Advertisement

Advertisement

Muslim Wajib Tahu Urgensi Belajar Ilmu Fiqih

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM.net | Ada banyak alasan yang bisa menjadi latar belakang kenapa kita sebagai muslim wajib belajar ilmu fiqih, baik alasan yang berdasarkan dalil-dalil syar’i seperti Al-Quran dan As-Sunnah, atau pun yang sifatnya dengan melihat realitas kehidupan.

A. Dalil Syar'i

Ada begitu banyak dalil yang mewajibkan kita untuk belajar ilmu fiqih, baik dalil yang bersumber dari Al-Quran maupun dari As-Sunnah. Kewajiban yang diberikan itu terkadang dalam bentuk konteks individu yang hukumnya menjadi fardhu ‘ain, namun terkadang juga menjadi kewajiban yang bersifat kolektif, sehingga hukumnya menjadi fardhu kifayah.

1. Dalil Al-Quran

Ada begitu banyak dalil dari Al-Quran yang mewajibkan umat Islam mempelajari ilmu fiqih. Di antaranya dalil yang bersumber dari firman Allah SWT adalah :

Muslim Wajib Tahu Urgensi Belajar Ilmu Fiqih
a. Dalil Pertama

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

وَمَا كاَنَ الْمُؤْمِنُون لِينْفِرُوا كآفّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقةٍ مِنْهُمْ طاَئِفةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذاَ رَجَعُوا إِليْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُون

Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. At-Taubah : 122)

Allah SWT di dalam ayat ini menyinggung tentang adanya kewajiban selain dari perang atau jihad di jalan Allah, yaitu mendalami masalah ilmu agama.

Allah SWT menggunakan istilah li-yatafaqqahu (ليتفقهوا) yang punya akar kata faqiha - yafqahu, yang senada dengan akar kata istilah fiqih itu sendiri. Ayat ini tegas menyebutkan keharusan adanya thaifah (طائفة), yaitu sekelompok orang, dari masing-masing firqah (فرقة), atau kumpulan orang-orang, untuk belajar ilmu fiqih.

Kesimpulan dari ayat ini adalah keharusan adanya sekelompok orang dari umat Islam yang berkonsentrasi melakukan tafaqquh di dalam urusan agama, di luar dari orang-orang yang ikut bepergian ke luar kota untuk berjihad di jalan Allah.

Kalau jihad itu punya kedudukan sangat mulia di dalam agama Islam, maka belajar mendalami ilmu agama ternyata juga punya kedudukan yang juga mulia, setidaknya kurang lebih sejajar.

Ayat ini jelas-jelas membandingkan antara kewajiban berjihad di jalan Allah yang pahalanya begitu besar di satu sisi, dengan kewajiban untuk menuntut ilmu agama di sisi yang lain.

Kalau kita bandingkan antara jumlah orang awam dan jumlah para ulama, kita akan menemukan perbandingan yang jauh dari proporsional. Dengan kata lain, ulama di masa sekarang ini termasuk ‘makhluk langka’ bahkan nyaris punah.

Maka memperbanyak jumlah ulama serta menyebar-luaskan ilmu-ilmu syariah menjadi hal yang mutlak dilakukan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT tentang keharusan adanya sekelompok orang yang berkonsentrasi mendalami ilmu-ilmu syariah.

Mempejari Islam adalah kewajiban pertama setiap muslim yang sudah aqil baligh. Ilmu-ilmu ke-islaman yang utama adalah bagaimana mengetahui kemauan Allah SWT terhadap diri kita. Dan itu adalah ilmu syariah.

b. Dalil Kedua

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

فَاسْألُوا أهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

...Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahui (QS. An-Nahl : 43)

Kesimpulan dari ayat ini adalah bahwa bertanya kepada orang yang punya ilmu hukumnya wajib bagi mereka yang tidak punya ilmu. Dan bertanya kepada ahli ilmu tidak lain adalah belajar dan menuntut ilmu agama.

Paling tidak, setiap muslim wajib melakukan thaharah, shalat, puasa, zakat dan bentuk ibadah ritual lainnya. Dan agar ibadah ritual itu menjadi sah dan diterima oleh Allah SWT, tidak boleh dilakukan dengan pendekatan improvisasi atau sekedar menduga-duga semata. Harus ada dasar dan dalil yang jelas dan kuat. Karena ibadah ritual itu tidak boleh dilakukan kecuali sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dan penjelasan secara rinci dan detail tentang bagaimana format dan bentuk ibadah yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh beliau hanya ada dalam syariat Islam.

c. Dalil Ketiga

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?". (QS. Az-Zumar : 9)

Di dalam ayat ini Allah SWT jelas-jelas membedakan antara orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu. Dan perbedaan yang disampaikan dalam bentuk pertanyaan ini mengandung pesan, bahwa tiap muslim diwajibkan untuk menjadi orang yang berilmu. Dan ilmu yang dimaksud terutama adalah ilmu agama, kemudian ilmu-ilmu lainnya.

d. Dalil Keempat

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah : 11)

Ayat ini seolah menguatkan ayat sebelumnya, bahwa Allah SWT meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Di dalamnya terdapat isyarat yang menunjukkan anjuran untuk belajar ilmu agama.

Sesungguhnya masih banyak ayat-ayat Al-Quran yang mengajurkan pentingnya seseorang memiliki ilmu agama, namun agar tulisan ini tidak terlalu panjang, Penulis cukupkan pada empat ayat di atas saja.

2. Dalil As-Sunnah

Sedangkan dalil-dalil yang mewajibkan kita belajar ilmu fiqih yang berupa dalil-dalil dari sunnah nabawiyah terlalu banyak. Untuk itu Penulis hanya akan menyinggung beberapa saja di antaranya :

a. Hadits Dicabutnya Ilmu

Betapa pentingnya belajar ilmu fiqih, tergambar dari perintah Rasulullah SAW dalam hadits beliau yang menggabarkan bagaimana keadaan di akhir zaman tanpa keberadaan ulama dan ahli fiqih :

إِنّ الله لا يقْبِضُ العِلْم اِنْتِزاعًا ينْتزِعُهُ مِن العِبادِ ولكِنْ يقْبِضُ العِلْم بِقبْضِ العُلماء حتىّ إِذالم يُبْقِ عالِمًا اِتّخذ النّاسُ رُءُوسًا جُهّالاً فسُئِلُوا فأفْتوْا بِغيْرِ عِلْمٍ فضلُّوا وأضلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari tengah manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama. Hingga ketika tidak tersisa satu pun dari ulama, orang-orang menjadikan orang-orang bodoh untuk menjadi pemimpin. Ketika orang-orang bodoh itu ditanya tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menceritakan bahwa umat Islam pada akhir masa nanti akan kehilangan para ulama, lantas mereka menjadikan para pemimpin yang bodoh dan tidak punya ilmu sebagai tempat untuk merujuk dan bertanya masalah agama.

Alih-alih mendapat petunjuk, yang terjadi justru mereka semakin jauh dari kebenaran, bahkan sesat dan malah menyesatkan banyak orang.

Dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu rasanya sangat tepat kalau kita sebut bahwa hari ini benar-benar sedang terjadi. Dan lebih tepat lagi kalau kita sebut lokasinya adalah Indonesia, sebuah negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tetapi sedikit sekali orang yang berkapasitas ulama.

Maka kita harus memahami hadits ini dengan cara yang benar, yaitu hadis ini menjadi perintah untuk mendidik dan melahirkan kembali para ulama di masa modern ini.

b. Hadis Fadhilah Orang Berilmu

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan hadis shahih riwayat Al-Imam Muslim yang amat masyhur berikut ini :

Dimudahkan Jalan ke Surga
Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلىَ الجنّةِ

Orang yang meniti jalan dalam rangka menuntut ilmu agama, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim)

Hadis di atas menegaskan bahwa salah satu keutaman orang yang belajar ilmu agama adalah bahwa dirinya nanti di hari kiamat akan dimudahkan jalannya menuju surga.

Padahal semua orang nanti di hari kiamat akan kesulitan mendapatkan jalan yang mudah ke dalam surga, bahkan kebanyakan orang akan tertatih-tatih dan bersusah payah agar bisa sampai ke surga.

Lain halnya mereka yang sejak di dunia telah tertatih-tatih berjalan untuk mendalami ilmu agama, di akhirat dia akan dengan mudah menemukan jalan ke surga. Tentu ini merupakan sebuah keberuntungan yang sangat besar.

Dinaungi Sayap Malaikat
Rasulullah SAW bersabda :

وَإِنَّ المـَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتِهاَ رِضاً لِطالِبِ العِلْمِ

Dan para malaikat menaungi dengan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu sebagai tanda keridhaan dari mereka (HR. Muslim)

Hadis di atas menegaskan bahwa di dunia ini, mereka yang berjuang untuk menuntut ilmu juga mendapatkan keutamaan yang sangat istimewa. Para malaikat meridhai mereka dengan menaunginya dengan sayap-sayap mereka.

Padahal malaikat adalah hamba-hamba Allah yang amat tinggi kedudukannya di sisi Allah dan amat mulia lagi taat. Kalau sampai para malaikat meridhai, tentu hal itu menunjukkan betapa tingginya derajat orang yang menuntut ilmu agama.

Dengan logika sederhana, orang yang menuntut ilmu agama akan aman dan nyaman, karena selalu mendapatkan penjagaan Allah SWT lewat naungan sayap para malaikatnya.

Dimintakan Ampunan oleh Semua Makhluk
Rasulullah SAW bersabda :

وَإِنَّ العاَلِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لهُ مَنْ فيِ السّمواتِ وَمَنْ فيِ الأرْضِ وَالحِيْتانِ فيِ جَوْفِ المـَاءِ

Dan orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh semua makhluk Allah yang ada di sekian banyak langit dan bumi, termasuk ikan-ikan yang ada di kedalaman lautan ikut memintakan ampun. (HR. Muslim)

Masih ada lagi keutamaan orang yang menuntut ilmu agama, yaitu dosa-dosa mereka dimintakan ampun, sehingga relatif mereka jadi tidak punya dosa lagi.

Siapa yang memintakan ampunan bagi mereka?

Hadis di atas menegaskan bahwa semua makhluk Allah SWT, baik yang ada di berbagai macam langit yang banyak itu, maupun makhluk Allah SWT yang menetap di atas bumi, semuanya ikut memintakan ampunan. Bahkan ikan-ikan yang hidup di kedalaman samudera luas pun ikut pula memintakan ampunan buat mereka.

Dengan logika ini, betapa beruntungnya para penuntut ilmu, kalau pun mereka berdosa sebagaimana umumnya manusia, namun sudah ada pihak-pihak yang akan terus memberikan dukungan untuk memintakan ampunan atas dosa mereka.

Seperti Keutamaan Bulan Purnama
Rasulullah SAW bersabda :

وإِنّ فضْلُ العالِمِ على العابِدِ كفضْلِ القمرِ ليْلة البدْرِ على سائِرِ الكواكِبِ

Keutamaan seorang yang berilmu agama dibandingkan dengan seorang ahli ibadah seperti bulan di malam purnama dibandingkan semua planet (bintang). (HR. Muslim)

Kelebihan orang yang berilmu dibandingkan orang bodoh yang tidak punya ilmu meski dia rajin ibadah diibaratkan seperti terangnya bulan purnama dengan terangnya bintang di kegelapan malam.

Bulan purnama yang cahayanya menerangi atmosfir langit kita ini tentu jauh berbeda dengan bintang yang di mata kita hanyalah titik kecil di langit yang hitam.

Perbandingan ini semata-mata hanya dilihat dari fenomena yang nampak di mata manusia, sebagaimana yang biasa dipergunakan oleh para pujangga dalam bahasa sastra.

Dalam bahasa sastra, kalau dibuat perbandingan antara bulan purnama dan bintang atau planet, tentu maksudnya bahwa yang lebih besar dalam pandangan mata adalah bulan purnama. Sedangkan ungkapan bintang atau planet menunjukkan ukurannya yang kecil di mata awam kita.

Walau pun kalau kita bedah secara fakta dalam ilmu astronomi modern, sebenarya ukuran bulan kita jauh lebih kecil dibandingkan dengan bintang atau planet-planet (kawakib) anggota tata surya.

Ulama Adalah Ahli Waris Para Nabi
Rasulullah SAW bersabda :

وإِنّ العُلماء ورثةُ الأنْبِياءِ وإِنّ الأنْبِياء لمْ يُورِّثُوا دِيْناراً ولا دِرْهماً إِنّما ورّثُوا العِلْم فمنْ أخذ بِهِ أخذ بِحظٍّ واِفرٍ

Dan sesungguhnya para ulama adalah para ahli waris dari para nabi, dimana para Nabi memang tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Siapa yang menuntut ilmu maka dia telah mendapat warisan yang sangat besar nilainya. (HR. Muslim)

Orang yang berilmu adalah para ahli waris nabi. Mereka mewarisi harta kekayaan para Nabi yang tidak berbentuk uang atau harta benda, melainkan kekayaan itu berupa ilmu yang tidak ternilai harganya.

Maka mereka yang belajar ilmu agama dan mendapatkannya diibaratkan dengan orang yang mendapat warisan kekayaan yang sangat besar tidak ternilai harganya.

c. Perintah Belajar Ilmu Faraidh

Di antara ilmu fikih adalah masalah faraidh atau pembagian harta warisan. Rasulullah SAW secara khusus telah memberikan perintah khusus untuk mempelajarinya dan sekalian juga beliau mewajibkan kita untuk mengajarkannya. Dalilnya sebagai berikut :

يا أبا هُريْرة تعلّمُوا الفرائِض وعلِّمُوْها فإِنّهُ نِصْفُ العِلْمِ وإِنّهُ يُنْسى وهُو أوّلُ ما يُنْزعُ مِنْ أُمّتِي

Dari A'raj radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Wahai Abu Hurairah, pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku". (HR. Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-Hakim)

Karena mengajarkan itu tidak mungkin dilakukan kecuali setelah kita mengerti, maka hukum mempelajarinya harus didahulukan. Dan ilmu faraidh (pembagian harta warisan) termasuk salah satu bagian dalam ilmu fikih.

B. Realitas

Kewajiban untuk belajar ilmu fikih juga didukung berdasarkan fakta dan realitas yang ada di tengah kehidupan nyata. Semua menunjukkan atas keharusan kita umat Islam untuk mempelajari dan menguasai ilmu fiqih. Di antara realitas itu misalnya :

1. Ilmu Fiqih Bagian dari Identitas Keislaman

Seorang muslim dengan seorang non-muslim tidak dibedakan berdasarkan KTP-nya. Juga tidak dibedakan berdasarkan ras, darah, golongan, bahasa, kebangsaan atau keturunan tertentu. Tetapi yang membedakan antara kedua adalah apa yang diketahuinya tentang ajaran Islam serta diyakini kebenarannya.

Tidak mungkin seorang bisa dikatakan muslim manakala dia tidak mengenal Allah SWT. Dan tidak-lah seseorang mengenal Allah SWT, manakala dia tidak mengenal ajaran-Nya serta syariat yang telah diturunkan-Nya. Sehingga mengetahui ilmu-ilmu syariat merupakan bagian tak terpisahkan dari status keislaman seseorang.

Maka sudah seharusnya seorang muslim menguasai ilmu syariah, karena syariat itu merupakan penjabaran serta uraian dari perintah Allah SWT kepada hamba-Nya. Setidak-tidaknya, meski pun tidak sampai ke level ulama atau mujtahid, minimal seorang muslim wajib tahu bagaimana tata cara bersuci, berwudhu, shalat fardhu, puasa Ramadhan, mengeluarkan harta zakat dan hal-hal yang sifatnya pokok dan mendasar dari ilmu agama.

Sebab tanpa ilmu tentang semua hal itu, statusnya sebagai muslim nyaris hanya tinggal formalitas belaka. Keislamannya boleh jadi hanya karena kebetulan belaka. Kebetulan orang tuanya muslim, lahir di tengah keluarga muslim, sehingga setidak-tidaknya KTP-nya ada tulisannya sebagai muslim.

Tapi kalau dia tidak tahu bagaimana cara ibadah ritual kepada Allah, otomatis tidak tidak lagi disebut sebagai orang beriman, kecuali hanya sampai pada status.

2. Kunci Memahami Al-Quran & As-Sunnah

Sumber utama ajaran Islam adalah Al-Quran yang terdiri dari lebih 6.000-an ayat dan As-Sunnah yang berjumlah ratusan ribu bahkan sampai jutaan.

Namun bagaimana mengambil kesimpulan hukum atas suatu masalah dengan menggunakan dalil-dalil yang sedemikian banyak?

Tentu kita butuh metodologi ilmiyah yang baku dan disepakati oleh umat Islam sepanjang zaman. Dan metodologi itu adalah ilmu fiqih.

Ilmu fiqih telah berhasil menjelaskan dengan pasti dan tepat tentang hukum-hukum yang terkandung pada tiap potong ayat dan hadits yang bertebaran. Dengan menguasai ilmu fiqih, maka Al-Quran dan As-Sunnah bisa dipahami dengan benar, tepat dan akurat, sebagaimana Rasulullah SAW dahulu mengajarkannya.

Sebaliknya, tanpa penguasaan ilmu fiqih, Al-Quran dan As-Sunnah bisa diselewengkan dan dimanfaatkan dengan cara yang tidak benar. Ilmu fiqih adalah kunci untuk memahami Al-Quran dan As-Sunnah dengan metode yang benar, ilmiyah dan shahih.

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa pencuri harus dipotong tangannya, pezina harus dirajam, pembunuh harus diqishash dan seterusnya. Memang demikian zahir nash ayat Al-Quran. Namun benarkah semua pencuri harus dipotong tangannya? Apakah semua orang yang berzina harus dirajam? Apakah semua orang yang membunuh harus dibunuh juga?

Di dalam ilmu fikih akan dijelaskan kriteria pencuri yang bagaimanakah yang harus dipotong tangannya. Tidak semua orang yang mencuri harus dipotong tangan.

Ada sekian banyak persyaratan yang harus terpenuhi agar seorang pencuri bisa dipotong tangan. Misalnya barang yang dicuri harus berada dalam penjagaan, nilainya sudah memenuhi batas minimal, bukan milik umum dan lainnya. Bahkan kriteria seorang pencuri tidak sama dengan pencopet, jambret, penipu atau koruptor.

Demikian juga dengan pezina, tidak semua yang berzina harus dihukum rajam. Selain hanya yang sudah pernah menikah, harus ada empat orang saksi lakil-laki, akil, baligh, dan menyaksikan secara bersama di waktu dan tempat yang sama melihat peristiwa masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan perempuan.

Tanpa hal itu, hukum rajam tidak boleh dilakukan. Kecuali bila pezina itu sendiri yang menyatakan ikrar dan pengakuan atas zina yang dilakukannya. Dan yang paling penting, hukum rajam haram dilakukan kecuali oleh sebuah institusi hukum formal yang diakui dalam sebuah negara yang berdaulat.

Dan hal yang sama juga berlaku pada hukum qishash dan hukum-hukum hudud lainnya. Sebuah tindakan hukum yang hanya berlandaskan kepada satu dua dalil tapi tanpa kelengkapan ilmu syariah justru bertentangan dengan hukum Islam sendiri.

3. Fiqih Adalah Porsi Terbesar Ajaran Islam

Dibandingkan dengan masalah aqidah, akhlaq atau pun bidang lainnya, masalah-masalah dalam ilmu fikih menempati porsi terbesar dalam khazanah ilmu-ilmu keislaman. Bahkan dalam prakteknya, sosok yang dijuluki sebagai ulama itu lebih identik sebagai ahli fiqih ketimbang ahli di bidang ilmu-ilmu lainnya.

Sehingga sebagai ilmu yang merupakan porsi terbesar dalam ajaran Islam, ilmu syariah ini menjadi penting untuk dikuasai. Seorang muslim itu masih wajar bila tidak menguasai disiplin ilmu seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Bahasa Arab, Ushul Fiqih, Kaidah Ushul dan lainnya.

Tetapi dalam ilmu syariah khususnya fiqih, nyaris mustahil bila tidak dikuasai, meski dalam porsi yang seadanya. Sebab tidak mungkin kita bisa beribadah dengan benar tanpa menguasai ilmu fiqih ibadah itu sendiri.

Memang tidak semua detail ilmu syariah wajib dikuasai, namun untuk bagian yang paling dasar seperti masalah thaharah, shalat, nikah dan lainnya, mengetahui hukum-hukumnya adalah hal yang mutlak.

4. Terhindar Dari Perpecahan

Para ulama syariah terbiasa berbeda pendapat, karena berbeda hasil ijtihad sudah menjadi keniscayaan. Namun mereka sangat menghormati perbedaan diantara mereka. Sehingga tidak saling mencaci, menjelekkan atau menafikan.

Sebaliknya, semakin awam seseorang terhadap ilmu syariah, biasanya akan semakin tidak punya mental untuk berbeda pendapat. Sedikit perbedaan di kalangan mereka sudah memungkinkan untuk terjadinya perpecahan, pertikaian, bahkan saling menjelekkan satu sama lain.

Hal itu terjadi karena seseorang hanya berpegangan kepada dalil yang sedikit dan parsial. Tetapi merasa sudah pandai dan paling benar sendiri. Padahal dalil yang diyakininya paling benar itu masih harus berhadapan dengan banyak dalil lainnya yang tidak kalah kuatnya. Jadi bagaimana mungkin dia merasa paling benar sendiri ?

Paling tidak, dengan mempelajari ilmu syariah, kita jadi tahu bahwa pendapat yang kita pegang ini bukanlah satu-satunya pendapat. Di luar sana, masih ada pendapat lainnya yang tidak kalah kuatnya dan sama-sama bersumber dari kitab dan sunnah juga.

Maka kita jadi memahami perbandingan mazhab di kalangan para fuqaha, sebab mereka memang punya kapasitas untuk melakukan istimbath hukum dengan masing-masing menhaj dan metodologinya

5. Menentukan Eksistensi Umat Islam

Agama Islam telah dijamin tidak akan hilang dari muka bumi sampai kiamat, namun tidak ada jaminan bila umatnya mengalami kemunduran dan kejatuhan. Sejarah membuktikan bahwa mundurnya umat Islam terjadi manakala para ulama telah wafat dan tidak ada lagi ahli syariah di tengah umat.

Sebaliknya, bila Allah SWT menghendaki kebaikan pada umat Islam, niscaya akan dimulai dari lahirnya para ulama dan kembali manusia kepada syariat-Nya.

6. Menahan Liberalisme, Sekuleris & Pluralisme

Racun pemikiran menyesatkan yang bersumber dari para orientalis dan sekuleris tidak akan mempan bila tubuh umat diimunisasi dengan pemahaman syariah yang mendasar dan matang.

Bila umat ini punya tingkat pemahaman yang mendalam terdapat ilmu syariah, semua tipu daya itu akan menjadi mentah. Hal itu terjadi lantaran pemahaman syariat Islam yang kuat akan berfungsi sebagai filter atas kerusakan fikrah umat.

Sebaliknya, semakin awam dari syariat, umat ini akan semakin menjadi bulan-bulanan pemikiran yang merusak. Dan apabila tingkat pemahaman umat terhadap syariah lemah, maka dengan mudah pemikiran orientalis akan merasuk dan menjangkiti fikrah umat.

7. Obat Ekstrimisme

Sikap-sikap ekstrim dan keterlaluan dalam pelaksanaan agama seringkali menimpa banyak umat Islam. Barangkali niatnya sudah baik, yaitu ingin menjalankan ajaran agama. Tetapi bila semangat itu tidak diiringi dengan ilmu syariah yang benar, sangat besar kemungkinan terjadi kesalahan fatal yang merugikan.

Tersebarnya paham yang mudah mengkafirkan orang Islam (takfir) yang hari ini banyak melanda pemikiran generasi muda, datangnya memang dari semangat untuk mencintai agama. Sayangnya justru kecintaan itu tidak diimbangi dengan ilmu, akibatnya yang terjadi malah malapetaka.

Maka kuncinya adalah ilmu yang dipelajari secara mendalam, agar seseorang tidak berfatwa seenak perutnya sendiri, padahal fatwanya tanpa landasan ilmu. Alih-alih memberi petunjuk, yang terjadi seringkali malah kekonyolan, bahkan tragedi.

Contoh di masa Nabi SAW, tentang orang yang tidak berilmu tapi berfatwa, sehingga fatal akibatnya, bisa kita baca di dalam hadits berikut :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : خَرَجْنَا فيِ سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَر فَشَجَّهُ فيِ رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ هَلْ تَجِدُونَ ليِ رُخْصَةً فيِ التَّيَمُّم ؟ فَقَالُوا : مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلى المَاء فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلىَ رَسُولِ اللهِ s أَخْبَرَ بِذَلِكَ فَقَالَ : قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ الله أَلاَ سَأَلُوا إِذَا لَم يَعْلَمُوا ؟ فَإِنَّمَا شِفَاءُ العَيِّ السُّؤَال إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ رواه أبو داود والدارقطني

Dari Jabir ra berkata"Kami dalam perjalanan tiba-tiba salah seorang dari kami tertimpa batu dan pecah kepalanya. Namun (ketika tidur) dia mimpi basah. Lalu dia bertanya kepada temannya"Apakah kalian membolehkan aku bertayammum ?". Teman-temannya menjawab"Kami tidak menemukan keringanan bagimu untuk bertayammum. Sebab kamu bisa mendapatkan air". Lalu mandilah orang itu dan kemudian mati (akibat mandi). Ketika kami sampai kepada Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu bersabdalah beliau"Mereka telah membunuhnya semoga Allah memerangi mereka. Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu ? Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayammum ...(HR. Abu Daud, Ad-Daruquthuny).

Seharusnya dia tidak boleh mandi karena parah sakitnya. Namun dia berjunub pada malamnya dan pagi hari dia bertanya kepada temannya, apakah dia harus mandi atau tidak.

Perlu disesali bahwa temannya yang sebenarnya bodoh tetapi sok pintar itu mengatakan bahwa dia harus mandi. Lalu mandilah dia dan tidak lama kemudian meninggal.

Betapa sedih Rasulullah SAW tatkala mendengar kabar itu. Sebab teman yang memberi fatwa itu bertindak tanpa ilmu dan menyebabkan kematian. Sampai beliau SAW bilang bahwa dia telah membunuh temannya sendiri, akibat tindakan bodohnya itu.

Padahal seharusnya dalam kondisi demikian, cukuplah dengan bertayammum saja. Maka dia sudah boleh shalat. Tidak wajib mandi junub meski malamnya keluar mani.

Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya, namun bertanya bukan kepada sembarang orang, silahkan bertanya kepada mereka yang memang ahli di bidangnya.

8. Implementasi Islam Kaffah

Sebagai muslim yang baik, komitmen dan konsisten dalam memeluk agama Islam, tentu kita tahu bahwa kita wajib menerima Islam secara kaaffah, tidak sepotong-sepotong. Allah SWT telah memerintahkan hal dalam firman-Nya :

يا أيُّها الّذِين آمنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كآفّةً ولا تتّبِعُواْ خُطُواتِ الشّيْطانِ إِنّهُ لكُمْ عدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah : 208)

Tapi bagaimanakah kita bisa menjalankan Islam secara kaaffah, kalau kita tidak bisa membedakan manakah diantara perbuatan itu yang termasuk bagian dari Islam atau bukan?

Sebab seringkali kita dihadapkan kepada bentuk-bentuk pengamalan yang disinyalir sebagai perbuatan islami, tetapi kita tidak tahu kedudukan yang sesungguhnya.

Katakanlah sebagai contoh mudah misalnya tentang memahami perbuatan Rasulullah SAW. Apakah semua hal yang dilakukan oleh beliau SAW menjadi bagian langsung dari syariat agama ini ? Ataukah ada wilayah yang tidak termasuk bagian dari syariat ?

Lebih rinci lagi, kita dapati dalam hadits bahwa Rasulullah SAW naik unta, minum susu kambing mentah, beristinja` dengan batu, khutbah memegang tongkat, buang air di padang pasir dan seterusnya.

Apakah hari ini kita wajib melakukan hal yang sama dengan beliau sebagai pengejawantahan bahwa Rasululah SAW adalah suri teladan bagi kita?

Apakah kita hari ini juga harus naik unta, sebagai pengganti mobil dan pesawat, hanya karena ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW yang berangkat haji naik unta?

Haruskah kita minum susu kambing yang tidak dimasak dahulu, karena beliau SAW suka sekali minum susu kambing tanpa dimasak?

Apakah para khatib Jumat wajib berkhutbah sambil memegang tongkat, karena dahulu beliau SAW berkhutbah sambil memegang tongkat?

Dan tegakah kita berisntinja’ tanpa air tetapi diganti dengan batu, karena Rasulullah SAW berintinja’ dengan batu?

Dan haruskah kita buang air di alam terbuka, karena dahulu Rasulullah SAW melakukannya di alam terbuka dan tidak ada kamar mandi?

Tentu kita perlu merinci lebih detail, manakah dari semua perbuatan dan perkataan beliau SAW yang menjadi bagian dari syariah dan mana yang secara kebetulan menjadi hal-hal teknis yang tidak perlu dimasukkan ke dalam ajaran agama ini. Dan untuk itu, harus ada sebuah metodologi yang bisa dijadikan patokan. Metodologi itu adalah syariat Islam.

Tugas ilmu fikih adalah bagaimana caranya agar kita bisa memilah dan menentukan manakah dari diri Rasulullah SAW yang menjadi bagian dari ajaran Islam, dan manakah yang bukan termasuk ajaran selain hanya faktor kebetulan dan teknis semata, sehingga tidak harus dijadikan tuntunan.

Semua itu membutuhkan ilmu yang didasarkan kepada sesautu aturan yang baku, bukan sekedar pemikiran sesaat, yang boleh jadi nanti berubah-ubah.

Dan ilmu itu tidak lain adalah ilmu fiqih, yang telah eksis di dunia Islam sepanjang 14 abad lamanya, menjadi penerang bagi umat Islam dalam berpegang kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Penutup

Itulah beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama. Betapa syariat Islam ini memang perlu kita pelajari dengan sebaik-baiknya. Tidak perlu menunggu dan membuang waktu.

Sekaranglah waktu yang tepat untuk mulai belajar. Semoga Allah SWT memudahkan jalan kita masuk surga karena kita telah menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu keislaman selama di dunia ini.

C. Nasihat Ulama

Berikut ini adalah salah satu nasihat yang penting untuk diingat adalah apa yang diungkapkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dalam salah satu syi’ir gubahannya.

مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيمُ وَقْتَ شَبَابِــهِ ... فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِــهِ

Mereka yang luput dari belajar di masa mudanya, maka bertakbirlah empat kali atasnya.

Maksud bertakbir empat kali itu adalah bahasa ungkapan untuk shalat jenazah. Jadi maksudnya lakukan shalat jenazah untuk orang yang di masa mudanya tidak sempat belajar agama.

Karena orang yang tidak sempat belajar agama dengan benar di masa mudanya, hidupnya akan menjadi sia-sia belaka. Seolah-olah dia dianggap sudah tiada alias meninggal, karena itu jenazahnya kita shalati.

Ungkapan Asy-Syafi'i ini rasanya buat sebagian orang agak berlebihan. Masak di waktu muda tidak sempat belajar agama lantas dianggap seperti orang yang sudah meninggal?

Tetapi kalau kita renungkan lebih dalam, ternyata ungkapan ini bukan hanya sekedar bicara tentang betapa mirisnya nasib umat yang hari ini telah hidup jauh dari agamanya, tetapi juga mengandung pesan penting bahwa ilmu agama itu sangat luas dan mendalam.

Dan oleh karena itu maka setiap orang butuh waktu yang lama dan panjang untuk bisa mempelajarinya, bahkan harus sejak dari masih kecil.

Ilmu agama tidak bisa dipelajari hanya dengan dengar-dengar ceramah kesana kemari, atau sekedar browsing artikel di internet, bila memang mau jadi ulama dalam arti yang sesungguhnya.

Dan ulama yang dibutuhkan umat tidak akan pernah lahir dari pemilihan da'i cilik atau lomba-lomba sejenis di layar tivi. Sebab ilmu para ulama itu hanya bisa didapat dengan belajar yang panjang, lama dan sabar. Itu pun harus belajar langsung dari para ulama yang memang ahli di bidangnya, bukan sekedar ulama mateng karbitan.

Penguasaan atas ilmu agama juga tidak bisa didapat hanya dengan ikut kolompok-kelompok pengajian, lantas setelah itu seseorang merasa dirinya sudah menjadi ulama dan mufti kabir jiddan. Kemudian dengan seenak jidatnya, mulai memaki-maki para ulama dan hasil ijtihad besar pada fuqaha.

Ilmu agama juga bukan 'barang dagangan' yang dikemas jadi bisnis atau proyek untuk mendatangkan uang. Sekali pentas dikasih amplop tebal. Lalu orang berlomba-lomba bikin managemen ustadz dengan fee menyaingi artis.

Ilmu agama harus dipelajari secara runtut, mulai dari dasar-dasarnya, kemudian naik kepada ilmu agama yang menjadi tulang punggung dan seterusnya.

Al-Imam Asy-Syafi'i sendiri sejak kecil sudah menghafal 30 juz Al-Quran, lengkap tentunya dengan pengertian dan maknanya. Sebagian riwayat menyebutkan beliau saat itu belum genap berusia lima tahun.

Dan beliau di usia yang masih belia sekali, sudah menghafal luar kepala kitab hadits yang ada di masa itu, yaitu Al-Muwaththa' karya maestro besar Al-Imam Malik, mufti Madinah di zamannya. Konon beliau belum genap 15 tahun ketika itu. Dan oleh karena itu beliau meski masih remaja, ikut duduk di dalam majelis para ulama yang lainnya mengaji dari Imam Malik.

Selain hafal Quran dan kitab hadis, Asy-Syafi'i juga berguru kepada banyak ulama dari berbagai aliran dan mazhab. Beliau adalah murid madrasah Al-Imam Malik yang cenderung kuat dalam masalah nash, tetapi sekaligus juga menjadi murid dan pembela mazhab Al-Hanafiyah yang sangat kuat dalam masalah logika dan manthiq.

Bahkan Asy-Syafi'i kemudian bisa meramu sedemikian rupa dua kekuatan potensial dari para ulama di masanya, yaitu perpaduan antara kekuatan nash dan logika. Sehingga mazhab Asy-Syafi'i menjadi unik dan istimewa.

Satu hal yang sering dilupakan orang, bahwa sosok Al-Imam Asy-Syafi'i selain ulama ahli hadits, ahli logika, ahli fiqih dan manthiq, ternyata beliau juga seorang pujangga alias penyair. Begitu punya banyak karya dalam bidang sastra, sehingga karya-karya beliau di bidang sastra menjadi sebuah diwan tersendiri.

Begitulah tentang urgensi belajar ilmu fikih, semoga Allah SWT memberikan kesempatan dan kekuatan bagi kita semua untuk dapat mendalami ilmu fiqih dengan sedalam-dalamnya.

Amin ya rabbal alamin.
Baca juga : 

Sumber :fiqihkehidupan.com
Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: