Advertisement

Advertisement

Minta Jabatan Pemimpin

MARWAHISLAM.net | Minta Jabatan Pemimpin – seringkali muncul dalam birokrasi dan organisasi lainnya dan merupakan hal yang biasa sebagai manusia.

Wajar saja bila kelak kita berharap menjadi seorang pemimpin besar. Menjabat atasan berarti memimpin orang banyak. Pemimpin yang diisyaratkan oleh Harry S. Trauman, yaitu ”A great leader is a man who has the ability to get other people to do what they don't want to do and like it."

Di antara manusia, ada yang berambisi memegang jabatan pimpinan melalui cara-cara setan menghalalkan segalanya, sama sekali tidak memperhitungkan tentang kepimpinannya itu nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada manusia dan kepada Allah SWT.

Menjadi seorang pemimpin sesungguhnya adalah memegang amanah dari manusia dan amanah dari Allah SWT. Rasulullah SAW sangat berhati-hati dalam menunjuk seorang memimpin. Seperti yang pernah diriwayatkan, ketika Abu Dzar meminta jabatan sebagai pemimpin.

Jabatan Pemimpin

Baginda Rasulullah SAW berkata, "Hai Abu Dzarr, kamu adalah seorang yang lemah dan jabatan itu merupakan amanah yang harus kamu pertanggungjawabkan pada hari kiamat nanti dan hanya menjadi penyesalan dan kehinaan bagimu. Kecuali hanya orang-orang yang dapat mampu melaksanakan tugas,  hak dan kewajibannya dengan seimbang yang sempurna dan mampu memenuhi segala tanggung jawabnya."

Dalam skala kecil, kita semua telah diamanahkan sebagai pemimpin. Seorang suami menjadi pemimpin dalam keluarganya, istri menjaga harta benda suaminya, menjaga anak-anak, dan masing-masing kita  juga mengelola diri kita sendiri yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Tidak mudah menjadi pemimpin.

Baca juga : 40 Hadits Tentang Pemimpin Dan Penjelasanya

Peluk Persaudaraan

MARWAHISLAM.net | Peluk Persaudaraan - sering kita saksikan dilakukan oleh generasi muda kita saat berolah raga namun Rasulullah saw. bersabda bahwa " Antara muslim dengan muslim lainya merupakan saudara". 

Ibarat tubuh yang satu, bila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya. Hadits ini Populer dan dikenal luas di masyarakat, namun bagaimana dengan pengamalannya ?.

Perhatikanlah di sekitar dimana sesama saudaranya saling menghina, saling mengejek, saling mencemooh, bahkan memuji dirinyalah yang paling bertaqwa dan paling benar, dan menganggap orang di sekitarnya takabur, jumud bahkan munafik !. 

Tanpa rasa berdosa, menyerang saudara sendiri dari depan dan dari belakangnya, hanya karena ada perbedaan pendapat yang sangat kecil. Bahkan lebih mengerikan ketika dengan tega melukai orang lain dan membunuhnya menjadi halal demi suatu keyakinan yang belum tentu benar.

Persaudaraan

Darah saudara sendiri berceceran, tangis pilu tak lagi mampu mengenyuhkan kalbu kita yang telah diasapi dosa-dosa.  Astaqhfirullah al-azhiim. Apa yang sedang terjadi ?. Tidakkah kita dapat mengambil pelajaran dan pengalaman dari teladan para pemimpin besar kita ?.

Ketika Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah, menjadi Imam shalat subuh, pagi itu dengan sengaja ia membaca doa qunut, karena salah seorang makmumnya, K.H. Idham Cholid merupakan tokoh Nahdhatul Ulama. Begitupun sebaliknya, disaat K.H. Idham Cholid bergiliran menjadi imam shalat subuh sementara Buya Hamka menjadi salah seorang makmumnya, maka K.H. Idham Cholid  tidak membaca do’a qunut. 

Apa yang mereka lakukan setelah shalat ?. Melainkan saling berpelukan mesra, seperti dua orang saudara seiman yang telah lama tidak bertemu, yang saling mendukung, saling mengisi, saling menghormati, saling menghargai, dan berkasih sayang. Subhanallah ! Belum cukupkah contoh teladan ini bagi kita.

Baca juga : Berselisih Barisan Dalam Shalat