Advertisement

Advertisement

Petunjuk Nabi SAW Mengenai Perkawinan dan Hubungan Suami Istri


MARWAHISLAM.net | Petunjuk Nabi SAW Mengenai Perkawinan dan Hubungan Suami Istri - dimana persoalan hubungan biologis dalam kehidupan kita merupakan sesuatu yang dianggap vulgar maka akan lebih parah lagi jika hal ini dikaitkan dengan Rasulullah saw.. 

Inilah pertanda muslim agak ketinggalan zaman dalam memahami agamanya dan di dalam berpegang teguh pada adab­-adab agama yang luhur. Karenanya kehidupan muslim menjadi lurus, yang tidak bengkok dan tidak menyimpang, tidak berlebihan dan tidak mengabaikannya.

Kemudian ia juga merupakan adab yang luhur, untuk menjamin pengikut dan pelaksananya naik tingkat. Kalau kita memahami agama dari nash­-nash yang terdapat dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul­-Nya, maka tidak akan kita dapati sensitivitas yang berlebihan.

Ringkaskanlah yang tercantum dalam beberapa mukadimah mengenai deskripsi Islam tentang ketinggian rohani, maka ini tidak bertentangan dengan hubungan seks yang halal, kemudian kita ringkaskan pembicaraan tentang pelajaran biologis ini dan malu-malu  bahwa rasa malu yang sehat dan proporsional itu tidak bertentangan dengan pembicaraan yang serius tentang hubungan suami istri, sebaliknya bertentangan dengan perkataan jorok dan kotor serta perbuatan yang durhaka dan hina.

PERKAWINAN DAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI

Jika kita pahami petunjuk Nabi ini dengan ·baik maka kita akan dapat memecahkan persoalan hubungan biologis dalam kehidupan Rasulullah saw. dengan mudah sebagaimana kita dapat memecahkan dan memahami masalah-masalah ibadah dan jihad dalam kehidupan beliau secara seimbang dan proporsional.

Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada para pendahulu kita, yang karena kejujuran, amanah, dan ingin berbuat ihsan, maka mereka menganggap perlu memelihara Sunnah Rasulullah saw dalam persoalan seks, dari perawi-perawi di antaranya ada yang laki-­laki dan ada yang wanita, yang mereka pelihara dengan sempurna sebagaimana mereka memelihara untuk kita mengenai Sunnah beliau dalam masalah ibadah maupun muamalah. Maka semua itu adalah Sunnah dan Ilmu  yang wajib diinformasikan kepada orang lain.

Jika Sunnah Nabawiyah telah menjelaskan jalan kebaikan dan kejelekan kepada kita dengan sejelas-­jelasnya., maka apakah bedanya jika kebaikan atau kejelekan itu terdapat di lapangan jual-­beli, beri­-memberi, hukum had, ataupun lapangan Biologis ?.

Sunnah meliputi seluruh informasi dari Rasulullah saw., baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir beliau. Maka semua tindakan beliau dalam tentang hubungan biologis termasuk bagian dari Sunnah, dan beliau sangat antusias untuk mengajarkan kaum muslimin tentang segala yang berguna bagi kehidupan mereka, Kaum musyrikin mengetahui antusiasme Rasulullah saw. ini dan mereka menyatakannya dengan terus terang.

Salman ra. berkata, kaum musyrik berkata kepada, Nabimu telah mengajarkan segala hal hingga masalah buang air.' Salman menjawab, 'Benar, sesungguhnya beliau melarang kami beristinja (cebok) dengan tangan kanan atau buang air dengan menghadap kiblat. Beliau juga melarang kami menggunakan kotoran hewan dan tulang untuk beristinja. Beliau juga bersabda, 'Janganlah seseorang di antara kamu beristinja dengan kurang dari tiga butir batu. '" (HR Muslim). 

Di antara yang menambah sensitivitas dalam masalah hubungan biologis dan Rasulullah saw. ini ialah sikap para orientalis pada zaman modern ini yang telah menebarkan kabut yang tebal di seputar masalah ini.

Disini mereka mulai berpijak pada persepsi kaum Nasrani yang menyimpang, yang didasarkan pada anggapan bahwa kesempurnaan rohani itu ialah dengan mengarahkan jiwa kepada "kerahiban", yakni menjauhi keinginan dan kesenangan dunia di antaranya ialah hubungan biologis. Mereka berkata, "layakkah bagi seorang rasul yang mulia melakukan hubungan biologis, yang kapasitasnya melebihi kaum muslimin pada umumnya?" Yang mereka maksudkan ialah karena Rasulullah saw. beristri sembilan orang.

Sikap kaum orientalis yang seperti ini sebenarnya sudah didahului oleh kaum Yahudi yang menebarkan kabut seperti ini pada zamannya. Antara lain yang dikutip oleh Ibnu Jarir ath­Thabari dari beberapa riwayat di dalam· menafsirkan firman Allah, 

"Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya ? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar." (an­Nisa': 54) 

Ibnu Abbas r.a. berkata, "Sesungguhnya orang­-orang ahli kitab mengatakan, 'Muhammad menyatakan dirinya telah diberi ketawadhuan, padahal dia mempunyai sembilan orang istri. Tidak ada perhatiannya kepada yang lain kecuali kawin. Maka manakah kerajaan yang lebih utama daripada ini?'  Kemudian Allah berfirman : "Am yahsuduuna annaasa ‘ala maa aatahuma Allaahu mim fadhlih".

Ad­Dahak berkata, "Kaum Yahudi berkata, 'Seperti apakah Muhammad yang mengaku mendapat nubuwwah, tetapi dia juga lapar lagi telanjang, dan tidak punya perhatian lain selain kawin.' Mereka dengki kepadanya karena beliau diperkenankan kawin dengan banyak wanita, dan Allah menghalalkan beliau menurut kehendak beliau."

Syekh Ahmad Muhammad Syakir salah seorang pen-tahqiq kitab Ath-Thabar mengatakan: "Telah saya kemukakan bahwa perkataan kaum Yahudi itu ditelan mentah-mentah oleh orang­-orang setelahnya yang dengki kepada Muhammad Rasulullah, dan mereka mempropagandakannya lewat buku-­buku mereka. Kalangan ini dan pengikutnya yang sesat dan tunduk pada majikannya yang orientalis pada zaman ini.

Dinyatakan dalam ath-Thabaqatul-Kubra karya Ibnu Sa'ad, "Umar, maula yaitu seorang mantan budak Ghufrah, berkata, 'Pada saat kaum Yahudi melihat Rasulullah saw. kawin dengan beberapa wanita, mereka berkata, 'Lihatlah manusia yang tidak puas-puas makan ini ! Mereka bersumpah, dia tidak mempunyai perhatian kecuali wanita.' Mereka dengki kepada beliau dan mencela beliau karenanya. 

Lalu mereka berkata, 'Kalau dia seorang nabi, niscaya dia tidak akan mencintai wanita.' Yang paling sengit ialah Huyai bin Akhtab. Lalu Allah mendustakannya dan memberitahukan mereka akan karunia dan kelapangan­Nya kepada nabi­Nya dengan firman­Nya, 

Ataukah mereka dengki kepada Rasulullah saw. lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah anugerahkan kepadanya kerajaan  besar yang kuat. "

Sungguh sangat disayangkan kalau kaum muslimin menyikapi persepsi kaum orientalis ini dengan sikap yang salah. Sungguh ini merupakan kekeliruan yang berlipat ganda, ketika :

1. Mereka membuat pernyataan menyimpang tentang ketinggian (keluhuran) rohani, dan mengatakan bahwa tidak layak keluhuran rohani ini disertai melakukan hubungan seks, lalu kita terima saja gambaran yang salah tanpa upaya mencari solusinya.

2. Kita membawakan hadits­-hadits dha'if dan maudhu’ (palsu) sebagai pendukung persepsi yang salah ini. 

3. Kita menafikan atau menolak Rasul kita sebagai orang yang mencintai wanita dan kita mencari­-cari alasan bahwa poligami Rasulullah saw. dalam konstelasi sosial politik kuat atau lemah­­ dan bahwa keinginan akan kenikmatan dan kesenangan yang halal dan baik itu tidak sesuai dengan kerasulannya. 

4. Kita berusaha menjauhi nash-­nash yang jelas dan tegas tentang hubungan seks. Kalau kita mau jujur terhadap diri dan Rasul, kemudian terhadap nash­-nash dan terhadap semua manusia, maka pertama­ sekali hendaklah kita biarkan informasi yang sesungguhnya tentang prinsip-­prinsip yang benar agar kita dan manusia pun tahu makna keluhuran rohani, yang ternyata dia adalah takwa, yaitu ihsan (berbuat kebaikan). 

Muttaqin dan muhsin adalah mereka  taat kepada Allah dengan mematuhi segala perintah dan dilaksanakan semampunya apa yang diperintahkan oleh Allah, dan ia meninggalkan segala larangan-­Nya. Rasulullah saw. bersabda,

"Apabila aku larang kamu dari sesuatu, maka tinggalkanlah; dan apabila aku perintahkan kamu terhadap sesuatu, maka laksanakanlah sekuat-kuat kemampuanmu." (HR Bukhari dan Muslim)

Maka mukmin itu taat kepada Allah dalam melaksanakan ibadah, seperti taat kepada­Nya dalam mencari kebutuhannya, ia juga menaati­Nya dalam menunaikan syariat­-Nya dalam upaya pemenuhan kebutuhannya berupa makan, minum, tempat tinggal, pakaian, dan kebutuhan akan hubungan biologis.

Begitulah taat kepada Allah dalam semua amalan yang dikerjakannya, semua langkah yang ditempuhnya, dan semua perkataannya. Jika seseorang muslim menaati Rabb­nya dalam segala hal dengan sebaik-­baiknya, maka ia termasuk orang yang bertakwa dan muhsin. Allah berfirman,

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang selalu berbuat baik."(an­Nahl: 128)

Wallahu A'lam Bishshawab

Baca juga : Saling Berlomba Mengejar Urusan Dunia