Advertisement

Advertisement

Pengertian Taqdis dan Peningkatan Hablum Minan Nas

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM.net | PENGERTIAN TAQDIS – dimana taqdis (pensucian), adalah tingkat penghormatan setulus hati yang paling tinggi, yang dapat dilakukan oleh manusia terhadap manusia lain atau kepada suatu benda. 

Taqdis dapat muncul akibat adanya dorongan perasaan manusia yang disertai dengan mafahim (yang tumbuh dari naluri manusia).  Kadang-kadang taqdis juga muncul akibat adanya dorongan pemikiran yang disertai dengan perasaan yang digerakkan oleh pemikiran tersebut.

Taqdis terhadap berhala atau manusia super (tokoh-tokoh fiksi) adalah termasuk golongan yang pertama, yakni timbul dari perasaan yang disertai dengan mafahim (yang tumbuh dari naluri manusia) tentang ketuhanan atau sesuatu yang dianggap agung.

Sedangkan taqdis terhadap Allah, dengan cara melakukan ibadah, tunduk dan pasrah terhadap hokum-hukum-Nya, termasuk yang terakhir, yaitu berasal dari hasil pemahaman akal bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang patut disembah atau bahwa hukum-hukum tersebut berasal dari Allah, sehingga mewajibkan adanya sikap pasrah dan tunduk padanya. 

Pengertian Taqdis dan Peningkatan Hablum Minan NasDalam dua tindakan taqdis tersebut, dorongan yang muncul dalam diri manusia disertai dengan perasaan naluri beragama (gharizah tadayyun), yaitu adanya perasaan lemah dan membutuhkan kepada Sang Pencipta, Pengatur Alam Semesta.

Taqdis adalah sesuatu yang fitri dalam diri manusia, dan merupakan hasil manifestasi dari naluri beragama yang memiliki berbagai bentuk perwujudan.  Bentuk tertinggi berupa ibadah.
Bentuk-bentuk taqdis Iain misalnya adanya ketundukan, kekhusyu‘an, tindakan merendahkan diri, atau pun tindakan membesarkan dan mengagungkan sesuatu.

Perasaan manusia dapat digerakkan oleh taqdis dengan goncangan yang lemah atau kuat sesuai dengan mafahim yang terikat dengan perasaan tersebut.  Mafahimlah yang menentukan tata cara taqdis, dan menentukan kapan suatu taqdis dilakukan atau ditinggalkan.

Oleh karena itu, bisa saja terjadi kesalahan dalam mengalihkan taqdis dari sesuatu kepada sesuatu yang lain, atau mengalihkan pentaqdisan dari Al Khaliq kepada pentaqdisan makhluk.
Kadangkala, kesalahan dapat terjadi dalam tata cara taqdis.  Seperti, seseorang yang mencium Al Qur‘an dan menganggap bahwa ia telah mensucikan Al Qur’an. 

Padahal, tindakan dan ucapannya bertentangan dengan apa yang ia sucikan (Al Qur'an), misalnya ia menyatakan bahwa Al Qur’an sudah tidak layak lagi di masa kini.  Jadi, dia melakukan taqdis terhadap Al Qur’an dengan cara menciumnya, walaupun tindakannya tersebut bertentangan dengan nash Al Qur’an yang sangat jelas maknanya :

"Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." (Al Waqi’ah 79).  Atau, ia pun telah kufur akibat ucapannya yang menyatakan bahwa Al Qur’an sudah tidak layak lagi.  

Berdasarkan hal ini, memang ada kemungkinan untuk menghilangkan atau mengalihkan taqdis dari sesuatu kepada sesuatu yang lain, atau dengan memutarbalikkan fakta bahwa hanya amal perbuatan seseorang saja yang merupakan taqdis, sedangkan yang lainnya tidak berkaitan dengan taqdis; atau menganggap perbuatan Iain tidak bertentangan dengan taqdis. Hilangnya/ beralihnya taqdis terjadi karena kesalahan yang muncul akibat perubahan mafahim.  

Dan hal ini, sangat mudah terjadi pada kebanyakan manusia, terutama pada orang-orang yang sikap taqdisnya muncul dari dorongan perasaan.  Sebab, mereka itu mudah sekali mengubah mafahim yang terikat dengan perasaan tersebut karena pada umumnya mafahim tersebut berasal dari naluri manusia yang bersifat pasrah (taslimiyah) dan mudah sekali hilang.  Adapun taqdis yang lahir dari dorongan berpikir yang disertai dengan perasaan dan menggerakkan pemikiran tersebut sulit sekali menghilangkannya. 

Dan kalaupun mungkin hal ini dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan pemikiran yang lebih tinggi serta pandai dalam berhujjah, meskipun ia akan menghadapi perlawanan keras, sebelum mampu menghilangkan/merubah pemahamannya. 

Oleh karena itu, taqdis harus muncul dari dorongan berpikir yang disertai dengan perasaan, sehingga akan menjadi taqdis yang kokoh, jauh dari kesalahan atau kesesatan.

Taqdis yang dilakukan oleh seorang muslim, kedudukannya sama seperti aqidah, yang harus muncul dari akal.  Taqdis tersebut dilakukan karena dorongan dari aqidah yang merupakan aqidah aqliyah (keyakinan yang muncul setelah melalui proses berpikir, bukan kepercayaan yang membabi-buta).  Atas dasar hal ini, harus dilakukan penetapan, siapa yang harus melakukan taqdis, dan siapa yang harus disucikan. 

Di samping itu, jika telah ditetapkan adanya sesuatu yang wajib disucikan, maka di sini taqdis harus dilakukan tanpa harus diperdebatkan lagi setelah ditetapkan keabsahannya, kecuali dalam keadaan adanya upaya meyakinkan orang lain untuk mensucikan sesuatu yang patut
disucikan, sebab menerima adanya perdebatan dan pembahasan dalam masalah ini, setelah (sebelumnya) ditetapkan kebenaran taqdis tersebut, berarti sikap tersebut bertentangan dengan taqdis (yang telah ada dalam diri manusia). 

Seperti halnya sikap menerima perdebatan dan pembahasan terhadap aqidah, setelah (sebelumnya) dipastikan kebenaran aqidah, berarti sikap tersebut bertentangan dengan aqidah yang sudah ada.  Yang harus dilakukan adalah meninggalkan pembahasan dalam aqidah atau pun taqdis dari cara filsafat (perdebatan) ke suatu perkara yang telah pasti kebenarannya (aksioma) disertai dengan ketundukkan. 

Begitu pula harus melakukan perubahan dalam taqdis dari sekedar pembahasan filsafat menjadi suatu kebiasaan yang muncul secara otomatis.  Jlka tidak, maka tidak mungkin suatu aqidah dapat terkonsentrasi dalam diri seseorang, selama ia masih melakukan perdebatan dalam masalah ini.  Juga tidak akan muncul dorongan taqdis terhadap sesuatu, selama masih ada perdebatan didalamnya.

Dengan akalnya, kaum muslimin telah menyadari bahwa melakukan taqdis kepada Allah adalah suatu tindakan beribadah kepada-Nya yang dilakukan dengan cara mentaati perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya, serta tunduk dan pasrah terhadap apa pun yang tercantum dalam Kalamullah, yaitu Al Qur’anul Karim. 

Mereka pun menyadari (dengan akalnya) bahwa mensucikan Nabi Muhammad Saw adalah dengan ta’dzim dan memuliakan beliau dalam setiap kondisi dan keadaan.  Hal itu dilakukannya dengan menundukkan diri dan pasrah total terhadap hadits beliau dengan menganggap bahwa semua itu adalah wahyu dari Allah.

Oleh karena itu, taqdis tethadap Al Qur'an dan Sunnah Nabi dilakukan (pula) dengan pemikiran yang disertai dengan perasaan yang digerakkan oleh pemikiran tersebut.  Al Qur'an dan As Sunnah memang harus disucikan, kemudian apa yang disucikan dijadikan suatu hal yang pasti kebenarannya dan tidak lagi menerima perdebatan atau dijadikan pembahasan di kalangan orang-orang yang sudah sangat memahami keharusan taqdis terhadapnya.

Apabila seseorang berusaha mengalihkan taqdis dari hadits Rasul Saw, dan semata-mata mentaqdiskan Al Qur’an saja, maka hal seperti ini tidak dapat diterima, dan ia terjerumus dalam kekufuran.  Atau ia mensucikan Al Qur'an dengan cara menciumnya saja tetapi menganggap bahwa Al Qur’an sudah tidak layak lagi di masa ini.

Dengan demikian, taqdis harus dilakukan dengan penuh pengagungan, ketundukan dan kepasrahan secara total dan menyeluruh serta tidak menerima pembahasan/perdebatan lagi
kecuali dalam keadaan meyakinkan orang lain terhadap asal-usul taqdis.

Manusia, dilihat dari segi keberadaannya sebagai manusia, diciptakan secara fitri memiliki kecenderungan untuk mentaqdiskan sesuatu.  Tidak mungkin ia dapat menghilangkan kecenderungan untuk mensucikan sesuatu yang ada dalam dirinya, meskipun mungkin saja dapat ditekan atau dialihkan. 

Aqidah aqliyah yang dipeluk oleh kaum muslimin, telah memberikan ketentuan siapa yang harus melakukan taqdis dan siapa yang harus disucikan.  Manusia diciptakan secara fitri memiliki kecenderungan untuk mentaqdiskan sesuatu.  Bagi kaum muslimin, akal telah menentukan apa yang seharusnya disucikan dan bagaimana cara mensucikannya. 

Sama sekali manusia tidak akan mampu mematikan/menghilangkan taqdis.  Sebab, hal itu telah menjadi satu kesatuan (bagian yang tak terpisahkan) dari proses penciptaannya sebagian manusia.

Kaum muslimin tidak boleh meninggalkan taqdis terhadap sesuatu yang telah diwajibkan mensucikannya, karena termasuk kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan oleh Islam.  

Akan tetapi, musuh-musuh Islam telah menyusupkan berbagai kekeliruan yang dapat menghilangkan taqdis terhadap sesuatu yang telah diperintahkan oleh Islam untuk mensucikannya. 

Mereka pun telah mengubah arti taqdis terhadap sesuatu, setelah mereka menemui kesulitan untuk menghilangkan taqdis itu sama sekali (dari benak kaum muslimin). 

Oleh karena itu, adalah suatu kewajiban atas orang-orang yang sadar dari kalangan kaum muslimin untuk menjadikan taqdis bersumber dari aqidah Islam yang disertai dorongan berpikir, kemudian mengalihkan taqdis tersebut menjadi suatu perkara yang telah pasti kebenarannya sehingga setiap muslim memiliki kemampuan menempati satu posisi dalam suatu celah dari sekian celah perbentengan Islam, agar musuh-musuh Islam tidak dapat menerobosnya.

Baca juga : 

Belajar Bijak melalui Cerita berantai yang fatal

Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: