Advertisement

Advertisement

18 Kiat Memperoleh Khusyu Dalam Shalat

Advertisement
Advertisement
Untuk menggapai kekhusyuan dalam shalat dapat ditempuh beberapa kiat berikut ;

Kiat Shalat dan Memperoleh Khusyu

1.  Persiapkan dirimu untuk shalat

Hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan bererapa hal.  Di antaranya, menjawab seruan azan, dilanjutkan dengan berdoa dengan doa, ”Allahumma rabba haadzihid da’watit taammah wash-shalaatil qaaimah aati muhammadan al-waashilata walfadhiilah wab-atshul maqaamal mahmuudal ladzii wa’attahu. 

Artinya : “Ya Allah, Rabb yang memiliki seruan yang sempurna ini, dan (Rabb) yang memiliki shalat yang akan didirikan, berilah kepada Muhammad derajat yang tinggi dan karunia serta derajat yang terpuji yang Engkau janjikan kepadanya”.

Setelah itu dilanjutkan dengan berdoa setelah azan dan iqamah, menyempurnakan wudhu, membaca basmallah sebelum berwudhu, membaca syahadatain, dan doa sesudah wudhu, ”Allahumma 'ij’alni minat-tawwabiina waj’alni min al-mutathahhiriin” = ’Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci.”

Selanjutnya, bersikat gigi atau membersihkan dan mengharumkan mulut, karena setelah ini mulut akan dijadikan jalan untuk membaca Al-Qur’an.  Hal itu sesuai dengan hadits, ”Bersihkanlah mulutmu untuk (membaca Al-Qur ‘an). ” Kemudian berhias dengan mengenakan pakaian yang bagus dan bersih. 

Dalam hal ini Allah berfirrnan, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid.”  Memang, kepada Allahlah lebih pantas menampilkan diri kita dengan penampilan yang anggun.  Begitu pula pakaian yang bagus dan bebau harum akan memberikan kesejukan hati si pemakainya. Keadaan itu sangat berbeda sewaktu kita memakai pakaian yang biasa dipergunakan untuk tidur dan bekerja.

Selain itu, menyiapkan diri untuk shalat dengan menutup aurat, memilih tempat yang suci, bersih, bersegera pergi menuju masjid dengan ketenangan, tidak tergesa-gesa, tidak saling memasukkan jari-jemari, menunggu shalat berjamaah dimulai, dan segera meluruskan-rapatkan shaf (barisan) karena setan selalu mencari celah-celah untuk dilaluinya.


2. Thuma’ninah dalam shalat

Nabi saw. biasa i’tidal dengan disertai thuma'ninah hingga semua tulang-belulangnya kembali ke posisinya masing-masing.  Nabi pun pernah menyuruh orang yang kurang sempurna (cacat) shalatnya agar thuma’ninah dan bersabda kepadanya,

”Tidaklah sempurna salah seorang di antara kamu sebelum melakukan yang demikian itu (thuma’ninah).” (HR Abu Daud).

Abu Qatadah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Sejahat-jahat manusia adalah pencuri, yaitu orang yang mencuri dari shalatnya.” Qatadah bertanya, ”Ya Rasulullah, bagaimana ia bisa mencuri shalatnya ?” Beliau menjawab, Ia tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya.” (HR Ahmad dan al-Haakim).

Abdullah al-Asy’ari r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, ”Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan rukuknya dan mempercepat sujudnya, seperti orang lapar yang makan sebutir dan dua butir kurma, tetapi tidak mengenyangkan sedikit pun." (HR ath-Thabrani).

Orang yang tidak melakukan thurrufninah dalam shalatnya tidak mungkin dapat mencapai kekhusyuan, karena shalat yang dikerjakan dengan cepat-cepat dapat menghilangkan kekhusyuan dan dapat menghilangkan pahala.

2.  Menginngat mati dalam shalat

Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw., ”Ingatlah kematian dalam shalatmu, karena apabila seseorang mengingat kernatian dalam shalatnya, sudah pasti ia akan berusaha keras untuk menyempurnakan shalatnya.  Dan shalatlah kamu seperti shalatnya seseorang yang tidak membayangkan bahwa dirinya bisa mengerjakan shalat sesudah itu." (As-Silsilah ash-Shahiihuh, oleh al-Albani).

Dalam hal itu pula Nabi saw. pernah berpesan kepada Abu Ayyub r.a., ”Apabila kamu berdiri dalam mengerjakan shalat, maka hendaklah shalat seperti shalatnya orang yang mau meninggal dunia.” (HR Ahmad).

Artinya, seperti shalatnya orang yang berasumsi bahwa dirinya sekali-kali tidak akan melaksanakan shalat lagi sesudahnya.  Apabila orang yang shalat itu tahu bahwa dia pasti mati maka shalatnya saat itu dianggapnya sebagai shalatnya yang terakhir.  Dengan keyakinan seperti ini ia akan berusaha keras agar khusyu dalam shalatnya.

4. Menghayati ayat-ayat dan zikir yang dibaca serta berinteraksi denganNya

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah kepada segenap umat manusia dengan tujuan agar manusia selalu mengadakan penghayatan dan perenungan.  Hal ini sesuai dengan firman-Nya,

”Kitab (AI-Qur‘an) yang mengandung berkah itu, Kami turunkan kepadamu agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengingatnya. ”’ (Shaad: 29).

Manusia tidak mungkin dapat menghayati ayat-ayat Al-Qur’an tanpa didukung oleh pengetahuan dan makna (arti) yang dibacanya.  Sekiranya manusia mengetahui hal itu, sudah tentu dia dapat memikirkan dan menghayatinya.

Penghayatannya itu menyebabkan dia mencucurkan air mata sekaligus melakukan interaksi. Allah SWT berfirman, ”Dan, orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.”

Berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa kita perlu memberikan perhatian terhadap penafsiran Al-Qur’an.  Kata Ibnu Jarir rahimahumullah, ”Sesungguhnya aku amat heran terhadap orang yang membaca Al-Qur’an, padahal ia tidak mengerti penafsirannya. Bagaimana mungkin ia akan dapat merasakan kenikmatan membaca Al-Qur’an.”

Di antara hal-hal yang dapat membantu kita menghayati Al-Qur’an adalah membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara berulang-ulang sambil membiasakan diri mengamati artinya. Ini karena Nabi saw. biasa melakukan hal yang demikian. Diriwayatkan bahwa beliau biasa bangun pada waktu malam kemudian membaca satu ayat yang dibacanya berulang kali, yaitu,

”Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa Iagi Mahabijaksana. ” (Al-Maidah: 118).

Selain itu, hal lain yang dapat membantu kita agar dapat menghayati ayat-ayat Al-Qur’an adalah dengan mengadakan interaksi dengan ayat-ayat tersebut.  Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Hudzaifah r.a.,

”Pada suatu malam saya shalat bersama Rasulullah saw.. Beliau membaca Al-Qur’an dengan perlahan-lahan.  Apabila melewati ayat yang mengandung tasbih (menyucikan Allah), beliau pasti membaca tasbih.  Apabila melewati ayat yang berisikan permohonan, beliau memohon (kepada Allah).  Dan, apabila melewati ayat yang berisikan permohonan perlindungan, beliau pasti memohon perlindungan (kepada Allah) . ” (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain disebutkan, ”Pada suatu malam saya shalat bersama Rasulullah saw.. Apabila beliau membaca ayat yang mengandung rahmat, beliau memohon (rahmat kepada Allah); apabila membaca ayat yang berkaitan dengan siksaan (azab), beliau memohon perlindungan (kepada Allah); dan apabila membaca ayat yang mengandung penyucian (Allah), beliau membaca tasbih.” Beliau melakukan hal demikian itu pada waktu shalat malam.

Qatadah bin Nu’man r.a. melakukan shalat malam, yang ia tidak membaca selain surat al-lkhlash.  Surat ini diulang-ulang dengan tidak ditambah surat yang lainnya. (HR. Bukhari).

Sa’id‘ bin Ubaid ath-Thai berkata, ”Saya mendengar Sa’id bin Jubair mengimami (shalat berjamaah) kawan-kawannya pada bulan ramadhan.  Ketika itu ia membaca ayat berikut ini berulang kali.  ”Fa saufa yu’lamuuna, idzil-aghlaalu fii a'naqihim was-salaasiilu yushabun fiil-hamim tsumma fin-naari yusjarun” = ’Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.”’ (al-Mu’min: 71-72).

Al-Qasim berkata, "Saya melihat Sa’id bin Jubair shalat malam, lalu membaca ayat, ”Wattaquu yauman turja’uuna fiihi ilallah tsuma tuwaffaa kullu nafsin maa kasabat ’ Dan peliharalah dirirnu dari (azab yang tetjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.

Kemudian masing-rnasing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang dilkrjaknnya.”’ Ayat ini dibaca berulang-ulang sarnpai lebih dari dua puluh kali.

Seseorang dari Bani Qais yang biasa dipanggil dengan nama Abu Abdullah, berkata, ”Pada suatu malam saya bermalam di rumah Hasan.  Dia bangun malam dan mengerjakan shalat. Saat itu berulang kali ia rnembaca ayat berikut hingga tiba waktu sahur. 

’Wa in ta’udduu ni’matallahi laatushshuuhaa  ’Dan jika kamu menghitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”  Begitu tiba waktu subuh, saya menyempatkan diri untuk bertanya kepadanya, ’Wahai Abu Sa’id, hampir-hampir ayat itu tidak engkau lewatkan membacanya sepanjang malam !’ Dijawabnya, ’Saya melihat di dalam ayat itu ada sesuatu yang dapat diambil pelajaran. 

Saya mencoba mengangkat (mataku) sekejap, dan tidaklah aku berusaha untuk mengembalikan mata itu melainkan ia telah memperoleh karunia Allah, padahal karunia Allah yang belum diketahui justru lebih banyak.”

Harun bin Rabab al-Usaidi biasa bangun malam untuk Shalat tahajud. Ia seringkali mengulang-ulang ayat, ”Qaaluu yaa laitanaa nuraddu wa laa nukadzdzibu bi aayaati rabbinaa wa nakuunu min al-mukminina, ’Mereka berkata, ’Alangkah baiknya kami dikembalikan (lagi hidup di dunia), tentu kami tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami dan kami akan menjadi termasuk orang-orang yang beriman.” Ini dibacanya sampai tiba waktu subuh disertai dengan cucur ar mata.

Juga di antara hal-hal yang dapat membantu penghayatan (terhadap ayat-ayat yang dibacanya) adalah membaca Al-Qur’an dan berbagai macam zikir yang terdapat pada rukun-rukun shalat dengan segala Variasinya. Setelah dihafal maka dibaca, direnungkan, dan dipikirkannya.

Sudah pasti bahwa melakukan penghayatan, pemikiran, membaca berulangkali, dan berinteraksi dengannya adalah termasuk faktor yang paling besar andilnya dalam menambah kekhusyuan.  Hal ini sebagaimana firman Allah ; ”Mereka menyungkurkan leher-leher mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.”

Berikut ini dipaparkan riwayat yang amat memikat hati, yang memperlihatkan penghayatan dan kekhusyuan Nabi saw. dengan disertai penjelasan yang mewajibkan penggunaan pikiran dalam menghayati ayat-ayat Al-Qur’an.

Pada suatu ketika Atha’ dan Ubaid bin Umair datang ke rumah Aisyah r.a.. Ubaid bin Umair berkata, ”Ceritakanlah (wahai Aisyah) kepada kami tentang sesuatu yang amat menarik yang Anda terima dari Rasulullah saw.!’ Lalu Aisyah menangis seraya berkata, 

”Pada suatu malam Rasulullah saw. bangun tidur, lalu berkata, ’Wahai Aisyah, biarkanlah aku beribadah kepada Rabb-ku.’ Aku berkata, ’Demi Allah, sesungguhnya aku menyukai sesuatu yang mengantar engkau dekat (kepada Allah) dan aku pun menyukai apa-apa yang rnemudahkan bagimu."

Selanjutnya Aisyah bercerita, ”Lalu Nabi bangun dan bersuci (berwudhu), lalu shalat. Kermudian beliau menangis terus-menerus hingga pangkuannya basah (oleh tetesan air mata beliau). 

Kemudian datanglah Bilal untuk mengumandangkan azan subuh.  Ketika melihat Bilal, beliau menangis. Bilal bertanya, ’Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang akan datang?’.

Nabi menjawab, "Apakah kamu tidak suka jika aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur (kepada Allah) ?.  Sesungguhnya tadi malam telah turun kepadaku beberapa ayat. 

Celaka bagi yang membaca ayat-ayat tersebut, tetapi tidak menghayati apa yang terkandung di dalamnya (Adapun yang dimaksud ayat-ayat tersebut ialah, ’Inna fii khalqis samawaati wal-ardhi... ’Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi...)”  (HR Ibnu Hibban).

Di antara bukti interaksi kita terhadap ayat-ayat Al-Qur’an ialah kita mengucapkan amin setelah membaca Surat al-Fatihah.  Dalam mengucapkan amin terkandung pahala yang besar sekali.  Rasulullah saw. bersabda, ”Apabila imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin, karena siapa yang bacaan amin-nya itu bersamaan dengan ucapan amin-nya para malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lewat diampuni (Allah).” (HR Bukhari).

Begitu pula bukti interaksi kita terhadap imam, yaitu ketika imam mengucapkan ”sami’allahu liman hamidah” maka makmum mengucapkan ”rabbanaa wa lakal-hamd”.

Dalam bacaan itu terkandung pahala yang besar sekali.  Rifa’ah bin Rafi’az-Zarqi berkata, ”Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi saw.. Ketika beliau mengangkat kepala dari ruku’ (i’tidal), beliau mengucapkan, ’sami’allahu liman hamidah,’ maka orang yang berada di belakang beliau mengucapkan, 

“Rabbanaa wa laka al-hamd hamdan katsiiran thayyiban mubarakan fiihi', ’Ya Rabb kami, segala puji bagi-Mu dengan pujian yang banyak dan yang baik serta mengandung berkah di dalamnya’. Setelah selesai shalat, Beliau bertanya, 'Siapa yang membaca zikir tersebut tadi ?’.

Jawabnya, ’Saya.’ Lalu Nabi bersabda, ’Saya telah melihat lebih dari tiga puluh malaikat bergegas menuju zikir tersebut siapa di antara mereka yang pertama kali menulisnya.”  (HR Bukhari).


5. Mentartil ayat perayat yang dibaca

Metode memotong bacaan ayat per ayat dilakukan untuk lebih mempercepat memahami sekaligus menghayati ayat-ayat tersebut.  Bahkan, hal yang demikian itu merupakan Sunnah Nabi saw., sebagaimana yang dituturkan oleh Ummu Salamah r.a. mengenai bacaan Rasulullah saw., ”Bismillahirrahmaanirrahim.” Dalam satu riwayat disebutkan, ”Kemudian beliau berhenti sejenak, lalu membaca alhamdu lillahi rabbil ’aalamiin, kemudian berhenti.

Setelah itu membaca ar-rahmaanir rahiim~.”  Dalam riwayat yang lain disebutkan, ”Kemudian beliau berhenti, lalu membaca maaliki yaumid din, sambil rnemutus-mutus bacaannya ayat demi ayat.”

Hukum berhenti pada penghujung ayat adalah sunnah, kendati ayat itu masih ada keterkaitan dalam segi makna dengan-ayat sesudahnya.

6. Membaca dengan tartil dan memperbagus suara bacaannya

Allah berfirman,  ”...dan bacalah Al-Qur‘an itu dengan perlahan-lahan. ” (al-Muzzammil: 4). Bacaan Nabi saw. itu mernperjelas huruf demi huruf. (Musnad Imam Ahmad).

Beliau biasa membaca surat (dari Al-Qur‘an) dengan perlahan-lahan sampai-sampai bacaannya itu lebih panjang daripada surat itu sendiri. (HR Muslim).

Membaca Al-Qur’an dengan tartil dan perlahan-lahan itu lebih mendorong si pembacanya untuk menghayati dan bersikap khusyu.  Keadaan yang demikian itu berbeda dengan membaca secara cepat dan tergesa-gesa.

Yang juga dapat membantu kekhusyuan dalam shalat adalah memperbagus suara (lagu) bacaan.  Memperbagus suara bacaan itu merupakan pesan-pesan yang di sampai oleh Nabi saw., ”Hiasilah Al-Qur‘an dengan suaramu, Karena suara yang bagus dapat rnenambah Al-Qur‘an, kebaikan.” (HR al-Hakim).

Yang dimaksud dengan memperbagus suara dalam rnembaca Al-Qur’an itu bukan berarti melenggok-lenggokkan suara dan membaca berdasarkan bacaan orang lain yang tidak benar. 

Akan tetapi, suara itu dikatakan indah bila disertai dengan bacaan yang mengandung kesedihan, seperti disabdakan Nabi saw., ”Sesungguhnya di antara manusia yang suaranya bagus ketika membaca Al-Qur’an adalah apabila kamu mendengar Al-Qur’an itu dibacanya, kamu mengira bahwa dia benar-benar takut kepada Allah.”  (HR Ibnu Majah).

7. Menyadari bahwa Allah pasti mengabulkan doa dalam shalatnya

Nabi saw.. bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman, ”Shalat itu Kubagi dua, antara Aku dan hamba-Ku.  Untuk hamba-Ku ialah apa yang dimintanya. Apabila ia mengucapkan alhamdulillahi rabbil 'aalamin, maka Aku menjawab, ’Hamidtmi abdi’ hamba-Ku memuji-Ku’.’ 

Apabila ia mengucapkan ar-rahmanirrahim ‘Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’, maka Aku menjawab, ’Atsnaa alayya ’abdi': 'hamba-Ku menyanjung-Ku'.’ Apabila ia mengucapkan maaliki yaumiddin ’Maha Penguasa Hari Kemudian’, maka Aku menjawab, ’Majjadani 'abdi ’, hamba-Ku mengagungkan-Ku’. 

Apabila dia mengucapkan iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in ’kepada Engkau saja kami menyembah dan kepada Engkau saja kami minta tolong', maka Aku menjawab, ’Hadza baini wa baina ’abdi, wa li abdi ma saala ’Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dimintanya’.’ 

Apabila dia mengucapkan ihdinash shirathal mustaqim, shirat al-ladzz'ina an’amta ’alaihim ghairi al-maghdhuubi 'alaihim wa ladh-dhaalliina ’pimpinlah kami ke jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat’, maka Aku menjawab, ’Hudza li ’abdi, wa li ’abdi ma saala  ’inilah bagian hamba-Ku, dan untuknya apa yang dimintanya’." (HR Muslim).

Itu merupakan hadits yang besar dan agung.  Sekiranya setiap orang yang shalat itu dapat menghayati hadits itu, tentu dia akan menggapai kekhusyuan yang semestinya dalam shalat dan dia akan rnendapatkan pengaruh yang besar yang terkandung dalam surat al-Fatihah. 

Bagaimana dia tidak mendapatkan hal itu, padahal dia amat menyadari bahwa Allah mengajak dia berbicara, sekaligus memberikan apa yang dimintanya.

Seyogianya dalam percakapan (ibadah shalat) itu benar-benar disertai dengan sikap pengagungan dan penghormatan.  Rasulullah bersabda, ”Apabila salah seseorang diantaramu berdiri shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajah kepada Rabbnya, maka hendaklah ia memperhatikan bagaimana cara bermunajah kepada-Nya (yang baik).” (Mustadrak al-Haakim).

8. Shalat dengan menghadap dan dekat kepada tabir

Salah satu usaha agar kita khusyu dalam shalat adalah dengan menghadap aling-aling (tabir atau penghalang) pada waktu shalat karena dapat membatasi pandangan orang yang shalat, sekaligus dapat lebih menjaga dirinya dari gangguan setan, di samping dapat menghindarkan diri dari lalu-lalang orang di hadapannya, karena hal itu dapat mengganggu konsentrasi shalatnya dan juga dapat mengurangi pahala.  

Nabi saw. bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian shalat, hendaklah i a menghadap ke arah tabir dan dekat kepadanya. ” (HR Abu Daud).

Dekat dengan tabir mengandung manfaat yang besar sekali. Nabi saw. bersabda, ”Apabila salah seorang kamu shaIat menghadap ke arah tabir, hendaklah mendekatinya, maka setan tidak dapat memutuskan shalatnya.” (HR Abu Daud).

Menurut Sunnah Rasulullah saw., jarak antara orang yang shalat dan tabir/pembatas itu sekitar tiga hasta; dan jarak antara tabir/pembatas dan tempat sujudnya kira-kira secukup seekor kambing dapat lewat. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai hadits sahih.

Nabi saw. pernah berpesan (memerintahkan) kepada orang yang shalat agar tidak sekali-kali membiarkan orang lewat diantara dia dan tabir/pembatas. Beliau bersabda, “Apabila kamu sedang shalat maka janganlah membiarkan orang lain lewat dihadapanmu. Tolaklah dia sedapat mungkin. Jika dia tidak mau maka pukullah karena dia itu setan.” (HR Muslim)

Imam an-Nawawi berkata,”Hikmah yang dapat dipetik dari tindakan membuat tabir/pembatas ketika shalat ialah dapat membatasi pandangan dari melihat sesuatu yang berada di belakang tabir itu, menolak orang yang melintas di dekatnya, dan menghindar dari setan yang berusaha merusak shalatnya.” (Syarah Shahih Muslim)

9. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada

Apabila Nabi saw. berdiri shalat (HR Muslim), biasanya meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, kemudian kedua tangan tersebut di letakkan di atas dada. (HR Abu Daud) Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya kami para nabi diperintahkan untuk meletakkan tangan kanan kami di atas tangan kiri pada waktu shalat.” (HR ath-Thabrani)

Imam Ahmad pernah ditanya tentang maksud dari meletakkan kedua tangan, yang salah satunya di letakkan di atas yang lainnya ketika keadaan berdiri (waktu shalat). Jawab Imam Ahmad, “Hal itu merupakan bukti dari sikap ketundukan di hadapan Allah yang Mahaperkasa."4

Ibnu Hajar rahimahumullah berkata bahwa para ulama berkata, ”Hikmah dari posisi tangan seperti itu ketika shalat adalah membuktikan sikap seorang yang meminta dengan penuh kehinadinaan dan ketundukan.  Keadaan seperti itu akan lebih mencegah dari sikap main-main (yang fidak ada kaitannya dengan shalat) dan justru akan lebih mendekat kepada kekhusyuan'.

10. Memandang ke tempat sujud

Aisyah berkata,  ”Apabila shalat, Rasulullah saw. biasa menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke tanah /ke tempat sujud). ” (HR al-Hakim).

Ketika Nabi saw. masuk ke dalam lingkungan ka’bah maka pandangan beliau ditujukan tidak melebihi tempat sujudnya hingga beliau keluar dari lingkungan ka’bah.

Adapun dalam duduk tasyahud dianjurkan memandang ke arah jari telunjuk tangannya yang dipergunakan untuk isyarat sambil digerak-gerakkan.  Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw., 

”Apabila duduk untuk tasyahud, Nabi saw. biasa membuat isyarat dengan jari telunjuknya yang berada di samping ibu jari menghadap ke arah kiblat sambil mengarahkan pandangannya ke arah jari telunjuknya itu. ” Dalam riwayat yang lain, ”Beliau membuat isyarat dengan jari telunjuk, namun pandangannya tidak melebihi arah isyaratnya.” .

Permasalahan

Di sini timbul suatu pertanyaan yang selalu menghantui pemikiran sebagian orang yang shalat, yaitu, apakah hukum memejamkan kedua mata dalam mengerjakan shalat, terutama ada orang yang sedang shalat yang rnerasa bertambah khusyu manakala ia memejamkan matanya ?.

Jawaban

Sesungguhnya memejamkan mata ketika shalat itu merupakan perbuatan yang menyalahi Sunnah yang datang dari Nabi saw., sebagaimana disebutkan dalam pembahasan di atas. Secara tidak langsung, memejamkan mata mengurangi nilai sunnah yang seseorang dianjurkan untuk memandang tempat sujud dan jari telunjuknya.

Abu Abdullah Ibnul-Qayyim menjelaskan persoalan tersebut dengan terinci, ”Memang, memejamkan mata ketika shalat tidaklah termasuk Sunnah Rasulullah saw..

Telah dijelaskan bahwa ketika Nabi duduk pada tasyahud, beliau mengarahkan pandangannya ke arah jari telunjuknya ketika berdoa dan tidak melampaui jari telunjuknya yang dipergunakan sebagai isyarat.

Larangan memejamkan mata ketika shalat itu pun bisa ditunjukkan dengan peristiwa ketika Nabi membentangkan tangannya ketika shalat kusuf (gerhana matahari) untuk mendapatkan setandan anggur karena beliau saat itu melihat surga.  Selain itu, beliau pun pada shalat tersebut melihat neraka dan wanita yang menyiksa kucing dan orang yang mencuri tongkat berada di dalamnya.

Demikian pula ditunjukkan oleh hadits yang menerangkan pencegahan Nabi terhadap binatang yang lewat di hadapan beliau, penolakan beliau terhadap budak laki-laki dan perempuan, dan penolakan beliau di antara budak perempuan. 

Selain itu, juga hadits-hadits yang menerangkan tentang cara beliau menjawab salam dengan isyarat kepada orang yang mengucapkan salam pada beliau, padahal beliau sedang shalat. Begitu pula hadits yang menceritakan usaha setan untuk menganggu Nabi, lalu oleh Nabi dipegangnya dan dicekiknya. Hal yang demikian itu benar-benar beliau lihat dengan mata telanjang.

Jadi, dari hadits-hadits tersebut dan hadits-hadits lainnya dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi saw. tidak pernah memejamkan mata ketika shalat.

Memang di kalangan pakar fikih terjadi perselisihan pendapat mengenai hukum makruhnya memejamkan mata ketika shalat.  Imam Ahmad dan ulama lainnya memakruhkan memejamkan mata ketika shalat. 

Alasan mereka,  Karena hal yang demikian itu merupakan perbuatan orang-orang Yahudi.” Sedangkan, sebagian ulama lainnya tidak memakruhkannya.

Pendapat yang benar menurut kami ialah, jika membuka mata itu tidak sampai mengurangi kekhusyuan maka dalam keadaan seperti itu lebih baik, tetapi jika dengan membuka mata akan menghalangi tercapainya kekhusyukan  —-mungkin karena di arah kiblat terdapat hiasan-hiasan, gambar-gambar, atau hal-hal yang dapat mengacaukan dan merisaukan hati—maka dalam keadaan seperti ini memejamkan mata tidak dinyatakan makruh sama sekali.

Justru pendapat yang mengatakan bahwa memejamkan mata itu hukumnya sunnah dalam keadaan seperti itu kebenarannya lebih mendekati prinsip-prinsip dan tujuan hukum Islam daripada pendapat yang menyatakan makruh.  Wallahu a’lam.”

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa menurut Sunnah Nabi saw. tidak boleh memejamkan mata kecuali bila benar-benar terpaksa karena ada sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyuan (konsentrasi) dalam shalat.

11. Menggerak-gerakkan jari telunjuk

Banyak sekali orang yang shalat mengabaikan masalah ini.  Apalagi mereka tidak mengerti tentang manfaatnya yang begitu besar dan dampak positif yang ditimbulkan dalam rangka membantu tercapainya kekhusyuan.

Dalam hal ini Nabi saw. bersabda,  ”Sesungguhnya menggerak-gerakkan jari telunjuk itu lebih dahsyat untuk mengalahkan setan daripada besi.” (HR Imam Ahmad).

Artinya, isyarat dengan mempergunakan jari telunjuk ketika tasyahud itu lebih dahsyat untuk menangkal ganggan setan daripada pukulan dengan memakai besi.  Ini karena isyarat dengan jari telunjuk itu mengingatkan seseorang akan keesaan Allah dan keikhlasan dalam beribadah. 

Hal ini merupakan faktor yang lebih besar yang amat tidak disukai oleh setan. Kami benar-benar memohon perlindungan kepada Allah darinya.

Karena dalam masalah itu tersimpan manfaat yang sangat besar maka para sahabat saling berpesan untuk melakukan hal itu.  Bahkan, mereka amat berambisi dan berjanji terhadap diri mereka sendiri untuk tetap rnelakukan masalah itu, yang kebanyakan orang meremehkan dan mengabaikan masalah tersebut. 

Disebutkan dalam suatu atsar,  Sebagian para sahabat Nabi saw. biasa menanggung atas sebagian yang lain.  Artinya, mereka membuat isyarat dengan jari-jemari ketika berdoa.” (HR Ibnu Syaibah).

Menurut Sunnah Nabi saw., membuat isyarat dengan jari telunjuk adalah dengan cara jari tersebut tetap terangkat, digerak-gerakkan, mengarah ke kiblat sepanjang (selama) tasyahud.

12. Membaca beragam surat, ayat, zikir dan doa dalam shalat

Membaca surat, ayat, zikir, dan doa yang bervariasi dalam shalat sangat membantu untuk selalu memiliki perasaan baru dalam menerima kandungan ayat, zikir, dan doa yang dibacanya. 

Hal yang demikian itu tidak akan diperoleh oleh orang yang tidak atau sedikit hafal dari surat dan zikir yang dibacanya. Jadi, membaca surat, ayat, zikir, dan doa yang beragam adalah termasuk Sunnah Nabi saw., bahkan lebih sempurna dalam mencapai kekhusuan.

Apabila kita mengamati surat dan zikir yang dibaca Nabi saw. dalam shalat niscaya kita mendapati kebervariasiannya.  Seperti dalam masalah doa iftitah, kita dapatkan nash-nash seperti berikut ini.

Allahumma baa'id bainii wa baina khathaayaaya kamaa  baa’adta bainal masyriqi wal-maghrib. Allahumma naqqinii min khataayaaya kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu mind danas. Allahuma ighsilnii min khathaayaaya bil maa’i wats tsalji walbard 

’Ya Allah, jauhkanlah aku dari segala dosa sebagaimana Engkau menjauhkan timur dengan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana kain putih dicuci dari kotoran. Ya Allah, bersihkanlah aku dari dosa-dosaku dengan salju, dengan air, dan dengan sabun’.

Wzzjjahtu wajhiya lil ladzii fatharas samawaati wal ardha hanifam wa maa ana min al-musyrikin, inna shalaati wa nusuki wa mahyaaya wa ma maati lillahi rabbil aalamin, laa syariika lahu wa bi dzalika umirtu wa anaa awalul muslimin 

’Aku hadapkan wajahku dengan ikhlas kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya semata-mata untuk Allah, Rabb yang menguasai alam semesta, yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan dengan yang demikian itu, aku diperintahkan, dan aku adalah (termasuk) orang-orang muslim yang pertama’.

Subhaunakallahumma wa bi hamdika wa tabaaraka ismuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaha ghairuku  ’Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu (aku memulai ibadah ini), dan Maha suci nama-Mu dan Mahatinggi kedudukan-Mu, tiada Ilah (yang berhak disembah) selain-Mu’.

Bagi seseorang yang mengerjakan shalat, ia sesekali mernbaca doa zikir ini, sesekali membaca doa zikir itu, dan seterusnya.

Surat-surat yang dibaca oleh Nabi saw. pada waktu shalat subuh juga amat bervariasi, seperti mernbaca Surat al-Waaqi’ah, ath-Thur, Qaf, at-Takwir, az-Zalzalah, al-mu’awwadzatain (surat al-Falaq dan an-Nas).  Beliau juga membaca surat ar-Rum, Yasin, ash-shaaffat ketika shalat subuh dan biasa membaca Surat as-Sajdah dan al-Insan pada waktu shalat subuh hari jumat.

Pada waktu shalat zuhur, beliau biasa membaca masing-masing dari dua rakaat yang pertarna sekitar tiga puluh ayat.  Juga beliau rnembaca surat ath-Thaariq, al-Buruj, dan al-Lail.

Pada shalat asar, beliau membaca masing-masing dalam dua rakaat yang pertama sekitar lima belas ayat.  Di samping beliau juga membaca surat-surat yang dibaca pada waktu shalat zuhur tadi.

Pada waktu shalat magrib, beliau membaca surat-surat yang tergolong pendek, seperti at-Tin, di samping membaca surat Muhammad, ath-Thur, al-Mursalat, dan lain-lain.

Pada waktu shalat isya, Nabi biasa membaca asy-Syams dan surat al-Insyiqaq. Bahkan, beliau pernah menyuruh Mu'adz bin Jabbal agar membaca Surat al-A’la, al-Qalam, dan al-Lail. 

Pada waktu shalat malam, beliau biasa membaca surat yang panjang-panjang. Bahkan, ada hadits yang menyebutkan bahwa ketika rnengerjakan shalat malam, beliau membaca sekitar 200 ayat, 100 ayat, dan 50 ayat, dan terkadang juga mernbaca surat-surat pendek.

Demikian pula kita temukan zikir-zikir yang beliau baca ketika ruku, memang beragam sekali. Di samping beliau membaca: subhana rabbiyal ’adziim ’Mahasuci Rabbku Yang Mahabesar’ dan membaca: subhana rabbiyal ’adziim wa bihamdihi   ’Mahasuci Rabbku Yang Mahabesar, lagi Maha Terpuji’,  

Beliau juga membaca: subbuhun quddusun rabb al-malaikati war-ruh ’Mahasuci Engkau, wahai Rabb yang menguasai malaikat dan Jibril’ dan membaca: allahumma laka raka’tu wa bika aamantu walaka aslamtu, wa 'alaika tawakkaltu, anta rabbi, khasya’a sam'i wa bashari wa damii wa lahmii wa 'adzami wa ashabi lillahi rabbil ‘alamin ‘Ya Allah, kepada-Mu aku ruku, kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dan kepada-Mu aku bertawakal. 

Engkau adalah Rabbku, berkhusyu pendengaranku, penglihatanku, darahku, dagingku, tulang belulangku, dan sarafku hanya kepada Allah, Rabb yang menguasai alam semesta’.

Ketika bangkit dari ruku (i’tidal) setelah mengucapkan sami’allahu li man hamidah, beliau membaca: rabbana wa lakal hamdu, terkadang mengucapkan: rabbana lakal hamd ’Ya Allah, wahai Rabb kami, dan bagi-Mu segala pujian’. 

Terkadang juga beliau menambah zikir: mil-us samawaati wa mil-ul ardhi wa mil umaa syi’ta min syai-in ba’du, dan terkadang menambah dengan: ahlu ats-tsanaa-u wa al-majd, allahumma laa maanih limaa a’thaita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dza al-jadd minka al-jadd ’sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu.

Wahai pemilik pujian dan kebesaran kehorrnatan !  Ya Allah, tidak ada yang sanggup menghalangi pemberian-Mu dan tidak ada yang sanggup memberikan apa yang Engkau tahan; dan tidak ada gunanya kekuasaan, kebesaran dan kemewahan seseorang terhadap tindakan-Mu’.

Demikian pula ketika sujud, di samping beliau membaca: subhana rabbiyal a’laa ’Mahasuci Rabbku yang Mahabesar’ dan membaca subhana rabbiyal a’laa wa bihamdihi ’Mahasuci Rabbku yang Mahatinggi lagi Maha Terpuji’, juga membaca: subbuhun quddusun rabbil malaikati war-ruh

’Mahasuci, wahai Rabb yang menguasai malaikat dan Jibril’, membaca: subhannakallahumma rabbana wa bi hamdika allahumma ighfirli ’Mahasuci Engkau, ya Allah, Rabb kami, dan Maha Terpuji.  Ya Allah, ampunilah dosaku’, membaca: allahumma laka sajadtu wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu, tabaaraka allahuma ahsanul khaaliqin.

’Ya Allah, hanya kepada-Mu aku bersujud, hanya kepada-Mu kami beriman, dan hanya kepada-Mu jua kami berserah diri, mukaku telah sujud kepada Zat yang telah menciptakannya dan membentuknya dan membuka pendengaran dan penglihatannya. Mahaberkah Allah Zat yang sebaik-baik penciptaan dan lain sebagainya.

Begitu pula ketika duduk di antara dua sujud, di samping membaca: rabbighfir lii rabbighfir Iii ’Ya Rabb, ampunilah dosaku, Ya Rabb, ampunilah dosaku’, beliau juga mengucapakan; allahummaghfir lii warhamni wajburni warfa’ni, wahdiini, wa ’aafini, warzuqni ’Ya Allah, ampunilah dosaku, kasihanilah aku, tutupilah kesalahanku, tinggikanlah derajat-ku, bimbinglah aku, berilah aku afiat, dan berilah aku rezeki’.

Kita menjumpai beberapa bentuk tasyahud yang memang semua bersumber dari Nabi saw., seperti: at-tahiyaatu lillaahi wash-shalawaatu wath-thayyibaatu, as-salaamu 'alaika ayyuuhan nabiyyu. . .(hingga akhir) ’segala penghormatan hanya pantas bagi Allah dan (demikian pula) segala rahmat dan kebajikan, mudah-mudahan kesejahteraan tetap tercurahkan atasmu, wahai Nabi. . .(dan seterusnya)’. Demikian pula: at-tahiyaatul mubarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillahi, as-salaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu. . .(hingga akhir).

‘segala penghormatan, berkah, rahmat, dan kebajikan hanya bagi Allah, semoga kesejahteraan tetap tercurahkan atasmu, wahai Nabi...(hingga akhir)’. Juga seperti: at-tahiyyaatuth thayyibatush shalawatu lillah, as-salaamu 'alaika ayyuhan nabiyyu...(hingga akhir) ’segala penghormatan, kebajikan, dan rahmat hanya bagi Allah, semoga kesejahteraan tetap tercurah atasmu, wahai Nabi...(hingga akhir)’.

Jadi, dengan tasyahud yang bervariasi itu maka orang yang mengerjakan shalat boleh sesekali membaca tasyahud ini dan boleh sesekali membaca tasyahud itu.

Begitu pula dengan bacaan shalawat kepada Nabi saw., kita dapati beberapa Variasinya.  Di antaranya: allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ’ala aali muhammad, kama shallaita ’ala ibrahim wa ’ala aali ibrahim innaka hamiidun majid,  allahumma baarik ’ala muhammad wa ’ala aali muhammad kama baarakta ’ala ibrahim wa 'ala aali ibrahim innaka hamiidun majid.

’Ya Allah, berilah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau memberi rahmat atas keluarga Ibrahim; dan berilah keberkahan atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau beri keberkahan atas keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia’.

Ada bentuk shalawat yang lain: allahumma shalli ’alaa muhammad wa ahli baitihi wa 'alaa azwajihi wa dzurriyatihi.  kamaa shallaita ’alaa aali ibrahim innaka hamiidun majid, wa baarik ’alaa muhammad wa ’alaa aali baitihi wa ’alaa azwaajihi wa dzurriyatihi kamaa baarakta ’alaa aali ibmhim innaka hamiidun majid. 

‘Ya Allah, berilah rahmat atas Muhammad, keluarganya, dan istri-istri serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi rahmat atas keluarga Ibrahim.   Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maharnulia.  Dan berilah keberkahan atas Muhammad, keluarga, dan istri-istri serta keluarganya sebagaimana Engkau telah rnemberi keberkahan atas keluarga Ibrahim.  Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maharnulia’.

Juga ada bentuk shalawat lain: allahumma shalli ’alaa muhammad annabiyyi al-ummiyyi wa ’alaa aali muhammad kamaa shallaita 'alaa aali ibrahim, wa baarik 'alaza muhammad an-nabiyyi al-ummiyyi wa ’aali muhammad kamaa baarakta ’alaa aali Ibraahim fii al-’aalamiina innaka hamiidun majid.

‘Ya Allah, berilah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberi rahmat atas keluarga Ibrahim; dan berilah keberkahan atas Muhammad, nabi yang ummi, dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan atas keluarga Ibrahim di (lidah-lidah) makhluk yang berakal, karena sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia’.

Juga masih ada beberapa bentuk shalawat yang lain.  Yang jelas, menurut Sunnah Rasulullah saw., kita dianjurkan membaca shalawat itu secara bervariasi seperti yang telah dikemukakan. Akan tetapi, hal ini tidak berarti kita dilarang menekuni membaca salah satu shalawat dengan lebih sering dibandingkan bentuk shalawat yang lain dikarenakan kuatnya ketetapannya atau shalawat itu lebih masyhur dalam kitab-kitab hadits sahih, atau karena memang Nabi saw. telah mengajarkan shalawat tersebut kepada para sahabat ketika mereka bertanya kepada beliau tentang bagaimana membaca shalawat atasnya.

13. Melakukan sujud tilawah bila membaca ayat Sajdah

Di antara etika yang diajarkan Islam ketika membaca Al-Qur ’an adalah melakukan sujud bila membaca ayat-ayat 'sajdah.  Dalam Al-Qur’an, Allah mendeskripsikan bahwa para nabi dan orang-orang yang saleh itu adalah mereka yang, ”Apabila dibaca atas mereka ayat-ayat Allah maka mereka rnenyungkur sujud dan menangis.”

lbnu Katsir berkomentar, ”Para ulama telah sepakat atas disyariatkannya sujud tilawah ketika membaca ayat tersebut.  Hal itu disyariatkan karena mengikuti jejak mereka."

Melakukan sujud tilawah ketika shalat itu besar sekali gunanya karena dapat menambah kekhusyuan dalam shalat. Allah Azza wa jalla berfirman, ”Dan muka mereka menyungkur sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.”

Diriwayatkan bahwa Nabi saw. melakukan sujud ketika shalat sewaktu membaca surat an-Najm.  Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, dari Abu Rafi’, la berkata,  ”Aku pernah mengikuti shalat Isya’ di belakang Abu Hurairah r.a.. Ketika dia membaca, ’idza as-samaau insyaqqat', lalu dia sujud. 

Maka aku menanyakan hal itu.  Abu Hurairah menjawab, ’Aku pernah sujud di belakang Abul Qasim (Nabi saw.), maka aku senantiasa sujud ketika membaca surat tersebut hingga aku bertemu Allah (meninggal dunia)/’ (HR Bukhari).

Seyogianya kita selalu mengamalkan sujud tilawah, terutama dalam shalat, karena mampu mengusir setan sekaligus menangkal tipu dayanya.

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Apabila anak Adam (manusia) membaca ayat Sajdah, lalu dia rnelakukan sujud tilawah, maka setan lari terbirit-birit sambil menangis seraya mengatakan, ’Aduh, celaka diriku. Anak Adam diperintah untuk sujud maka dia bersedia sujud, maka dia bakal memperoleh surga, sedangkan aku diperintah sujud, tetapi enggan, maka bagiku neraka.” (HR Muslim).

14. Berlindung kepada Allah dari godaan setan

Setan merupakan musuh bebuyutan bagi kita.  Di antara bukti permusuhannya ialah berusaha keras menaburkan dan membisikkan rasa waswas (ragu-ragu) ke dalam lubuk hati orang yang sedang shalat agar hilang kekhusyuannya, sekaligus agar shalat yang dikerjakannya diliputi oleh hal-hal yang bersifat keduniawian. 

Karena itu, seyogianya kita memiliki keteguhan hati dan ketabahan.   Bahkan, dituntut agar selalu membaca zikir dan mengerjakan shalat, jangan sampai merasa bosan, sebab dengan tetap konsisten melakukan hal tersebut, ia tidak akan terkena tipu daya setan,  "Sesungguhnya tipu daya setan itu amat lemah.”

Setiap kali orang hendak menghadap Allah dengan hatinya maka datanglah perasaan waswas terhadap segala sesuatu.   Setan itu ibarat pengembara yang siap siaga di tengah jalan. Setiap kali orang hendak melakukan perjalanan menuju kepada Allah, setan berusaha memutuskan jalan orang itu. 

Berkenaan dengan masalah ini, ada seseorang yang bertanya kepada sebagian ulama salaf, ”Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, Janganlah berwaswas !” Jawab ulama salaf, ” Yang mereka katakan memang benar, dan apa yang akan diperbuat oleh setan terhadap rumah yang rusak.”

Ulama salaf tadi rnembuat perumpamaan rumah dengan suatu perumpamaan yang baik, yaitu ada tiga macam rumah: 1) rumah milik raja, yang di dalamnya terdapat berbagai macam barang simpanan, permata dan mutiara;  2) rumah milik manusia biasa yang di dalarnnya penuh dengan berbagai macam barang simpanan, permata dan mutiara, hanya saja permata dan mutiara di situ tidak seperti yang dimiliki oleh si raja tersebut; dan 3) rumah yang kosong dan sunyi, tidak ada apa-apa di dalamnya. 

Lalu, datanglah pencuri yang ingin mencuri dari salah satu dari ketiga rumah tersebut.  Kira-kira rumah siapa yang bakal kecurian ?.

Apabila seseorang berdiri shalat maka setan segera menyerbunya.  Mengapa demikian,  karena dia telah berdiri di suatu tempat yang paling agung dan tinggi, tempat yang dapat mengantarkan dia kepada Allah, dan suatu tempat yang menyebabkan dia harus merasa muak terhadap setan, tempat yang membuat dia harus bersikap kejam terhadap setan. 

Untuk itu, setan berusaha dengan segenap kemampuannya untuk menggagalkan orang itu bisa berdiri tegak di tempat tersebut.   Justru, setan senantiasa berusaha memberikan iming-iming janji (palsu) kepada orang itu, memberi angan-angan kosong, dan berusaha membuat orang itu lupa kepada Allah serta berusaha menyerbu orang itu dengan mengerahkan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki, sehingga urusan shalat itu dianggap enteng oleh orang itu.   Dengan begitu dia sudah meninggalkan shalat.

Jika setan merasa tidak mampu menggoda manusia dalam mengerjakan shalat, bahkan jika ternyata manusia itu tetap berdiri tegak di tempat shalat, maka setan datang menghadap orang itu untuk mengacaukan konsentrasi hatinya dan mengalihkannya kepada yang lain. 

Dengan begitu, setan berusaha mengingatkan orang yang tengah khusyu dalarn shalat akan sesuatu yang tidak ia ingat sebelum memasuki shalat.  Terkadang dia lupa atau sudah peduli lagi terhadap sesuatu keperluan, namun diingatkan oleh setan saat mengerjakan shalat. 

Dengan demikian dia mengerjakan shalat tanpa disertai oleh hati yang kusyu dan tidak mengingat Allah, sehingga ia tidak memperoleh perhatian Allah, kemuliaan-Nya, dan keta’atan-Nya seperti yang diperoleh oleh orang yang benar-benar menghadap Allah ketika shalat dengan hatinya. 

Maka selesai mengerjakan shalat, keadaannya seperti saat dia memasuki shalat dengan membawa berbagai kesalahan, dosa, dan beban berat, namun semuanya tidak menjadi ringan karena shalatnya.  

Padahal semestinya, shalatnya itu mampu menghapus semua kesalahannya asalkan ia dapat menyempurnakan kekhusyuannya di hadapan Allah dengan hatinya.

Untuk menghadapi tipu daya setan, sekaligus untuk menghilangkan waswas yang dibisikkan oleh setan, Nabi saw. telah menunjukkan kepada kita terapi berikut ini.

Abul Aash ra. berkata, ”Ya Rasulullah, sesungguhnya setan telah rnenghalang-halangi antara aku dan shalatku serta bacaanku dan mengacaukannya terhadapku."  Lalu Rasulullah saw. berkata,  ”Itulah setan yang dinamakan Khanzab”.  Jika kamu merasakan keberadaannya maka berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ke sebelah kirimu tiga kali.”  Kata Abul Aash, ” Lalu aku mengerjakan hal demikian itu, maka Allah menghilangkan hal itu dari diriku.” (HR Muslim).

Di antara bentuk tipu daya setan untuk mengganggu orang shalat adalah sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw. dan cara mengatasinya, "Sesungguhnya apabila salah seorang kamu berdiri shalat maka datanglah setan untuk mengacaukan shalatnya dan membuatnya ragu sehingga tidak mengerti berapa rakaat dia telah mengerjakan shalat. Apabila salah seorang dari kamu merasakan yang demikian, hendaklah sujud dua kali dalam keadaan duduk.” (HR Bukhari).

Juga sabda Rasulullah saw., "Apabila salah seorang dari kamu rnengerjakan shalat, lalu merasakan gerakan pada duburnya, apakah berhadats ataukah tidak, sehingga ia ragu-ragu maka sekali-kali janganlah keluar dari shalat (membatalkannya) sebelurn mendengar (kentut) atau mencium baunya.” (HR Thabrani).

Permasalahan

Ada tipuan yang dibawa oleh setan Khanzab kepada sebagian orang baik yang mengerjakan shalat agar, yaitu berupaya menyibukkan mereka dengan memikirkan masalah-masalah ketaatan lainnya, yang semuanya itu bisa melalaikannya dari hal-hal yang berkaitan dengan shalat.

Hal yang demikian itu dilakukan seperti menghantui pikiran mereka yang diarahkan kepada persoalan dakwah atau persoalan yang bersifat ilmiah.   Dengan demikian, pikiran mereka tenggelam dalarn persoalan-persoalan tersebut, sehingga mereka tidak lagi memikirkan bagian-bagian yang berkaitan dengan shalat. 

Bahkan, terkadang dalam benak mereka terlintas pikiran bahwa Umar pernah menyiapkan bala tentara pada saat beliau sedang shalat.

Jawaban

Mengenai masalah ini, Ibnu Taimiyah memberikan penjelasannya, "Adapun riwayat yang menjelaskan bahwa Umar ibnul Khaththab pernah berkata, 'Sesungguhnya aku telah mempersiapkan pasukan, yang saat itu aku sedang mengerjakan shalat,’ rnaka hal yang demikian itu karena waktu itu Umar telah diperintahkan untuk berjihad dikarenakan saat itu beliau menjadi Amirul Mukminin, disamping menjadi panglirna perang. 

Dengan demikian, dipandang dari beberapa sudut, maka dalam kondisi beliaum yang demikian itu, kedudukannya sama seperti orang yang sedang mengerjakan shalat khauf (karena ketakutan) pada saat musuh berada di depan matanya.  

Baik dalam situasi perang maupun tidak, ia tetap diperintahkan untuk shalat, disamping diperintahkan untuk melakukan jihad.  Untuk itu dia melaksanakan dua kewajiban tersebut sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. 

Allah SWT berfirman, 'Hai oang-orang yang berirnan, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.’

Perlu diketahui bahwa ketenangan hati pada situasi jihad tidak dapat diraih seperti dalam situasi aman.   Jlka ditakdirkan dalam mengerjakan shalatnya itu ada sedikit kekurangan dikarenakan mengurusi persoalan jihad maka sama sekali tidaklah menodai kesempurnaan keimanan dan ketaatan Umar.

Untuk itu, pelaksanaan shalat khauf itu diperingan daripada pelaksanaan shalat pada waktu aman.   Allah SWT menyebutkan shalat khauf dalam firmannya, ’Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.’ 

Maka kata ’iqamah' yang memang diperintahkan degannya pada saat situasi tenang, maka tidak diperintahkan untuk iqamah (mendirikan shalat sebagaimana mestinya) pada saaty situasi tidak aman (takut).

Kendatipun demikian, yang pasti setiap orang memiliki tingkat ketenangan yang berbda-beda dalam menghadapi masalah tersebut.   Apabila seseorang itu memiliki keimanan yang kuat, dia akan dapat menghadirkan hatinya ketika shalat untuk menghadapi masalah-masalah yang ada kaitannya dengan shalat.  

Sedangkan, Umar adalah seorang yang memiliki firasat yang tajam, di samping mendapat ilham (dari Allah), maka tidak heran, di samping beliau mengatur masalah pengiriman pasukan ketika mengerjakan shalat, juga hatinya tetap hadir untuk merenungi apa-apa yang tidak berkaitan dengan pengiriman pasukan.  

Hanya saja, perlu dipastikan bahwa kekhusyuan Umar itu lebih kuat daripada memikirkan hal-hal yang demikian itu.  Juga tidak diragukan lagi bahwa shalat yang dikerjakan Rasulullah saw. pada saat aman justru lebih sempurna daripada shalat yang dikerjakannya pada situasi tidak aman, bila dilihat dari gerak-gerik beliau secara lahir.  

Apabila Allah memaafkan sebagian kewajiban yang bersifat lahiriah pada saat tidak aman maka yang menyangkut masalah hati justru lebih dimaafkan.

Kesimpulannya, seorang yang sedang shalat kemudian memikirkan perkara yang wajib atasnya (selain shalat) pada waktunya yang (terkadang) amat sempit, itu tidak sama dengan ia memikirkan sesuatu yang bukan merupakan kewajiban atau pada waktu yang tidak sempit.

Bisa jadi, Umar tidak lagi merniliki kesempatan untuk berpikir mengenai pengaturan dan pengiriman pasukan selain pada kondisi seperti itu karena pada saat itu ia adalah pemimpin umat ditambah banyak sekali masalah yang dihadapinya.  Kondisi seperti itu dapat saja menimpa setiap orang sesuai dengan kedudukannya.

Seseorang yang sedang mengerjakan shalat kadangkala mengingat akan hal-hal yang tidak terlintas dalam ingatannya di luar shalat, dan itu mungkin berasal dari setan.  Diriwayatkan bahwa pernah ada ulama salaf yang dimintai tolong oleh seseorang bahwa dia pernah memendarn harta tetapi lupa tempat memendamnya. 

Ulama tersebut lalu menyuruhnya agar melaksanakan shalat.  Orang itu pun berdiri dan shalat.  Di tengah-tengah shalatnya, ia teringat tempat harta itu dipendamnya.  Setelah selesai shalat, orang itu ditanya, ’Dari mana kamu tahu hal yang demikian itu ?.’

Jawab orang itu, ’Aku memang tahu benar bahwa setan tidak akan sekali-kali membiarkan orang mengerjakan shalat sebelum mengingatkannya kepada sesuatu yang bisa nenghilangkan kekhusyuannya. 

Tidak ada sesuatu yang lebih penting menurut setan selain mengingatkan tempat memendaman harta itu.  Hanya saja orang yang cerdik pandai akan selalu berusaha dengan segala kemampuan untuk menghadirkan hati secara sempurna, di samping berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan perbutan yang lain yang diperintahkan. Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali berkat izin Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”

15. Merenung ihwal orang-orang salaf dalam mengerjakan shalat

Merenungi ihwal orang-orang salaf dalam pelaksanaan shalat, dapat rnenambah kekhusyuan dalam shalat sekaligus dapat terdorong untuk mengikuti jejak mereka.  

Sekiranya Anda melihat salah seorang di antara mereka berdiri untuk mengerj akan shalat, maka setelah dia berdiri di tempat shalat, ia langsung memulai perkataan Nabinya, pasti terlintas dalam lubuk hatinya bahwa tempat shalatnya itu merupakan tempat yang nanti semua manusia bakal berdiri menghadap Rabb yang menguasai alam semesta, niscaya hatinya lepas dan akal pikirannya bingung.

Mujahid rahimalzumullah berkata, ”Apabila salah seorang dari mereka shalat, la takut kepada Allah bila menoleh kepada sesuatu, atau membolak-balik kerikil, atau bermain-main dengan sesuatu, atau membicarakan pada dirinya sendiri mengenai urusan dunia, kecuali dalam keadaan lupa selama ia melakukan shalat.”

Apabila Ibnu Zubair r.a. berdiri dalam melaksanakan shalat, dia bagaikan sebatang kayu karena khusyunya.  Ketika dia sujud, manjanik ’peluru’ musuh mengenai bagian dari pakaiannya, namun dia tidak mengangkat kepalanya.

Diceritakan pula Maslamah bin Basyar sedang melaksanakan shalat di masjid, lalu bagian dari bangunan masjid itu runtuh sehingga orang-orang keluar dari masjid, namun dia tetap shalat dan tidak merasa adanya peristiwa itu.

Diceritakan bahwa ada sebagian ulama salaf itu yang bagaikan pakaian yang terbuang ketika shalat, sebagian yang lain selesai dari shalatnya sambil berubah warna mukanya lantaran dia telah berdiri tegak di hadapan Allah Azza wa jalla. 

Sebagian mereka adapula yang mukanya berubah menjadi kuning apabila ia berwudlu untuk menunaikan shalat.   Sebagian orang ada yang bertanya kepadanya, ”Kami melihat Anda apabila berwudlu untuk shalat, pasti keadaan Anda mengalami perubahan.” Ulama salaf itu menjawab, ”Aku mengerti bahwa aku akan berdiri di hadapan Zat yang Mahatinggi.”

Apabila waktu shalat telah tiba, maka bergoncanglah tubuh Ali bin Abi Thalib r.a. dan berubahlah raut mukanya.  Lalu ada orang yang bertanya kepadanya, ”Mengapa Anda seperti itu ?” Ali menjawab, ”Demi Allah, telah datang waktu ’amanat’ yang pernah ditawarkan Allah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, namun aku menerima untuk memikulnya.” 

Apabila. Sa’id at-Tanukhi melaksanakan shalat maka tidak berhenti air matanya mengalir membasahi pipi dan jenggotnya.  Apabila ia berdiri untuk melaksanakan shalat maka berubahlah raut mukanya.  Ia biasa melontarkan pertanyaan, ”Apabila Anda tahu di hadapan siapa aku berdiri dan di hadapan siapa pula aku ber-munajah, maka siapakah di antara Anda yang benar-benar tulus karena Allah, terbetik dalam sanubarinya perasaan pengagungan semacam itu."

Orang-orang salaf itu mencoba bertanya kepada Amir bin Abdul Qais, ”Apakah Anda pernah berbicara kepada diri Anda dalam shalat ?” Iawabnya, ”Adakah sesuatu yang aku cintai selain shalat sehingga aku harus berbicara pada diri sendiri tentang sesuatu (yang tidak ada kaitannya dengan shalat sama sekali)!” 

Mereka mengatakan, "Kalau  terbiasa berbicara dengan diri kami sendiri dalam shalat.” Lalu Amir bertanya, "'Apakah yang kalian bicarakan itu persoalan yang berkaitan dengan surga, bidadari, dan sejenisnya ?”  Mereka menjawab, ”Bukan, tetapi persoalan keluarga dan keuangan. ”  Amir lalu mengatakan, ”Sungguh badanku terkena tusukan panah berkali-kali itu lebih kusukai daripada membicarakan kepada diriku hal-hal yang berkaitan dengan masalah duniawi padahal aku sedang mengerjakan shalat.”

Sa’ad bin Mu’adz berkata, ”Pada diriku terdapat tiga perkara.  Alangkah baik sekiranya seluruh perilakuku menerapkan tiga perkara tersebut niscaya aku akan menjadi orang yang mulia, yaitu: apabila aku sedang melakukan shalat maka tidak berbicara pada diriku selain apa yang aku berada di dalamnya; apabila aku mendengar hadits dari Rasulullah maka tidak terbetik dalam hatiku keragu-raguan bahwa hadits itu memang benar; dan apabila aku sedang menghadiri jenazah maka aku berusaha untuk tidak mengajak diriku berbicara selain apa yang pernah dibicarakan oleh jenazah itu (sewaktu hidup) dan apa yang dikatakan orang kepadanya.”

Hatim berkata, ”Aku berdiri sambil melaksanakan suatu urusan (shalat), berjalan dengan diiringi rasa takut, memulai (mengerjakan pekerjaan shalat) dengan memantapkan niat, membaca takbir dengan rasa penuh pengagungan, mernbaca (Al-Qur‘an) secara tartil dan berusaha menghayatinya, ruku disertai penuh kekhusyuan, sujud diiringi rasa rendah diri, duduk pada tasyahud dengan sesempurna mungkin, mengucapkan salam disertai niat, mengakhriri shalat dengan penuh keikhlasan karena Allah Azza wa jalla semata, dan mencoba mengoreksi diriku dengan penuh kecemasan. 

Terus terang aku merasa cemas, jangan-jangan kegiatanku tidak diterima Allah dan aku tetap menjaga semua kegiatan tersebut dengan segala kemampuan yang kumiliki hingga meninggal dunia.”

Abu Bakar ash-Shubghi berkata, ”Aku pernah menjumpai dua imam tetapi aku belum dikaruniai untuk mendengar sesuatu dari mereka berdua, yaitu Abu Hatim ar-Razi dan Muhammad bin Nashr al-Marwazi.  

Adapun Ibnu Nashr, maka sepengetahuanku ia adalah orang yang paling sempurna shalatnya.  Pada saat Ibnu Nashr sedang shalat, kumbang besar menyengat dahinya sehingga darah mengalir membasahi mukanya, namun dia tidak bergerak sedikit pun.

Muhammad bin Ya’qub al-Akhram berkata, "Sepengetahuanku, tidak ada yang lebih sempurna shalatnya selain Muhammad bin Nashr.  Pada suatu ketika lalat hinggap di telinganya, namun dia tidak menyingkirkannya.  Kami pernah merasa terharu melihat kesempurnaan shalatnya, kekhusyuannya, penghormatannya terhadap shalat. Ia pernah meletakkan dagu di atas dadanya, seolah-olah kayu yang ditegakkan.”

Apabila Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahumullah melakukan shalat maka seluruh anggota badannya merasa gemetar sampai-sampai ia miring ke kanan dan ke kiri.

Mari kita bandingkan antara shalat yang dikerjakan oleh Ibnu Taimiyah dan shalat yang dilaksanakan oleh sebagian orang di antara kita pada saat ini, misalnya sambil memperhatikan jam tangan yang dipakainya, sambil memperbaiki penampilan tubuhnya atau pakaiannya, atau sambil bermain-main dengan hidungnya. 

Ada juga yang sambil berjual-beli dan terkadang menghitung uangnya dalam shalatnya. Sebagian yang lain ada pula yang mengamati hiasan-hiasan yang ada pada sajadah dan mengamati gambar-garnbar yang ada pada dinding atau atap, atau ingin mengetahui orang yang berada di samping kanan dan kirinya.

Bagaimana pendapat Anda sekiranya seorang dari mereka itu berdiri menghadap seorang tokoh yang besar di dunia ini, apakah dia berani melakukan hal-hal semacam itu ?.


16. Mengetahui keistimewaan khusyu dalam shalat

Keistimewaan khusyu dalam shalat terdapat dalam riwayat-riwayat berikut ini. Sabda Nabi saw.  “Siapa orang muslim yang waktu shalat wajib tiba lalu berusaha menyempurnakan wudhu, khusyu, dan rukunya maka shalatnya itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama setahun selama dia tidak mengerjakan dosa besar.” (HR Muslim).

Sesungguhnya pahala yang dicatat Allah sangat. bergantung kepada kekhusyuan.  Hal ini sesuai dengan sabda Nabi saw., ”Sesungguhnya seseorang yang mengerjakan shalat, tidaklah dicatat baginya dari shalat kecuali seper-sepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, seper-tujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya.” (HR Imam Ahmad).

Sesungguhnya seseorang tidak mendapatkan (pahala) dari shalat yang dikerjakannya kecuali sejauhmana ia dapat menghayafi apa (yang dibaca) dalam shalat, sebagaimana yang dinwayatkan Ibnu Abbas r.a., "Kamu tidak mendapatkan (pahala) dari shalatmu kecuali kamu dapat menghayati apa yang (dibaca) di dalamnya.” (HR al-Baihaqi).

Apabila shalat yang dikerjakan oleh seseorang itu benar-benar sempuma dan penuh kekhusyuan maka shalatnya itu akan memberikan dampak positif pada dirinya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw., ”Apabila seseorang berdiri melaksanakan shalat maka semua dosanya diletakkan di atas kepala dan kedua bahunya.  Setiap kali ia rukuk atau sujud, berguguranlah dosa-dosa tersebut darinya.” (HR Muslim).

Al-Manawi berkata, ”Yang dimaksud dari hadits itu ialah bahwa setiap kali orang menyempurnakan ruku maka berjatuhanlah darinya satu bagian dari dosa-dosanya, sehingga apabila ia menyempurnakan semua kegiatan shalatnya maka seluruh dosa berjatuhan darinya. 

Dosa semacam ini bisa lebur manakala shalat yang dikerjakannya itu benar-benar memenuhi syarat, rukun, dan kekhusyuan.  Hal itu sebagairnana yang ditunjukkan oleh hadits itu dengan kata; al-abd dan al-qiyam, yang mana kata itu mengisyaratkan bahwa seseorang sedang berdiri di hadapan yang Maharaja seperti berdirinya seorang hamba sahaya yang penuh kehinadinaan.”

Sesungguhnya seseorang yang dapat khusyu dalam mengerjakan shalat, apabila ia selesai mengerjakan shalat, pasti mendapatkan keringanan pada dirinya.  Bahkan, bila sebelumnya merasa membawa beban yang amat berat, begitu usai shalat ia mendapatkan dirinya giat (bersernangat), segar, dan senang, sampai-sampai ia mengharapkan jangan sampai ia keluar dari shalat karena shalat merupakan penyejuk hati sekaligus merupakan kenikmatan hati, taman kesenangan hati, dan merupakan penyegaran untuk hidup di dunia.

Seolah-olah ia sebelumnya hidup dalam tahanan dan kesempitan lalu ia memasukkan diri ke dalam shalat sehingga merasa segar kembali.  Untuk itu, orang-orang yang menaruh kecintaan kepada Allah mengatakan, "Kami melaksanakan shalat sehingga kami segar kembali.” 

Hal ini dinyatakan oleh pemimpin dan panutan kita, Nabi saw.,  “wahai Bilal, senangkanlah hati kita dengan mengerjakan shalat.”  Beliau tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti itu untuk yang bukan shalat.  Beliau juga bersabda,  ”Dijadikan shalat itu sebagai penyejuk hatiku.” (HR Muslim).

Barangsiapa yang menjadikan shalat itu sebagai sarana penyegaran maka mana mungkin hatinya akan merasa terhibur oleh selain shalat, di samping itu ia mampu bersabar diri dalam mengerjakan shalat. (HR Muslim).

17. Bersungguh-sungguh dalam berdoa di tempat-tempat tertentu, terutama dalam shalat

Tidak diragukan lagi bahwa ber-munajah kepada Allah SWT, bersikap rendah hati di hadapan-Nya, meminta (sesuatu) kepada-Nya, dan memohon dengan sangat kepada-Nya, semuanya itu termasuk hal-hal yang menambah keeratan hubungan seseorang dengan Allah sehingga ia dapat merasakan adanya kekhusyuan dalam shalat.

Sedangkan doa itu sendiri merupakan ibadah.  Karena itu, kita diperintahkan oleh Allah untuk selalu berdoa, ”Berdoalah kepada Rabbmu dengan merendahkan diri dan rasa takut.  Dan barangsiapa yang tidak meminta (sesuatu) kepada Allah niscaya Allah marah kepadanya.” (HR at-Tirmidzi).

Kita boleh saja berdoa ketika sedang melaksanakan shalat karena hal yang demikian itu telah dituntunkan oleh Nabi saw.. Beliau selalu berdoa dalam shalat pada beberapa kesempatan, seperti ketika sujud, duduk di antara dua sujud, dan sesudah tasyahud, tetapi yang sering beliau kerjakan adalah ketika sujud. 

Hal itu berdasarkan sabda beliau,  ”Seseorang yang paling dekat kepada Allah ialah ketika ia dalam keadaan sujud.  Maka perbanyaklah berdoa (di dalamnya). ” (HR Muslim).

Nabi bersabda, ”... Dan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, niscaya dikabulkan permohonanmu.” (HR Muslim).

Di antara doa-doa Nabi saw. yang biasa dibaca ketika sujud ialah: Allahumaghfir dzanbii diiqqihi wa jallihi, wa awwalihi wa akhirihi, wa ’alaa niyyatihi wa sirrihi ’Ya Allah, ampunilah dosaku, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang pertama maupun yang terakhir, dan baik yang tampak maupun yang tidak tampak’. (HR Muslim).

Demikian pula doa: Allahummaghfir maa asrartu wa ma a’lantu  ’Ya Allah, ampunilah dosaku, baik dosa yang aku rahasiakan maupun dosa yang aku tampakkan’. (HR Nasa‘i).

Di antara doa yang biasa dibaca Nabi saw. setelah tasyahud ialah sebagaimana sabda beliau, ”Apabila salah seorang dari kalian telah selesai dan ber-tasyahud maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara: siksa neraka Jahanam, siksa kubur, fitnah yang ditimbulkan oleh kehidupan dan kematian, dan kejahatan ad-Dajjal.” Beliau juga biasa membaca doa :

“Allahumma inni a’udzu bika min syarri ma ’amiltu wa min syarri maa lam a’mal  ’Ya Allah, aku memohon perhndungan kepada-Mu dari kejahatan yang aku kerjakan dan dari kejahatan yang belum aku. kerjakan’.

Selain itu, Nabi saw. pernah mengajarkan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. agar membaca doa: Allahumma inni zhalamtu nafsii zhulman katsiiram wa laa yaghfiru adz-dzunub illa anta, faaghfir lii maghfiratan min ’indikaa, waarhamni innaka anta al-ghafur ar-rahim 

‘Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dengan suatu penganiayaan yang banyak, sedangkan tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah dosaku dengan ampunan yang datang dari sisi-Mu, dan kasihanilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.

Nabi saw. pernah mendengar seseorang ketika usai tasyahud membaca doa: Allahumma inni asaluka ya Allah al-ahad al-shamad al-ladzi lam yalid wa lam yuulad wa lam yakun lahu kufuan ahad an taghfira lii dzunuubi innaka antal ghafuurur rahim.

’Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, Ya Allah, yang Maha Esa yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.  Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia, ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’, lalu beliau bersabda, ”Sungguh telah diampuni dosanya. Sungguh telah di-
ampuni dosanya.”

Di samping itu, Nabi saw. juga pernah mendengar seseorang ketika tasyahud membaca doa Allahumma inni asaluka bi anna lakal hamd, laa ilaaha illa anta wahdaka laa syariika laka al-mannan ya badii’ as samaawati wal-ardha, yaa dzal jalaali wal-ikram yaa hayyu yaa gayyum inni asaluka al-jannah wa a’udzu bika minan-nar.

’Ya Allah, sesungguhnya aku meminta (sesuatu) kepada-Mu karena bagi-Mu segala pujian, tiada Ilah (tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau semata, yang tiada sekutu bagi-Mu yang Maha Pemberi karunia, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Zat Yang Maha-tinggi lagi Mahamulia, wahai Yang Mahahidup, wahai Zat yang berdiri sendiri, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu surga dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari api neraka’.

Lalu Nabi saw. berkata kepada para sahabat, ”Apakah kamu mengerti doa yang dipanjatkannya ?”. Mereka menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi bersabda, ”Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya ia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang Mahabesar, yang apabila dimintai dengan-Nya, Dia pasti mengabulkannya dan apabila dimohon (sesuatu) pasti diberi-Nya.”

Sedangkan, zikir yang terakhir yang biasa dibaca Nabi saw. ketika berada di antara tasyahud dan salam ialah: “Allahummaa ighfiir lii maa qaddamtu wa maa akhkhartu, wa maa asrartu wa  maa a’lantu wa maa asrartu, wa maa anta a’lamu bihi minni, antal muqaddimu wa antal muakhkhiru, laa ilaaha illa anta.”
Ya Allah, ampunilah dosaku yang telah lampau dan yang akan datang, yang aku rahasiakan dan aku nyatakan, yang aku berlaku berlebih-lebihan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku, yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada tuhan selain Engkau’.

Dengan hafal doa-doa semacam itu akan mampu mengatasi masalah diamnya sebagian besar makmum tatkala mereka telah selesai dari tasyahud.  Hal itu disebabkan karena mereka tidak mengerti apa yang seharusnya dibaca.

18. Membaca zikir-zikir sehabis shalat

Sesungguhnya membaca zikir sehabis shalat adalah termasuk faktor-faktor yang dapat membantu meneguhkan dan memantapkan pengaruh yang ditimbulkan oleh kekhusyuan ke dalam lubuk hati, sekaligus dapat melanggengkan berkah shalat dan manfaa‘tnya dalam hati.

Barangsiapa yang tetap melestarikan untuk menepati ketaatan yang pertama dan memeliharanya dengan sebaik-baiknya, maka akan diikuti oleh sikap melestarikan ketaatan yang kedua. 

Demikian pula jika kita mau mengamati zikir-zikir yang dibaca setelah shalat, akan kita dapatkan zikir-zikir tersebut dimulai dengan mernbaca istigfar sebanyak tiga kali. Bacaan istigfar itu menggambarkan seolah-olah orang yang shalat itu memohon ampunan kepada Allah atas segala kekurangan yang dilakukannya selama shalat, atas usahanya yang belum optimal  dalam mencapai kekhusyuan dalam shalat. 

Selain itu, yang lebih penting lagi, hendaknya kita tetap menghidupsuburkan shalat-shalat sunnah karena akan dapat menambal (melengkapi) kekurangan yang terdapat dalam shalat-shalat yang wajib, yang juga mencakup kekurangan dalam hal khusyu.

Karena shalat merupakan pokok ibadah, mari kita berbagi kiat ini kepada saudara dan sahabat kita karena sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar dan sama-sama kita amalkan.  Please share sebanyak mungkin !!! Terimakasih.
Advertisement
Advertisement

Subscribe to receive free email updates: