Advertisement

Advertisement

Inilah Ukuran Dari Suatu Perbuatan Yang Penting Diamalkan

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM.net | Sebagian besar manusia menjalani kehidupannya tanpa berlandaskan pegangan (petunjuk). Mereka melakukan berbagai perbuatan dengan tidak berdasarkan pada tolok ukur tertentu sehingga mereka dapat memberikan penilaian terhadapnya.  Inilah Ukuran Dari Suatu Perbuatan Yang Penting Diamalkan.

Oleh karena itu, sering kita jumpai mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka sangka sebagai perbuatan terpuji, atau sebaliknya mereka meninggalkan perbuatan-perbuatan baik, karena menyangkanya sebagai perbuatan tercela.

Sebagai contoh, seorang wanita muslimah yang keluar rumah dan berkeliaran di kota-kota metropolitan negeri-negeri Islam, seperti Beirut, Damaskus, Kairo, atau Baghdad, dengan enaknya berjalan sambil menampakkan 'keindahan’ dan kecantikannya.

Wanita ini menyangka bahwa tindakannya itu sebagai sesuatu yang baik, sesuai dengan zaman.  Demikian pula seorang tokoh Islam yang alim, wara' dan rajin sekali mendatangi masjid-masjid, tetapi dia menolak membicarakan hal-hal yang menyangkut tingkah laku penguasa yang rusak (tidak Islami) dengan alasan bahwa hal itu termasuk urusan politik. 

Inilah Ukuran Dari Suatu Perbuatan Yang Penting Diamalkan

Sedangkan terlibat dalam urusan politik, menurutnya, adalah termasuk dalam perbuatan yang buruk.  Sesungguhnya wanita tadi, juga tokoh kita ini, dua-duanya telah terjerumus dalam perbuatan dosa.  Mengapa ?.  Karena wanita itu telah mempertontonkan auratnya, dan tokoh kita ini tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin.  

Keadaan ini terjadi, karena kedua-duanya tidak memiliki tolok ukur bagi amal  perbuatan mereka.  Padahal, jika mereka memilikinya tentu tidak akan dijumpai perbuatan yang bertentangan dengan mabda (Ideologi Islam) yang secara nyata telah mereka ikrarkan. Oleh Karena itu, adanya tolok ukur yang berfungsi menilai setiap perbuatan adalah suatu keharusan bagi setiap manusia, sehingga ia akan mengetahui hakikat suatu perbuatan sebelum mengerjakannja.

Dan Islam telah menetapkan bagi manusia suatu tolok ukur untuk menilai segala sesuatu, sehingga dapat diketahui mana perbuatan yang terpuji yang harus segera dilakukan dan mana perbuatan tercela yang harus segera ditinggalkan. Tolok ukur itu tidak Iain adalah syara‘. Sehingga apabila syara' menilai  perbuatan itu terpuji, maka itulah yang terpuji, dan apabila syara‘ menilainya tercela maka itulah yang tercela. 

Tolok ukur ini bersifat abadi, karenanya perbuatan yang terpuji, seperti jujur. menepati janji, berbuat baik kepada orang tua tidak akan berubah menjadi perbuatan tercela; dan sebaliknya, sesuatu yang tercela tidak akan berubah menjadi sesuatu yang terpuji.  Bahkan apa yang dinyatakan terpuji oleh syara' akan terpuji selamanya,  begitu pula apa yang dicela oleh syara', selamanya akan tetap tercela.

Dengan demikian, manusia akan dapat berjalan di muka bumi di atas jalan yang lurus. Setiap perbuatan yang dilakukannya senantiasa berdasarkan petunjuk, sehingga ia mengetahui hakikat segala sesuatu (perbuatan).  Berbeda halnya bila syara' tidak menetapkan ukuran baik dan buruk untuk tiap-tiap perbuatan kemudian akal dijadikan sebagai tolok ukur, maka akan terjadi kekacauan dan ketidakpastian.  

Sebab, suatu perkara bisa saja dianggap terpuji pada sutu keadaan, tapi tercela pada keadaan yang lain.  Akal manusia kadangkala memuji suatu perbuatan masa sekarang, tapi esok hari dicelanya.  Atau suatu perbuatan dipandang terpuji di satu negeri tetapi di negeri lain dicela.   Maka hukum atas segala sesuatu menjadi tidak jelas dan berubah-ubah seperti tiupan angin, sehingga pujian dan celaan adalah sesuatu yang nisbi, bukan lagi hakiki. 

Dalam keadaan seperti ini, seseorang dapat terjerumus dalam perbuatan tercela, tetapi menyangkanya sebagai perbuatan yang terpuji.  Atau ia akan menjauhkan diri dari perbuatan terpuji karena menyangkanya sebagai perbuatan yang tercela.

Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang untuk menjadikan hukum-hukum syara’ sebagai tolok ukur atas semua perbuatannya dengan memuji atau mencela sesuatu hanya berdasarkan syara’ semata.

Baca juga : 

Download Kitab Fathul Baari Kitab Hadis Sahih Bukhari PDF

Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: