Advertisement

Advertisement

Sistem Acuan Dalam Diinul Islam



MARWAHISLAM.net | Untuk memahami aturan Allah yang tercakup dalam ajaran Islam harus melihat 6 (enam) sumber yakni: 1). Al Qur'an; 2). AI-Hadits; 3). Kitab Ulama Salaf; 4). Produk kajian IPTEK; 5). Hasil Musyawarah para Ahli; dan 6). Pendapat atau Nasihat Imam/Pemimpin.

Dari acuan di atas maka tidak mungkin seorang muslim tidak mampu menyelesaikan masalah hidupnya secara syar'i. Pembahasan masing-masingnya diuraikan untuk dapat memahami bagaimana keterkaitan satu sama lain dan sifat dari tiap sumber sehingga tidak membingungkan penggunaannya.

Urutan cara merujuk tuntunan tersebut harus dilakukan secara teratur dan terurut untuk memaksimalkan tujua atau hasilnya.

A. AL-QUR'AN

Untuk memahami tuntunan Allah maka muslim memiliki sebuah dokumen otentik yang harus menjadi Acuan Dasar yakni Al-Qur'an. Isi Al-Qur'an tidak pernah berubah sejak diwahyukan kepada Rasulullah saw sampai kini, dan sampai akhir zaman nanti.

Inilah sumber acuan dasar Islam. Bila tidak menguasai Al-Qur'an maka tidak akan memahami Islam itu secara utuh. Seluruh muslim diwajibkan mempelajari al Qur'an yang berisi firman Allah SWT yang otentik, tidak pernah dapat dipalsukan dan akan tetap terjaga orisinalitasnya.

DIINUL ISLAM

Dalam Al-Qur'an tertera tuntunan Allah yang asli, tanpa dipengaruhi oleh interpretasi manusia. Isi Al-Qur'an bersifat mudah memahami maknanya tanpa dikembangkan oleh pendapat ahli, atau diperdebatkan maksud yang dikandungnya.

Sedikit sekali ayat Al-Qur'an yang sulit untuk memahaminya dan bisa diartikan berbeda oleh para alim ulama, sehingga bukan alasan bagi kita untuk meninggalkan Al-Qur'an karena tidak dapat memahaminya secara langsung. 

Sayang sekali masih banyak muslim yang belajar Islam tidak dari Al-Qur’an langsung tapi dari banyak pendapat apakah melalui naskah atau orasi padahal pendapat tertulis atau lisan tersebut sudah dipengaruhi oleh interpretasi serta interest pribadi penulis atau penceramah itu sendiri.

Demikian pula halnya banyak intelektual muslim yang sanggup membaca banyak sekali tapi mengabaikan membaca Al-Qur'an yang lebih mudah dan ringkas dan tegas itu.

B. HADITS

Setelah Al-Qur'an, acuan pendukung untuk memahami tuntunan Allah tentang cara hidup yang benar adalah praktik hidup dan pedoman yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw. 

Namun arsip dan dokumentasi selama hidup  Nabi itu tidak utuh karena tehniknya masa itu masih lemah. Sehingga proses kehidupan Nabi di masanya sesungguhnya tidak utuh kita terima. Akibatnya, muslim muslim bingung yang mana cara hidup nabi yang merupakan penjabaran final Al-Qur'an yang bersifat tuntunan universal-eternal berlaku untuk seluruh muslim di manapun dan kapanpun mereka hidup dan mana pula yang bersifat terkait hanya untuk kondisi setempat pada zamannya (kontekstual).

Contoh, nabi sering berpakaian katun, warna kesukaan putih, memelihara jenggot, biasa makan kurma, dan sejeninisnya, bukanlah ajaran yang bersifat universal dan eternal, namun lebih banyak terkait dengan situasi dan kondisi di sana. 

Begitu pula tentang taktik perang yang beliau gunakan seperti baju besi, kuda atau unta, tameng dan pedang, karena memang IPTEK dan teknologi saat itu.  

Jika perilaku pribadi nabi, apakah menyangkut cara hidup, berkeluarga, dan dalam menata kehidupan bermasyarakat, yang dapat didokumentasikan dengan baik dan memang terdapat secara eksplisit dalam Al-Qur'an, maka jelas cara hidup itu merupakan tuntunan Allah SWT yang bersifat universal dan eternal.

Contoh bagaimana nabi berpoligami (sesuai dengan surat an Nisa' ayat 2), menunjuk stafnya yang mukmin untuk memimpin pasukan dan negara (sesuai dengan surat al Maidah 52-57), membagikan waris kaum muslimin yang meninggal (lihat ayat-ayat tentang waris), melarang judi dan minuman keras (lihat ayat-ayat tentang khamr dan judi).

Menyuruh muslimah berjilbab (lihat ayat tentang berpakaian), memotong tangan pencuri, merajam pezinah, menghukum bunuh bagi pembunuh (baca ayat-ayat tentang pidana, dan tentunya termasuk rincian aturan pelaksanaannya, tidak sembarang tuduh mencuri, menuduh berzina, atau membunuh), maka tuntunan itu bersifat universal dan eternal. 

Praktik hidup nabi yang tidak secara eksplisit terdapat di dalam Al-Qur'an bisa saja bukan sebagai tuntunan Allah yang bersifat universal dan eternal sehingga tidak perlu dipraktikkan dalam kehidupan muslim di suatu lokasi pada suatu zaman yang berbeda. 

Contoh, manusia kutub malah tidak dianjurkan memakai kain katun tipis, malah harus memakai kain tebal dan yang lebih tertutup untuk melindungi diri mereka dari sengatan dingin di sana.

Jika muslim zaman ini berperang dengan lawan-lawannya menggunakan tank tentunya peralatan perangpun harus disesuaikan. Begitu pula dengan pola makan kaum muslimin harus sesuai dengan pola makanan halal yang disukainya. Nabi SAW menyatakan: "Kalian lebih mengetahui akan kehidupan di dunia kalian".

Hadits ini tentunya tidak boleh diselewengkan maknanya dengan mengingkari contoh praktek hidup nabi karena menganggapnya kita lebih tahu tentang dunia kita sendiri. Kita harus memahaminya secara lebih proporsional.

Perlu diingat bahwa praktik hidup nabi yang walaupun tidak tertera secara eksplisit dalam Al-Qur'an yang menyangkut masalah aqidah dan ibadah maghdhah ritual, harus tetap dinilai sebagai wajib untuk dipraktikkan sebagai penjabaran dari perintah dasar yang tertera dalam Al-Qur'an, seperti shalat 5 kali sehari, puasa Ramadhan, dan cara beribadah haji.

Kemudian praktik hidup Nabi yang terkait akhlak atau budi pekerti, juga wajib untuk ditiru karena masalah budi pekerti ini bersifat sukar yang bersifat universal dan eternal juga, seperti misalnya akhlak beliau menerima tamu, menyantuni musuh dan semacamnya.

Dengan pemahaman yang sempurna maka bisa diletakkan kedudukan HADITS sebagai acuan kedua. Hadits merupakan praktik hidup nabi yang diarsipkan secara terpercaya, menyangkut berbagai dimensi kehidupan di zamannya itu dibatasi pada berbagai ketentuan, yakni :

1). hadits itu harus terpercaya yang datang dari Nabi di masa beliau hidup (bukan hadits yang dipalsukan);
2). Substansi hadits itu tidak bertentangan dengan isi Al-Qur'an;
3). Materi hadits bisa tidak tertera dalam Al-Qur'an namun bersifat penjabaran dari perintah al Qur'an yang bernilai aqidah, ritual, dan akhlak;
4). materi hadits bisa tidak ada di dalam Al-Qur'an dan tidak menyangkut masalah aqidah, ritual, dan akhlak; namun masih dianggap relevan dengan kebutuhan pada masa kini.

Dengan ketentuan ini maka hadits tidak perlu dijadikan sumber acuan Islam bila :
1). tidak jelas bahwa itu datang dari Nabi;
2). tidak sesuai dengan isi Al-Qur'an karena bila demikian pasti hadits itu bernilai hadits palsu;
3). isinya tidak tercantum secara eksplisit di dalam isi Al-Qur'an padahal tidak bersifat aqidah, ritual, dan akhlak muslim.

Dari ketentuan diatas maka muslim bisa tetap teguh berpegang pada ajaran Allah SWT, tidak meninggalkan sunnah Rasul, juga bisa dinamis hidup sesuai dengan zamannya. Kitab-kitab hadits yang baku seperti shahih Buchari-Muslim harus dipelajari dengan patokan-patokan di atas.

C. KITAB KUNING (KITAB ULAMA SALAF)

Para ulama setelah zaman Khulafa al Rasyidin membuat kajian tentang Islam dari berbagai tinjauan permasalahan yang terjadi di masa itu. Di antaranya terkenallah ulama yang memiliki pengaruh besar dalam memberi penafsiran tentang agama Islam, yakni Imam Hanafiah, Malik, Syafei, dan Hambali. Mereka hidup pada zaman yang berbeda dan memiliki kawasan pengaruh yang berbeda pula.

Dalam menyampaikan pendapatnya tentang berbagai masalah, sering para imam tersebut bertentangan dengan penguasa di zamannya, bahkan perbedaan itu sedemikian berat sehingga beberapa imam dimasukkan penjara.

Karya tulis para imam atau ulama masa lalu itu sering ditulis dalam kitab yang dicetak dalam kertas berwarna kuning sehingga di Indonesia disebutlah kitab kuning. Bagaimana statusnya dalam sistem acuan diinul Islam ?. Secara singkat dapat diterangkan bahwa kitab ini merupakan karya ulama masa lalu sesuai kondisi pemikiran, permasalahan, dan kemampuan analisis mereka yang bisa saja berbeda dengan kondisi terkini.

Makanya isi kitab ini tidak secara otomatis menjadi prinsip yang bersifat universal dan eternal dan harus selektif terhadap isinya. Bagaimana proses seleksi kita ?.

Dari sejarah banyak perbedaan pemikiran di masa lalu sebagian bersumber dari lemahnya acuan Islam yang dimiliki (setelah wafatnya Rasulullah dan para sahabat), dan karena kemampuan nalar yang berbeda dari masing-masing pemikir akan suatu masalah yang dihadapi.

Jangan diabaikan pula factor kekuasaan politik yang ikut berperan pada berkembangnya suatu pemikiran. Para imam madzhab dalam sejarah hidupnya mengalami pasang surut kehidupan oleh pemegang kekuasaan, misalnya suatu kali dipenjara lalu dilepaskan karena penguasanya berganti, atau ditahan lagi karena ada pergantian sultan baru, dan seterusnya.

Jadi banyak pemikiran Islam yang berkembang pada masa lalu tidak terpisahkan dari situasi politik pada zamannya. Banyak juga pemikiran bahkan bisa diperkirakan timbul justru karena motivasi untuk mendukung suatu kekuasaan tertentu.

Dari sisi substansi pemikiran juga dapat difahami bahwa kebanyakan pemikiran menyangkut aspek filsafat, ilmu kalam (teologi), ritual, dan akhlak. Wilayah itulah yang paling populer di zaman itu karena ilmu pengetahuan memang belum berkembang seperti sekarang. 

Perkembangan IPTEK memang mengalami kemajuan luar biasa pada akhir abad 20 ini sehingga prestasi keilmuan masa lalu jadi tertinggal, apakah di bidang matematika, fisika, kimia, astronomi, kedokteran, sosiologi, dan sebagainya. 

Berdasarkan analisis ini maka pantas difahami bagaimana cara kita membuat acuan dalam mendalami Islam pada era modern ini. Maka acuan dasar kita haruslah kembali kepada standar, yakni Al-Qur’an. Acuan Haditspun harus berorientasi pada dokumentasi hadits-hadits sahih. 

Kedua sumber pokok itu haruslah ditelaah dengan ketajaman pikir dan kemampuan analisis modern, kecuali jika menyangkut masalah-masalah yang relative statis perkembangannya seperti masalah ritual, filsafat, dan akhlak.

Untuk problematika sosial yang dinamis sudah seharusnya kita lebih mempertajam kemampuan pemikiran kita langsung kepada Al-Qur'an dan hadits-hadits yang sahih. 

Dari uraian ini dapatlah dipahami peran kitab kuning dalam sistem acuan dalam diinul Islam kini dan masa mendatang. 

D. PRODUK ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI (IPTEK)

Allah SWT menciptakan alam dan isinya dengan sifat khusus untuk tiap ciptaan itu. Contoh, air diciptakan dalam bentuk cair, mendidih pada suhu seratus derjat celcius dan menjadi es pada suhu udara nol derajat celcius. Sifat ini melekat pada benda sejak diciptakan dan manusia secara bertahap mulai memahaminya. Semua yang melekat pada suatu ciptaan itulah yang dinamakan 'sunnatullah'.

Dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat yang memerintahkan manusia untuk memperhatikan alam semesta, mengkaji dan meneliti ciptaan Allah, sebagai contoh surat al Ghasiyah ayat 5.

Oleh sebab itu sudah menjadi suatu kewajiban bagi kaum muslim untuk melakukan penelitian tentang alam guna menghayati kebesaran Allah SWT dan sekaligus memanfaatkannya untuk kepentingan hidup manusia. 

Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa Allah menciptakan bumi dan langit beserta segala isinya itu untuk diambil manfaatnya untuk kebutuhan hidup manusia. Di sinilah sesungguhnya hakikat ilmu pengetahuan dan teknologi itu ditinjau dari sudut pandang Agama Islam.

Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi merupakan hasil kajian manusia akan sunnatullah adalah sumber acuan Islam juga karena Islam mengajarkan manusia untuk mendalami sunnatullah dan hidup mengamalkan nilai-nilai sunnatullah itu.

Isi Al-Qur'an pada dasarnya juga sunnatullah, namun tidak diperoleh manusia melalui jalur penelitian langsung ke obyeknya, namun lebih bersifat transendental dari Allah SWT secara pemberitaan langsung kepada manusia melalui Rasul-Nya. Isi hadits juga sunnatullah yang diperoleh manusia karena mengamati praktik hidup dan pedoman yang ditunjukkan oleh Utusan-Nya. 

Sunnatullah yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi tidak bisa diketahui oleh manusia melalui penelitian karena wilayah pengamatannya di luar jangkauan manusia, seperti sifat-sifat Allah, karakteristik malaikat, iblis, surga-neraka, cara beribadah yang diterima oleh Allah, dan sebagainya. 

Inilah yang dikategorikan ilmu Tauhid dan Ibadah Maghdhah (ritual). Lainnya banyak isi Al-Qur'an dan hadits yang menyangkut karakteristik ciptaan-Nya yang dapat diamati melalui penelitian, seperti di dalam madu itu ada obat, Allah menyimpan jasad Fir'aun untuk pelajaran bagi manusia (penemuan arkeologis akan mummi Faraoh), dan sebagainya.

Namun perlu ditekankan bahwa sunnatullah tentang makhluk atau ciptaan-Nya yang dapat ditemukan oleh penelitian memang tidak banyak diberikan oleh Allah melalui wahyu, kecuali beberapa contoh sebagai  bukti kebesaran Allah.

Sementara masalah-masalah yang IPTEK kesulitan mengkajinya, seperti akhlak manusia dan berbagai prinsip pengendalian sistem sosial kemasyarakatan juga banyak diwahyukan Allah kepada manusia melalui utusan-Nya. 

Dengan kata lain, isi kandungan Al-Qur'an dan hadits secara umum nampak sekali adanya ukuran yang berbanding terbalik antara sunnatullah yang diberitakan melalui wahyu dengan sunnatullah yang dihasilkan oleh proses penelitian. 

Masalah ghaib yang berada di luar jangkauan Ilmu dan tekhologi amat banyak diberikan Allah melalui jalur wahyu. Masalah akhlak dan sosial kemasyarakatan juga banyak diberikan langsung secara transendental, seperti prinsip waris, ciri kualitas manusia mukmin, munafik, dan kafir, kriteria untuk pemimpin yang boleh mengelola sistem sosial, dampak judi, dampak khamr, dan sebagainya. 

Sedangkan sunnatullah yang dapat ditemukan melalui jalur Ilmu Pengetahuan maka amat sedikit sekali Allah SWT memberikannya melalui wahyu. Inilah bukti keagungan Allah dalam membimbing makhlukNya di mana manusia diberikan kecerdasan mengenali sunnatullahNya dengan dua jalur yang saling mendukung satu dengan lainnya. 

Pemahaman ajaran agar manusia wajib mengetahui sebanyak mungkin sunnatullah apakah melalui jalur wahyu ataupun jalur kajian sendiri supaya cara hidupnya benar dan bermanfaat maka jelas sekali bahwa produk IPTEK merupakan sumber acuan Islam yang amat berharga, namun tidak boleh bertentangan dengan kandungan Al-Qur’an, dan apabila memang didapatkan bertentangan pastilah hasil IPTEK tidak benar dan harus dikaji ulang.

E. PRODUK MUSYAWARAH CERDIK-CENDIKIA MUKMIN

Dalam kehidupan sehari-hari manusia menghadapi masalah yang sulit dipecahkan. Upaya pemecahannya selalu dimulai dengan mencari jawabannya dari kandungan Al-Qur'an dan Hadits. 

Bila tak ditemukan muslim harus mencoba melihat pendapat ulama melalui kajian Kitab Kuning. Bila tidak ditemukan perlu dicari pula produk IPTEK dari buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Namun sering terjadi bahwa suatu masalah tidak bisa ditemukan jawabannya dari Kandungan Al-Qur'an, Hadits, Kitab Ulama salaf, dan Buku IPTEK, padahal masalah itu harus secepatnya dipecahkan karena kebutuhan yang mendesak. 

Di sinilah peran hasil musyawarah para cerdik-ccndekia yang beriman. Disebutkan secara khusus ‘musyawarahnya cerdik-cendekia yang beriman' karena hanya mereka yang akan mengikuti pola acuan sistematis Islami seperti diuraikan di atas. 

Dari musyawarah itu akan lahirlah suatu pemecahan masalah yang berbobot sehingga sesuai atau minimal mendekati prinsip sunnatullah yang dimaksud. Masalah yang memerlukan proses musyawarah adalah masalah sosial terkini dengan ciri baru di era baru. 

Misalnya pemecahan masalah halal-haramnya bayi tabung, sterilisasi, pembatalan perkawinan karena pasangannya mengidap penyakit, memilih pemimpin dari dua atau lebih calon yang sesuai persyaratan Al-Qur‘an, Hadits, dan kemampuan keahliannya.

Dengan memakai sistem acuan diinul Islam yang utuh seperti di atas, yaitu Al-Qur'an, Hadits, Pandangan Ulama Salaf, Produk IPTEK mutakhir, dan Musyawarah maka semua masalah di dunia ini akan terpecahkan. 

F. PETUNJUK/NASIHAT PEMIMPIN ATAU IMAM YANG DIPILIHNYA

Beberapa ayat Al-Qur'an dan hadits nabi yang memerintahkan muslim harus memiliki pemimpin/imam. Bukan imam shalat yang sering berganti-ganti namun imam dalam arti pemimpin yang ditaati untuk membimbingnya memecahkan masalah dalam proses kehidupan sehari-hari. 

Pemimpin atau imam dimaksud adalah imam atau pemimpin yang dipilih dengan ikhlas dan mantap oleh orang Islam untuk memberi arahan dan petunjuk agar hidupnya semakin benar sesuai dengan ajaran Islam sehingga terjamin menjadi hamba Allah yang berhasil di dunia dan akhirat.

Nasihat Imam atau Pemimpin dalam Islam bersifat wajib ditaati selama nasihat atau petunjuk itu sesuai dengan isi Al-Qur'an dan Hadits Nabi. 

Hal-hal yang tidak tercantum dalam Al-Qur'an dan hadits dan tidak juga bertentangan dengan hasil kajian obyektif IPTEK serta hasil Musyawarah yang mengikat, maka nasihat atau petunjuknya merupakan rujukan yang harus ditaati untuk proses kehidupan sehari-hari. 

Contoh, jika seorang muslimah yang ingin memilih satu di antara dua calon suami yang sama baik kualitas imannya, maka petunjuk dan bimbingan imam harus dilaksanakannya.

Imam atau pemimpin harus dipilih secara benar, yakni orang yang sudah berkualitas pejuang Islam dan memiliki keilmuan dan kemampuan di bidang ibadah maghdhah (ritual) serta ibadah sosial (muamalah) yang luas wawasannya tentang ideologi, ekonomi, politik, sosial-budaya, dan hankam.

Seorang muslim yang belum dewasa dan muslimah yang belum menikah maka imam atau pemimpinnya adalah ayahnya sendiri selama ayahnya itu mempunyai kualitas keimanan yang lebih baik darinya.

Jika muslimah itu sudah menikah maka suaminyalah yang menjadi imamnya apabila si suami memiliki tingkat keimanan yang lebih baik darinya. 

Jika ayah atau suaminya rendah kualitas keimanannya maka bersama si ayah atau si suami dia perlu memilih orang lain sebagai imam atau pemimpinnya dalam berislam. 

Untuk laki-laki dewasa yang berstatus bujangan atau suami atau ayah maka perlu mengangkat orang lain sebagai pemimpin untuk memenuhi sistem acuan dalam menjalani hidup Islami dalam kehidupannya. Wallahu A’lam Bishshawab.

Baca juga : Ada Lima Macam Hukum Syara’

Sayap Makruf Sayap Jihad

MARWAHISLAM.net | Sayap Makruf Sayap Jihad – harus dijalankan karena merupakan petuah Ulama besar, Syekh Muhammad al-Ghazali bekata, Amar makruf nahi mungkar dan berjihad pada jalan Allah merupakan dua sayap yang mengayomi keimanan dan menjadikannya amalan positif untuk kehidupan. Tiada sempurna hidan melainkan dengan kedua sayap itu."

Sudahkah kita melakukanna dan mengepakkan kedua sayap seperti dinyatakan Al-Ghazali ?. Kepakkan sayap kita tidak selamanya sesuai dengan tuntutan hati nurani. Kadangkala kepakkan sayap membumbung tinggi tanpa menghiraukan sekitar kita, di kesempatan yang lain hari menukik tajam menuju bumi dan terhempas habis !

Atau sering kita terbang terlalu tenang, menikmati alam sambil mengepakkan sayap dengan perlahan. Kita juga pernah terbang bersusah payah melawan angin yang bertiup kencang, hingga bulu-bulu di sayap kita berguguran helai demi helai atau déngan sengaja bulu-bulu sayap kita dicabuti sedang kita mati kedinginan dan kelelahan. Siapa yang perduli ? Romantika kehidupan ibarat terbang dengan dua sayap.

SAYAP JIHAD

Berbuat kebajikan dan berjihad membela yang benar, memang tidak pernah mulus apalagi lancar. Namun ingatlah nasihat Luqman kepada putranya, dalam surah Luqman ayat 17, ”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)."

Baca juga : Hukum Syara’ Pasti Mengandung Maslahat