Advertisement

Advertisement

Syarat Shahnya Perkawinan

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM.net |  merupakan dasar bagi shahnya perkawinan, Jika syarat-syaratnya terpenuhi, perkawinannya sah dan menimbulkan adanya segala kewajiban dan hak-hak perkawinan.

Syarat-Syarat Shahnya Perkawinan ada dua :

Pertama:   Perempuannya halal dikawini oleh laki-laki yang ingin menjadikannya isteri. Jadi perempuannya itu bukanlah merupakan orang yang haram dikawini, baik karena haram untuk sementara atau selama-lamanya. Pembicaraan ini secara terperinci akan dibahas dalam bab  perempuan-perempuan yang haram.

Kedua: Aqad nikahnya dihadiri para saksi. Pembicaraan ini meliputi masalah-masalah sebagai berikut:

1. Hukum mempersaksikan (menghadirkan para saksi).
2. Syarat-syarat menjadi saksi.
3. Perempuan menjadi saksi.

Syarat Shahnya Perkawinan

Hukum Mempersaksikan Ijab Qabul

Menurut Jumhur Ulama, perkawinan yang tidak dihadiri saksi-saksi tidak shah. Jika ketika ijab qabul tak ada saksi yang menyaksikan, sekalipun diumumkan kepada orang  ramai dengan cara lain perkawinannya tetap tidak shah.

Jika para saksi hadir dipesan oleh pihak yang mengadakan akad nikah agar merahasiakan dan tidak memberitahukannya kepada orang ramai, maka perkawinan-nya tetap sah. Pelacur yaitu perempuan-perempuan  yang mengawinkan dirinya  tanpa saksi (H. Sahih Tirmidhi). Kedua ; Dari Aisyah, Rasulullah  bersabda; Tidak shah perkawinan  kecuali dengan  wali dan dua saksi yang adil. (H.R. Daruquthni).

Kata "tidak" disini maksudnya "tidak shah" yang berarti menunjukkan bahwa mempersaksikan terjadinya ijab qabul  merupakan syarat dalam perkawinan, sebab dengan tidak  adanya saksi dalam ijab qabul dinyatakan tidak sah, maka hal itu berarti menjadi syaratnya.

Ketiga : Dari Abu Zubair Al Makkiy, bahwa Umar bin  Katthab menerima pengaduan adanya perkawinan yang hanya  disaksikan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan,  lalu jawabnya : Ini kawin gelap, dan aku tidak membenarkan, dan andaikan saat itu aku hadir, tentu akan  kurajam". (H.R. Malik, dalam kitab Al-Muwattha').

Hadis-hadis di atas sekalipun martabatnya lemah, namun satu dengan yang lain saling menguatkan.

Baca Juga : Allah Bolehkan Talak Bagi Laki-Laki dan Khulu' Ba...

Tirmidhi berkata : Faham ini dipegang oleh para Ulama  dari kalangan sahabat, tabi'in dan lain sebagainya.  Mereka berkata: Tidak shah perkawinan kecuali dengan saksi-saksi. Pendapat ini tak ada yang menyalahi kecuali  oleh segolongan Ulama Mutaakhkhirin.

Keempat : Karena adanya pihak lain yang turut terlibat di dalam hak kedua belah pihak yang beraqad, yaitu anak-anak. Karena itu dalam aqadnya disyaratkan adanya saksi agar nantinya ayahnya tidak mengingkari keturunannya.

Tetapi sebagian Ulama berpendapat perkawinan tanpa saksi-saksi hukumnya shah.  Di antara yang berpendapat demikian, yaitu: golongan Syi'ah, Abdur Rahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, lbnul Mundzir, Daud, prakteknya lbnu  Umar dan lbnu Zubair. Diriwayatkan juga bahwa Hasan bin 'Ali pernah kawin tanpa saksi-saksi, tapi kemudian ia umumkan perkawinan-nya.

Pendapat Ibnu Mundzir.

Tidak ada satupun hadis yang shah tentang syarat dua  orang saksi dalam perkawinan. Yazid bin Harun berkata:   Allah memerintahkan mengadakan saksi dalam urusan jual-beli, bukan dalam perkawinan. Tetapi golongan rationalis  (pemakai dasar Qiyas) mensyaratkan mengadakan saksi dalam  perkawinan dan mereka tidak mensyaratkan ini dalam jual-beli.

Bilamana telah terjadi aqad nikah, tetapi dirahasiakan  dan mereka pesankan kepada yang hadir agar merahasiakan pula, maka perkawinan-nya shah, tetapi makruh, karena menyalahi adanya perintah untuk mengumumkan perkawinan.

Demikianlah pendapat Syafi'i, Abu Hanifah dan Ibnul  Mundzir. Begitu pula Umar, 'Urwah, Sya'bi dan Nafi'  menganggapnya "makruh", tetapi menurut Imam Malik perkawinan-nya batal.

Ibnu Wahab meriwayatkan dari Imam Malik tentang seorang laki-laki yang kawin dengan perempuan dengan disaksikan  oleh dua orang laki-laki tetapi dipesan agar mereka merahasiakannya?

Jawabnya: Keduanya harus diceraikan dengan satu thalak,  tidak boleh menggaulinya, tetapi isterinya berhak atas maharnya yang telah diterimanya, sedang kedua orang saksinya tidak dihukum.

Syarat-Syarat Menjadi Saksi  Nikah.

Syarat menjadi saksi Nikah : Berakal sehat, dewasa dan mendengarkan omongan dari kedua belah pihak yang beraqad  dan memahami bahwa ucapan-ucapannya itu maksudnya adalah  sebagai ijab-qabul perkawinan.

Jika yang menjadi saksi itu anak-anak atau orang gila atau orang bisu, atau orang yang sedang mabuk, maka perkawinan-nya tidak shah, sebab mereka dipandang seperti tidak ada.

Bersifat Adil.

Menurut Imam Hanafi untuk menjadi saksi dalam perkawinan tidak disyaratkan harus orang yang adil, jadi perkawinan  yang disaksikan oleh dua orang fasik hukumnya shah. Setiap orang yang sudah patut menjadi wali dalam perkawinan, boleh menjadi saksi, karena maksud adanya  saksi ini ialah untuk diketahui umum.

Golongan Syafi'i berpendapat saksi itu harus orang yang  adil, sebagaimana tersebut dalam hadis di atas: "Tidak  shah nikah tanpa wali dan dua orang saksi yang adil".

Menurut mereka ini bila perkawinan disaksikan oleh dua  orang yang belum dikenal adil tidaknya, maka ada dua  pendapat, tetapi menurut Syafi'i kawin dengan saksi-saksi yang belum dikenal adil-tidaknya, hukumnya shah.  

Karena perkawinan itu terjadi di berbagai tempat, di kampung-kampung, daerah-daerah terpeneil dan kota, dimana  ada orang yang belum diketahui adil tidaknya. Jika  diharuskan mengetahui lebih dulu adil tidaknya, hal itu  akan menyusahkan. 

Karena itu cukuplah dilihat lahirnya  ketika itu, dimana ia tidak terlihat kefasikannya. Bila sesudah selesai aqad nikah terbukti ia seorang yang  fasik, maka aqad nikahnya tidaklah dipengaruhi, karena syarat adil untuk menjadi saksi dalam perkawinan dilihat segi lahirnya yaitu bahwa dia tidak terlihat ketika itu  melakukan kefasikan dan hal itu telah terbukti.

Perempuan Menjadi Saksi.

Golongan Syafi'i dan Hambali mensyaratkan saksi haruslah  laki-laki, Aqad nikah dengan saksi seorang laki-laki dan  dua perempuan, tidak shah, sebagaimana riwayat Abu 'Ubaid dari Zuhri, katanya: Telah berlaku contoh dari Rasulullah saw. bahwa tidak boleh perempuan menjadi saksi dalam urusan pidana, nikah dan thalak. 

Aqad nikah bukanlah satu perjanjian kebendaan, bukan pula dimaksudkan untuk kebendaan, dan biasanya yang menghindari adalah kaum  laki-Iaki, Karena itu tidak shah aqad nikah dengan saksi dua orang perempuan, seperti halnya dalam urusan pidana  tidak dapat diterima kesaksiannya dua orang perempuan.

Tetapi golongan Hanafi tidak mengharuskan syarat ini.  Mereka berpendapat bahwa kesaksian dua orang laki-laki atau seorang laki-laki dan dua perempuan sudah shah, sebagaimana Allah berfirman :

Dan adakanlah dua orang saksi dari laki-laki kalanganmu  sendiri. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka cukup seorang laki-laki dan dua orang perempuan yang kamu sukai untuk menjadi saksi.(Al-Baqarah:  282)

Aqad  nikah sama dengan jual beli, yaitu karena merupakan  perjanjian timbal-balik yang dianggap shah dengan saksi dua perempuan di samping seorang laki-laki.

Harus Orang Merdeka.

Abu Hanifah dan Syafi'i mensyaratkan orang yang menjadi saksi harus orang yang merdeka, tetapi  Ahmad  tidak mengharuskan syarat ini. Dia berpendapat aqad nikah yang   disaksikan oleh dua orang budak, hukumnya shah sebagaimana shahnya kesaksian mereka dalam masalah-masalah lain, dan karena dalam Al-Qur'an maupun hadis tidak ada keterangan yang menolak seorang budak untuk menjadi saksi  dan selama dia jujur serta amanah, kesaksiannya tidak boleh ditolak.

Harus Orang Islam.

Para ahli fikih berbeda pendapat tentang syarat-syarat menjadi saksi dalam perkawinan bilamana pasangannya terdiri dari laki-laki dan perempuan muslim, apakah saksinya  harus beragama Islam?  

Juga mereka berbeda pendapat jika yang laki-lakinya beragama Islam, apakah yang menjadi saksi boleh orang yang bukan Islam? Menurut Ahmad, Syafi'i dan Muhammad bin Al-Hasan perkawinan-nya tidak Shah, jika saksi-saksinya bukan orang Islam, karena yang kawin adalah orang Islam, sedang  kesaksian bukan orang Islam terhadap orang Islam tidak dapat diterima.

Tetapi Abu Hanifah dan Abi Yusuf berpendapat bila perkawinan itu  antara laki-laki muslim dan perempuan ahli Kitab maka kesaksian dua orang ahli kitab boleh diterima. Dan pendapat ini diikuti oleh Undang-undang perkawinan Mesir.

IJab-Qabul  Formalitas.

Ijab-qabul yang terpenuhi syarat-syaratnya hukumnya shah,  tetapi akibat hukumnya belum dapat berlaku, kecuali bila upacara ijab-qabulnya dihadiri para saksi, atau dihadiri   oleh para saksi tetapi di luar kemampuan pasangan yang melakukan ijab-qabul, maka ijab-qabul seperti ini disebut ijab-qabul formalitas. 

Ijab-qabul semacam ini berlainan dengan ijab-qabul yang kehadiran para saksi untuk menyaksikan upacaranya atas kemauan dan kerelaan hati mereka. 

Jadi adanya keridlaan terhadap kehadiran saksi-saksi oleh kedua pihak yang sedang melakukan ijab-qabul itu sendirilah dalam hal ini yang merupakan dasar bagi shahnya ijab-qabul yang membawa  akibat-akibat hukum selanjutnya dan menempatkan perkawinan-nya dibawah perlindungan Undang-undang.

Itulah gan, Syarat Shahnya Perkawinan .. Bagikanlah jika menurut sahabat bermanfaat.

Baca juga : Tahukah Anda Ternyata Wajib Mengkhitan Wanita Itu Sangat Keliru
Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: