Advertisement

Advertisement

Doa Mohon Dijadikan Sebagai Penegak Shalat

MARWAHISLAM.net | Beginilah sebenarnya Doa Mohon Dijadikan Sebagai Penegak Shalat yang senantiasa harus kita mohonkan kepada Allah subhanahu Wata’ala :

# Rabbij’alni – muqimas - shalati - wa - min – dzurriyyati, - rabbana – wa – taqabbal - du’a#.

Artinya : Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku sebagai penegah shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doa kami. (QS. Ibrahim (14) : 40).

Yang dimaksudkan dengan shalat dalam doa di atas, tentunya bukan sekadar momen ritual belaka, dimana sehari semalam seseorang melakukan shalat (wajib) lima kali, akan tetapi shalat seharusnya juga ada momen sosial dan kemanusiaannya.

Jika seseorang rajin menegakkan shalat, maka seharusnya berimplikasi pada perilaku moral dan sosialnya. Seseorang yang rajin menegakkan shalat, akan tetapi perilaku moral dan sosialnya tidak baik, maka bisa dikatakan bahwa shalatnya gagal dan sia-sia.

Doa Mohon Dijadikan Sebagai Penegak Shalat

Shalat yang sia-sia hanya merupakan aktivisme seseorang hanya kelihatan rajin melaksanakan shalat, akan tetapi tidak terinternalisasi dalam pribadi seseorang. Mengapa? Karena shalatnya tidak berpengaruh terhadap perilaku moral dan sosial seseorang.

Seseorang bisa saja rajin melakukan shalat ritual, akan tetapi bisa saja perilaku moral dan sosialnya tetap tidak baik, Dengan demikian, shalat yang baik dan berhasil adalah shalat yang aktif, yang bisa berimplikasi pada perilaku moral dan sosial seseorang.

Jika shalat seseorang berhasil dan diterima oleh Allah, maka sudah pasti perilaku moral dan sosial seseorang juga. akan baik, yaitu seseorang tidak hanya baik bagi dirinya sendiri, akan tetapi juga baik dan bermanfaat bagi orang lain (sesama manusia).

Di sinilah, dalam shalat, ada momen-momen kemanusiaannya. Jadi, shalat bukan hanya sebuah momen ritual (yang kosong) belaka, akan tetapi sebenarnya merupakan manifestasi dari keutuhan kehidupan itu sendiri.

Jika shalat seseorang baik, maka perilaku moral dan sosial seseorang juga akan baik, begitu juga sebaliknya, jika shalat seseorang gagal dan sia-sia (karena hanya merupakan aktivisme ritual yang kosong), maka perilaku moral dan sosial seseorang biasanya akan bertolak belakang dengan pesan shalat itu sendiri.

Jika pesan shalat yang mendasar adalah transformasi moral dan sosial menuju nilai-nilai kebaikan, kebenaran, keadilan, kejujuran, dan hal-hal positif lainnya, maka kita tinggal memilih: kalau shalat kita berhasil, maka kita akan menuju nilai-nilai dasar shalat tersebut, akan tetapi jika shalat kita gagal, maka justru akan menjauh dan bertolak belakang dengan nilai-nilai dasar shalat tersebut.

Jika shalat seseorang baik dan berhasil, maka dia akan punya komitmen sosial untuk berjuang di jalan kemanusiaan yang baik, mulia, dan tulus.

Dalam pemaknaan seperti yang sudah dipaparkan tadilah, seharusnya doa tentang shalat di atas kita letakkan. Yaitu, ”Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku sebagai penegak shalat”.

Inilah Urgensi Doa Bagi Umat manusia

MARWAHISLAM.net | Alexis Carrel percaya akan urgensi doa. Sebelum-nya, sudah saya katakan bahwa banyak sekali filosof, pemikir, atau kaum agamawan yang berbicara tentang doa. Tetapi lain jadinya kalau seorang biolog dan neurolog menyelidiki pengaruh doa dalam berbagai penyakit dan operasi yang telah dia jalankan. 

Dia adalah saintis yang patut dihormati. Bertambahlah penghormatan kita kepadanya, manakala kita menyaksikan dunia pun memberikan apa yang sepantasnya dia terima. Dalam sebuah karyanya yang bertahun-tahun lalu telah diterjemahkan ke bahasa Persia, saya mendapatkan berbagai hal yang menakjubkan bagi orang yang mengenal doa sebagai bagian dari ajaran agama.

Inilah Urgensi Doa Bagi Umat manusia

Tentang doa, antara lain, demikian dia berkata: ”Pengabaian doa dan tata caranya adalah pertanda kehancuran suatu bangsa. Masyarakat yang mengabaikan ibadah (baca: doa kepada Allah) adalah masyarakat yang berada di ambang kemunduran dan kehancuran yang Vital. Roma adalah bangsa yang agung. Namun, secepat mereka meninggalkan ibadah berdoa, secepat itu pula kehinaan dan kelemahan menimpa mereka."

Keterangan Alexis di atas, bukan hanya begitu indah dan puitis, tetapi juga begitu pelik dan filosofis.  Selanjutnya dia berkata: ”Doa adalah pusaka yang selalu menyertai pendoa. Pendoa akan terimbas cahaya doa dan ibadah di saat-saat diam dan geraknya, dan juga pada tatapan wajahnya. Pendoa akan, bersama pusaka itu di mana pun dia berada.”

Melalui data statistik ditemukan bahwa para kriminal, pada umumnya, adalah orang yang sama sekali tidak pernah atau jarang-jarang berdoa. Sebaliknya, orang yang sering berdoa terhindar dari tindak kriminal, walaupun status finansial dan sosial merangsang mereka untuk melakukannya. Atau setidaknya, orang yang sering berdoa tidak pernah tertangkap basah menjadikan tindak kriminal sebagai profesi.

Yayasan Lourdes, sebagaimana ditulis Alexis Carrel dalam bukunya, setiap tahun mempublikasikan data statistik yang memuat beberapa orang yang sembuh berkat doa, walaupun kemudian Carrel mengakui akan adanya penurunan jumlah mereka di tiga dekade terakhir.

Dia memberikan alasan penurunan jumlah itu demikian: ”Para peziarah yang dahulunya datang ke tempat itu dengan cinta dan harap, kini datang untuk melancong dan sambil lalu.”

Doa Mohon Pertolongan Dalam Menghadapi Kesulitan

MARWAHISLAM.net | Sepantasnyalah kita senantiasa memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar selalu diberikan kelapangan, beginilah Doa Mohon Pertolongan Dalam Menghadapi Kesulitan :

# Allahumma – la - sahla – illa – ma - ja’altahu - sahlan - wa - anta - taj’alul - huzna – idza - syi’ta – sahla #.

Artinya : Ya Allah, tiada kemudahan selain yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau dapat menjadikan kesulitan menjadi kemudahan jika Engkau menghendaki. (HR. Ibnu hibban). 

Doa Mohon Pertolongan Dalam Menghadapi Kesulitan

Doa di atas, yang dipetik dari salah satu hadis Nabi, merupakan permohonan kita bisa mengatasi segala kesulitan hidup yang sedang kita hadapi, serta segala urusan hidup kita selalu dimudahkan oleh Allah, dan selalu baik bagi kita dan sesama manusia.

Hal itu sesuai dengan pesan doa di atas, bahwa Allah dapat menjadikan kesulitan menjadi kemudahan jika Dia menghendakinya. Dalam salah satu petikan firmannya, Allah pun telah menyuratkan bahwa :

# Inna – ma’al – ‘usri – yusran #.

Artinya : Sesungguhnya bersama kesulitan selalu ada kemudahan (QS. Alam Nasyrah (94) : 6).

Doa Sapu Jagad: Mohon Kebaikan di Dunia dan Akhirat

MARWAHISLAM.net | Selemah-lemah iman dan kemampuan kita bacalah Doa Sapu Jagad: Mohon Kebaikan di Dunia dan Akhirat pada setiap selesai shalat lima waktu :

# Rabbana – atina - fiddunya – hasanatan - wafil – akhirati - hasanatan – waqina - ’adzaban – nar #.

Artinya : Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah (2) : 201). 

Doa di atas yang seringkali disebut sebagai Doa Sapu Jagad, berisi permohonan kepada Allah agar kita diberi (serta dibimbing menuju) kebaikan di dunia dan akhirat, serta dihindarkan dari siksa neraka.

Doa Sapu Jagad: Mohon Kebaikan di Dunia dan Akhirat

Doa Sapu Jagad sangat sering dibaca oleh umat Islam, terutama dalam momen doa harian dan istighatsah. Isi doa Sapu jagad sangat bagus dan bernas.

Selain itu, kelebihan doa ini terletak pada kesingkatan dan kepadatannya, serta isinya yang berbobot, mendalam, dan holistik (berefek menyeluruh bagi kehidupan manusia). Yaitu: memohon kebaikan di dunia dan akhirat.

“Dunia” adalah tempat di bumi, dimana kita menjalani kehidupan yang fana dan sementara, kemudian ”akhirat” adalah tempat dimana kita akan menuju ke ”keabadian” yang tak terbatas, yakni suatu alam yang akan dijalani oleh setiap manusia sesudah mati.

Wacana beberapa agama (khususnya Islam) mengatakan bahwa kebaikan seseorang di alam akhirat sangat tergantung dari amal dan kebaikan seseorang ketika masih hidup di dunia.

Jika seseorang diberi kebaikan di dunia dan akhirat oleh Allah, bukankah kehidupannya telah tuntas dan menyeluruh? Untuk itu, doa Sapu jagad di atas sangat penting kita amalkan setiap saat.

Beginilah Cara Menuju Haji Mabrur

MARWAHISLAM.net | ALLAH telah menetapkan pahala yang besar untuk haji mabrur, yang dibuktikan dengan perkataan Rasulullah saw "Tidak ada hadiah untuk haji mabrur kecuali surga." (Al-Bukhari).

Arti birr (dari mana kata 'mabrur' berasal) melibatkan dua berikut : perilaku yang baik terhadap orang, memenuhi tugas seseorang terhadap orang lain dan memberi mereka hak-hak mereka. Dalam Hadis, ". Al-Birr adalah perilaku yang baik" (Muslim) di Musnad, dari Jabir, marfu negara narasi, "Mereka berkata: 'Apa yang membuat Haji Mabrur, Wahai Nabi Allah saw?" Dia berkata, 'menyediakan makanan untuk orang-orang dan menyebar (salam)'. "(Fath Al-Bari) berikut ini akan membantu seseorang memastikan bahwasanya haji akan diterima, insyaAllah.

Pertama: Ketulusan
Ketulusan untuk Allah dan mencari pahala dan kesenangan-Nya sendiri. Allah berfirman dalam hadis Qudsi, "Barangsiapa melakukan tindakan untuk selain Aku, Aku akan meninggalkan dia dan syirik nya." Nabi (saw) memohon, "Allahumma hajatan La riya'a FIHA wa La suma" (O Allah, (memungkinkan saya untuk membuat) haji tanpa riya '(pamer dalam arti keinginan yang lain menyaksikan seseorang perbuatan baik) atau suma (show-off terkait dengan keinginan yang lain mendengar tentang perbuatan baik seseorang) di dalamnya. " (Ibn Majah, lihat juga Sahih Sunan ibn Majah)

Kedua: Persiapan Haji
persiapan hamba untuk haji adalah dari hal-hal yang paling penting yang membantu dalam melakukan ziarah dengan cara menentukan dan memastikan bahwa seseorang haji insyaAllah diterima.

Beginilah Cara Menuju Haji Mabrur
Ketiga: Simbol dari kesucian
Dari yang paling jelas dari tujuan dan kearifan dari haji adalah budidaya hamba atas apresiasi, penghargaan dan cinta dari simbol dan kesucian Allah. Allah berfirman, "Itu (begitu). Dan barangsiapa menghormati simbol-simbol (yaitu ritual) dari Allah - memang, itu adalah dari ketakwaan hati "(Al Qur'an, 22:32).

Keempat: Karakteristik Baik
"Haji adalah (selama) bulan terkenal, sehingga siapa pun yang telah membuat haji wajib atas dirinya di dalamnya (dengan memasukkan keadaan ihram), ada (dengan dirinya) tidak ada Ar-Rafath ..." (Al Qur'an, 2: 197) Ar-Rafath adalah hubungan seksual atau apa yang menyebabkan itu dari ucapan atau tindakan. Menekan kemarahan, meninggalkan argumentasi dan perselisihan. Allah berfirman, "dan tidak ada yang berselisih (Jidal) selama haji." (Al Qur'an, 2: 197) Ataa mengatakan, Al-Jidal adalah bahwa Anda sengketakan rekan Anda sampai Anda marah dan dia marah kepada Anda.

Kelima: Pengingat Hari terakhir
Haji mengingatkan hamba Hari terakhir dan negara dan kondisi secara jelas.

Keenam: Penyampaian kepada Allah
Pilgrim dilatih setelah penyerahan, penyerahan dan ketaatan lengkap untuk Allah Tuhan semesta alam, seperti, misalnya, dalam kasus tindakan haji, seperti ditinggalkannya pakaian dijahit dan perhiasan, Tawaf, Sa'i, berdiam di Arafah, rajam, Penginapan dan mencukur atau memotong rambut seseorang dan hal-hal lain seperti itu.

Ketujuh: Rasa persaudaraan
Peziarah, dengan semua perbedaan mereka dalam bahasa roh, ras dan kebangsaan, berkumpul di satu tempat yang sama pada satu waktu yang sama, dalam satu penampilan yang sama, mengucapkan panggilan yang sama dari Talbiyah, dan untuk tujuan yang sama: Kepercayaan Allah, pemenuhan pesanan Nya dan menjauhkan perbuatan dosa, yang semuanya berkembang cinta yang mendalam di antara mereka, yang pada gilirannya, menjadi motif bagi mereka untuk mengenal satu sama lain, untuk bekerja sama, bertukar pikiran, saran, berita dan pengalaman, memperkuat dalam diri mereka kesalehan pada Agama ini yang bergabung dengan mereka bersama-sama, serta melakukan tindakan yang bertujuan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.

Kedelapan: Lampiran masa lalu
Tindakan Haji mengingatkan masa lalu, dari migrasi Ibrahim (saw) dengan istri dan bayi, ke Hijaz, kisahnya ketika ia diperintahkan untuk mengorbankan anaknya, bangunannya dari Ka'bah dan panggilan-Nya kepada orang-orang untuk menunaikan haji. Demikian juga, Haji adalah pengingat dari meningkatnya Nabi Muhammad (saw) dan ziarah perpisahan dengan lebih dari 100.000 sahabat; ketika ia berkata kepada mereka, "Ambillah dari saya ritual Anda (Haji)."

Kesembilan: Mengingat Allah
Hamba yang merenungkan selama ritual haji sekitar Talbiyah, takbir, tahlil (mengatakan La ilaha ill Allah), doa, serta dua wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah) yang berbicara tentang mereka, akan menemukan bahwa peningkatan mengingat Allah adalah dari kearifan terbesar dan tujuan haji. Dari teks-teks adalah perkataan Allah, (Qur'an, 2: 198) "Ingat Allah di Al-Mash'ar Al-Haram (Muzdalifah)." Dan sabdanya, "mengelilingi rumah, (akan) antara Sebagai -Safa dan Al-Marwah dan rajam hanya telah undangkan untuk pembentukan mengingat Allah di bumi. "(At-Tirmidzi)

Kesepuluh: Disiplin
Ingat bahwa haji membatalkan apa yang mendahului dari dosa, dan bahwa karena haji Anda kembali dalam keadaan seperti itu pada hari ibumu membuat Anda bosan. Jadi berhati-hatilah menentang Allah dengan dosa-dosa setelah berkat ini. Membuka halaman baru dalam hidup Anda dan mengisinya dengan tindakan lurus di ketabahan atas Agama-Nya.

Bukti dari haji mabrur adalah ketabahan dari hamba setelah haji, praktek tindakan yang benar dan meninggalkan dosa. Al-Hasan al-Basri mengatakan, "Al-Haj Al-Mabrur adalah untuk kembali berpuasa dari dunia ini dan menginginkan akhirat. Hal ini disaksikan dalam firman-Nya, "Dan orang-orang yang dipandu; Dia meningkatkan mereka dalam bimbingan dan memberi mereka kebenaran mereka (Taqwa, kesadaran takut Allah, peduli untuk menghindari ketidaksenangan-Nya). (Al Qur'an, 47:17)

Awas !!! Ada Virus HIV atau AIDS Pada Pembalut Wanita

MARWAHISLAM.net | Kami sampaikan sebuah kabar duka yang amat penting untuk umat Islam seluruh dunia. Nandang Burhanudin, seorang Wartawan Palestina membocorkan strategi pemerintah zionis Israel untuk menebar VIRUS AIDS pada setiap pembalut wanita.

Produk Pembalut tersebut direncanakan akan dituliskan : "Made in Kingdom of Saudi Arabia," namun yang sebenarnya itu adalah produksi zionis Israel (Yahudi Laknatillah).

Target rencananya mereka adalah : 
  1. Membunuh wanita-wanita Arab dan umat Islam yang sangat subur melahirkan anak-anak.
  2. Memperburuk citra muslimah, karena ternyata terkena virus HIV/AIDS dalam keluarga yang menghormati norma-norma Islam.

Awas !!! Ada Virus HIV atau AIDS Pada Pembalut Wanita

Dimana lazimnya kaum hawa saat ini, yang selalu mempergunakan pembalut ketika haid. Maka pada saat itulah virus AIDS akan menebar dan bercampur dengan darah haid ketika itu dipergunakan dalam waktu yang melebihi 30 menit.

Akhirnya virus HIV atau AIDSpun akan menjangkiti pengguna. Semoga Allah Subhanahu Wata'ala tetap melindungi kita semua. Amin...

Jangan lupa kalau membeli barang tersebut dan menemukannya dengan barcode 729 maka jangan dibeli, itulah made in Yahudi Israel, AYO BOIKOT!!

Tolong bantu Share berita ini untuk menyelamatkan putri-putri muslimah di seantero bumi ini. Terimakasih dan Untuk para laki-laki tolong infokan kepada saudara atau teman-teman perempuan semua.

Firman Allah Tentang Siapa Kafir dan Siapa Munafik ? Inilah Jawabannya

MARWAHISLAM.net | Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh !

Siapa kafir, siapa munafiq dan siapa yang akan menjawabnya ?.  Jawabannya ada pada orang per orang, ada di hati kita, dalam perilaku dan bahasa kita sehari-hari.

Bagi yang percaya dan mengamalkan firman-firman Allah SWT maka akan selamatkan dunianya dan bahigiakannya di akhirat.   

Sebaliknya orang-orang kafir dan munafiq yang bersiliweran diseantero bumi bahkan di negeri dan daerah-daerah ini sebagaimana  Allah SWT ber-firman yang artinya :

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.  Al-Baqarah( 6 )
   
Siapa Kafir dan Siapa Munafik ? Inilah Jawabannya

Namun kita jangan memusihi mereka tetapi terus menerus mendo’akan agar mereka diberikan Hidayah oleh Allah Swt karena sesunggunya Allah SWT ber-firman :

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.  Al-Baqarah( 7)

Sama halnya apa yang sering terjadi dalam kehidupan kita, orang-orang munafiq itu selalu berpura-pura, tampaknya memang baik.  Orang Aceh bilang “ Dikeu bee bu dilikoet bee eek”.  Begitulah sifat-sifat pembohong sebagaimana Allah SWT ber-firman yang artinya :

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”.   Al-Baqarah( 8)   dan

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar”.   Al-Baqarah( 9)

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”.  Al-Baqarah(10)

“Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan".   Al-Baqarah(11)

“Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”.  Al-Baqarah(12)

“ Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu”.   Al-Baqarah(13)

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok".  Al-Baqarah(14)

“Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka”.   Al-Baqarah(15)

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.   Al-Baqarah(16)

Kita tidak mengutip hadis karena sangat jelas Allah SWT menggambarkannya dalam setiap firman-Nya didalam Al-qur’an Al Kariim.

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya. Itulah Siapa Kafir dan Siapa Munafik ? Inilah Jawabannya

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Baca juga : Perlu Anda Tahu; Muslim Selamat Dari Neraka Oleh 313 Syariat

Syarat Shahnya Perkawinan

MARWAHISLAM.net |  merupakan dasar bagi shahnya perkawinan, Jika syarat-syaratnya terpenuhi, perkawinannya sah dan menimbulkan adanya segala kewajiban dan hak-hak perkawinan.

Syarat-Syarat Shahnya Perkawinan ada dua :

Pertama:   Perempuannya halal dikawini oleh laki-laki yang ingin menjadikannya isteri. Jadi perempuannya itu bukanlah merupakan orang yang haram dikawini, baik karena haram untuk sementara atau selama-lamanya. Pembicaraan ini secara terperinci akan dibahas dalam bab  perempuan-perempuan yang haram.

Kedua: Aqad nikahnya dihadiri para saksi. Pembicaraan ini meliputi masalah-masalah sebagai berikut:

1. Hukum mempersaksikan (menghadirkan para saksi).
2. Syarat-syarat menjadi saksi.
3. Perempuan menjadi saksi.

Syarat Shahnya Perkawinan

Hukum Mempersaksikan Ijab Qabul

Menurut Jumhur Ulama, perkawinan yang tidak dihadiri saksi-saksi tidak shah. Jika ketika ijab qabul tak ada saksi yang menyaksikan, sekalipun diumumkan kepada orang  ramai dengan cara lain perkawinannya tetap tidak shah.

Jika para saksi hadir dipesan oleh pihak yang mengadakan akad nikah agar merahasiakan dan tidak memberitahukannya kepada orang ramai, maka perkawinan-nya tetap sah. Pelacur yaitu perempuan-perempuan  yang mengawinkan dirinya  tanpa saksi (H. Sahih Tirmidhi). Kedua ; Dari Aisyah, Rasulullah  bersabda; Tidak shah perkawinan  kecuali dengan  wali dan dua saksi yang adil. (H.R. Daruquthni).

Kata "tidak" disini maksudnya "tidak shah" yang berarti menunjukkan bahwa mempersaksikan terjadinya ijab qabul  merupakan syarat dalam perkawinan, sebab dengan tidak  adanya saksi dalam ijab qabul dinyatakan tidak sah, maka hal itu berarti menjadi syaratnya.

Ketiga : Dari Abu Zubair Al Makkiy, bahwa Umar bin  Katthab menerima pengaduan adanya perkawinan yang hanya  disaksikan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan,  lalu jawabnya : Ini kawin gelap, dan aku tidak membenarkan, dan andaikan saat itu aku hadir, tentu akan  kurajam". (H.R. Malik, dalam kitab Al-Muwattha').

Hadis-hadis di atas sekalipun martabatnya lemah, namun satu dengan yang lain saling menguatkan.

Baca Juga : Allah Bolehkan Talak Bagi Laki-Laki dan Khulu' Ba...

Tirmidhi berkata : Faham ini dipegang oleh para Ulama  dari kalangan sahabat, tabi'in dan lain sebagainya.  Mereka berkata: Tidak shah perkawinan kecuali dengan saksi-saksi. Pendapat ini tak ada yang menyalahi kecuali  oleh segolongan Ulama Mutaakhkhirin.

Keempat : Karena adanya pihak lain yang turut terlibat di dalam hak kedua belah pihak yang beraqad, yaitu anak-anak. Karena itu dalam aqadnya disyaratkan adanya saksi agar nantinya ayahnya tidak mengingkari keturunannya.

Tetapi sebagian Ulama berpendapat perkawinan tanpa saksi-saksi hukumnya shah.  Di antara yang berpendapat demikian, yaitu: golongan Syi'ah, Abdur Rahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, lbnul Mundzir, Daud, prakteknya lbnu  Umar dan lbnu Zubair. Diriwayatkan juga bahwa Hasan bin 'Ali pernah kawin tanpa saksi-saksi, tapi kemudian ia umumkan perkawinan-nya.

Pendapat Ibnu Mundzir.

Tidak ada satupun hadis yang shah tentang syarat dua  orang saksi dalam perkawinan. Yazid bin Harun berkata:   Allah memerintahkan mengadakan saksi dalam urusan jual-beli, bukan dalam perkawinan. Tetapi golongan rationalis  (pemakai dasar Qiyas) mensyaratkan mengadakan saksi dalam  perkawinan dan mereka tidak mensyaratkan ini dalam jual-beli.

Bilamana telah terjadi aqad nikah, tetapi dirahasiakan  dan mereka pesankan kepada yang hadir agar merahasiakan pula, maka perkawinan-nya shah, tetapi makruh, karena menyalahi adanya perintah untuk mengumumkan perkawinan.

Demikianlah pendapat Syafi'i, Abu Hanifah dan Ibnul  Mundzir. Begitu pula Umar, 'Urwah, Sya'bi dan Nafi'  menganggapnya "makruh", tetapi menurut Imam Malik perkawinan-nya batal.

Ibnu Wahab meriwayatkan dari Imam Malik tentang seorang laki-laki yang kawin dengan perempuan dengan disaksikan  oleh dua orang laki-laki tetapi dipesan agar mereka merahasiakannya?

Jawabnya: Keduanya harus diceraikan dengan satu thalak,  tidak boleh menggaulinya, tetapi isterinya berhak atas maharnya yang telah diterimanya, sedang kedua orang saksinya tidak dihukum.

Syarat-Syarat Menjadi Saksi  Nikah.

Syarat menjadi saksi Nikah : Berakal sehat, dewasa dan mendengarkan omongan dari kedua belah pihak yang beraqad  dan memahami bahwa ucapan-ucapannya itu maksudnya adalah  sebagai ijab-qabul perkawinan.

Jika yang menjadi saksi itu anak-anak atau orang gila atau orang bisu, atau orang yang sedang mabuk, maka perkawinan-nya tidak shah, sebab mereka dipandang seperti tidak ada.

Bersifat Adil.

Menurut Imam Hanafi untuk menjadi saksi dalam perkawinan tidak disyaratkan harus orang yang adil, jadi perkawinan  yang disaksikan oleh dua orang fasik hukumnya shah. Setiap orang yang sudah patut menjadi wali dalam perkawinan, boleh menjadi saksi, karena maksud adanya  saksi ini ialah untuk diketahui umum.

Golongan Syafi'i berpendapat saksi itu harus orang yang  adil, sebagaimana tersebut dalam hadis di atas: "Tidak  shah nikah tanpa wali dan dua orang saksi yang adil".

Menurut mereka ini bila perkawinan disaksikan oleh dua  orang yang belum dikenal adil tidaknya, maka ada dua  pendapat, tetapi menurut Syafi'i kawin dengan saksi-saksi yang belum dikenal adil-tidaknya, hukumnya shah.  

Karena perkawinan itu terjadi di berbagai tempat, di kampung-kampung, daerah-daerah terpeneil dan kota, dimana  ada orang yang belum diketahui adil tidaknya. Jika  diharuskan mengetahui lebih dulu adil tidaknya, hal itu  akan menyusahkan. 

Karena itu cukuplah dilihat lahirnya  ketika itu, dimana ia tidak terlihat kefasikannya. Bila sesudah selesai aqad nikah terbukti ia seorang yang  fasik, maka aqad nikahnya tidaklah dipengaruhi, karena syarat adil untuk menjadi saksi dalam perkawinan dilihat segi lahirnya yaitu bahwa dia tidak terlihat ketika itu  melakukan kefasikan dan hal itu telah terbukti.

Perempuan Menjadi Saksi.

Golongan Syafi'i dan Hambali mensyaratkan saksi haruslah  laki-laki, Aqad nikah dengan saksi seorang laki-laki dan  dua perempuan, tidak shah, sebagaimana riwayat Abu 'Ubaid dari Zuhri, katanya: Telah berlaku contoh dari Rasulullah saw. bahwa tidak boleh perempuan menjadi saksi dalam urusan pidana, nikah dan thalak. 

Aqad nikah bukanlah satu perjanjian kebendaan, bukan pula dimaksudkan untuk kebendaan, dan biasanya yang menghindari adalah kaum  laki-Iaki, Karena itu tidak shah aqad nikah dengan saksi dua orang perempuan, seperti halnya dalam urusan pidana  tidak dapat diterima kesaksiannya dua orang perempuan.

Tetapi golongan Hanafi tidak mengharuskan syarat ini.  Mereka berpendapat bahwa kesaksian dua orang laki-laki atau seorang laki-laki dan dua perempuan sudah shah, sebagaimana Allah berfirman :

Dan adakanlah dua orang saksi dari laki-laki kalanganmu  sendiri. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka cukup seorang laki-laki dan dua orang perempuan yang kamu sukai untuk menjadi saksi.(Al-Baqarah:  282)

Aqad  nikah sama dengan jual beli, yaitu karena merupakan  perjanjian timbal-balik yang dianggap shah dengan saksi dua perempuan di samping seorang laki-laki.

Harus Orang Merdeka.

Abu Hanifah dan Syafi'i mensyaratkan orang yang menjadi saksi harus orang yang merdeka, tetapi  Ahmad  tidak mengharuskan syarat ini. Dia berpendapat aqad nikah yang   disaksikan oleh dua orang budak, hukumnya shah sebagaimana shahnya kesaksian mereka dalam masalah-masalah lain, dan karena dalam Al-Qur'an maupun hadis tidak ada keterangan yang menolak seorang budak untuk menjadi saksi  dan selama dia jujur serta amanah, kesaksiannya tidak boleh ditolak.

Harus Orang Islam.

Para ahli fikih berbeda pendapat tentang syarat-syarat menjadi saksi dalam perkawinan bilamana pasangannya terdiri dari laki-laki dan perempuan muslim, apakah saksinya  harus beragama Islam?  

Juga mereka berbeda pendapat jika yang laki-lakinya beragama Islam, apakah yang menjadi saksi boleh orang yang bukan Islam? Menurut Ahmad, Syafi'i dan Muhammad bin Al-Hasan perkawinan-nya tidak Shah, jika saksi-saksinya bukan orang Islam, karena yang kawin adalah orang Islam, sedang  kesaksian bukan orang Islam terhadap orang Islam tidak dapat diterima.

Tetapi Abu Hanifah dan Abi Yusuf berpendapat bila perkawinan itu  antara laki-laki muslim dan perempuan ahli Kitab maka kesaksian dua orang ahli kitab boleh diterima. Dan pendapat ini diikuti oleh Undang-undang perkawinan Mesir.

IJab-Qabul  Formalitas.

Ijab-qabul yang terpenuhi syarat-syaratnya hukumnya shah,  tetapi akibat hukumnya belum dapat berlaku, kecuali bila upacara ijab-qabulnya dihadiri para saksi, atau dihadiri   oleh para saksi tetapi di luar kemampuan pasangan yang melakukan ijab-qabul, maka ijab-qabul seperti ini disebut ijab-qabul formalitas. 

Ijab-qabul semacam ini berlainan dengan ijab-qabul yang kehadiran para saksi untuk menyaksikan upacaranya atas kemauan dan kerelaan hati mereka. 

Jadi adanya keridlaan terhadap kehadiran saksi-saksi oleh kedua pihak yang sedang melakukan ijab-qabul itu sendirilah dalam hal ini yang merupakan dasar bagi shahnya ijab-qabul yang membawa  akibat-akibat hukum selanjutnya dan menempatkan perkawinan-nya dibawah perlindungan Undang-undang.

Itulah gan, Syarat Shahnya Perkawinan .. Bagikanlah jika menurut sahabat bermanfaat.

Baca juga : Tahukah Anda Ternyata Wajib Mengkhitan Wanita Itu Sangat Keliru