Advertisement

Advertisement

Kematian Itu Pasti Karena Datangnya Ajal

MARWAHISLAM.net | Banyak orang yang menyangka bahwa penyebab kematian itu bermacam-macam. Kadangkala kematian diawali dari mengidap penyakit keras. Kadang diserang AIDS, leuchemia, kanker, tumor ganas danlain sebagainya, penyakit sampar atau sebab ditusuk dengan pisau, ditembak dan terbakar api. Kadang juga dipenggal kepalanya, adakala serangan jantung atau stroke dan lain sebagainya. 

Mereka mengatakan bahwa semua itulah penyebab datangnya kematian.  Artinya, kematian itu datang karena sebab. Pada hakikatnya, kematian dan sebab kematian adalah satu, yaitu sampainya ajal, tidak ada sebab yang lainnya.  Berbagai contoh di atas, yang seringkali terjadi dan dapat mengantarkan kepada kematian, dan hanyalah suatu kondisi yang mengantarkan kepada kematian, dan bukan penyebab kematian itu sendiri.

Suatu sebab akan menimbulkan akibat secara pasti dan satu akibat atau musabab tidak akan terjadi melainkan dengan adanya satu sebab bagi musabab itu sendiri.

Berbeda dengan kondisi, yang merupakan suatu kondisi yang berkaitan dengan hal ikhwal tertentu misalnya dibunuh, mendapatkan hukuman mati, penyakit yang mematikan dan lain-lainnya yang kebiasaannya  dapat menghasilkan sesuatu. Akan tetapi keadaan atau kondisi kadang-kadang menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan atau bahkan tidak menghasilkan sesuatu apa pun. 

Kematian Itu Pasti Karena Datangnya Ajal

Kadang-kadang ditemukan adanya suatu keadaan yang mematikan namun tidak berakhir dengan kematian, dan tidak jarang telah terjadi kematian padahal tanpa didahului oleh suatu kondisi atau keadaan pun.

Memang, banyak hal atau kasus yang dapat mengantarkan kepada kematian. Namun hubungan antara keduanya itu tidak bisa dijadikan sebagai postulat kausalitas, karena seringkali terjadi kasus ataupun peristiwa yang dianggap mematikan itu terjadi namun kematian tidak datang.

Sebaliknya, peristiwa kematian itu bisa saja datang tanpa didahului oleh suatu peristiwa atau kasus.  Misalnya orang yang ditusuk dengan pisau dan menderita luka yang sangat parah yang menurut analisa medis sudah tidak ada lagi harapan hidup, tetapi ternyata ia tidak mati, bahkan kemudian sembuh dan sehat kembali. 

Begitu juga, seringkali terjadi kematian tanpa ada penyebab yang pasti dan jelas, yaitu di luar perhitungan medis, seperti serangan jantung tiba-tiba yang biasanya membawa kematian secara mendadak.

Kejadian-kejadian di atas tadi, banyak ditemui dan diketahui oleh para dokter.  Ribuan kasus terjadi rumah-rumah sakit, suatu sebab yang biasanya secara pasti dan lazim dapat mengantarkan kematian pada seseorang ternyata orang tersebut tidak mati, sebaliknya kematian itu bisa datang kapan saja dan dimana saja secara tiba-tiba tanpa ada yang tahu penyebabnya. 

Berdasarkan hal ini, para dokter umumnya menggambarkan keadaan pasien yang telah "sekarat” sebagai seorang penderita penyakit mematikan yang menurut ilmu kedokteran sudah tidak punya harapan untuk hidup lagi namun berpeluang sembuh, dan hal ini berada di luar pengetahuan kita. 

Begitu pula pendapat mereka terhadap seorang pasien yang keadaannya tidak membahayakan atau dalam keadaan sehat wal afiat tetapi tiba-tiba kondisinya berangsur memburuk.

Itulah fakta kehidupan yang telah disaksikan dengan jelas oleh manusia termasuk juga para ahli kedokteran. Jelaslah bahwa suatu peristiwa yang dapat mengakibatkan kematian tetapi bukan merupakan penyebabnya. Jika itu dianggap penyebab maka pastilah akan menghasilkan kematian. 

Kematian juga tidak dapat terjadi dengan kasus lain, dikarenakan tidak secara pasti dapat menghasilkan kematian, walaupun untuk satu kasus saja dan kematian dapat terjadi dengan segala macam cara, walau hanya dalam satu kasus atau peristiwa, menunjukkan bahwa secara pasti kalau itu bukan penyebab tetapi hanya ”kondisi” saja.

Sedangkan penyebab kematian yang sebenarnya yang dapat memberikan akibat adalah sesuatu yang lain dan bukan seperti yang dijelaskan dalam ”kasus atau kondisi" di atas. Adapun penyebab kematian yang sebenarnya berada di luar jangkauan akal sehat manusia.

Sehingga harus mencari petunjuk dari Allah SWT tentang masalah ini yang dapat dibuktikan dengan dalil yang qath‘i baik dalalahnya maupun sumbernya.  Allah SWT melalui beberapa ayat dari Al Qur’an, menyampaikan kepada kita bahwa penyebab dari kematian itu adalah sampainya ajal, dan bahwa dzat yang mematikan adalah Allah SWT. Kematian itu terjadi hanya karena datangnya ajal dan hanya Allah yang mematikan.

Firman Allah SWT :  "Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya." (Ali-Imran ; 145).

"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati ketika tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir." (Az-Zumar ; 42).

"...Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.“ (AI Baqarah 258).  "Di mana saja kamu berada kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang kokoh." (An-Nisaa’ ; 78).  

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu." (AI-Jumuah ; 8). “Maka jika telah datang batas waktunya (ajal), mereka tak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat memajukannya." (Al-A’raf ; 34).

Semua ayat tersebut di atas dan banyak lagi ayat lainnya, adalah qath'i tsubut, yaitu bersumber pasti dari Allah dan qath’i dilalah yaitu bahwa Allah yang mematikan (makhluk). Dan sesungguhnya sebab datangnya kematian adalah sampainya ajal, bukan berupa keadaan/kondisi" yang dapat menghantarkan pada kematian.

Makanya, seorang muslim wajib beriman berdasarkan akal dan syara’ bahwa apa yang dianggapnya sebagai penyebab kematian tetapi hanya merupakan ”keadaan" bukan berupa sebab, dan bahwa penyebab itu sesuatu hal yang berbeda, juga syara’ telah menetapkan melalui dalil yang qath'i bahwa kematian itu berada di tangan Allah. 

Allah SWT merupakan dzat yang berhak mematikan dan penyebab kematian itu sendiri adalah datangnya ajal. Jika sudah tibanya ajal maka kematian sama sekali tidak dapat diundurkan ataupun dimajukan biar sedetikpun, dan manusia tidak akan mampu menghindarinya atau lari dari kematian secara mutlak. Dan mati pasti akan menjemputnya.

Hanya saja manusia diperintahkan agar bersikap waspada dan menjauhkan diri dari ”keadaan ataupun kondisi" yang biasanya dapat mengantarkannya kepada kematian, yaitu dengan cara menjauhkan atau menghindari diri dari suatu keadaan atau kondisi yang biasanya dapat mengantarkannya kepada kematian.  Makanya manusia tidak perlu takut maupun lari dari kematian karena tidak akan mungkin untuk mampu menghindari kematian itu secara mutlak.

Jadi, Manusia pasti tidak akan mati melainkan telah sampai padanya ajal. Tak ada bedanya apakah ia mati biasa, terbunuh, terbakar, atau yang lainnya. Jelas sekali bagi kita bahwa kematian dan ajal itu pasti berada di tangan Allah SWT. Subhanalladzii Laa Yamuut.

Baca juga : 50 Tahun Lagi Dunia Bakal Kiamat

Psikologi Dan Sosiologi Serta Ilmu Pendidikan

MARWAHISLAM.net | Di kalangan masyarakat, baik awam maupun terpelajar, banyak terjadi kerancuan pandangan terhadap pendapat yang keluar dari cara berpikir aqliyah dan teori-teori iimiah yang dihasilkan oleh pola pikir sains.

Bersumber dari anggapan yang rancu inilah mereka mengira psikologi, sosioiogi, dan ilmu pendidikan sebagai sebuah ilmu pengetahuan, dan pendapat yang dikeluarkannya dianggap sebuah pemikiran ilmiah.


Sebab, menurut mereka, ilmu-ilmu itu dibangun berdasarkan hasil amatan yang dilaksanakan secara berulang-ulang terhadap anak dalam keadaan dan usia yang berbeda atau dilakukan terhadap kelompok masyarakat dalam keadaan berbeda.  Anggaplah Penelitian yang mereka lakukan secara berulang itu kemudian dinamakan ”penelitian ilmiah”.

Sesungguhnya psikologi, sosiologi, dan ilmu pendidikan, bukanlah berupa pemikiran ilmiah, kecuali pemikiran dari hasil pola pikir rasional karena penelitian ilmiah merupakan cara memperlakukan sesuatu pada situasi tertentu dan bukan dalam keadaan apa yang alami. 

Psikologi Dan Sosiologi
Dari hasil tersebut dilakukan pengamatan untuk melihat hasilnya. Dengan Kata lain, penelitian ilmiah dilakukan terhadap materi atau benda seperti penelitian di bidang ilmu pengetahuan alam atau ilmu kimia.  Jika terhadap "sesuatu” (dalam hal ini manusia) pada waktu, situasi dan kondisi yang berbeda tidak dapat dikatakan sebagai penelitian ilmiah.

Makanya, pengamatan terhadap anak-anak atau balita pada keadaan dan usia yang berbeda, atau mengamati sekelompok masyarakat di berbagai negara pada keadaan yang berbeda, dan mengamati perbuatan atau aktifitas beberapa orang dalam keadaan yang berbeda, tidaklah termasuk dalam kategori penelitian ilmiah, hingga tidak tergolong dalam pola pikir sains. 

Dari uraian di atas, maka pendapat-pendapat mengenai kategori ilmu psikologi, ilmu sosiologi, dan ilmu pendidikan merupakan pendapat yang berdasarkan cara berpikir rasional dan tergolong dalam pembahasan ilmu sains.

Kemudian, apa yang dihasilkan dari ilmu psikologi, sosiologi dan ilmu pendidikan merupakan pendapat yang bersifat dugaan atau persangkaan yang sudah pasti mengandung kesalahan dan bukan yang bersifat pasti.

Oleh karenanya, tidak dibenarkan untuk dijadikan sebagai dasar atau asas menentukan hakikat sesuatu atau dijadikan sebagai pegangan untuk menentukan benar-tidaknya sesuatu. 

Sebab ilmu-ilmu semacam ini, tidak tergolong dalam realita ilmiah atau postulat ilmiah, shinga bisa dikatakan benar ketika terbukti kesalahannya. Namun ia tetap sebagai pengetahuan yang bersifat dugaan yang dihasilkan melalui cara dan metode yang tidak menghantarkan pada suatu kepastian.

Walau diakui bahwa ilmu-ilmu tersebut dihasilkan melalui pola pikir rasional, tetapi tidak berupa penentuan terhadap "keberadaan" sesuatu.  Metode penentuan itu masih bersifat dugaan yang mengandung unsur kesalahan.

Maka, ketiga ilmu pengetahuan tersebut sebenarnya dibangun di atas dasar kesalahan, maka wajar apabila pemikiran-pemikiran yang dihasilkannya mengandung berbagai pendapat yang keliru.

Berdasar pada kenyataan, ilmu. psikologi secara umum dibangun berlandaskan pandangannya terhadap naluri dan otak manusia.  Pakar ilmu psikologi memandang bahwa dalam diri manusia terdapat banyak naluri yang sebagiannya telah diketahui dan yang lain belum terungkap. 

Di atas pandangan yang salah terhadap naluri tersebut, para psikolog mengembangkan teori-teori yang salah yang menyebabkan kerancuan sebagian besar pemikiran yang terdapat dalam ilmu psikologi.

Adapun pandangannya tentang otak, maka ilmu psikologi menganggap otak manusia terbagi dalam beberapa bagian dimana setiap bagian punyai bakat yang spesifik dan otak sebagian manusia mempunyai bakat yang tidak dimiliki oleh manusia yang lain.

Katanya sebagian manusia mempunyai bakat untuk memahami bahasa, sedangkan yang lain berbakat di bidang matematika dan seterusnya.  Atas dasar pandangan yang keliru ini telah dikembangkan banyak teori yang salah sehingga menyebabkan kesalahan dalam banyak pendapat yang terdapat dalam ilmu psikologi.

Setelah mengamati reaksi manusia dapat dilihat bahwa dalam diri manusia terdapat potensi yang dinamis yang memiliki dua gejala.  Pertama mengharuskan terpenuhinya kebutuhan secara pasti, yang bila tidak dipenuhi dia akan mati.  Sedangkan yang kedua memerlukan pemenuhan, bila tidak terpenuhi ia tetap hidup tetapi akan menderita "sakit” dan gelisah.

Pada gejala pertama dapat dimasukkan kebutuhan jasmani, seperti rasa lapar, haus, atau buang hajat.  Sedangkan pada gejala yang kedua dapat dimasukkan naluri, yaitu naluri beragama, naluri mengembangkan dan melestarikan keturunan, serta naluri untuk mempertahankan diri. 

Semuanya muncul dalam bentuk perasaan-perasaan kekurangan dan ketidakmampuan, seperti perasaan untuk mempertahankan jenis keturunannya dan perasaan untuk mempertahankan diri. 

Selebihnya hanyalah manifestasi dari naluri tersebut, seperti rasa takut dan cinta kekuasaan yang merupakan manifestasi untuk naluri mempertahankan diri atau seperti pengagungan terhadap pahlawan dan ingin menyembah sesuatu adaIah manifestasi dari naluri beragama, begitu pun dorongan seksual, rasa kebapakan, keibuan dan rasa persaudaraan tidak lain merupakan manifestasi dari naluri mengembangkan dan melestarikan jenis. 

Jika dilihat dari segi anatomi, manusia mempunyai otak yang sama walau pun tidak ditemui perbedaan dari segi pemikiran yang disebabkan oleh perbedaan daya serap indera dan informasi yang diperolehnya, serta berbeda daya nalar yang mengaitkan antara fakta dengan informasi yang telah diterima. 

Otak mempunyai daya pikir yang ditunjang oleh empat unsur; yaitu otak, informasi yang diperoleh, fakta yang diterima oleh indera dan panca indera. Perbedaan dalam otak hanyalah pada ”kekuatan nalar” dan kekuatan "daya serap indera".  Kekuatan ini tak ubahnya dengan kekuatan yang terdapat pada mata dalam melihat sesuatu, atau telinga dalam mendengarkan suara. 

Makanya tiap orang dapat diberi pengetahuan apapun, maka tidaklah benar pendapat dalam ilmu psikologi yang menyatakan bahwa pada otak manusia terdapat perbedaan berdasarkan bakatnya.

Kini, jelas bagi kita bahwa ada kesalahan pandangan ilmu psikologi terhadap otak dan naluri manusia.  Suatu hal yang menyebabkan adanya kekeliruan dalam semua teori yang didasarkan pada pandangan tersebut.

Sedang ilmu sosiologi, umumnya dibangun berdasarkan pandangannya terhadap individu dan masyarakat. Kata Iain, pandangannya bersifat individual, sehingga menggolongkan amatannya berdasarkan individu, kemudian keluarga, kelompok atau perkumpulan organisasi dan terakhir kepada masyarakat, dengan anggapan bahwa masyarakat terbentuk dari individu.

Para sosiolog membuat asumsi bahwa masyarakat itu berbeda-beda.  Sehingga apa yang dianggap cocok untuk suatu masyarakat belum tentu cocok dengan masyarakat lain. Dasar inilah para pakar sosiolog membuat teori-teori yang salah, yang menjadi bakal munculnya pemikiran-pemikiran keliru dalam ilmu sosiologi.

Fakta menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya terbentuk dari perkumpulan individu- individu yang akan membentuk kumpulan individu dan bukan masyarakat. Sekelompok individu tidak akan membentuk masyarakat, kecuali jika diantara individu itu telah terjadi interaksi yang terus menerus. 

Tanpa interaksi tetaplah sebagai kelompok orang saja, misalnya sepuluh ribu penumpang kapal tidak bisa disebut masyarakat.  Tetapi, seratus orang yang tinggal di sebuah desa bisa dikatakan masyarakat, karena diantara mereka terjalin interaksi yang berlangsung secara terus menerus. 

Interaksi itulah yang menjadikannya sebagai masyarakat. Karenanya, pembahasan tentang masyarakat harus dititikberatkan kepada adanya interaksi, bukan pada sekelompok manusia.  Dan, yang menumbuhkan interaksi antar individu anggota masyarakat adalah kemaslahatan dan kepentingan mereka.

Apabila ada kemaslahatan, maka akan tumbuh interaksi.  Suatu kemaslahatan akan menumbuhkan interaksi, jika mengandung tiga factor :

(1) Adanya pandangan atau pemikiran yang sama di antara kedua belah pihak tentang sesuatu yang dianggap maslahat. Agar tumbuhnya interaksi, masing-masing harus mempunyai pandangan yang sama terhadap kemaslahatan.

(2.) Perasaan terhadap suatu kemaslahatan harus sama.  Apabila dua belah pihak merasa senang dan benci secara bersama-sama, maka akan timbul interaksi.  

(3) Hanya ada satu peraturan yang mengatur kemaslahatan itu, tidak dualisme.  

Dengan bersatunya pemikiran, perasaan, dan peraturan diantara individu maka terbentuklah suatu masyarakat.  Individu-individu yang demikian akan membentuk masyarakat yang khas.

Jika ingin menggabungkan dua atau beberapa kelompok masyarakat dengan maksud membentuk masyarakat baru, maka haruslah merombak pemikiran, perasaan dan peraturannya, lalu berusaha menggantinya dengan pemikiran, perasaan dan peraturan yang disepakati keduanya.

Makanya, definisi masyarakat yang terdiri atas sekumpulan individu berbanding terbalik dengan arti masyarakat yang didasarkan pada suatu ideologi. Definisi itu hanya cocok untuk masyarakat tertentu.

Pengertian masyarakat adalah terbentuk atas unsur manusia, pemikiran, perasaan, dan peraturan.  Inilah yang menjadikan masyarakat yang berbeda menjadi satu setelah diadakan penyamaan terhadap pemikiran, perasaan dan peraturan.

Perbedaan antara manusia dan individu adalah bahwa jika membahas tentang sifat atau karakter tertentu, misalnya Muhammad, Khalid, Hasan, maka yang menjadi obyek pembahasan adalah aspek individunya. 

Berbeda jika yang dibahas pada orang tersebut dari segi kemanusiaan yang fitri dan alami yang ada pada manusia seperti akal, naluri, kebutuhan jasmani, dan lain-lain, maka yang menjadi obyek pembahasan adalah aspek kemanusiaannya, walaupun yang dibahas adalah orang-orang tertentu.

Usaha perbaikan yang bersifat fundamental terhadap masyarakat adalah dengan cara membahas masyarakat sebagai kumpulan manusia, perasaan, peraturan, dan pemikiran serta bukan dari aspek individu-individunya.

Itulah definisi masyarakat, juga pandangan yang benar tentang pembentukan masyarakat. . Dengan ini, jelaslah bahwa pandangan yang salah terhadap masyarakat telah menghasilkan banyak teori sosiologi yang salah, bahkan mengakibatkan terjadinya pandangan yang salah dalam ilmu sosiologi dalam seluruh aspek pembahasannya.

Pembahasan ilmu sosiologi tentang kelemahan yang menyeluruh terdapat pada kelompok masyarakat dalam memahami setiap sesuatu yang lebih lemah dibandingkan individu.  Atau reaksi yang lebih cepat terpengaruh dibandingkan apa yang didapati pada individu, maka kebenaran pandangan ini bukan karena pandangannya terhadap masyarakat, melainkan karena adanya akumulasi informasi yang berkernbang dibandingkan dengan apa yang diperoleh individu yang mempengaruhi kepuasan terhadap suatu fakta. 

Kebenaran itu disebabkan manifestasi untuk hidup berkoloni yang tampak dalam kehidupan masyarakat dapat membangkitkan reaksi yang merupakan salah satu manifestasi naluri mempertahankan diri. 

Oleh karena itu, setiap teori yang dibangun atas dasar pandangan ilmu sosiologi terhadap masyarakat adalah keliru.  Sedangkan apa yang dianggap benar, maka kebenaran itu diakibatkan oleh sebab lain (seperti yang dijelaskan di atas) selain pandangan yang ada terhadap masyarakat.

Dari uraian diatas maka ilmu sosiologi penuh dengan kekeliruan, karena dilandaskan pada pandangan yang keliru yaitu pandangannya terhadap masyarakat dari individu.   Adapun ilmu-iImu pendidikan didirikan berlandaskan ilmu sosiologi dan dipengaruhi oleh teori-teori sosiologi disamping merupakan hasil pengamatan terhadap aktifitas individu atau keadaan beberapa anak. 

Landasan seperti ini menyebabkan bercampurnya antara yang besar dan yang salah dalam ilmu-ilmu pendidikan. Akibatnya apa yang dibangun berdasarkan ilmu psikologi dan teori-teori sosiologi menghasilkan kerusakan yang menyebabkan munculnya banyak teori pendidikan yang rusak dan melahirkan sistem pendidikan yang kacau.

Pernyataan bahwa seorang anak mempunyai kemampuan menyerap suatu cabang ilmu tetap tidak mampu menyerap cabang ilmu yang lain adalah pandangan yang salah. Maka pembagian ilmu menjadi ilmu pengetahuan alam (sains) dan ilmu sosial, serta membiarkan anak memilih dan mempelajari ilmu tertentu berdasarkan kemampuan daya serapnya adalah pandangan yang salah pula. 

Ini adalah pandangan yang amat keliru dan bertentangan dengan fakta, sekaligus membahayakan upaya pembangunan umat.  Termasuk pandangan yang keliru adalah pernyataan bahwa seseorang tidak berbakat mempelajari sebagian ilmu dan berbakat dalam ilmu yang lain.

Hal ini akan mencegah banyak orang mempelajari jenis-jensi ilmu tertentu dan menghalangi banyak orang melanjutkan pendidikannya.

Teori yang muncul dalam dunia pendidikan berdasarkan pengamatan terhadap anak-anak dan aktifitas perorangan pada kondisi dan situasi yang berbeda, kadang-kadang benar-benar sesuai dengan kenyataan. 

Demikian juga dengan dipilihnya sistem SKS disertai ujian yang diadakan dalam dunia pendidikan.  Dari sini muncullah kesalahan-kesalahan dalam teori pendidikan, serta kerusakan pendidikan dalam segala aspek, khususnya teori-teori yang dibangun berdasarkan ilmu psikologi dan dipengaruhi oleh teori ilmu sosiologi.

Wassalam dan Terimakasih, mudah-mudahan artikel ini dapat menjadi bekal dasar untuk diskusi dalam upaya pengembangan pendidikan kita, aamiiin.

Baca juga : 40 Hadits Tentang Pemimpin Dan Penjelasanya

Marahnya Aristoteles

MARWAHISLAM.net | Problems, problems, problems all day long. Will my problems work all right or wrong..., Masalah, masalah, masalah sepanjang hari.  Akan menjadi masalah saya bekerja baik-baik atau salah ..., emangnya beda ya, marahnya Aristoteles dan marahnya bos kita disini ?.

Demikian alunan lagu The Everly Brothers yang popular di era enam puluhan.  Semua masalah yang menyusahkan hati tidak menjadikan mereka pesimis. Bahkan sebaliknya, masalah yang sedang dihadapi mereka ubah menjadi lagu yang indah dan nikmat didendangkan dan menghasilkan jutaan dolar.   Luar biasa !.  Bagaimana dengan Anda ?.


Bisa jadi semua masalah yang timbul, berawal dari suatu hal sederhana, mampu memercikkan api kemarahan kita.  Padahal kalau ingin marah, rasanya kita perlu mengingat dulu nasihat Aristoteles sebagai berikut. ”Anyone can become angry-that is easy. But to be angry with the right person, to the right degree, at the right time, for the right purpose, and in the right way that is not easy.”

Artinya siapapun bisa menjadi marah dan mudah untuk marah. Tapi untuk melampiaskan marah dengan orang yang tepat, dengan derajat yang tepat, pada waktu yang tepat, untuk tujuan yang benar, dan dengan cara yang benar yang tidak mudah.  Mungkin begitu maksud nasihat dari Aristoteles.

Aristoteles

Memang tidak mudah mengekang rasa marah, namun Rasulullah saw. mengajarkan pada kita bahwa saat marah yang pertama itulah, kita dapat menilai kualitas diri.  Bukankah Allah telah berfirrnan dalam surah Ali Imran ayat 134,

”yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.  Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ”

Nah !. Apa yang dapat kita pahami tentang marahnya Aristoteles di atas ?. Lalu kita coba mengaitkan dengan ajaran Rasulullah Saw dan Firman Allah dalam surah Ali Imran di atas.

Disinilah bedanya, kita marah tentu berapi-api sehingga sulit dikendalikan, padahal isi artikel ini mengajak kita untuk mengendalikannya seperti marahnya Aristoteles di atas, artinya marah yang tersalurkan dan sesuai kebutuhan maka berarti kita sudah menahan amarah sebagaimana perintah Allah dan Rasul-Nya.

Baca juga : Muslim Wajib Tahu Tentang Stalin Sebagai Simbol Kekejaman Penguasa

Karir Wanita Menurut Pandangan Islam

MARWAHISLAM.net | Karir Wanita Menurut Pandangan Islamdimana karier wanita atau wanita Bekerja secara umum boleh-boleh saja, asalkan persoalan wanita bekerja di luar atau yang disebut wanita karir yang masih ramai dibicarakan mampu disosialisasikan hingga dapat diterima oleh berbagai kalangan, walaupun nantinya ada yang menerima dan ada yang menolak itu merupakan hal yang lumrah. Terus yang perlu diperjelas Bagaimana Karir Wanita Menurut Pandangan Islam ?.

Di era medern sekarang ini, wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja semakin banyak dengan alasan menambah penghasilan keluarga karena uang bulanan yang diberikan oleh suaminya tidak mencukupi atau karena suaminya pengangguran. 

Islam telah mengatur semua hal, bahkan hal terkecil sekalipun, termasuk persoalan kedudukan, harkat dan martabat kaum hawa. Islam memuliakan wanita. Pra Islam, wanita tak dihargai dan dipandang sebelah mata sebagaimana pada masa jahiliyah, bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena diapandang bahwa wanita sebagai kesusahan dan ketidaknyamanan orangtua dan masyarakat.

(وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُٮِٕلَتۡ (٨)بِأَىِّ ذَنۢبٍ۬ قُتِلَتۡ (٩

“Jikalau bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah mereka dibunuh.” [Q.s At-Takwir: 8-9]


Karir Wanita

Dalam masyarakat Yunani, kaum hawa dipandang sebagai barang dagangan yang dapat diperjual-belikan. Bahkan dalam masyarakat Hindu, wanita disamakan dengan makhluk jelata yang setingkat dengan binatang. Masya Allah.

Kemudian Rasulullah SAW dibangkitkan untuk menyempurnakan akhlak manusia dimana Islam datang untuk mengembalikan posisi wanita pada tempat yang layak dan seharusnya, memberikan hak-haknya dengan sempurna tanpa dikurangi sedikitpun. Islam memuliakan kedudukan kaum hawa, baik sebagai ibu rumah tangga, sebagai anak atau saudara perempuan,  maupun sebagai seorang istri. 

Rasulullah SAW mewajibkan seorang suami untuk menafkahi istrinya sebagai pemenuhan kebutuhan hidup, baik dari segi sandang, papan, makanan, pakaian, dan sebagainya. Seorang istri berhak mendapatkan semua yang ia butuhkan dengan cara meminta kepada suaminya dengan cara yang ma’ruf.

‘Aisyah menuturkan bahwa Hindun binti ‘Utbah berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan merupakan suami yang kikir dimana ia tidak menafkahiku dan anakku yang cukup, hanya apa yang aku ambil darinya tanpa sepengetahuannya." Maka Rasulullah SAW bersabda:

“Ambillah  harta yang mencukupi dirimu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf (baik)” (HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5324), Kitab “an-Nafaqaat”, Bab “Idzaa lam Yunfiqir Rajulu”; Muslim dalam Shahih-nya (no. 1714), Kitab “al-Aqdhiyah”, Bab “Qadhiyah Hind”, dari ‘Aisyah)

Tapi Sayangnya hak wanita di zaman edan ini seringkali “dipaksakan” sebagian kalangan yang menamakan diri mereka sebagai pejuang gender yang katanya memperjuangkan hak wanita sebagai gender, wanita harus sejajar dengan laki-laki, wanita jangan dikungkung, dan sebagainya. Padahal hal-hal tersebut malah membuat wanita kehilangan kemuliaannya.

Memang semua yang dilakukan pria dewasa ini juga dilakukan oleh Wanita namun tetap berbeda dengan pria dalam beberapa hal sehingga hampir mustahil seorang wanita bertindak seperti laki-laki, bebas keluar rumah dan eksis di ranah publik. 

Perbedaan pria dan wanita yang akan berpengaruh dalam pekerjaan yang boleh untuk wanita dan yang tidak adalah perbedaan fisik antara lain :
1. Laki-laki mempunyai fisik yang lebih kuat sehingga mampu menghadapi cobaan yang keras untuk bekerja di luar rumah, sedangkan wanita dengan kelemah lembutannya diciptakan untuk tetap berada di rumah, mengurusi rumah dan anak-anak mereka.
2. Perbedaan hormon. 
3. Perbedaan kondisi fisik dan psikis wanita yang mudah tersinggung, temperamental, apalagi ketika masa haidh. 
4. Perbedaan susunan otak pria dengan wanita dimana laki-laki jauh lebih unggul daripada wanita, sehingga lebih cocok bila laki-laki lebih banyak berada di ranah publik.

Dikarenakan Islam adalah agama yang sempurna tidaklah mengungkung para wanita dan tetap berada dalam rumah. Kadang wanita juga dibutuhkan kehadirannya di luar. Atau mungkin mereka membutuhkan sesuatu yang harus didapat dengan cara keluar dari rumahnya.

Jika wanita membutuhkan untuk keluar rumah untuk bekerja, maka hal-hal yang mesti diperhatikan adalah :

Mendapatkan izin dari walinya.  Wali adalah kerabat seorang wanita yang mencakup sisi nasabiyah (garis keturunan, seperti tersebut dalam Surah An Nuur:31), sisi sababiyah (tali pernikahan, yaitu suaminya), sisi ulul arham (kerabat jauh yaitu saudara laki-laki seibu dan paman kandung dari pihak ibu serta keturunan laki-laki dari keduanya), dan sisi pemimpin (yaitu hakim dalam pernikahan atau yang mempunyai wewenang seperti hakim). 

Jika wanita bersuami, maka dia wajib memperoleh izin suaminya.
Berpakaian secara syar’i.  Syarat pakaian syar’i yaitu menutup anggota tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, tebal dan tidak transparan, longgar, warna yang tidak mencolok (menggoda), dan tidak memakai wewangian, serta Aman dari godaan dan fitnah.  Aman dari fitnah ketika wanita tersebut sejak keluar rumah sampai kembali lagi ke rumah, mereka terpelihara iman, kehormatan dan kesuciannya. 

Demi memelihara hal tersebut, Islam memerintahkan wanita jika keluar rumah untuk menghindari berduaan dengan pria yang bukan mahram, tanpa ditemani mahramnya, ikhtilath (tidak berbaur pria dan wanita tanpa dipisahkan oleh tabir, menjaga sikap dan tutur kata (tidak melembutkan suara, menundukkan pandangan, serta berjalan dengan sewajarnya, tidak berjalan berlenggak-lenggok). 

Adanya mahram ketika melakukan safar. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama muhrimnya.” [HR. Bukhari dalan Shahihnya (no. 1862), Kitab “Jazaa-ush Shaid”, Bab “Hajjun Nisaa’”; Muslim (no. 1341), Kitab “al-Hajj”, Bab “Safarul Mar-ah ma’a Mahramin ilal hajji wa Ghairihi”, dari Ibnu ‘Abbas] 

Pekerjaan yang sesuai bagi Muslimah jika syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka wanita pun boleh bekerja diluar rumah. Namun perlu dipahami juga jenis-jenis pekerjaan yang boleh dilakukan wanita.

Diantara yang diperbolehkan bagi wanita, diantaranya adalah : Dokter, perawat, bidan, dan pekerjaan di bidang pelayanan medis lainnya, misalnya bekam, apoteker, pekerja laboratorium.

Dokter wanita pastilah menangani pasien wanita, anak-anak, dan juga lelaki tua. Untuk menangani lelaki tua syaratnya adalah dalam kondisi darurat, misalnya peperangan karena dokter pria sibuk berperang, dan ketika  tidak ada dokter spesialis pria.

Di kemiliteran dan sejenisnya hanya dibatasi pada pekerjaan yang dikerjakan oleh kaum wanita, seperti memenjarakan wanita, petugas penggeledah wanita misalnya di daerah perbatasan dan bandara. Di bidang pendidikan dibolehkan bagi wanita mengajar wanita dewasa dan remaja putri. 

Untuk kaum pria boleh juga jika diperlukan selama dalam batas-batas adab, seperti menggunakan hijab dan mengatasi suaranya. Menenun dan menjahit, tentu ini adalah perkerjaan yang dibolehkan dan sangat sesuai dengan fitrah wanita. Di sektor pertanian wanita menanam, menyemai benih, membajak tanah, memanen,dan seterusnya. Di sektor bisnis wanita berdagang. 

Dalam hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa salah satu tanda kiamat adalah maraknya perniagaan hingga kaum wanita membantu suaminya berjual beli. Sama sekali tidak mengharamkan kegiatan wanita dalam aktivitas perniagaan. Menyembelih dan memotong daging ada pendapat yang membolehkan pekerjaan ini namun hakikatnya tidak sesuai dengan tabiat wanita karena menyingkap anggota tubuhnya yatitu lengan, dan kaki saat bekerja.

Tata rias kecantikan diperbolehkan selama tidak melakukan hal-hal yang dilarang seperti menyambung rambut, mengikir gigi, menato badan, mencabut alis, juga dilarang pula melihat aurat wanita yang diharamkan. 

Dilarang menggunakan benda-benda yang membahayakan tubuh, serta haram menceritakan kecantikan wanita yang diriasnya kepada pria lain termasuk suami si perias sendiri. Sebaik-Baik tempat bagi Wanita Adalah Rumahnya.

Sehingga jika ada pekerjaan bagi wanita yang bisa dikerjakan di rumah, itu tentu lebih layak dan lebih baik. Dan perlu ditekankan kewajiban mencari nafkah bukanlah jadi tuntutan bagi wanita. Namun prialah yang diharuskan demikian. Inilah yang Allah perintahkan,


Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahwa Islam sama sekali tidak mengekang wanita untuk berkarir melainkan memberikan peluang sesuai dengan tatanan dan kemampuannya yang sama sekali tidak perlu dipaksakan.

Insya Allah Karir Wanita Menurut Pandangan Islam tidak akan pernah dikebiri.  Wallahu A'lam Bishshawab.

Baca juga : Psikologi Dan Sosiologi Serta Ilmu Pendidikan

Wajah Ulama Aceh

MARWAHISLAM.net | Inilah Wajah-wajah warisatul ambiya, selaku pewaris Nabi Allah. Wajah-wajah yang seharusnya kita cintai dan kita muliakan.  Mari kita hormati dan kita do'akan agar yang masih hidup diberikan kesehatan dan umur panjang serta yang sudah wafat selalu ditempat yang indah di sisi Allah SWT.  Aamiiin YRA.

Wajah Ulama Aceh
                    




























































































Ulama Aceh Dalam Sejarah – merupakan kisah hidup dan perjuangan para Ulama Aceh yang berhasil kami kumpulkan, mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkan atau ingin mengenalnya lebih dekat.
  1. Syekh Nuruddin Al-Raniri
  2. Syekh Abdurrauf As-Singkili,
  3. Teungku Chik Pante Kulu.
  4. H. Hasan Kruengkale.
  5. Syeikh H. Muhammad Waly Al-Khalidy,
  6. Abuya Prof..DR.Tgk.H.Muhibbudin Waly,
  7.  Abuya Djamaluddin Waly,
  8.  Abu Ibrahim Woyla,
  9. Abu Tumin Blang Bladeh.
  10. Abu Keumala,
  11. Tgk H Ibrahim Bardan (Abu Panton)
1. Syekh Nuruddin Al-Raniri 

Syekh Nuruddin Al-Raniri (lengkap: Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu 'Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi) adalah ulama penasehat Kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II).

Syaikh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, India, dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644.

Pengetahuan yang dikuasai

Ar Raniri memiliki pengetahuan luas yang meliputi tasawuf, kalam, fikih, hadis, sejarah, dan perbandingan agama. Selama masa hidupnya, ia menulis kurang-lebih 29 kitab, yang paling terkenal adalah "Bustanus al-Salatin". Namanya kini diabadikan sebagai nama perguruan tinggi agama (IAIN) di Banda Aceh.

Guru

Beliau di katakan telah berguru dengan Sayyid Umar Abu Hafs b Abdullah Basyeiban yang yang di India lebih dikenal dengan Sayyid Umar Al-Idrus adalah khalifah Tariqah Al-Idrus BaAlawi di India. Ar-Raniri juga telah menerima Tariqah Rifaiyyah dan Qodiriyyah dari guru beliau.

Putera Abu Hafs yaitu Sayyid Abdul Rahman Tajudin yang datang dari Balqeum, Karnataka, India pula telah bernikah setelah berhijrah ke Jawa dengan Syarifah Khadijah, puteri Sultan Cirebon dari keturunan Sunan Gunung Jati.

Peranan di Aceh

Ar-Raniri berperan penting saat berhasil memimpin ulama Aceh menghancurkan ajaran tasawuf falsafinya Hamzah al-Fansuri yang dikhawatirkan dapat merusak akidah umat Islam awam terutama yang baru memeluknya. Tasawuf falsafi berasal dari ajaran Al-Hallaj, Ibn 'Arabi, dan Suhrawardi, yang khas dengan doktrin Wihdatul Wujud (Menyatunya Kewujudan) di mana sewaktu dalam keadaan sukr ('mabuk' dalam kecintaan kepada Allah Ta'ala) dan fana' fillah ('hilang' bersama Allah), seseorang wali itu mungkin mengeluarkan kata-kata yang lahiriahnya sesat atau menyimpang dari syariat Islam.

Maka oleh mereka yang tidak mengerti hakikat ucapan-ucapan tersebut, dapat membahayakan akidah dan menimbulkan fitnah pada masyarakat Islam. Karena individu-individu tersebut syuhud ('menyaksikan') hanya Allah sedang semua ciptaan termasuk dirinya sendiri tidak wujud dan kelihatan. Maka dikatakan wahdatul wujud karena yang wajib wujudnya itu hanyalah Allah Ta'ala sedang para makhluk tidak berkewajiban untuk wujud tanpa kehendak Allah. Sama seperti bayang-bayang pada pewayangan kulit.

Konstruksi wahdatul wujud ini jauh berbeda malah dapat dikatakan berlawanan dengan faham 'manunggaling kawula lan Gusti'. Karena pada konsep 'manunggaling kawula lan Gusti', dapat diibaratkan umpama bercampurnya kopi dengan susu-- maka substansi dua-duanya sesudah menyatu adalah berbeda dari sebelumnya. Sedangkan pada faham wahdatul wujud, dapat di umpamakan seperti satu tetesan air murni pada ujung jari yang dicelupkan ke dalam lautan air murni. Sewaktu itu, tidak dapat dibedakan air pada ujung jari dari air lautan. Karena semuanya 'kembali' kepada Allah.

Maka pluralisme (menyamakan semua agama) menjadi lanjutan terhadap gagasan begini dimana yang penting dan utama adalah Pencipta, dan semua ciptaan adalah sama-sama hadir di alam mayapada hanya karena kehendak Allah Ta'ala.

Maka faham ini, tanpa dibarengi dengan pemahaman dan kepercayaan syariat, dapat membelokkan akidah. Pada zaman dahulu, para waliullah di negara-negara Islam Timur Tengah sering, apabila di dalam keadaan begini, dianjurkan untuk tidak tampil di khalayak ramai.

Baca juga : Ulama Aceh Dalam Sejarah