Advertisement

Advertisement

Orang Tua Harus Memilih Sekolah Yang Baik Untuk Anak dan Memantaunya

MARWAHISLAM.net | Sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan bagi anak-anak sangat berperan penting dalam mendidiknya karena di situlah rumahnya anak-anaak yang kedua. Mereka menghabiskan kebanyakan waktunya dan menimba ilmu di madrasah atau sekolah tersebut.  


Karena itu, orang tua harus cermat dalam memilihkan madrasah atau sekolah, dan jangan sampai tertipu oleh madrasah-madrasah atau sekolah-sekolah asing yang menjadikan bahasa Arab dan pendidikan Agama Islam hanya sebagai mata pelajaran sampingan sedangkan perhatian besarnya tertuju pada mata pelajaran bahasa Inggris, bahasa Jerman, Perancis dan lain sebagainya serta pendidikan kebarat-baratan dan kebudayaan asing.



Memilih Sekolah Yang Baik Untuk AnakKarena corak sekolah atau madrasah seperti ini hanya akan memisahkan ilmu pengetahuan anak dari ilmu-ilmu agama, ilmu ketatanegaraan, pengetahuan klasik dan perkembangan pengetahuannya dengan bergantung pada peradaban yang memerosotkan mental mereka. 



Dengan ketololannya mereka menganggap telah melakukan sebuah tindakan hebat yang belum pernah dilakukan oleh siapapun, ternyata pada prinsipnya semua itu merupakan jurang kehancuran dan peradaban Barat yang hanya akan merusak peradaban bangsa ini.



Allah swt. berfirman, "Katakanlah, Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya, yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (al-Kahfi: 103-104).



Mengarahkan pendidikan anak-anak seperti tersebut di atas akan melemahkan kesadaran beragama dari si anak. Mereka akan tumbuh dan berkembang tanpa menghiraukan ajaran Agama dan akan lebih berpeluang berbuat durhaka terhadap kedua orang tua, karena disebabkan renggangnya hubungan kekeluargaan mereka. Bagi mereka berbakti atau durhaka terhadap keduanya tidak ada bedanya sebab itulah pemahaman yang mereka dapatkan dari pendidikan mereka. 



Dari sekian uraian kita di atas jelaslah bahwa Orang tua harus memilihkan sekolah yang baik dan selalu memantau anaknya secara berkesinambungan tentang pendidikan, akhlak dan pribadi mereka, supaya harapan dan keinginan para Orang tua bisa tercapai dengan sempurna.



Orang Tua Harus Menjauhi Perbuatan Yang Bisa Menjadikan Polemik di Depan Anak

MARWAHISLAM.net | Orang Tua Harus Menjauhi Perbuatan Yang Bisa Menjadikan Polemik di Depan Anak - Sebagai artikel point ketigapuluhsembilan dari Limapuluhsatu point artikel utamanya tentang "Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak".

Di antara faktor yang merusak jiwa, akhlak, dan tatanan masyarakat adalah membuat polemik di depan anak-anak mereka. Ada sebagian ayah yang sengaja berbuat jelek kepada istrinya di depan anak-anaknya hanya karena sebab yang sepele. Kemudian dia membentak-bentak istrinya disertai juga dengan mencaci makinya.

Juga bisa terjadi sebaliknya, seorang ibu berusaha meremehkan wibawa suami di depan anak-anaknya dengan ucapan atau tindakan yang jelek. Terkadang dengan mencaci makinya, dia menyangka bahwa perbuatannya itu bisa membawa kedamaian keluarga, tetapi justru membuat keluarga menjadi hancur total. Demikian juga, prasangka seorang ayah ketika berbuat jelek terhadap istrinya.

Kita yakin dengan sikap seperti ini anak-anak akan tergerak jiwanya untuk melakukan perbuatan yang buruk dan durhaka. Padahal seorang anak dalam satu keluarga mendambakan adanya kasih sayang dari kedua orang tua, kebahagiaan dan ikatan keluarga yang erat, bukan percekcokan dan perseteruan di antara keduanya.

Menjauhi Perbuatan Yang Bisa Menjadikan Polemik di Depan Anak
Oleh karena itu, kedua Orang tua harus menjauhi perbuatan yang bisa menjadikan polemik di depan anak. Seandainya terjadi problem di antara keduanya maka harus diselesaikan dengan cara yang bijaksana, dengan pendekatan pemahaman dan dengan akal yang jernih tanpa harus menampakkan sikap emosi atau menguatkan temperatur suara, karena akan berdampak negatif terhadap hubungan anak dan kedua orang tua.

Okey kita lanjutkan dalam posting berikutnya ke artikel point keempatpuluh tentang "Orang Tua Memilihkan Sekolah Yang Baik dan Selalu Memantau Anaknya".

Bacalah lebih dahulu : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Orang Tua Harus Menjauhi Perbuatan Mungkar di Depan Anak Mereka


MARWAHISLAM.net | Orang Tua Harus Menghindari Perbuatan Mungkar di Depan Anak Mereka - agar tidak menjadi contoh tauladan bagi anak-anak. Ini merupakan artikel point ketigapuluhdelapan dari 51 point rincian dalam artikel utama tentang "Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak".

Perbuatan kedua orang tua dalam kehidupan sehari-hari harus tetap selalu dijaga. Tingkah laku kedua orang tua akan selalu diperhatikan oleh anak-anaknya. Apalagi jika keduanya melakukan perbuatan-perbuatan mungkar, perbuatan maksiat atau berbicara bohong maka mereka akan dengan mudah akan menirunya. 

Tingkah dan Perbuatan yang mungkar akan mudah melemahkan kesadaran beragama anak, meremehkan wibawa orang tua, dan mendorong mereka berbuat maksiat pula.

Di bidang sosial kemasyarakatan, seringkali kita dapat menjumpai sebagian ibu-ibu yang tidak memperdulikan perbuatan maksiat yang mereka lakukan. Mereka selalu menggunakan pakaian yang tidak menutup aurat, bepergian kesana kemari tanpa mahram dan meninggalkan shalat seenaknya di depan anak-anak mereka.


Menjauhi Perbuatan Mungkar di Depan Anak

Mereka melupakan kedudukan dirinya bahwa mereka adalah pendidik nomor wahid bagi anak-anaknya dan melupakan bahwa jiwa anak-anaknya akan mengikuti perbuatan mereka karena tindakan yang dilakukan sangatlah berpengaruh terhadap diri mereka. Maka, ibu-ibu yang seperti itu sama saja dengan mendidik anak untuk berbuat maksiat kepada Allah SWT.

Petunjuk dan tuntunan dari Rasulullah SAW kepada ummatnya sangat lah indah. SUBHANALLAH dan  Insya Allah kita berjumpa lagi pada posting selanjutnya yaitu point ketigapuluhsembilan tentang "Orang Tua Harus Menjauhi Perbuatan Yang Bisa Menjadikan Polemik di Depan Anak".

Bacalah artikel sebelumnya yang merupakan artikel utama dari uraian di atas : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Orang Tua Harus Menjauhkan Anak Dari Fasilitas Yang Merusak Pribadi Mereka

MARWAHISLAM.net | Orang Tua Harus Menjauhkan Anak Dari Fasilitas Yang Merusak Pribadi Mereka - sebagai artikel point ketigapuluhtujuh dari 51 point dalam artikel utamanya yaitu Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak.

Terkadang, sebagian ayah membiarkan anak-anaknya mencari fasilitas yang akhirnya merusak kepribadiannya. Terkadang sebagian lagi, memberikan fasilitas di rumahnya dengan majalah-majalah yang lepas kontrol dari aturan moral, kaset-kaset yang merusak dan buku-buku yang membahas tentang seks secara vulgar sehingga mengakibatkan kesadaran keagamaan anak-anak melemah dan menjadikan mereka berbuat tindakan yang merusak, maksiat, dan durhaka.

Maka, kedua orang tua harus memberikan nasihat yang baik, yang menunjang ketaatan anak-anak. Nasihat tersebut harus berisikan tindakan agar mereka menjauhkan sarana-sarana yang merusak tatanan masyarakat dan membiasakan mereka dengan berbudi luhur, membaca Al-Qur'an dan memahami hadits Nabi Muhammad saw.

Diriwayatkan dari Utsman r.a. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR Bukhari dalam shahihnya, bab fadhailul qur'an: 21, Abu Dawud dalam sunan-nya, bab al-witir, at-Turmudzi dalam Sunan-nya bab pahala Al-Qur'an: 15, Ibnu Maajah dalam muqaddimah: 16 dan ad-Darimi dalam bab fudhailul Qur'an; 2).

Menjauhkan Anak Dari Fasilitas Yang Merusak Pribadi Mereka
Apabila kamu mendidik anak-anakmu menjadi orang-orang pilihan (orang-orang yang dicintai Allah swt. dan Rasul-Nya) maka langkah tersebut memotivasi mereka untuk berbakti dan taat kepada kedua orang tua dan menjauhkan diri dari tindakan durhaka.

Wallahu A'lam Bishshawab.  Kita sambung pada posting berikutnya dengan artikel point ketigapuluhdelapan yaitu "Orang Tua Harus Menjauhi Perbuatan Mungkar di Depan Anak Mereka".

Baca juga artikel utama dari artikel di atas : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Orang Tua Harus Memberikan Teladan Yang Baik Terhadap Anak

MARWAHISLAM.net | Orang Tua Harus Memberikan Teladan Yang Baik Terhadap Anak - demi mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak. Aryikel ini merupakan artikel point ketigapuluhenam dari 51 point artikel utamanya tentang "Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak".

Keteladanan yang, baik dari kedua Orang tua dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap anak-anak untuk berbakti dan berbakti kepada kedua Orang tua. Keteladanan yang baik akan menghasilkan generasi yang baik, sedangkan keteladanan yang jelek akan menghasilkan generasi yang sulit diatur.

Ketahuilah, Orang tua adalah cermin bagi anak-anaknya. Maka aku selalu bisikkan perkataanku kepada setiap ayah dan ibu, "Berbaktilah kepada kedua Orang tuamu walaupun keduanya telah meninggal maka niscaya anak-anakmu nanti akan berbakti kepndamu. Lakukanlah perbuatan sesuka kamu, karena seperti perbuatan yang telah kamu lakukan akan dibalas imbalannya."

Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu purbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (ash-Shaff: 2-3).

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Kelak di hari kiamat akan didatangkan seorang laki-laki kemudian dia dilempar ke dalam neraka, lalu ususnya terburai. Kemudian dia memutari usus tersebut seperti keledai memutari tempat penggilingannya."

Memberikan Teladan Yang Baik Terhadap Anak

Kemudian penduduk neraka pada berkumpul dan bertanya ; "Wahai Fulan apa yang telah kamu lakukan ?. Bukankah dulu kamu pernah memerintahkan amar ma'ruf dan nahi mungkar ?.  Kemudian laki-laki tersebut menjawab ; "Dulu saya menyuruh kalian berbuat yang ma'ruf tetapi aku tidak melakukannya sendiri dan aku telah melarang kalian menjauhi perkara yang jelek tetapi aku sendiri melakukannya." (Hadils shahih, lihat Shahih at-Targhiib wat-Tarhiib).

Sungguh bagus syair ini, "Anak kecil akan berkembang mengikuti kedua orang tuanya dan sesungguhnya di atas akar-akar pohon, akan tumbuh batang pohonnya."

Karena itu, kewajiban kedua orang tua adalah berbakti kepada bapak dan ibunya walaupun meréka berdua telah meninggal, yaitu dengan mendoakannya, menyambung tali persaudaraan dengan famili dan teman-temannya yang masih hidup supaya nanti anak-anaknya dapat mencontoh seperti perbuatan yang telah dilakukan kedua orang tuanya.

Insya Allah kita sambung dengan artikel point ketigapuluhtujuh yaitu "Orang Tua Menjauhkan Anak Dari Fasilitas Yang Merusak Pribadi Mereka".

Baca juga : Orang tua wajib mencegah kedurhakaan anak

Orang Tua Harus Meluruskan Akhlak Anak Secara Maksimal

MARWAHISLAM.net | Anak-anak yang pintar akan mudah menirukan sesuatu yang dilihat dan yang dilakukan oleh orang lain. Terkadang, dia akan menirukan akhlak yang buruk ketika dia berada pada lingkungan yang buruk, seperti teman yang jelek, hidup di jalanan dan lainnya sehingga mendorongnya untuk berani berbuat durhaka kepada orang tua.

Karena itu, wajib bagi kedua orang tua bergegas diri meluruskan akhlak anaknya agar sifat tersebut tidak melekat pada diri sang anak hingga akhirnya sulit untuk dihilangkan.

Metode terapi yang seharusnya dilakukan oleh kedua orang tua adalah mengubah akhlak anak dengan cara sedikit demi sedikit, mulai dari pengkonsentrasian tentang dirinya, upaya untuk dapat mengenal diri sendiri dan sifat egoisnya dan mengajaknya untuk menerima nasihat dari kedua orang tua dan berusaha untuk membuat senang terhadap keduanya.

Orang tua yang berhasil adalah orang tua yang mampu membuat anaknya menjadi seseorang yang memiliki sifat kasih sayang, berjiwa besar, dan berbudi mulia. Ada beberapa metode yang bisa membantu orang tua untuk meluruskan akhlak anak-anaknya, seperti di antaranya sebagai berikut :

Meluruskan Akhlak Anak Secara Maksimal

a. Memberikan Motivasi Untuk Melakukan Amal yang Baik dan Menakut-Nakuti Terhadap Amal yang Jelek.

Targhib (memberikan semangat melakukan amal kebaikan) dan tarlub (menakuti-nakuti untuk meninggalkan amal kejelekan) sangatlah berperan penting dalam penanaman pendidikan akhlak anak-anak. Oleh karena itu, kedua orang tua harus memberikan kedua metode tadi agar mereka mau melakukan amal yang baik dan menjauhi amal yang jelek.

b. Menasihati Anak Untuk Melakukan Perbuatan yang Baik dan Meninggalkan Perbuatan yang Jelek.

Di antara dasar-dasar untuk membina anak yang saleh adalah dengan nasihat yang baik. Seperti firman Allah swt., "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (Luqman: 13).

Ketika Luqman ingin melarang putranya berbuat syirik, beliau menggunakan metode 'Mauidhah hasanah', karena keberhasilan pendidikan dan pembinaan anak, sangatlah tergantung pada metode ini. Demikiaa juga, Rasulullah saw. menggunakan metode ini ketika mendidik anak-anak orang Islam.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa suatu hari, ia pernah membonceng di belakang Rasulullah saw., kemudian beliau berkata : "Wahai anak laki-laki, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, yaitu ingatlah Allah swt. maka Dia akan selalu menjagamu, ingatlah Allah swt. maka Dia akan bersamamu. Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah swt., apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah swt.

Ketahuilah sesungguhnya semua manusia andaikata berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah swt. kepadamu dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakaimu maka sesungguhnya mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali atas sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Pena telah diangkat dan tintapun telah kering." (HR Ahmad dalam Musnad: 1/293 dan Tirmidzi dalan1 bab kiamat: 59).

Amr bin Uqbah r.a. berkata, "Ketika aku berumur lima belas tahun, ayahku berkata kepadaku, 'Wahai anakku, sesungguhnya sifat kekanak-kanakanmu telah selesai, maka tetaplah menggunakan sifat malu, niscaya kamu termasuk golongan orang-orang yang mempunyai sifat malu, dan janganlah kamu meninggalkannya." Akhirnya Amr bin Uqbah terrnasuk golongan tersebut.

c. Memberikan Hadiah Terhadap Anak (ltsabah) dan Memberikan Motivasi (Tasyji').

Di antara faktor yang membantu peningkatan pendidikan akhlak dan ketangkasan anak-anak adalah memberikan motivasi dan memberikan hadiah terhadap mereka.

Kedua orang tua berperan dalam pembinaan akhlak dan memberikan motivasi terhadap anak-anak supaya mereka bisa sukses. Karena, anak yang sukses lebih berpeluang untuk berbakti dan taat kepada keduanya. Terkadang, Itsabah dan Tasyji' bisa berupa pemberian hadiah, mengajak refresing, mendengarkan perkataan yang baik, ajakan yang membuat anak simpatik dan lain-lainnya.

d. Mengintimidasi dan Memberikan Hukuman.

Termasuk kewajiban kedua orang tua ketika melilhat anak-anaknya melakukan perbuatan atau perkataan yang salah untuk meluruskannya dengan cara mengintimidasi dan memberikan hukuman. Hukuman ini diberikan bukan bertujuan untuk membalas dendam, tetapi dimaksudkan untuk memalingkan mereka dari perbuatan yang buruk.

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw, Sesungguhnya Rasulullah saw. apabila melihat salah satu anggota keluarganya berbuat kebohongan maka beliau selalu berusaha memalingkan kebohongan tersebut dari keluarganya sampai dia mau bertobat." (Hadits shahih, lihat shahih al-jami').

Berusaha menjauhkan seseorang yang berbuat salah dari kesalahannya merupakan cara yang penting dalam membenahi akhlaknya. Apabila metode ini tidak berhasil maka dengan cara menggunakan metode kedua, yaitu dengan menampakkan muka yang muram terhadap orang yang melakukan kesalahan.

Jika metode ini juga tidak berhasil maka dengan cara mencegahnya agar dia tidak melakukan perbuatan yang jelek.  Seperti metode yang dipergunakan oleh Rasulullah saw. dengan Hasan bin Ali ketika dia berkeinginan untuk mengambil kurma, yaitu beliau mencegah Hasan untuk mengambil kurma tersebut.

Diriwayatkan dari Hasyim bin Qashim, dari Syu'bah, dari Muhammad bin Ziad. Dia mendengar Abu Hurairah berkata, "Ketika Hasan bin Ali r.a berkeinginan mengambil dan memakan kurma dari hasil sedekah, Rasulullah saw. bersabda kepada Hasan bin Ali r.a., 'Kikh, kikh (ucapan yang mengisyaratkan untuk mengeluarkan makanan dari mulut) buanglah kurma itu, apakah kamu tidak mengerti bahwa kita tidak boleh memakan harta sedekah." (HR Bukhari dalam Sahihnya bab zakat: 60, ad-Darimi dalam zakat: 16 dan Ahmad dalam Musnad: 2/409).

Apabila metode ini juga tidak berhasil maka seorang pendidik harus menggunakan metode teguran. Artinya, mencela perbuatan tersebut dengan tegas sehingga pelakunya mau menggagalkan perbuatan tadi. Lalu apabila metode ini gagal maka kedua orang tua harus menggunakan isyarat dengan cambuk dan mengintimidasi dengan pukulan supaya mereka jera dan mau meninggalkan perbuatan yang salah.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Gantungkanlah cambukmu di tempat yang bisa dilihat keluargamu karena itu merupakan bentuk pendidikan terhadap mereka." (Hadits shahih, lihat Shahih jami': 4022 dan Silsilah al-Ahaadits as-Shahihah: 1447 oleh as-Syeh al-Allamah Nasiruddin al-Albani).

Terkadang, perangkat untuk menyadarkan anak-anak itu berbeda-beda, sesuai dengan perilaku yang mereka miliki. Mungkin seseorang bisa sadar atas kesalahannya cukup dengan memalingkan seseorang dari berbuat kesalahan dan ada juga seseorang tidak mau meninggalkan perbuatan salah kecuali dengan mengintimidasi dan dengan pukulan.

Oleh karena itu, apabila terpaksa menggunakan pukulan maka kedua orang tua harus bijak dan melihat kadar kesalahannya. Tidak boleh memukul dengan pukulan yang membahayakan, tidak boleh memukul karena balas dendam, tidak boleh lebih dari sepuluh pukulan.

Pukulan tersebut tidak boleh mengarah pada bagian muka, perut, kemaluan, maupun kepala karena anggota badan tersebut sangatlah rawan. Maka, boleh memukul dua telapak kaki, paha, dan kedua tangannya.

Kedua orang tua ketika melaksanakan hukuman kepada anak tidak boleh dalam keadaan marah karena setan selalu dekat dengan orang yang sedang marah karena akan mengakibatkan tindakan yang lepas kontrol. Sebab Rasulullah saw melarang seseorang memberikan putusan terhadap dua orang yang bersengketa dalam keadaan marah.

Diriwayatkan dari Adam, dari Syu'bah, dari Abdul Malik bin Umair bahwa, dari Abdur Rahman berkata, "Abu Bakrah pernah menulis surat untuk anaknya yang berada di Sijistan, yang berisikan untuk tidak memberikan putusan hukuman ketika dalam keadaan marah, karena saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda,

"Janganlah seorang hakim memberikan putusan terhadap dua orang yang bersengketa sedangkan dia dalam keadaan marah". (HR Bukhari dalam bab ahkam: 13, Muslim dalam bab aqdhiyah: 16 dan Ahmad dalam Musnad: 5/36).

Kedua orang tua tidak boleh tergesa-gesa dalam melakukan hukuman, tetapi keduanya harus mempelajari dan mengetahui sebab-sebab terjadinya kesalahan si anak. Karena ada kemungkinan kesalahan tersebut diakibatkan penyakit organ tubuh, kejiwaan, kesalahan yang tidak di sengaja, adanya pengaruh sihir, gila, sifat dengki, atau karena perkara yang di luar kehendaknya.

Karena itu, meluruskan anak-anak yang berbuat salah adalah tindakan yang harus dilakukan oleh kedua Orang tua supaya mereka menjadi anak yang berbakti kepada keduanya.

Wallahu A'lam Bishshawab.  Kita bertemu kembali pada artikel point ketigapuluhenam yaitu "Orang Tua Harus Memberikan Teladan Yang Baik Terhadap Anak".

Baca juga : 
Orang tua wajib mencegah kedurhakaan anak

Kedua Orang Tua Harus Memiliki Rasa Sayang Terhadap Anaknya

MARWAHISLAM.net | Kedua Orang Tua Harus Memiliki Rasa Sayang Terhadap Anaknya - sebagai artikel point ketigapuluhempat dari 51 point artikel utamanya yaitu "Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak".

Rasa kasih sayang kedua orang tua kepada anak-anaknya merupakan faktor yang penting, dalam membina kepribadian anak yang baik.   Karena dengan rasa kasih sayang terhadap mereka, maka akan menguatkan tali hubungan keluarga dan akan membuat semangat anak-anak untuk berbakti kepada keduanya.

Sebaliknya jika bagian ini tidak diperhatikan oleh keduanya maka akan menimbulkan sifat tidak senang di hati mereka dan menyebabkan retaknya hubungan mereka dengan kedua Orang tua, sehingga mendorong mereka untuk berbuat durhaka.

Oleh karena itu, Rasulullah saw. selalu menganjurkan untuk menebarkan rasa kasih sayang dalam kehidupan berkeluarga, supaya rasa kasih sayang ini selalu mewarnai dalam kehidupannya.

Rasulullah saw. bersabda, "Bukan termasuk golonganku, orang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak menghormati yang besar." (Lihat as-Silsilah as-Shahiihah : 96/2).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Aqra bin Habis memandangi Rasulullah saw. yang sedang mencium Hasan. Kemudian sahabat tadi berkata, "Sesunguhnya saya mempunyai sepuluh anak dan tidak ada satupun yang pernah saya ciumnya."

Memiliki Rasa Sayang Terhadap Anaknya

Lalu Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang tidak sayang terhadap orang lain maka orang tersebut tidak akan disayang juga." (HR Bukhari dalam shahihnya, bab adab: 18, Muslim dalam bab fadha’il: 65, dan Ahmad: 2/228).

Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah swt. Akan memberikan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mempunyai rasa kasih sayang terhadap yang Iain." (HR Bukhari dalam shahihnya bab janazah: 32, dan Muslim bab janazah: 9, 11, Ahmad: 5/204).

Menyayangi anak-anak merupakan salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh kedua orang tua supaya mereka bisa merasakan hidup bersama dengan keduanya. Dengan mencium kening anaknya akan berpengaruh positif terhadap anak tersebut dalam berbakti kepada keduanya.

Dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah saw. bermain dengan Zainab binti Ummi Salamah dan memanggilnya dengan, "Wahai Zuwainab, wahai Zuwainab dengan berulang-berulang."

Bermain dengan anak-anak dan menyayangi mereka termasuk metode yang mampu menarik simpati hati mereka dan mampu menguatkan ikatan keluarga mereka sehingga mereka akan mudah berbakti kepada kedua orang tuanya.

Okey gan, kita ketemu pada posting berikutnya dalam artikel point ketigapuluhlima yaitu "Orang Tua Harus Meluruskan Akhlak Anak Secara Maksimal".  Insya Allah.

Baca juga : Orang tua wajib mencegah kedurhakaan anak

Wahai Para Ayah Jagalah Anakmu Ketika Mereka Masih Kecil

MARWAHISLAM.net | Wahai Para Ayah Jagalah Anakmu Ketika Mereka Masih Kecil - sebagai artikel point ketigapuluhempat dari 51 point artikel utamanya yaitu tentang "Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak".

Peranan kedua orag tua dalam mendidik anak-anaknya sangatlah penting karena mereka nanti akan menjadi tulang punggung keluarga. Apabila peranan seorang ayah berfungsi dengan baik, maka keluarganya bakal menjadi keluarga sukses dan anak-anaknya akan menjadi anak yang berbakti.

Sebaliknya, jika dia menyia-nyiakan amanat ini maka keluarga dia menjadi berantakan, anak-anaknya akan berbuat semaunya dan mereka menjadi sumber keresahan dalam keluarga. Sehingga dengan ringan mereka melakukan perbuatan durhaka dan maksiat terhadap kedua Orang tua.

Peranan seorang ayah terhadap anak, tecermin ketika seorang ayah memberikan makan, memberikan pakaian dan memberikan pendidikan dan akhlak yang baik.  Seperti dalam firman Allah swt. "Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf... " (al-Baqarah: 233).

Karena itu, Nabi saw. selalu menganjurkan kepada seorang ayah tentang pentingnya memberikan makan anak-anaknya.  Rasulullah saw. bersabda, "Tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu". (HR Muslim, bab zakat: 95, 97, Abu Dawud dalam Sunannya bab zakat: 39 dan Ahmad dalam Musnad-nya .1:2/94). 

Jagalah Anakmu Ketika Mereka Masih Kecil

Berusaha untuk mendidik anak-anak dan membina keluarga itu termasuk berjuang di jalan Allah swt. Dan, orang yang melakukannya akan mendapatkan balasan di dunia dan di akhirat.  Diriwayatkan bahwa Rasalullah saw. berjalan bersama sahabat-sahabatnya dan bertemu dengan seorang laki-laki yang pagi-pagi sekali telah bekerja. Terlihat dari kulit dan tingkat kerajinan bekerja menunjukkan dia tampak sudah lelah.

Kemudian para sahabat bertanya, "Wahai Rasulallah saw., andaikata pekerjaan ini di jalan Allah ?". Lalu Rasulullah saw. menjawab, "Apabila dia bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka dia termasuk berjuang di jalan Allah swt, apabila dia bekerja untuk kedua orang tuanya maka dia termasuk dijalan Allah swt, dan apabila dia bekerja untuk dirinya agar tidak meminta-minta maka dia termasuk berjuang dijalan Allah." (HR ath-Thabrani).

Diriwayatkan dari Miqdam bin Ma'di Kariba bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang memberi makan untuk dirinya sendiri maka itu termasuk sedekah, barangsiapa yang memberi makan untuk anaknya maka itu termasuk sedekah, dan barang siapa yang memberi makan untuk istrinya maka itu termasuk sedekah." (HR. Ahmad dalam Musnad: 4/131, 132).

Demikian juga, anak-anak harus membiasakan berlaku sopan santun dan berakhlak yang terpuji, semenjak mereka kecil, supaya mereka terbiasa di waktu besar. Ali bin Abi Thalib ra. berkata, "Binalah anak-anakmu bersopan santun ketika mereka masih kecil maka kamu akan merasakan kegembiraan setelah mereka besar. Sesungguhnya perumpamaan melatih bersopan santun di waktu masih kecil itu seperti mengukir di atas batu."

Apabila anak-anak tidak mau memperhatikan pendidikan beretika dari orang tuanya ketika masih kecil maka ketika mereka sudah besar, pendidikan tersebut tidak akan masuk dalam dirinya dan tidak akan berpengaruh terhadap pribadi mereka, walaupun seluruh tenaga telah dicurahkan oleh kedua orang tua. Karena pendidikan yang demikian itu telah terlambat. 

Sungguh bagus syair ini, "Pendidikan sopan santun itu bisa bermanfaat ketika masih kecil dan pendidikan tersebut tidak akan bermanfaat ketika diberikan di waktu besar."

"Sesungguhnya ranting-ranting kecil apabila bengkok itu mudah diluruskan dan jika menjadi kayu maka susah untuk diluruskan kembali." 

Karena itu, untuk mengharapkan buah hati yang berbakti (setelah mereka besar), yaitu dengan memberikan dasar-dasar pendidikan yang benar dan membenahi budi pekerti yang jelek ketika mereka masih kecil. Karena yang demikian itu cita-cita kedua orang tua akan terlaksana.

Judul artikel kita pada posting berikutnya yang merupakan artikel point ketigapuluhlima yaitu "Kedua Orang Tua Harus Memiliki Rasa Sayang Terhadap Anaknya".

Jangan dilupakan untuk membaca artikel utama dari point uraian di atas yaitu : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Apakah Keajaiban Al-Qur'an


MARWAHISLAM.net | Apakah Keajaiban Al-Qur'an – merupakan pertanyaan yang kadang muncul di benak kaum muslimin. "Katakanlah, ’Sesungguhnya apabila manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (al-Israa‘: 88).

Bacaan yang sempurna dan terpelihara itulah Al-Qur'an sebagai makna  harfiahnya jika diterjemahkan. Sementara kata "Qur'an" berdasarkan isim masdar dari qara'a yang artinya mengumpulkan barang-barang yang berserakan agar kembali menjadi satu. Bisa juga diartikan dengan 'membaca' karena dengan membaca berarti kita mengumpulkan huruf-huruf menjadi satu yang sehingga bermakna (atau populernya meaningfull).

Kemudian arti qara'a mengisyaratkan pengertian bentuk rangkuman atau kumpulan lengkap dari seluruh kitab-kitab sebelumnya ataupun sebuah kitab yang menjelaskan segala sesuatu sebagaimana dijelaskan dalam surah Yusuf: 111.

Kitab Suci Al-Qur'an merupakan kumpulan wahyu yang diterima dan langsung dipatrikan secara sangat ajaib ke dalam hati sanubari Rasulullah saw.. Makanya pengertian wahyu diterjemahkan sebagai al-isyaratusy syari'ah 'isyarat cepat yang dipatrikan langsung ke dalam kalbu', sangat mendalam maknanya dan tersimpan dengan baik serta rapi di pusat yang paling dalam dari lubuk hati hamba yang terpilih, Muhammad al-Musthafa Rasulullah SAW.
Keajaiban Al-Qur'an

Kitab Suci Al-Qur'an, Kitab Suci yang terpelihara dan sama sekali tidak ada perubahan sekecil apapun sejak pertama kali Rasulullah saw. menerima wahyu pertama di gua Hira sampai hari kemudian, Insya Allah.

Tampilan dari kitab suci Al-Qur'an bukan hanya tampak dalam bentuk gaya bahasanya yang puitis-ritmis, juga merangkum berbagai fakta yang tepat dan akurat. Bahkan Al-Qur'an membela kitab-kitab sebelumnya yang secara nyata telah diubah atau ada penyisipan di sana-sini sehingga kehilangan orisinalitasnya dan keautentikannya.

kitab Suci Al-Qur'an membela cemoohan Alkitab terhadap para nabi yang suci. Kitab Suci Al-Qur'an telah meluruskan atau mengingatkan kembali tentang tauhid yang sesungguhnya tanpa harus dikaitkan dengan figur manusia, betapapun manusia itu ajaib kelahirannya, seperti Nabi Adam a.s. dan Nabi Isa a.s. karena bagi-Nya segala sesuatu tidak ada yang mustahil, cukuplah dengan menyebut, 'Kun faya kun !'.

Seterusnya Ketika para nabi diberi mukjizat sesuai dengan budaya dan kebiasaan masyarakatnya, misalnya Nabi Isa diberi mukzijat penyembuhan karena budaya masyarakat itu pada waktu itu bergelimpangan dengan kemajuan pengobatan (mistis), Nabi Musa diberi mukjizat yang bisa mengubah tongkat menjadi ular dikarenakan budaya masyarakat Fir'aun yang penuh mistik dan sihir yang merupakan kebudayaannya.

Apakah Keajaiban Al-Qur'an ?. Ketika orang bertanya, apakah mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad saw. ?. Jawabannya adalah Al-Qur'an Karena Al-Qur'an sebagai bukti bagi ketakjuban masyarakat sepanjang masa dan sepanjang zaman bagaimanapun bentuk dan kebiasaan masyarakat pada akhir zaman (future outlook). 

Walaupun banyak juga terdapat dalam hadits-hadits yang sahih, sungguh terlalu banyak mukjizat Rasulullah yang diperlihatkan kepada umat pada masanya, maka titik sentral mukjizat itu tetap kepada Al-Qur'an Al-karim. 

Kemudian Mukjizat berasal dari kata 'a'jaza' yang berarti melemahkan atau tanda-tanda (ayat) yang menyebabkan orang lain tidak mampu melawannya. Mukjizat merupakan lawan kata dari qudrah, kuasa, mampu. Orang yang dapat melemahkan lawan disebut 'mu'jiz', sedangkan bukti yang mampu melemahkan dan mampu menundukkan atau mampu mengalahkan lawan disebut sebagai 'mu'jizat'. 

Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang Ummi (tidak bisa baca tulis) adalah mustahil untuk membuat dan apalagi mengarang Al-Qur'an, apalagi seluruh isi yang dikandung Al-Qur'an menampilkannya kedalam hidup dan kehidupan, seluruh isi serta susunan kalimatnya yang sangat menakjubkan.

"Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al-Qur'an) sesuatu kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu)". (Al-Ankabut ; 48).

Kitab Suci Al-Qur'an tidak mungkin dapat diubah oleh siapapun karena Keutuhan serta kelestarian Al-Qur'an telah dijamin dan karena ada parameternya dan para juru hafal Al-Qur'an (hafidz) di seluruh penjuru dunia. Walaupun Kitab Suci Al-Qur'an dibakar semuanya dan lalu seluruh penerbitnya ditutup, namun Al-Qur'an akan selalu muncul secara ajaiban di bumi yang fana ini.

Hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya Allah telah menjamin keautentikan Al-Qur'an sejak pertama kali diturunkan, masa kini dan masa-masa akan datang, melalui Fitman-Nya : "Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya." (Al-Hijr : 9).

Upaya manusia untuk menggali keajaiban Al-Qur'an, hanyalah setetes embun pagi di hutan belantara, sebab pasti akan lebih banyak lagi keajaiban yang terkandung di dalamnya.

Wallahu A’lam Bishshawab.
Baca juga : Orang Tua Memberikan Ketenteraman Terhadap Anak da...

Jagalah Anakmu di Waktu Kecil Niscaya Mereka Akan Menjagamu di Waktu Besar

MARWAHISLAM.net | Jagalah Anakmu di Waktu Kecil Niscaya Mereka Akan Menjagamu di Waktu Besar - merupakan artikel point ketigapuluhtiga dari 51 point dalam rincian artikel utamanya.

Sebagian dari para ibu meninggalkan peranannya dalam mendidik anak-anaknya sehingga mendorong anak-anak untuk melakukan penyimpangan dan sikap durhaka terhadap kedua orang tua. Keberhasilan suatu keluarga tergantung peran seorang ibu. Karena itu apabila seorang ibu dalam satu keluarga termasuk ibu yang baik, maka keluarga tersebut akan menjadi baik semuanya.

Jika seorang ibu dalam satu keluarga termasuk ibu yang jelek, maka rusaklah rumah tangga tersebut. Disinilah peran penting seorang ibu dalam mendidik dan mencetak keluarga yang baik.

Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan sekali masalah memilih istri yang saleh, yaitu dengan mengutamakan agama dan sifat-sifat yang mulia karena ia nanti akan menjadi seorang ibu yang harus mendidik putra putrinya.

Allah swt. berfirrnan, "Wanita yang salehah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memalihara (mereka)...." (an-Nisaa’: 34).

Istri yang sukses adalah istri yang berkepribadian baik, bertakwa, dan bisa menjaga diri ketika suaminya tidak ada di rumah.

Jagalah Anakmu di Waktu Kecil

Al-Qurthubi berkata dalam Tafsir-nya, "Maksud ayat tersebut ialah memerintahkan istri untuk taat kepada suami, melaksanakan kewajibannya dalam menjaga harta dan dirinya ketika suami tidak ada di rumah." (Lihat Tafsir al-Qurthubi: 5/111).

Diriwayatkan dalam Musnad Abi Dawud ath-Thayalisi, dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik istri adalah ketika kamu (suami) memandangnya ia bisa membuat senang terhadapmu, apabila kamu memerintahkan dia mentaatinya, dan apabila kamu tidak ada di rumah dia bisa menjaga dirinya dan hartamu." (HR Abu Dawud dalam Sunan-nya bab zakat: 32, dan Ibnu Maajah dalam Sunan-nya bab nikah: 5).

Sungguh Rasulullah saw telah memuji wanita-wanita Qurasy karena mampu menjaga anak-anak dan menjaga rumah tangga suami-suaminya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik wanita yang menunggang unta adalah wanita salehah dari kaum Quraisy, yaitu wanita yang paling sayang terhadap anaknya ketika masih kecil dan mengikuti kepemimpinan suaminya." (HR Bukhari dalam Shahihnya bab al-Anbiya’: 46, dan nikah: 12 dan Ahmad: 2/269).

Ibu adalah madrasah pertama dan sekaligus guru yang sangat berpengaruh terhadap anak-anaknya. Apabila dia mampu memberikan pendidikan dengan baik dan mengarahkan dengan dasar-dasar keberhasilan maka mereka akan tampil sebagai orang-orang yang mulia yang tidak akan goyah dengan berbagai pengaruh dan situasi.

Sungguh bagus syair ini, "Ibu adalah bagaikan madrasah, apabila kamu mempersiapkannya dengan baik maka kamu berarti telah mempersiapkan sebuah bangsa yang mempunyai akar yang baik."

Umar ibnul Khaththab dalam masalah ini juga telah memberikan batasan tentang hak anak, yaitu ketika salah satu anak bertanya kepada dia, "Apa hak anak terhadap ayahnya?" Kemudian Umar menjawab, "Memilihkan ibu yang baik, memberikan nama yang bagus, dan mengajarkan Al-Qur‘an."

Utsman bin Affan berkata kepada anak-anaknya, "Wahai anakku, orang yang menikah itu bagaikan orang yang menanam, maka seseorang harus memperhatikan di manakah dia harus meletakkan tanamannya karena akar yang jelek itu jarang berbuah maka pilihlah akar yang baik walaupun menunggu untuk beberapa saat."

Wahai para ibu, didiklah dirimu dun anak-anakmu untuk taat kepada Allah swt. dan jagalah mereka jangan sampai jatuh melakukan maksiat dan jangan sampai kamu membiarkan pendidikan mereka di waktu kecil, karena yang demikian itu akan menjadikan anak berbuat durhaka di waktu besarnya.

Janganlah kamu menyibukkan dirimu sendiri dan melalaikan dari memperhatikan mereka. Sebab, apabila hal itu terjadi, maka mereka akan ikut tipu daya setan, teman yang jelek, dan mereka akan melakukan tindakan durhaka. Seperti yang diriwayatkan Rasulullah saw., beliau bersabda, "Cukup bagi seseorang berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya."

Sungguh bagus syair berikut, "Rumah tangga bisa menjadi rusak dan hampir akan hancur." "Karena di dalam rumah tangga tersebut tidak ada ibu-ibu yang mempunyai rasa kasih sayang (terhadap anak-anak) dan mereka selalu tidak ada di rumah." "Mereka sering keluar rumah, ada kalanya menghadiri pesta-pesta atau didatangi kawannya."   "Mereka membicarakan trend mode terakhir atau selalu bergadang malam."

"Anak-anak kita hidup dalam pengasingan yang tidak mempunyai kasih sayang dan tidak mendapat perhatian." "Mereka tidak mendapatkan belaian kasih sayang seorang ibu sehingga kehidupan mereka menjadi rusak."

Sungguh apabila seorang anak hidup dalam pengasingan, maka ketika mereka berkembang dan kehilangan kasih sayang, belas kasihan dan petunjuk dari kedua Orang tua, mereka tidak akan tahu akan makna berbakti terhadap kedua Orang tua. 

Mereka tidak tahu akan arti ikatan keluarga dan tidak tahu tentang hak-hak orang tua terhadapnya sehingga hubungan mereka dengan orang tua selalu diwarnai dengan perbuatan durhaka terhadap kedua Orang tua.

Begitulah artikel tentang "Jagalah Anakmu di Waktu Kecil Niscaya Mereka Akan Menjagamu di Waktu Besar"  dan akan kita lanjutkan pada posting berikutnya dengan point artikel ketigapuluh empat yaitu "Wahai Para Ayah Jagalah Anakmu Ketika Mereka Masih Kecil".

Bacalah lebih dahulu : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Orang Tua Memberikan Ketenteraman Terhadap Anak dan Mengadakan Dialog Keluarga


MARWAHISLAM.net | Orang Tua Memberikan Ketenteraman Kepada Anak dan Selalu Mengadakan Dialog Keluarga - agar menumbuhkan budaya toleransi dan menghargai perbedaan yang akan memelihara hubungan antar anggota. Inilah artikel point ketigapuluhdua dari 51 point artikel utamanya yaitu "Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak".

Dalam kehidupan masyarakat, dapat kita dapatkan para orang tua sama sekali tidak memperhatikan kehidupan mereka. Mereka hanya memperhatikan urusan yang berkaitan dengan memperbanyak keturunan dan tidak mengerti tentang kebutuhan hidup yang lain. Maka, sebagian para orang tua  membiarkan anak-anak tumbuh dan besar di kaki lima dan terminal bus.

Sementara yang lain, membiarkan anak-anak menghabiskan waktunya di sudut-sudut jalan belakan pertokoan dan sebagian lagi membiarkan anak-anak menghabiskan waktunya untuk menikmati bermain games, menonton teater dan televisi. Sementara kedua orang tuanya disibukkan bekerja dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Inilah yang merupakan kegiatan yang bertentangan dengan dasar-dasar pendidikan yang benar karena pendidikan yang mereka peroleh berasal dari sumber yang keliru sementara itu akan mendorong mereka melakukan tindakan durhaka, dan yang harus bertanggung jawab dalam kenyataan ini yang pertama sekali adalah kedua Orang tua mereka.

Memberikan Ketenteraman Terhadap Anak dan Mengadakan Dialog Keluarga

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar. Dia mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinanmu. Maka, seorang suami adalah pemimpin dalam urusan rumah tangganya dan akan dimitai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.

Dan seorang istri adalah pemimpin dalam mengatur rumah tangga suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinnya." (HR. Bukhari dalam Shahihnya bab jumah: 11, dan washaya: 9, Muslim dalam bab imarah: 20, Abu Dawud dalam Sunan-nya bab imarah: 1, Tirmidzi dalam Sunan-nya bab Jihad: 27 dan Ahmad dalam Musnad: 2/5, 45).

Karenanya Pendidikan dan petunjuk hidup dari kedua orang tua sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Pendidikan tersebut tidak akan bisa terealisasi dengan baik melainkan didukung oleh tatanan dan suasana keluarga yang nyaman, tenteram, tenang, sejuk, dan disertai dengan adanya dialog keluarga yang sukses.

lbnul Qayyim (semoga Allah swt. Memberikannya rahmat-Nya) berkata, "Demikian juga apabila seorang anak telah memasuki akil balig, maka dia harus menghindari tempat-tempat hiburan, nyanyian, tidak mendengarkan sesuatu yang keji dan berkata yang benar. Karena apabila perkara tersebut telah melekat dalam jiwanya maka sangatlah sulit untuk menghilangkannya ketika mereka dewasa.

Karena untuk mengubah suatu tabiat yang sudah melekat, bukanlah merupakan sesuatu hal yang mudah, sehingga dia sendiri mau mengubahnya , karena meninggalkan kebiasaan yang sudah melekat itu termasuk perbuatan yang sulit." (Lihat Tuhfatul Mauduud).

Karena itu, kenyamanan dan ketenangan serta dialog dalam keluarga sangat dibutuhkan supaya anak-anak bisa berhasil dalam pendidikannya, mampu membuang perilaku yang tidak baik dan mengambil dasar-dasar keimanan sehingga mampu mengelola dirinya untuk berbuat baik kepada mereka.

Insya Allah kita sambung dengan artikel point ketigapuluhtiga yaitu "Jagalah Anakmu di Waktu Kecil, Niscaya Mereka Akan Menjagamu di Waktu Besar".

Jangan lupa membaca artikel utamanya : Orang Tua Wajib Mencegah Kedurhakaan Anak

Orang Tua Mengawasi Tingkah Laku Anak dan Meluruskannya Ketika Dibutuhkan

MARWAHISLAM.net | Merupakan kewajiban kedua orang tua terhadap anak-anaknya untuk selalu mengawasi dengan sungguh-sungguh (dengan mata dan telinga) dan dengan penuh perhatian dalam setiap perkataan dan perbuatan mereka, supaya mereka terjaga dari tingkah laku yang merusak.

Kedua orang tua juga harus selalu menunjukkan perbuatan yang mulia terhadap mereka. Karena apabila kedua orang tua lupa dengan tugas ini, maka mereka akan melakukan tindakan yang merusak dan durhaka kepada keduanya.

Rasulullah saw. bersabda, "Gantungkanlah cemetimu di tempat yang dapat dilihat oleh keluargamu, karena hal itu merupakan bagian dari mendidik mereka." (HR Bukhari dalam shahihnya bab adab).

Rasulullah saw. bersabda, "Tiada pemberian orang tua yang yang lebih utama terhadap anaknya daripada pendidikan yang baik." (HR ‘Tirmidzi dalam Sunannya bab al-birr: 33 dan Ahmad dalam Musnad: 3/412, 4/77).

Abdullah bin Umar ra. berkata, "Didiklah anakmu, karena sesunguhnya kamu bertanggung jawab atas tingkah laku dan pendidikannya. Dan sesungguhnya anakmu bertanggungjawab atas berbakti dan taat kepadamu."

Rasulullah saw., "janganlah kamu menggunakan tongkat pemukul untuk mendidik anakmu." (HR Ahmad dalam Musnad: 5/238).

Metode yang baik dalam mendidik anak-anak adalah menghindari sikap berlebihan atau terlalu lunak terhadap mereka. Apabila kedua orang tua selalu menuntunnya dalam mendidik (dimanja) maka hal itu akan berpengaruh terhadap dampak yang jelek. 

Demikian juga, kalau pendidikan tadi dilakukan dengan kekerasan maka akan mengakibatkan seorang anak menjadi durhaka kepada kedua orang tuanya.

Kedua metode tersebut tidak akan mernberikan pendidikan yang benar terhadap anak-anak. Karena pendidikan yang benar harus dilakukan dengan cara yang baik dan terkadang dibutuhkan dengan sikap yang agak keras ketika keadaan menghendakinya.

Sungguh bagus syair ini, "Barangsiapa yang mempunyai keteguhan hati, maka terkadang bersikaplah keras terhadap mereka (orang-orang yang disayang orang tua) supaya mereka jera."

Apabila kedua orang tua dalam mendidik mereka menggunakan metode hukuman maka diharapkan bukan dengan tujuan balas dendam atau karena mengasihani anak yang berbuat salah, tetapi hal itu bertujuan untuk meluruskan, mendidik, dan menjelaskan kesalahan saja.

Kedua orang tua juga tidak diperbolehkan memukul anggota badan yang sensitif atau wajah agar tidak mengakibatkan bahaya kejiwaan atau jasmani. Penjelasan ini akan diterangkan lebih detail dalam pembahasan nanti.

Jika kedua orang tua selalu mengawasi perbuatan dan tingkah laku anak-anaknya dan meluruskannya ketika dibutuhkan maka cita-cita kedua orang tua untuk mencetak mereka menjadi anak-anak yang berbakti akan berhasil.