Advertisement

Advertisement

Sunnatullah dan Diinullah Sebagai Substansi Dasar Islam Kaffah

Advertisement
Advertisement
A. Sunnatullah

Alam semesta ini tidak terjadi dengan sendirinya, namun ada penciptanya, yakni Allah SWT (bukan Latta, Uzza, God, Yehova, Tuhan, atau nama lain-lain lagi).  Inilah yang dinamakan iman kepada Allah, suatu bentuk dasar tauhid. Tanpa keyakinan ini manusia tidak bisa  disebut sebagai beriman, apalagi sebagai manusia yang bertaqwa dalam ajaran Islam.


Sunnatullah dan Diinullah

Dalam proses penciptaannya, Allah selalu menetapkan ketentuan-ketentuan yang khas bagi setiap ciptaannya.   Ketentuan tersebut dikenal sebagai ciri atau sifat setiap ciptaan, dan dalam istilah Islam disebut sebagai sunnatullah. 

Besi, misalnya memiliki ciri padat dan keras, tenggelam bila dimasukkan ke dalam air, melunak bila dipanaskan dan baru bisa menguap bila dalam suhu amat tinggi, mampu bereaksi dengan oksigen membentuk oksida besi sehingga membuat bahan besi menjadi rapuh bila berhubungan dengan udara yang dikenal sebagai karat, dan masih banyak lagi ciri besi yang semua itu sudah menjadi sifat besi sejak benda tersebut ada. 

Ciri yang terlekat pada setiap makhluk itulah yang sering disebut sebagai SUNNATULLAH, ketetapan dari Allah, Pencipta alam semesta. Sunnatullah itu telah ada sebelum turun wahyu Allah yang dikenal sebagai diinul Islam, bahkan sunnatullah itu telah ada sebelum manusia sendiri diciptakan oleh Allah azza wa jalla.

Manusia adalah salah satu bagian dari alam semesta itu. Sebagai sebuah bentuk ciptaan Allah maka manusia juga memiliki ciri-ciri khususnya. Sunnatullah tentang manusia itu dapat berbentuk cirri individu seperti bentuk fisik, susunan selnya, kebutuhan biologisnya, dan semua yang terkait dengan ciri perorangan. 

Disamping itu sunnatullah manusia juga bisa terkait ciri manusia sebagai kelompok, seperti pertumbuhan kelompok, sifat interaksi antar orang dalam kelompok, ciri kepemimpinan kelompok, dan semua sifat yang terkait dengan masalah kelompok sosial manusia. 

Ciptaan Allah itu amat luas dan bermacam-macam bentuknya.  Pada dasarnya Ciptaan Allah tersebut dapat digolongkan dalam dua golongan besar, yakni : 
  1. Ciptaan Allah yang dapat ditangkap oleh indera dan peralatan atau instrumen manusia seperti bintang, planet, bumi, bulan, tumbuhan, binatang, bakteri, dan virus, yang dikenal sebagai "dunia empiris"; dan 
  2. Ciptaan Allah tidak akan dapat ditangkap lndera manusia seperti surga, neraka, ruh, malaikat, iblis, dan lain-lainnya, yang disebut sebagai "dunia non-empiris ".

Keseluruhan Ciptaan Allah tersebut baik yang empiris maupun non-empiris akan saling kait mengait, membentuk suatu kesatuan tatanan yang harmonis dalam kendali Allah SWT. 


B. Kedudukan Manusia Dalam Sisatem Ciptaan Allah

Di antara semua makhluk ciptaan Allah SWT, ternyata manusia menduduki tempat amat khusus, yakni sebagai makhluk yang paling baik kualitas konstruksinya, dalam artian memiliki banyak sekali keunggulan. 

Karena keunggulan kualitas manusia itulah maka manusia bias menjadi makhluk yang memiliki pengaruh besar kepada makhluk lain atau alam lingkungan di sekitarnya. Pengaruh manusia terhadap sekitarnya itu bisa dalam dua bentuk dampak, yakni bisa membawa ke arah keharmonisan lingkungan atau membawa ke arah kehancuran lingkungan sekitarnya itu. 

Di sinilah letak hakikat bahwa manusia itu memiliki peran sebagai pengelola alam semesta, yang di dalam istilah Islam disebut berperan sebagai 'khalifah'.

Walaupun manusia berperan sebagai pengelola lingkungannya namun manusia juga memiliki banyak keterbatasan sesuai dengan ciri khas yang diberikan Allah sewaktu menciptakan manusia tersebut.

Sebagai contoh manusia bisa mendengar gelombang bunyi dengan frekuensi antara 16 sampai 20.000 Hz sehingga getaran suara diluar rentang frekuensi itu dia akan tidak mampu menangkapnya dengan indra yang dimilikinya. 

Di samping itu manusia juga tidak mampu menangkap hal-hal yang bersifat sebagai non-empiris seperti ruh, malaikat, dan semacamnya karena Allah tidak memberikan perangkat untuk mengidentifikasi makhluk tersebut. 

Begitu pula manusia akan tidak mempunyai kemampuan yang akurat mengenali banyak sunnatullah lainnya, termasuk sunnatullah yang terkait dengan ciri pengelolaan diri mereka sendiri. 

Oleh sebab itu untuk menambah kemampuan manusia dalam proses pengelolaan ini maka Allah lalu memberi tuntunan cara hidup atau metoda untuk hidup secara benar bagi manusia malalui jalur khusus, yakni jalur 'wahyu'. 

Wahyu adalah pemberitaan dari Allah SWT kepada manusia melalui seorang utusan-Nya yang disebut Nabi atau Rasul. Informasi dari Allah lewat jalur pemberitaan melalui Nabi ini dimaksudkan agar manusia tidak salah  memahami hakikat dirinya, lingkungannya, dan proses mengelola sekitarnya. 

Isi Wahyu itulah yang memberi arahan cara mengelola alam semesta sehingga proses pengelolaan oleh manusia itu tidak mengakibatkan terjadinya kerusakan alam semesta (terrnasuk masyarakatnya sendiri) .

Dalam proses pemberitaan tentang hakikat alam semesta serta petunjuk tentang metoda atau cara hidup yang baik dan benar itu oleh Allah tidak diberikan kepada manusia secara orang per orang, namun menyampaikan tuntunanNya kepada manusia melalui seorang Nabi atau Rasul yang seterusnya bertugas menyampaikan tuntunan itu kepada manusia lainnya. 

Tuntunan Cara hidup yang diberikan oleh Allah inilah yang selalu ditunggu oleh manusia beriman sebagai bekal hidup mereka di dunia.

C. Makna dan Lingkup Islam Sebagai Diinullah

Islam adalah tuntunan dari Allah SWT untuk manusia agar pemahaman dan Cara hidup mereka benar sehingga membawa kesejahteraan di dunia dan akhirat.  Islam itu adalah tuntunan Allah untuk seluruh manusia, tidak pandang suku dan rasnya, diturunkan melalui nabi Muhammad saw, dan merupakan bentuk final dari tuntunan Allah sesuai dengan proses perkembangan manusia itu sendiri.

Sebelum datangnya agama Islam (tuntunan dari Allah SWT yang disampaikan melalui Rasulullah Muhammad saw) memang ada juga tuntunan Allah untuk manusia di zaman pra Nabi Muhammad, seperti misalnya ada agama yang diturunkan melalui Adam untuk manusia di masa itu, agama yang diturunkan melalui nabi Nuh untuk manusia di zamannya, dan masih banyak lagi tuntunan Allah yang diturunkan kepada banyak nabi untuk manusia di zaman masing-masingnya, termasuk tuntunan yang diturunkan melalui nabi Isa untuk ras Yahudi. 

Kita tidak banyak mengetahui tentang tuntunan-tuntunan Allah yang telah diturunkan di masa-masa lalu tersebut, tidak ada dokumentasi yang terpercaya akan isi tuntunan Allah di masa-masa sebelum Nabi Muhammmad saw tersebut selain yang telah dijelaskan secara rinci di dalam Al-Qur’an. 

Di samping itu, tuntunan Allah SWT yang disampaikan melalui nabi sebelum Muhammad saw adalah tuntunan yang khas untuk golongan ras tertentu, di wilayah tertentu, dan di masa tertentu. 

Hal ini amat berbeda dengan tuntunan Allah yang diturunkan melalui Nabi Muhammad yang merupakan tuntunan Allah yang bersifat menyeluruh untuk semua ras manusia, di semua wilayah hidup mereka, dan kapanpun mereka hidup sampai datangnya hari kiamat nanti.  Inilah yang biasa disebut bahwa agama Islam itu bersifat ‘universal dan eternal’.

Islam itu sempurna, artinya mencukupi kebutuhan manusia untuk semua persoalan hidup mereka sehingga ajaran Islam akan meliputi tuntunan tentang cara berhubungan dengan Allah (hablum minallah) dan cara berhubungan dengan manusia (termasuk alam sekitarnya) yang disebut sebagai hablum min al-naas. 

Oleh sebab itu di ajaran Islam terdapat tuntunan-tuntunan tentang ritual, akhlak, etika, estetika, dan cara pengelolaan sistem sosial berupa prinsip politik, ekonomi, budaya, dan pertahanan- keamanan.  

Hal-hal tersebut nyata ada di dalam isi al Qur'an dan dicontohkan aplikasinya dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad saw.   Kesempurnaan isi ajaran Islam itu mudah sekali dimengerti karena ajaran Islam itu merupakan ajaran yang final untuk petunjuk manusia yang hidup di masa Nabi Muhammad sampai ke akhir zaman nanti. 

Isi ajaran Islam akan sesuai dengan perkembangan apapun yang terjadi di dunia manusia sejak zaman Nabi Muhammad sampai masa kapanpun sesudahnya.

Islam tegas menyatakan bahwa perilaku manusia (secara pribadi maupun kelompok sosial) yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan berdampak terwujudnya pribadi yang bahagia-sejahtera, masyarakat yang adil makmur, dan alam semesta penuh rahmat. 

Sebaliknya bila manusia hidup mengikuti tuntunan lain maka secara pribadi akan memperoleh kesulitan dunia-akhirat, dan secara sosial akan mengakibatkan eksploitasi antar manusia (sering terselubung) sehingga terjadilah kesenjangan sosial yang tajam, kerusakan dan pencemaran lingkungan, serta kerusakan akhlak dan moral. 

Dari uraian tersebut menjadi jelas bahwa Islam selain memberi informasi tentang eksistensi dan sifat Allah serta petunjuk tentang komitmen dasar manusia untuk menegakkan keadilan dan meningkatkan kesejahteraan, juga mengajarkan cara hidup atau metoda untuk dilaksanakan oleh manusia dalam mengclola diri-pribadi, keluarga, dan mengendalikan sistem social-kemasyrakatan di manapun mereka berada. 

Metoda inilah yang amat khas, bersifat tegas, rinci, dan dinamis.  Cara hidup sesuai tuntunan Islam ini bisa disebut sebagai metoda ilahiyah, yang harus dipakai dan dipraktikkan tanpa ragu dalam kehidupan sehari-hari, dalam kapasitas sebagai apapun manusia ltu.

Dalam aspek operasionalnya, cara hidup Islami itu tercantum secara baku dalam kitab suci al Qur'an.   Di dalam kitab suci tersebut manusia akan mendapatkan banyak sekali bentuk metoda atau cara hidup sebagai pribadj maupun dalam mengelola masyarakat yang bersifat jelas, rinci, dan tidak meragukan maknanya. 

Metoda atau cara hidup yang jelas (tegas maknanya) di dalam al Qur'an dan sunnah Nabi itu justru memudahkan kita untuk cepat memahami cara hidup di dunia secara benar sehingga tidak perlu mencari-cari alternative lainnya. 

Kita tidak boleh malah mengaburkan isi cara hidup yang tertera sccara tegas dalam al Qur’an dan hadits Rasulullah serta mencari-cari alternatif dengan rekaan sendiri.  

Ayat-ayat yang jelas maknanya seperti itu disebut sebagai ayat muhkamat yang justru amat menguntungkan manusia untuk memahami cara hidup yang benar secara mudah, tinggal memberlakukannya saja, apalagi bila ayat itu bersifat tehnis atau metoda terinci seperti waris, memilih kualitas orang yang boleh dijadikan pemimpin negara, zakat dan infaq, batasan aurat, aturan perkawinan, hukuman untuk pelanggaran susila dan pidana, makanan-minuman yang bermanfaat, macam perdagangan yang baik, dan masih banyak lagi. 

Di sinilah letak khasnya Islam dan hebatnya Islam, bukan hanya sekedar memberi tahu tentang eksistensi dan sifat Tuhan serta memberitahu akan komitmen untuk membawa kesejahteraan dan keadilan, namun juga sekaligus memberi cara-cara atau tehnik pelaksanaannya.

Islam itu tidak boleh diterjemahkan secara sederhana dalam bentuk lughowi (arti bahasa) saja, yakni berarti agama keselamatan atau agama penyerahan diri kepada Yang Esa, sehingga jika semua agama ditarik ke sana akhirnya semua menjadi sama benar dan baik karena menuju kepada Yang Esa itu. 

Islam harus diartikan secara ta'rif atau istilah yang khas (jargon), yakni agama yang dibawa oleh Rasul Muhammad saw dengan segala ciri-ciri khasnya, seperti aturan ritual, akhlak, etika, estetika, prinsip-prinsip pengelolaan sosialnya.

Islam dalam makna seperti itu jelas amat berbeda dengan agama lain di bumi ini. Boleh saja orang berfikir bahwa sebelum Islam (agama yang dibawa Nabi Muhammad) telah ada ‘Islam’ yang dibawa nabi sebelumnya, seperti Ibrahim, Musa, Isa, dan sebagainya (mungkin juga Nabi Kong Hu Cu, atau Nabi Gautama?), tapi perlu difahami bahwa ajaran nabi-nabi tersebut menurut tuntunan al Qur’an sudah tidak lagi diterima oleh Allah SWT sebagai cara hidup yang benar setelah datangnya Nabi Muhammad saw. Di samping itu, tahukah kita apa isi wahyu Allah pada nabi-nabi terdahulu tersebut ? Mana keterangan dokumen otentiknya ?.


Sebutan Allah di dalam al Qur'an dijelaskan sebagai kata nama Dzat al-ilah (tuhan), sehingga tidak boleh diubah seenaknya dengan sebutan lain, katakanlah seperti sebutan Yang Esa, si Dia, Yehova, dan sebagainya. 

Oleh sebab itu tidaklah sama orang yang menuhankan Allah dengan menuhankan yang lainnya (analoginya adalah tidak sama orang yang beristerikan nama Aminah dengan beristerikan nama lain, walau yang dimaksud keduanya adalah wanita). 

Allah dalam Islam tidak akan sama ciri, kekuasaan, bentuk perintah, serta isi ajaranNya dengan tuhan yang lain. 
Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: