Advertisement

Advertisement

Inilah Perilaku Manusia Modern yang Seolah-olah Zuhud

Advertisement
Advertisement
MARWAHISLAM | Ucapan-ucapan Indah itu, boleh jadi membuatmu semakin gelisah. Kata-kata yang manis  itu, boleh jadi akan  membuat  hati semakin gersang. Kita tak menemukan jawaban atas persoalan-persoalan yang kita tanggung. Seperti minuman keras, kita hanya mendapat kenikmatan yang sesaat. Jiwa kita mabuk, melayang dibuai impian  atau rasa tenteram. Tetapi sesudah itu, jiwa kita penat kembali. Tak ada yang sungguh-sungguh menyejukkan.

Kadang-kadang datang saat ketika hati dipenuhi oleh kegalauan. Kita mencari penenteram jiwa  dan penyejuk hati.  Kita datangi orang-orang yang menampakkan kezuhudan dan kata-katanya bertabur dengan ungkapan yang mempertunjukkan makrifatnya kepada Allah. Kita datangi orang-orang yang mempertontonkan sikap tawadhu', Kita mengira mereka seperti ahlu-suffah di zaman Nabi karena mereka menyatakan dirinya sebagai sufi. Padahal mereka sedang meraih dunia dengan pakaiannya, atau menyembunyikan kesombongan dengan penampakkannya yang seakan tawadhu'.

Hasan al-Bashri, ulama besar yang hidup di zaman Umar bin Abdul Aziz, pernah mengingatkan ketika seseorang menyebut-nyebut tentang sekelompok orang yang mengenakan pakaian shuf. Kata Hasan al-Bashri, 'Apa yang mereka lakukan ? Semoga  mereka saling berkunjung, Mereka menyembunyikan kesombongan dalam hati mereka dan menampakkan ketawadhu-an dalam pakaian mereka."

Seolah-olah Zuhud

"Demi AIlah," kata Hasan al-Bashri melanjutkan,. "sungguh salah seorang mereka lebih sombong, dengan pakaian shufnya daripada orang yang mengenakan selendang sutera dengan selendang suteranya."

Berkenaan dengan sikap tawadhu' ini, ia pernah mengingatkan. "Banyak  orang menampakkan diri yang tawadhu' dalam pakaiannya, sedangkan dalam hatinya tersembunyi kesombongan.  Bahkan yang mengenakan baju bulu (simbol kezuhudan) dengan  bulunya lebih sombong daripada orang yang mengenakan baju sutera dengan suteranya."

Alangkah tipis batasnya, dan alangkah tebal penghalang yang menutupi mata batin. Kita terpedaya oleh yang tampak,   sementara mata batin kita tak sanggup menangkap yang tersernbunyi. 

Kita silau ketika seseorang berbicara dengan  kata-kata yang tajam, mencela orang-orang yang berbuat dosa dengan penuh kebencian seakan-akan seluruh hidupnya dilumuri kesucian, meremehkan kebaikan orang-orang yang berjuang untuk meraih kemuliaan di sisi-Nya hanya karena amal itu kurangsempuma, sementara perbuatan-perbuatan yang jelas keburukannya dilakukan dengan mantap karena alasan makruh.

Orang-orang yang menyombongkan diri dengan menjual sikap tawadhu' akan menampakkan diri seperti zahid manakala duduk berdampingan dengan mereka yang kemuliaannya telah masyhur.

Tetapi ketika ia berhadapan dengan orang yang dianggap lebih rendah, Ia tak menganggapnya ada atau bahkan melecehkan. Apabila ia menjumpai orang-orang yang berbuat dosa, maka   hatinya bergembira karena dengannya ia memperoleh sanjungan dan penghormatan. Mereka ini sungguh berbahaya. Mereka membuat lari orang-orang yang ingin kembali.

Teringatlah saya dengan Ali bin Abi Thalib karramallahu  wajhahu. Pernah ia  mengingatkan, "Ulama yang paling bijak ialah mereka yang tidak membuat orang berputus-asa akan rahmat Allah atau kehilangan  harapan akan santunan dan kasih-sayang-Nya. Tetapi tidak juga membuat orang terus-menerus merasa aman dari pembalasan-Nya."

Masya-Allah  ....    Alangkah  tipisnya perbedaan. Ataukah hati kita yang sudah terlalu gelap ?

Wallahu A’lam Bishhawab... .   Semoga Allah menolong kita dari kemungkaran kita sendiri. Allahumma amin. *

Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: