwa permusuhan dan berdampak terhadap kejelekan dalam perilaku mereka. 

Karena itu, mendidik anak lebih banyak dibutuhkan dengan metode kecerdasan dan kearifan kedua orang tua daripada dengan cara kekerasan dan tindakan yang kasar.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Didiklah dan permudahlah mereka janganlah membuat susah mereka dan berikan kabar gembira dan jaganlah membuat mereka menjauh. Dan apabila di antara salah satu kalian sedang marah maka diamlah". (Lihat Shahih al-Jami’: 4027).

Diriwayatkan dari Abu Humirah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang memberikan kemudahan, kelonggaran dan lembut dalam berbicara, maka Allah swt. akan melarang dia masuk neraka." (Hadits shahih, lihat Shahih al-Jami’: 6484).

Menghindari Tindakan Kekerasan Terhadap Anak

Berinteraksi dengan anak-anak dan dengan cara yang baik akan menghasilkan keuntungan yang besar. Mereka akan menjadi anak yang patuh dan berbakti kepada keduanya. Sikap ini mereka perlihatkan dalam bentuk ungkapan rasa senang dan gembira terhadap kedua orang tua. 

Sebaliknya, jika cara kekerasan yang dipakai oleh kedua orang tua dalam mendidik anak-anak maka hal tersebut akan menimbulkan rasa benci dan marah, yang akhirnya mereka akan menjadi anak yang durhaka kepada keduanya.

Wallahu A'lam Bishshawab.  Kita bertemu kembali dalam artikel point keduapuluhsembilan yaitu "Orang Tua Harus Menjaga Anak dari Bahaya Kebodohan".

Jangan tinggalkan membaca artikel utamanya yaitu : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Orang Tua Harus Menjaga Anaknya Agar Tidak Berkawan Dengan Teman Yang Jahat

MARWAHISLAM.net | Budi pekerti yang buruk itu bisa menular, seperti menularnya penyakit ke anggota badan manusia yang sehat.  Demikian juga, teman yang jelek juga bisa memengaruhi temannya yang lain.  Seperti pengaruhnya permainan sihir terhadap anak-anak. Akibatnya hubungan kedua orang tua dengan anak-anak menjadi tidak baik, bahkan mengarah menjadi perbuatan durhaka dan maksiat kepada keduanya.

Karena itu, tugas kedua orang tua harus menjaga anak agar tidak berkawan dengan teman yang jahat karena seorang anak akan cepat meniru perbuatan kawannya dalam segala tindakan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Seseorang itu mengikuti tingkah laku kawan akrabnya maka lihatlah salah satu di antara kalian, orang yang diajak berkawan." (HR Tirmidzi, dalam Sunannya, bab zuhud: 45).

Menjaga Anaknya Agar Tidak Berkawan Dengan Teman Yang Jahat

Oleh karena itu, Allah swt. menunjukkan kepada Nabi-Nya untuk berteman dengan orang-orang yang saleh saja.  Allah swt. Berfirman , "Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (al-Kahfi: 28).

Imam ath-Thabari mengatakan, "Dan bersabarlah kamu wahai Muhammad saw. bersama dengan sahabat-sahabatmu yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan berzikir kepada-Nya yaitu dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil, doa dan amal-amal saleh lainnya seperti shalat lima waktu dan sebagainya. Mereka melakukan semua itu hanya karena mengharap keridhaan-Nya dan tidak mengharapkan sesuatu apapun dari dunia." (Lihat tafsir ath-Thabari: 15/154).

Diriwayatkan dari Abi Musa bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesunngguhnya perumpamaan teman yang saleh dengan teman yang jelek itu bagai orang yang membawa minyak misik dan orang yang meniup bara perapian. Orang yang membawa misik adakalanya memberikan minyak tersebut, kamu bisa membelinya atau kamu dapar menemukan bau yang enak dari orang tersebut.

Sedangkan arang yang meniup bara perapian adakalanya bisa membakar bajumu atau kamu mendapatkan bau yang tidak enak." (HR Ahmad: 4/408, Bukhari: 3/314, Muslim: 4/2026 dari Abi Musa al-Asy’ari).

Sungguh bagus syair berikut, "Janganlah kamu bertanya tentang diri seseorang secara langsung kepadanya, akan tetapi bertanyalah kepada kawannya karena setiap kawan itu mengikuti tingkah laku kawannya yang lain."

Dengan demikian, kedua orang tua harus menjaga anaknya agar tidak berkawan dengan teman yang jahat agar terhindar dari perbuatan yang dilarang agama.

Okey gan, sampai jumpa di artikel keduapuluhdelapan yaitu "Orang Tua Menghindari Tindakan Kekerasan Terhadap Anak".

Baca juga artikel utama dari uraian di atas yakni : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Kedua Orang Tua Harus Menjaga Anak Dengan Menanamkan Dasar-Dasar yang Bermanfaat

MARWAHISLAM.net | Anak yang baru lahir di dunia, jiwanya bagaikan lembaran putih yang siap menerima bentuk "tulisan" apapun.  Jika diisi dengan "tulisan" yang bagus maka anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang saleh, jika jiwa tadi diisi dengan "tulisan" yang buruk maka Anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang nakal.

Rasulullah saw. bersabda, "Setiap anak yang terlahir di dunia itu dalam keadaan "suci" maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasani, atau Majusi."

Karena itu, kedua Orang tua harus menanamkan tauhid (mengesakan Allah swt.) di dalam jiwa mereka dan menjaganya dengan menanamkan dasar-dasar yang bermanfaat, supaya mereka tidak menjadi kawan setan yang selalu mengajak kejelekan dan perbuatan durhaka.

Para Salafush-Shalih sangat senang memberikan pendidikan terhadap anak-anaknya dengan pendidikan yang bernuansa keislaman.  Pendidikan tersebut diajarkan dengan secara menyeluruh yang melipuli aspek akhlak, pemikiran dan jasmani.

Menjaga Anak Dengan Menanamkan Dasar-Dasar yang Bermanfaat

Juga ditanamkan dalam akal mereka tentang makna iman kepada Allah swt., Malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari Akhir, qadha dan qadar Allah swt.. Juga membiasakan mereka cinta kepada Allah dan para rasul-Nya.

Mengingatkan mereka bahwa Allah swt. selalu memantau kita, baik di waktu ramai maupun sunyi dan menjelaskan tentang perkara yang halal dan haram.

Orang tua yang cerdik akan memberikan teladan dan panutan yang baik. Cara ini sebagai pedoman untuk mendidik anak-anaknya sehingga mereka akan menjadi buah hati yang berbakti kepadanya.

Demikianlah artikel point keduapuluhenam dan Insya Allah pada pekan yang akan datang kita bertemu dalam artikel point keduapuluhtujuh yaitu "Orang Tua Harus Menjaga Anaknya Agar Tidak Berkawan Dengan Teman Yang Jahat".  Wassalam. 

Bacalah terlebih dahulu : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Kedua Orang Tua Harus Menjalankan Perannya Dalam Mendidik Anak dan Jangan Mengabaikannya

MARWAHISLAM.net | Kewajiban kedua orang tua terhadap anak-anaknya adalah memperhatikan dengan serius dan tidak boleh melalaikan masalah pendidikan karena masalah pendidikan itu termasuk perkara yang sangat penting bagi kehidupan mereka.

Kedua Orang tua yang pandai tentu akan menggunakan cara-cara sukses dalam mendidik anak-anaknya.

Langkah awal dari cara-cara tersebut adalah mengarahkan anak-anak untuk berdisiplin, menjaga kebersihan, berakhlak yang baik, sopan santun, mempelajari Al-Qur'an dan Al-Hadits dan berinteraksi dengan sesama dengan akhlak yang baik.

Menjalankan Perannya Dalam Mendidik Anak dan Jangan Mengabaikannya

Diriwayatkan, sesungguhnya Harun ar-Rasyid —semoga Allah swt. memberikan rahmat-Nya kepada dia— ketika menyerahkan putranya yang bernama al-Amin kepada seorang pendidik, dia berkata kepada sang pendidik, "Ajarilah dia membaca Al-Qur'an, ajarilah dia hadits Nabi, bacakan ia syair, dan ajarilah ia jalan yang benar.

Juga perlihatkanlah ia pada inti pembicaraan, cegahlah ia dari bergurau kecuali pada waktunya, janganlah kamu biarkan waktu berjalan kecuali kamu mengambil faedah yang bermanfaat untuknya, janganlah terlalu memaksakannya, sehingga menyebabkan matinya otak dan kecerdasannya.

Jangan terlalu beri dia kelonggaran, sehingga menyebabkan dia terlalu terbiasa dengan kesenggangan, luruskanlah dia semampumu, dengan cara pendekatan dan cara yang halus. Namun jika dengan cara pendekatan dan cara yang halus tidak mempan maka kamu harus menggunakan cara yang lebih tegas dan keras."

Sungguh pcrkataan Harun ar-Rasyid yang ditujukan kepada orang yang mendidik anaknya banyak memberikan teladan dan nasihat yang bisa diambil oleh kedua orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Jika kedua orang tua melaksanakan kewajiban ini dengan maksimal maka anak-anak mereka akan dengan senang hati berbakti dan taat kepada keduanya.

Wallahu A'lam Bishshawab.  Kita berjumpa lagi nantinya pada artikel point keduapuluhenam yaitu "Kedua Orang Tua Harus Menjaga Anak dengan Menanamkan Dasar-Dasar yang Bermanfaat".

Baca juga ; Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Orang Tua Harus Mengikuti Sunnah Rasul Ketika Melakukan Hubungan Badan


MARWAHISLAM.net | Kebanyakan anak-anak yang saleh selalu berusaha untuk berbuat baik dan menghindari kekeliruan. Salah satu faktor yang menjadikan anak berbakti adalah ketika dalam berhubungan suami-istri, kedua Orang tua harus melaksanakan sunnah Rasulullah saw, supaya keturunan mereka terpelihara dari bisikan dan kejahatan iblis laknatillah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya apabila di antara salah satu dari keduanya ketika mendatangi yang lainnya dengan membaca doa, ’Dengan menyebut nama Allah, ’Ya Allah, jauhkanlah kami dari godaan dan kejahatan setan dan jauhkanlah kebejatan setan dari rezeki yang engkau berikan kepada kami, kemudian lahir seorang anak maka setan tidak akan mampu memberikan pengaruh bahayanya kepada anak tadi untuk selamanya." (HR Bukhari: 5165).


Mengikuti Sunnah Rasul Ketika Melakukan Hubungan Badan

Haruslah meminta perlindungan kepada Allah swt. ketika kedua Orang tua berhubungan badan, karena akan menyebabkan anak-anak terjaga dari bisikan dan kejahatan setan dan tipu dayanya. Jika anak-anak terjaga dan terpelihara dari bisikan setan, maka mereka hampir dapat dipastikan menjadi anak yang selalu berbuat baik kepada keduanya dan akan menjauhi tindakan durhaka dan maksiat.

Begitulah Sunnah Rasul bagi kedua Orang Tua ketika melakukan hubungan badan, Insya Allah kita bertemu pada artikel selanjutnya point keduapuluhlima yaitu "Kedua Orang Tua Harus Menjalankan Perannya Dalam Mendidik dan Tidak Boleh Mengabaikannya".

Bacalah artikel utama dari uraian tadi terlebih dahulu ; Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Membiasakan Anak Berbakti Dan Patuh Serta Taat Kepada Kedua Orang Tua

MARWAHISLAM.net | Di antara faktor yang mendorong anak-anak berbakti kepada kedua Orang tua adalah membiasakan mereka patuh dan taat kepada keduanya. Ketaatan mereka bukan dengan cara kekerasan atau di manja, tetapi dengan cara menanamkan nilai-nilai yang luhur di dalam jiwa mereka dan mengajarknn mereka bahwa sesungguhnya seorang anak itu adalah hasil dari jerih payah kedua Orang tua.

Sehingga dia berkewajiban untuk berbakti dan taat kepada keduanya. Karena Rasulullah saw. bersabda, "Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu". (HR lbnu Maajah dalam Sunan-nya bab perdagangnn: 64 dan Ahmad dalam Musnad: 2/179, 204).

Dan mengajarkan bahwa mereka adalah kekayaan yang dimiliki oleh kedua Orang tua, baik ketika keduanya masih hidup atau setelah mereka meninggal.

Membiasakan Anak Berbakti Dan Patuh Serta Taat

Diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Ketika manusia meninggal maka putuslah arnalnya kecuali tiga perkara, sedekah yang mengalir pahalanya, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang selalu mendoakan kedua Orang tua." (HR Muslim bab wasiat: 14 dan Abu Dawud bab washaya: 14).

Juga mengajarkan bahwa kebaikan seorang anak mengantarkan kedua orang tua sampai surga. Allah swt berfirman, "Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka." (at-Thuur: 21).

Para ulama menafsiri ayat, "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya". (an-Najm: 39), dengan penjelasan bahwa seorang anak itu termasuk hasil usaha dari kedua Orang tua.

Karena itu, amal saleh yang dilakukan seorang anak dapat bermanfaat bagi keduanya dan pahalanya tidak berkurang sedikit pun. Sedangkan kalau anak tersebut berbuat jelek maka dia termasuk memberikan amal yang jelek terhadap kedua Orang tuanya.

Jika kedua Orang tua benar-benar membiasakan anak-anaknya berbakti dan taat, maka mereka akan tumbuh dan berkembang dengan ketaatan dan senang berbakti kepada keduanya.

Mereka tampak gembira jika keduanya dalam keadaan bergembira dan mereka tampak susah, apabila keduanya dalam keadaan susah. Mereka akan segera minta maaf dan minta kerelaannya jika melakukan perbuatan atau mengatakan ucapan yang menjadikan keduanya marah.

Sampai jumpa pada artikel poin keduapuluhempat yaitu "Ketika Kedua Orang Tua Melakukan Hubungan Badan Harus Mengikuti Sunnah Rasul".

Harusnya membaca lebih dahulu : Orang tua wajib mencegah kedurhakaan anak

Orang Tua Memilihkan lstri yang Salehah atau Suami yang Saleh Untuk Anaknya

MARWAHISLAM.net | Merupakan kewajiban kedua orang tua terhadap anak-anaknya untuk memilihkan calon istri yang salehah atau memilihkan Calon suami yang saleh agar bisa menjadi menantu yang berbakti kepada keduanya.

Dapat kita lihat di sebagian keluarga, para Suami memerintahkan istrinya untuk memutus tali silaturahim dengan keluarganya (dari pihak istri) karena menurut pendapatnya sang Suami, ia tidak disambut baik oleh Pihak keluarganya atau disebabkan adanya sesuatu permasalahan atau karena terjadi perselisihan pendapat di antara mereka. 

Demikian juga dapat kita lihat, sebagian para istri tampak membosankan di hadapan suaminya karena sang istri melihat suaminya berbakti kepada kedua orang tuanya (orang tua laki-laki), dia sering memberikan nafkah atau menambah dalam setiap pemberian kepada keduanya. 

Sehingga sang istri dengan rasa berani dan dengan tanpa malu-malu meminta suaminya untuk memutus tali persaudaraan dan melakukan perbuatan durhaka dengan keluarganya.

Memilihkan lstri yang Salehah atau Suami yang Saleh Untuk Anaknya

Fenomena ini mengakibatkan terjadinya perselisihan dan percekcokan antara sang suami dan sang istri. Jika dipelajari, terkadang kejadian ini terjadi karena adanya kesalahpahaman di antara mereka berdua, yang akhirnya di selesaikan dengan solusi yang tidak tepat. Di sinilah peran seorang istri yang cerdik sangat dibutuhkan.

Ia harus bisa memosisikan dirinya dan mampu memberikan solusi yang tepat sehingga sang suami yang semula memerintahkan dia untuk memutus tali persaudaraan dengan keluarganya, akhirnya bisa teratasi dengan baik yaitu dengan cara mencari titik temu di antara persepsi mereka berdua. Dengan metode seperti itu, seorang istri bisa melakukan ketaatan kepada sang suami dan malakukan ketaatan kepada kedua Orang tuanya.

Demikian juga, apabila seorang suami melihat istrinya tampak membosankan di hadapannya karena ketaatannya kepada kedua Orang tuanya atau karena dia memberikan nafkah terhadap keduanya maka sikap seorang suami harus bisa memberikan pemahaman yang benar dan solusi yang tepat kepada sang istri.

Dia harus mendidik sang istri supaya bisa mencintai kedua Orang tuanya karena sebenarnya jasa dan kedudukan keduanya sama dengan jasa dan kedudukan kedua Orang tua istri.  Tidak akan mendapat kebaikan, apabila seorang suami tidak mau membantu istrinya untuk bisa berbakti dan menyambung tali persaudaraan terhadap keluarganya. 

Tidak akan mendapat kebaikan, seorang istri yang menyuruh suaminya untuk memutuskan tali persaudaraan dengan keluarganya karena istri yang cerdik akan berpikir bahwa tindakan suami yang memutuskan tali persaudaraan dengan keluarganya itu tidak akan mendatangkan manfaat. 

Demikian juga, sang suami yang bijaksana, dia akan berpikir bahwa sang istri yang berbuat Durhaka kepada kedua orang tua atau memutuskan tali persaudaraan itu tidak akan membawa keuntungan.

Jangan berharap seorang suami dan seorang istri bisa mendidik anak-anaknya kalau mereka berdua berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya. Mereka tidak akan mampu mencetak anak-anak yang baik karena hidup mereka diselimuti dengan kedurhakaan terhadap kedua orang tua dan keluarga.

Mereka menyusui anak-anaknya dengan air susu kedurhakaan dan pandangan mata anak-anak mereka menampakkan permusuhan dan menunjukkan retaknya persaudaraan.  Padahal Allah swt. dengan tegas melarang kita untuk memutuskan tali persaudaraan. Allah swt. berfirman,

"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan." (Muhammad ; 22).

".....Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah." (al-Anfaalz 75).

Dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman, "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) mama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim." (an-Nisaa’: 1).

Silaturrahim adalah landasan yang penting dalam kehidupan manusia karena ia merupakan amal yang terpenting yang menjanjikan surga. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya maka dia akan sengsara dan akan masuk ke dalam neraka.

Rahim di hari kiamat nanti, akan digantungkan di atas Arsy ar-Rahman, kemudian ia memanggil dengan doa, "Ya Allah, berilah ampunan kepada orang yang telah menyambung tali persaudaraanku, dan janganlah Engkau berikan ampunan-Mu terhadap orang yang telah memutuskan tali persaudaraanku."

Diriwayatkan dari Abi Ayyub, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah saw., berilah saya kabar tentang amalan yang bisa menyebabkanku masuk surga ?".

Kemudian beliau menjawab, "Sembahlah Allah dan jangan kamu sakutukan dengan sesuatu apapun, dirikanlah shalat, keluarkanlah zakat, dan sambunglah tali silaturrahim".HR Bukhari dalam shahihnya bab zakat: 1, dan adab: 10, Muslim dalam bab iman: 12, an-Nasaa’i dalam bab shalat: 10 dan Ahmad : 5/417).

Adapun kewajiban kedua Orang tua sebelum meminangkan putra atau putrinya adalah memilih bakal calon dengan cermat, agar dia bisa menjadi menantu yang berbakti, saleh atau salehah dan senang terhadap amal kebaikan.

Sebab, jika pilihannya tadi salah maka anak-anaknya yang semula berbakti kepadanya akan berbalik menjadi anak-anak yang durhaka kepada kedua Orang tua.

Jika pilihannya tadi benar maka selamatlah keluarganya dari kejadian-kejadian yang menyedihkan hati, selamat dari hancurnya keluarga dan selamat dari retaknya hubungan antara Orang tua dan anak-anak.

Baca juga : Orang tua wajib mencegah kedurhakaan anak

Pendidikan Anak Harus Secara Bertahap Untuk Menghindari Adanya Penyimpangan (Deviasi)

MARWAHISLAM.net | Kedua orang tua harus berinteraksi dengan anak-anaknya sesuai dengan kadar tingkatan umur mereka masing-masing. Karena merupakan kesalahan, apabila kedua orang tua berinteraksi dengan mereka dengan tanpa memperhatikan kadar umur mereka masing-masing.

Maka metode yang benar adalah disesuaikan dengan kadar umur, kemampuan daya berpikir, dan tingkatan perasaan dengan tanpa berlebih-lebihan atau tanpa menganggap remeh hal ini.

Rasulullah saw bersabda ; "Barangsiaapa yang mempunyai anak kecil, maka bergaullah ia dengan tabiat anak kecil". (HR lbnu Asakir, lihat Kanzul ummaal : 3/454).

Rasulullah saw. bersabda, "Bergaullah kalian dengan manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka."  Dan benar Rasulullah saw. telah melaksanakan metode ini dengan anak-anak muslim.

Pendidikan Anak Harus Secara Bertahap Diriwayatkan dari Anas, sesungguhnya anak laki-laki Ummu Sulaim yang masih kecil itu dijuluki dengan Abu Umair. Dia mempunyai burung pipit (yang dipanggil dengan nama Nughair), ketika Rasulallah mendatanginya, pasti beliau mengajak bermain.


Setelah beberapa saat ditinggalkan, beliau datang lagi tetapi kali ini beliau melihat Abu Umair dalam keadaan sedih, kemudian Rasalullah bertanya, "Apa yang terjadi dengan Abu Umair ?"

Kemudian mereka menjawab, "Wahai Rasulallah saw., burung Nughairnya telah mati, kemudian Rasulullah berkata sambil bercanda, "Wahai Abu Umair, apa yang telah dilakukan Nughair (burung pipit kecil)." (HR Ahmad dalam Musnad: 19/3 dan Muslim dalam masajid: 659).

Maka, pendidikan terhadap anak-anak secara bertahap akan menghasilkan hasil yang positif, bermanfaat dan menjadi penggerak yang mendorong mereka bersemangat dalam berbakti kepada kedua Orang tua.

Wallahu A'lam Bishshawab, kita ketemu pada artikel point keduapuluhdua yaitu "Orang Tua Memilihkan lstri yang Salehah atau Suami yang Saleh Untuk Anaknya".

Ayo baca ini lebih dulu gan ; Orang tua wajib mencegah kedurhakaan anak